Dandang (Kukusan) Aceh

Dandang digunakan untuk memasak nasi. Selain mempergunakan kanet sebagai wadahnya, dalam kehidupan sehari-hari di dapur rumah tangga masih dipakai pula dandang atau disebut juga kanet dangdang atau sangku tanoh. Perkataan yang sama di dalam masyarakat Gayo disebut kukusen, sedangkan di masyarakat Aneuk Jamee disebut dandang.

Bentuknya pada bagian bawah bundar, pada bagian tengah genting serta di bagian atas berbentuk terbuka serta tutup sebagai penutupnya. Pada bagian tengah yang genting tadi terdapat penyekat yang diberi berlubang-lubang kecil yang berfungsi sebagai tempat penguapan pada saat beras dikukus untuk dimasak menjadi nasi.

Dandang sebagaimana halnya kanet dan blangong dibuat dari tanah liat dengan mempergunakan teknik putar. Dandang dipergunakan untuk memasak nasi, baik nasi biasa maupun nasi ketan. Beras yang sudah dicuci dimasukkan ke dalam dandang di bagian atas, menurut ukuran yang telah ditentukan. Pada bagian bawah terlebih dahulu diisi air kirakira setengah sampai dua pertiga bagian. Jika airnya terlampau banyak mengakibatkan nasi menjadi lembek, atau jika airnya tidak cukup nasinya tidak matang. Penggunaan kanet dandang ini umumnya dipakai di rumah-rumah yang dihuni oleh lebih dari 6 orang atau pada saat kedatangan tamu yang perlu dijamu dengan makan. Mereka memerlukan tempat memasak nasi yang besar karena kanet biasa paling besar berisi satu bambu beras. Kanet dandang ukuran yang kecil berukuran seperdua bambu beras sampai yang berukuran 2 – 3 bambu beras. Di sini mereka telah mempergunakan prinsip efesiensi dalam pekerjaan dapur. Seandainya mereka mempergunakan kanet biasa, memerlukan dua atau tiga kali masak untuk ukuran 2 – 3 bambu beras.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Cerita Rakyat Bengkulu

Sun Mar 7 , 2021
Cerita rakyat Bengkulu (http://inlislite3.dpk.padangpanjang.go.id) Cerita rakyat merupakan cerita yang berasal dari masyarakat lampau, yang kerap diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Pada umumnya tokoh cerita rakyat yang disampaikan bisa dalam bentuk manusia, binatang, dan sesuatu yang gaib lainnya, yang memuat nilai-nilai kebaikan, diantaranya nilai kejujuran, kesetiaan, perjuangan, kesabaran dan keberanian, sehingga dapat […]