Desa Wisata Kemiren Suku Osing (Using) Glagah Banyuwangi Jawa Timur

3

98d14-banyuwangi-343

Desa Wisata Osing atau Using berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur; memiliki luas 117.052 m2 memanjang hingga 3 km yang di kedua sisinya. Penduduk di desa ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki adatistiadat dan budaya khas sebagai satu suku, yang dikenal sebagai suku Osing (Using). Pemerintah menetapkannya, sebagai daerah cagar budaya dan mengembangkannya sebagai Desa Wisata Suku Osing (Using).

Asal mula kata Kemiren menurut para sesepuh Desa, dahulu di Desa Kemiren saat pertama kali ditemukan, desa tersebut masih berupa hutan dan terdapat banyak pohon kemiri dan duren (durian) sehingga mulai saat itu, daerah tersebut dinamakan “Desa Kemiren”.

Menurut sejarah masyarakat Desa Kemiren berasal dari orang-orang yang mengasingkan diri dari kerajaan Majapahit setelah kerajaan ini mulai runtuh sekitar tahun 1478 M. Selain menuju ke daerah di ujung timur Pulau Jawa ini, orang-orang Majapahit juga mengungsi ke Gunung Bromo (Suku Tengger) di Kabupaten Probolinggo, dan Pulau Bali. Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha seperti halnya kerajaan Majapahit. Kemudian masyarakat Kerajaan Blambangan berkuasa selama dua ratusan tahun sebelum jatuh ke tangan kerajaan Mataram Islam pada tahun 1743 M.

Potensi Adat Istiadat

Dapat diketemukan beragam upacara adat istiadat masyarakat Osing yang masih dilaksanakan dan dipertahankan antara lain:

1. Makan Sirih

49442-banyuwangi-302 Mbah-mbah sedang makan sirih (https://siskanurifah.wordpress.com)

Para ibu-ibu terbiasa makan sirih setiap harinya, hingga gigi mereka putih dan kuat (jarang diketemukan gigi mereka keropos atau tanggal/lepas).

bc2ab-banyuwangi-298 Mempersiapkan makan sirih, ada tembakau, daun sirih dan kapur/injet (https://siskanurifah.wordpress.com)

Si Embah sedang beraksi menyirih (https://siskanurifah.wordpress.com)

2. Pertanian

Panggung angklung paglak setinggi 10 meter, dengan pilar hanya terbuat dari bambu. Sajian musik ini, diperuntukkan untuk mengiringi saat panen tiba. Sebagai ungkapan terimasih.

826ae-banyuwangi-373 (https://siskanurifah.wordpress.com)

ec9b0-banyuwangi-311Bapak-bapak suku Osing bermain angklung paglak. Semakin kencang angin, panggung semakin bergoyang.. yeah (https://siskanurifah.wordpress.com)

Dalam bercocok tanam, masyarakat Kemiren menggelar tradisi selamatan sejak menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen. Saat masa panen tiba, petani menggunakan ani-ani diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang-pematang sawah. Saat menumbuk padi, para perempuan memainkan tradisi gedhogan, yakni memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi yang enak didengar.

0914d-banyuwangi-327 Tradisi Gedhogan (Memukul lesung dan alu) – https://siskanurifah.wordpress.com

3. Siklus Kehidupan Manusia

a. Upacara masa kehamilan

Upacara masa kehamilan itu meliputi upacara yang diadakan sejak wanita mengandung untuk pertama kalinya hingga kandungan tersebut berusia sekitar sembilan bulan.

Dalam jangka waktu tersebut, diadakan upacara ataupun selamatan bersamaan dengan usia kandungan. Usia kandungan yang dianggap penting, dan oleh sebab itu diadakan upacara yaitu upacara selamatan usia kandungan 4 bulan, kemudian upacara Neloni, atau Telonan, yaitu ketika usia kandungan sudah tiga bulan. Seorang ibu yang sudah mengandung tiga bulan sudah nampak perubahan jasmaninya.

Antara bulan ke 4 sampai bulan ke 6, tidak diadakan upacara, dan ketika kandungan sudah berumur 7 bulan, barulah diadakan upacara. Upacara kandungan tujuh bulan itu disebut Pitonan Piton-piton atau Tingkeban.

