Desa Wisata Apau Ping Malinau Kalimantan Utara

1

Sudut Desa Wisata Apau Ping (https://hendrysyafaruddin.wordpress.com)

Desa Wisata Apau Ping terletak di Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara.

Secara umum, suku yang tinggal di Desa Wisata Apau Ping, cukup beragam, namun semua dalam satu garis suku asli Kalimantan, yaitu Dayak. Sub Suku Dayak yang menetap disekitar wilayah Taman Nasional Kayan Mentarang, terutama di Desa Apau Ping adalah Suku Dayak Kenya Lepo’ Ke. Hampir sebagian besar masyarakat Apau Ping menggantungkan kebutuhan hidupnya pada hutan. Bagi mereka hutan merupakan ‘ibu’ yang mampu memberikan segalanya. Hutan merupakan sumber kebutuhan pokok dan bergeraknya ekonomi masyarakat.

Kegiatan sebagian besar masyarakat Apau Ping adalah bertani. Sekitar 90% penduduk setempat mengandalkan pertanian ladang karena kontur tanah dan topografi wilayah yang berbukit. Padi ladang adalah jenis pertanian utama yang mereka lakukan. Ada beberapa jenis tanaman lainnya hanya sebagai tambahan, seperti jagung dan ubi kayu. Bertani bagi masyarakat setempat adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok semata. Hasil panen padi tidak secara khusus untuk diperdagangkan. Apabila ada kelebihan, biasanya disimpan untuk kebutuhan pada bulan-bulan kemarau atau cadangan apabila terjadi gagal panen.

Potensi Seni Budaya

Seni Budaya (http://marischkaprudence.blogspot.com)

Melalu’ (semacam nyinden : jawa) adalah senandung dari syair-syair indah yang dinyanyikan oleh para tetua untuk menyampaikan ungkapan hati, harapan dan doa-doa yang dipanjatkan. Melalu’ didendangkan pada saat ada Amai Biu’ (Pejabat) atau tamu terhormat lainnya yang berkunjung ke Apau Ping. Sebagai penyambutan, tetamu akan diajak menari Simbat Ladok. Tarian Simbat Ladok atau tarian Gerak Sama dilakukan melingkar dan menari berputar searah jarum jam. Dan disela-sela tarian tersebutlah biasanya melalu’ dilakukan. Suara petikan Sambe Kenya’ berpadu dengan Sambe Lutong dan dilengkapi dengan harmonisasi Tinggalin (sejenis kulintang) menambah syahdu serta memberikan nuansa magis seketika. Walaupun tidak memahami arti dari syair yang dilantunkan, namun merasakan suasana yang luar biasa bersahaja.

Para Wisman sedang melakukan Tarian Simbat Ladok (http://www.malinau.go.id)

Potensi Kerajinan Tangan

Beragam kerajinan tangan Desa Apau Ping (http://www.malinau.go.id)

Bagi kaum wanita Desa Wisata Apau Ping, selain bertani dan membantu suami menggarap ladang, disela-sela waktu luang mereka menyempatkan untuk membuat anyaman dari rotan dan bambu. Produk olahan dari rotan dan bambu yang mereka hasilkan biasanya untuk keperluan sehari-hari, seperti alat menggendong barang yang disebut ki’ba (semacam tas ransel dari rotan berbentuk persegi dan mampu menampung banyak barang karena elastis), belanyat (keranjang kecil), bubu (alat perangkap ikan), kebang (alat untuk menumbuk bumbu yang bentuknya seperti lesung).

Penggendong Bayi (http://marischkaprudence.blogspot.com)

Potensi Kuliner

Beragam Kuliner (http://www.malinau.go.id)

Berbagai jenis tumbuhan yang dijadikan masyarakat Apau Ping sebagai sayur adalah dari kelompok paku-pakuan. Contohnya adalah paku bala (pakis berwarna merah), paku bai (pakis yang dipinggir sungai) dan paku julut. Berbagai jenis pucuk daun, ubut dan rebung juga diambil sebagai sayuran.

Selain itu ada jenis jamur yang juga sering mereka konsumsi, seperti kulat long belebau, kulat kedet dan juga kulat tau. Jika sudah menjadi masakan, jamur tersebut sangat gurih rasanya. Biasanya masyarakat Apau Ping mengolah jamur menjadi Lerek Kulat (bubur jamur). Pada hari-hari besar keagamaan, misalnya perayaan Natal, kuliner khas Lerek Kulat tersebut biasanya disajikan sebagai menu utama, selain Luba Laya (Nasi yang dibungkus daun).

Sebagai pelengkap agar masakan yang dihasilkan memiliki rasa yang lezat, masyarakat Apau Ping juga mengolah bumbu masakan yang berasal dari tumbuhan yang ada dihutan. Bekkai Lan, Lia (jahe), Lia lamut (lengkuas), Ping Bawing (serai), Lia Bila’ (Kunyit) adalah bahan bumbu yang paling sering digunakan. Jika masyarakat kota biasanya menggunakan penyedap rasa dari produk olahan pabrik, masyarakat Apau Ping menggunakan daun Bekkai Ya’ut sebagai penyedapnya. Untuk mengolah daun Bekkai Ya’ut menjadi seperti halnya vetsin, warga setempat sebelumnya menjemur daun hingga kering dan ditumbuk menjadi butiran-butiran kecil.

