Budaya Indonesia Beri Corak Pameran Wisata Terbesar Norwegia

Fatimah Shaw-Iversen, seniman asal Bandung yang kini berdomisili di Oslo menampilkan Tari Merak di Pameran Reiselivsmessen 2014 di Oslo, Norwegia. Foto: Dyah W Kusumawardani

Pertunjukan budaya Indonesia memberikan warna berbeda pada pameran wisata terbesar Norwegia, Reiselivsmessen, yang digelar di Telenor Arena, Oslo, akhir pekan ini. Pada hari kedua pameran (Sabtu, 11/01), tari Merak asal Jawa Barat yang dibawakan dengan gemulai dan mempesona oleh Fatimah Shaw-Iversen, seniman asal Bandung yang kini berdomisili di Oslo. Fatimah berhasil mempesona pengunjung pameran, baik di panggung utama maupun di anjungan Indonesia. Kostum Fatimah yang menggambarkan burung merak jantan yang indah dengan corak bulu burung merak juga memukau para pengunjung.

Tidak hanya tari merak, pertunjukan musik tradisional oleh kelompok masyarakat Indonesia pimpinan Valentino Malaihollo juga mendapat sambutan meriah dari para pengunjung. Medley lagu daerah seperti Soleram, Injit-injit Semut, Sajojo, dan Apuse ditampilkan dengan apik dan penuh keceriaan oleh kelompok Valentino. Sorak-sorai dan tepuk tangan pengunjung begitu jelas terdengar pada setiap pertunjukan budaya tersebut.

Kedua pertunjukan tersebut akan kembali tampil di panggung utama hari ini (Minggu 12/01). Fatimah akan membawakan tari Belibis, yang juga menggambarkan alam dan kehidupan binatang di Indonesia. Ini pertama kalinya terdapat panggung pertunjukan budaya dalam Reiselivsmessen. Penampilan dari Indonesia sangat mengagumkan dan pertunjukan tersebut membuat para pengunjung semakin penasaran dengan Indonesia.

Ilustrasi Tarian Belibis (https://www.kamerabudaya.com)

Reiselivsmessen setiap tahunnya diselenggarakan pada bulan Januari, dan tahun ini diikuti oleh 115 negara dengan hampir sebanyak 600 anjungan. Jumlah pengunjung pameran diperkirakan akan mencapai 45.000 orang. Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) RI Oslo S. Sayoga Kadarisman menjelaskan bahwa dalam pameran kali ini, anjungan Indonesia mengusung tema eco-tourism dengan menampilkan tujuan wisata alam dan produk kreatif hasil hutan. “Kami memilih penampilan yang menggambarkan kedekatan budaya Indonesia dengan alam, seperti tarian yang menggambarkan kehidupan binatang. Sedangkan medley lagu daerah akan memberikan gambaran mengenai ragam budaya Indonesia yang berlimpah,” kata Sayoga.

Sejak pembukaan pameran yaitu Jumat (10/01), baik anjungan Indonesia maupun pertunjukan budaya selalu ramai pengunjung. Ketua Panitia, Sekretaris I Ekonomi KBRI Oslo Hartyo Harkomoyo mengatakan bahwa Kolaborasi KBRI Oslo dengan berbagai pihak di Indonesia telah memberikan nilai tambah pada pameran tahun ini. UKP4, Kementerian Kehutanan, PT Antam, Daemeter Consulting, Borneo Chic, Sabai Bag and Luggage Javana, Javara, Indonesia Nature Film Society (INFIS), dan Kompas TV turut memberikan andil yang besar bagi kesuksesan pameran.

Sekretaris II Pensosbud KBRI Oslo, Dyah Kusumawardani, yang mengkoordinir misi kesenian dalam pameran ini menuturkan bahwa tahun lalu, Indonesia juga diminta untuk membuka pameran, dan dua penari cilik Ann-Dewi dan Andrea Torgersen memukau pengunjung dengan tari Puspanjali. Kelompok Anak Indonesia juga turut tampil di Anjungan Indonesia. Tahun ini Indonesia kembali mendapat kehormatan untuk tampil dan mengisi pertunjukan di pameran.

Sumber: Kotahujan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Yogyakarta Gelar Festival Bregada Rakyat pada Minggu

Thu Jan 16 , 2014
Para prajurit rakyat akan melakukan atraksi di sepanjang Jalan Malioboro hingga Benteng Vredeburg dalam Festival Bregada Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (19/1). (FOTO ANTARA/Sigid Kurniawan) Setidaknya 23 kelompok bregada (prajurit) dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan mengikuti kirab menyusuri Jalan Malioboro hingga Benteng Vredeburg dalam Festival […]