Dalam upacara Tingkeban itu, diadakan upacara yang agak meriah. Biasanya suami-istri dimandikan bersama (siraman), memecah cengkir gading, upacara yang mengharapkan jenis kelamin apa yang diduga akan lahir, laki-laki atau perempuan. Kemudian upacara menjual rujak. Menjelang masa kelahiran masih ada upacara yang harus dilakukan yaitu upacara Procotan.

b. Upacara kelahiran dan masa bayi

Upacara kelahiran dan masa bayi, meliputi upacara atau selamatan yang diselenggarakan sejak bayi lahir hingga berusia satu tahun. Beberapa upacara yang harus dilakukan adalah Brokohan pada masyarakat Jawa Mataraman yaitu upacara menyambut kelahiran bayi. Pada masyarakat Osing dikenal dengan selamatan Jenang Abang Mapag Bayi, kemudian diberi nama sesuai dengan hari kelahirannya. Misalnya hari Jum’at dinamakan Jumahir bagi bayi laki-laki dan Jumati bagi perempuan. Kemudian upacara itu dilanjutkan dengan upacara Mendem ari-ari, atau menanam tembuni (placentia). Ari-ari anak perempuan ditanam di dalam rumah, sementara anak laki-laki ditanam di luar rumah.

Pada waktu bayi mengalami pupak puser, yaitu tanggalnya tali pusat bayi, diadakan selamatan, dan biasanya bayi berumur 5 hari atau sepasar. Dalam upacara sepasaran, biasanya dilakukan selamatan pemberian nama kepada bayi. Upacara Cuplak Puser dalam masyarakat Osing disebut Nyukit Lemah. Pada saat ini bayi perempuan dilakukan khitan atau sunat. Sebelum cuplak puser, setiap sore, ayah bayi melakukan upacara obor-obor.

Setelah bayi berumur sekitar 35 hari, atau selapan, diadakan upacara atau selamatan Selapanan. Dalam upacara itu, bayi dicukur rambutnya untuk pertama kali atau disebut mbuwang rambut bajang. Namun untuk beberapa daerah, mencukur rambut itu dilakukan bersamaan waktunya dengan Sepasaran. Kemudian bayi itupun diturunkan di tanah untuk pertama kalinya. Upacara itu disebut Mudhun Lemah atau Tedak Siten pada masyarakat Jawa Mataraman atau menginjak tanah, dalam upacara itu, diramalkan tentang nasib serta jenis mata percaharian bayi tersebut apabila sudah dewasa. Mudhun lemah pada masyarakat Osing Desa Kemiren tergolong unik, terdapat :

  • Jenang lintang
  • Alu berjumlah 4 buah
  • Selametan tumpeng serakat
  • Selametan tumpeng suwung

Adakalanya masa anak ini, diadakan upacara mbuwang jangan.

c. Upacara masa kanak-kanak

Upacara masa kanak-kanak, terdiri dari beberapa upacara atau selamatan, sejak usia sekitar satu setengah tahun hingga berumur sekitar 12 tahun. Menurut adat, masa kanak-kanak itu ukurannya tidak jelas, demikian pula upacara yang harus dilakukan terhadapnya.

Upacara Nyapih, artinya memisahkan si anak dari ibunya untuk tidak menetek lagi. Antara anak laki-laki dan perempuan ada perbedaan usia dimulainya upacara Nyapih. Anak laki-laki lebih cepat disapih dibandingkan dengan anak perempuan. Hal itu menurut anggapan, makin lama anak laki-laki menetek ibunya, akan berakibat kelambatan berpikirnya dan bahkan dapat menyebabkan kecerdasannya berkurang.

d. Upacara masa remaja

Upacara masa remaja menginjak dewasa, dilakukan pada waktu si anak memasuki akil-balig. Dalam masyarakat ukuran kedewasaan seorang anak antara anak laki-laki dan perempuan tidak sama. Pada umumnya anak-anak perempuan lebih nampak dewasa dibandingkan dengan anak laki-laki.

Bagi anak perempuan, tanda kedewasaan atau keperawanan itu dimulai apabila anak perempuan sudah mengalami menstruasi yang pertama kali. Dalam masyarakat Osing haid pertama itu disebut Munggah perawan atau Sukeran untuk masyarakat Jawa Mataraman. Peristiwa itu ditandai dengan upacara atau selametan Jenang abang dan Jenang putih.

Bagi anak laki-laki, tanda memasuki masa remaja, mulai anak itu dikhitan atau disunat. Namun untuk beberapa daerah masyarakat Osing Banyuwangi, khitan itu diadakan semasa anak masib bayi atau pada masa kanak-kanak yaitu sekitar umur 8 tahun. Namun dahulu khitan itu dilaksanakan apabila anak sudah menginjak usia 15 tahun. Menurut anggapan masyarakat jika anak itu dikhitan terlalu muda, pertumbuhan badannya menjadi lamban (kecentet). Upacara khitan masyarakat Osing di Desa Kemiren dengan melaksanakan beberapa upacara antara lain :

  • Ngirim donga
  • Soben-soben
  • Kebat-kebat (termasuk njenang, nyawur, ngincok, katikan, ngerempah, masang penetep)
  • Sedekah
  • Ngoloni
  • Ngarak sunat
  • Tangkeb-tangkeb
  • Selametan jenang sumsum
  • Sepasaran
  • Selapanan

Upacara ini memerlukan waktu sampai satu minggu lebih. Bagi anak perempuan semacam khitan itu diadakan ketika anak berusia sekitar sepasar atau selapan, dan upacara itu disebut Nyunat. Upacara itu hanya dilakukan dalam kalangan keluarga terbatas saja.