Potensi Sumber Obat Tradisional

Jenis tumbuhan obat yang popular di masyarakat Apau Ping diantaranya Pa’ung Long (seperti keladi) yang digunakan untuk obat masuk angin dan Unga (Daun Sirih) yang digunakan untuk obat Demam. Biasanya Unga dicampur minyak tanah kemudian digosokkan ke badan anak-anak atau orang yang mengalami panas tinggi. Sesaat kemudian dipastikan unga akan bereaksi mujarab, dan demam pun hilang.

Obat yang diperoleh dari binatang umumnya adalah empedu Buang, empedu Kitan, Suwikrukep (burung), madu Layuk, Manuk Ilang dan banyak lainnya.

Empedu buang biasanya digunakan untuk mengobati orang yang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang. Menggunakan empedu buang dapat dengan dimakan langsung atau dicampur dengan minyak kelapa sebagai obat gosok untuk salah urat dan patah tulang. Sama halnya seperti empedu Buang, burung Krukep juga digunakan sebagai obat patah tulang. Sedangkan Manuk Ilang, dipercaya oleh masyarakat Apau Ping, sebagai obat bagi anak-anak yang belum lancar berbicara atau gagap.

Potensi Permainan Tradisional

Permainan tradisional yang dimainkan beragam. Seperti halnya di kota, modernisasi juga sudah melanda masyarakat Apau Ping. Namun, banyak permainan tradisional yang masih tetap ramai dimainkan. Terutama pada saat perayaan agustusan dan saat liburan sekolah.

Permainan Batu

Permainan yang mengandalkan kekuatan kaki dan juga intuisi. Batu dilempar menggunakan kaki dan harus mengenai sasaran batu lainnya yang berjarak sekira 5 meter di depan. Butuh keseimbangan dan kekuatan. Selain itu kita harus fokus dan bisa membuat perkiraan kekuatan lemparan kaki dan sasaran yang dibidik. Jika lepas, kita kalah.

Permainan Lele

Merupakan permainan yang mengandalkan keterampilan tangan. Lele dimainkan perorangan. Permainan lele menggunakan dua bilah bambu ukuran kecil, satu panjang dan satunya pendek. Yang panjang digunakan sebagai pemukul untuk bambu yang ukurannya lebih pendek. Jarak lemparan bambu menjadi ukuran yang akan dinyatakan sebagai pemenang.

Ada juga permainan Gasing. Seperti halnya di daerah lain, permainan gasing ini adalah permainan adu kekuatan dua gasing. Yang mampu bertahan lama, gasing itulah sebagai pemenang. Lebih ramai lagi jika kita ikut bermain Ba’bang. Permainan sejenis Gobok Sodor ini dimainkan dua kelompok yang saling jaga dan menangkap lawan dengan batasan garis-garis lurus sebagai pijakan.

Mengamati Banteng di Padang Rumput

Di Padang Rumput Long Tua, berjarak sekira 1 jam, di  hulu  desa Apau Ping, wisatawan akan menemukan salah satu areal terbaik untuk mengamati margasatwa di Tamana Nasional Kayan Mentarang, yaitu banteng (Bos Javanicus), rusa dll.

Pada jam-jam tertentu kita bisa melihat Banteng tersebut, walaupun dari kejauhan. Pagi hari, sekira pukul lima hingga enam pagi, kumpulan Banteng tersebut ada disekitar padang rumput untuk menikmati umbut-umbut yang menjadi makanan Bos Javanicus tersebut. Sedangkan disore hari, sekira pukul lima hingga terbenamnya matahari, kita bisa menyaksikan sekumpulan Banteng, Rusa hingga Kancil tengah bercengkrama mesra menunggu rembulan tiba.

Cara pencapaian lokasi

Perjalanan dengan Ketinting (perahu tempel) melewati jeram-jeram yang berat dan menantang (https://hendrysyafaruddin.wordpress.com)

Perjalanan menuju Desa Wisata Apau Ping Kecamatan Bahau Hulu ditempuh dengan rute yang lumayan jauh. Dari kota Tarakan menuju Malinau bisa menggunakan 2 rute yaitu melalui udara dan laut.

Jika melalui udara dapat menggunakan pesawat Kal Star, Susi Air dan MAF dengan jarak tempuh sekitar 30 menit. Sedangkan jika lewat laut atau sungai menggunakan speedboat dengan jarak tempuh sekitar 3-4 jam. Setelah tiba (dari Tarakan) di Malinau, harus bermalam dahulu. Di Malinau banyak menyediakan penginapan dan Hotel (kelas Melati).

Keesokan harinya baru melanjutkan perjalanan menuju Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu. Perjalanan dari ibukota Malinau menuju kecamatan Bahau Hulu ada dua jalur yang bisa ditempuh, yaitu pertama dengan naik pesawat udara kapasitas 6 orang dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam itupun satu minggu sekali dan tidak ada jadwal secara rutin dan kedua melalui jalur sungai naik long boat selama 3-4 hari dengan melewati jeram-jeram yang berat dan menantang.

Kecamatan Bahau Hulu terdiri dari 6 desa dan salah satunya adalah desa terluar yaitu Apau Ping. Untuk menuju desa Apau Ping butuh waktu 1 hari dari ibukota kecamatan dengan naik “ketinting (perahu tempel)“

Sumber: kompasiana

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Desa Wisata di Kalimantan

Tue Apr 2 , 2019
Pulau Kalimantan Pulau Kalimantan merupakan pulau terbesar ketiga di dunia, terdiri dari 5 provinsi yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Sahabat GPS Wisata Indonesia, untuk mempermudah dalam pencarian Desa Wisata di Provinsi yang ada di Pulau Kalimantan, dibuat Site Map berdasarkan pembagian Provinsi seperti […]