Bagi anak perempuan, masih harus mengalami upacara Ngasab atau Pangur atau Pasah untu bagi masyarakat Jawa Mataraman, yaitu meratakan gigi bagian ujungnya. Di Madura upacara itu disebut Papar gigi’. Upacara itu masih dilakukan dalam keluarga dimana anak gadisnya sudah mendapatkan kain kotor yang pertama kali. Diasab dalam masyarakat Osing bisa dilakukan saat upacara pernikahan.

Upacara lain yang biasanya juga diadakan pada saat anak menjelang dewasa, yaitu upacara Ngruwat atau Nglukat. Ngruwat itu dilakukan oleh keluarga jika mempunyai anak hari kelahiran dan hari pasarannya sama dengan orang tuanya ataupun ibunya. Di samping itu, jika anak itu anak tunggal, anak kembar, baik laki-laki maupun perempuan semuanya. Menurut adat, upacara ngruwat itu dilakukan bilamana seorang anak termasuk: Ondal-andil (Ontang-anting) yaitu anak tunggal, Ontang-anting tunggak aren, Pendawa Lima, Pendawa adang, Pendawa epil-epil, Kendhana-kedhini, Kembang sepasang, Uger-uger lawang, Sendang kapit pancuran, Pancuran kapit sendang, Pancuran mas, Pancuran inten, dan sebagainya.

e. Upacara masa dewasa

Upacara pernikahan juga disebut Manten Osing. Masyarakat Osing menggelar hajat mantenan dengan sangat patuh pada adat leluhurnya. Prosesinya bisa memakan waktu 1 minggu lebih. Upacaranya meliputi :

  • Ngirim donga
  • Hataman
  • Sedekah
  • Selametan pecel pitik
  • Kebat-kebat (dari njenang dan sebagainya)
  • Ngasab
  • Paju dandang
  • Dumpilan
  • Ngarak manten

74656-tradisi-unik-suku-osing Ngarak manten Ngarak Temanen Suku Osing (https://kabarinews.pointsoftouch.com)

  • Mbuwang kuro

Jika temanten itu ada yang anak bungsu, diadakan upacara Ngosek ponjen. Jika ragil bertemu ragil (bungsu) dari kedua mempelai, ada upacara Perang bangkat. Perkawinan anak pertama dengan anak pertama ada upacara perang tamper ada peras pikul, peras suwun, dan sebagainya.

f. Masa tua

Pada masyarakat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, ada upacara Semoyo putu yang dilakukan jika suami-istri telah menikahkan semua anaknya, dari anak-anaknya itulah mereka berarti telah memiliki cucu. Semoyo putu juga biasa disebut Semoyo mantu. Upacaranya terdiri :

  • Sedekah (ada tumpeng serakat, pecel pitik, jenang pancawarna, jenang sengkala)
  • Siraman
  • Peras
  • Sego golong
  • Dan lain-lain

Sosial Kemasyarakatan

Ciri-ciri struktur sosial masyarakat Osing Kemiren adalah :

  • Hubungan sosial ”kekerabatan” dianggap sangat penting sehingga hubungan yang erat sifatnya sukarela, saling kenal dalam satu desa itu
  • Adanya hubungan kerjasama yang saling ketergantungan satu sama lain dan jiwa gotong royong yang tinggi
  • Solidaritas antar masyarakat desa ini, sangat erat, terlihat ketika ada seorang warga punya hajat (khitanan, pernikahan, hajatan lain) maka tanpa diminta, masyarakat yang lain akan membantu dengan sukarela.

Potensi Kesenian Tradisional

  • Tari Gandrung

Tari Gandrung (https://siskanurifah.wordpress.com)

  • Tari Ayam Jago

98d14-banyuwangi-343 Tari Ayam Jago (https://siskanurifah.wordpress.com)

  • Tari barong

817cd-banyuwangi-341 Tari Barong (https://siskanurifah.wordpress.com)

Sertifikasi

Telah menerima sertifikasi dari Menparekraf @sandiuno pada awal Maret 2021 berupa Desa Wisata Berkelanjutan untuk mewujudkan pariwisata yang lestari dan sejahtera

Informasi lebih lanjut

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi
Jalan Jend. A. Yani 74, Banyuwangi
Telp.: +62 333 424 172

Berbagai sumber

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kampung Naga Tasikmalaya Jawa Barat

Tue May 13 , 2014
Pemandangan Kampung Naga Tasikmalaya Jawa Barat (https://id.wikipedia.org) Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, dengan luas sekitar 1,5 hektar. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, […]