Batik Yogyakarta

4566d-monumenbatikyogyakarta

Batik Yogyakarta di mulai dengan berdirinya Kerajaan Mataram Islam, sekitarnya abad 17, 18 dan 19, dengan raja pertamanya Kanjeng Penembahan Senopati. Daerah pembuatan batik pertama di desa Plered, Bantul, Yogyakarta.

Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kerajaan yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga Keraton lainnya yaitu istri dari abdi dalem dan tentara-tentara.

Pada upacara resmi kerajaan keluarga keraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga Keraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok kerajaan.

0ce83-batikyogyaBatik Yogyakarta (https://carapedia.com)

Batik Yogyakarta adalah salah satu dari batik Indonesia yang pada awalnya dibuat terbatas hanya untuk kalangan keluarga kerajaan saja. Setiap motif yang terujud dalam goresan canting pada kain batik Yogyakarta adalah sarat akan makna, merupakan sebuah cerita. Hal inilah yang membedakan batik Yogyakarta dengan batik-batik lain, yang menjaga batik Yogyakarta tetap memiliki eksklusifitas dari sebuah mahakarya seni dan budaya Indonesia.

Batik Yogyakarta dan batik Solo, walau keduanya menggunakan ukel dan semen-semen, namun sebenarnya kedua batik ini berbeda. Perbedaannya terletak pada warnanya. Batik Yogyakarta berwarna putih dengan corak hitam, sedangkan batik Solo berwarna kuning dengan corak tanpa putih.

abc38-membatik-jogja1Sedang membatik (https://cicikurn1a.weblog.esaunggul.ac.id)

Penggunaan kain batik ini pun berbeda-beda. Di Kraton Jogja, terdapat aturan yang pakem mengenai penggunaan kain batik ini. Untuk acara perkawinan, kain batik yang digunakan haruslah bermotif Sidomukti, Sidoluhur, Sidoasih, Taruntum, ataupun Grompol. Sedangkan untuk acara mitoni, kain batik yang boleh dikenakan adalah kain batik bermotif Picis Ceplok Garudo, Parang Mangkoro, atau Gringsing Mangkoro. Beberapa contoh motif batik klasik antara lain: Parang, Geometri, Banji, Tumbuhan Menjalar, Motif tumbuhan Air, Bunga, Satwa dalam kehidupan dan lain-lain. Penggunaan Batik dewasa ini bukan hanya sebagai kain tetapi juga sebagai Pakaian jadi, Bed Cover, Sarung Bantal dan lain-lain.

Batik di Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini berkembang dengan pesat. Tidak kurang dari 400 motif batik khas Yogyakarta yang terdiri dari motif batik klasik maupun motif batik modern berada sehingga Yogya dikenal dengan sebutan Kota Batik.

4566d-monumenbatikyogyakartaMonumen Batik Yogyakarta (https://wisata.kompasiana.com)

Sahabat GPS Wisata Indonesia, akan diketengahkan beberapa motif Batik Yogyakarta, berdasarkan motif yang ada di Monumen Batik Yogyakarta. Sahabat tahu nggak dimana Monumen Batik Yogyakarta? Silahkan cari sendiri ya…. 🙂

Motif Semen Huk

a6afc-semenhukBatik Yogyakarta motif Semen Huk

Semen berasal dari kata semu yang artinya tumbuh. Sementara Huk dilukiskan sebagai embrio burung garuda diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Semen Huk merupakan simbol sebuah kepemimpinan yang baik, takut kepada Tuhan, arif, bijaksana, melindungi dan dekat dengan rakyat. Dahulu Semen Huk tergolong ke dalam motif larangan yakni motif batik yang hanya boleh dikenakan oleh raja dan putra mahkota.

Motif Gembira Loka 

43497-batik-kraton-yogyakarta-dan-pura-pakualaman-00113(https://www.jogjatv.tv)

Berupa segiempat dengan motif utama binatang menggambarkan jenis-jenis binatang yang menghadirkan kesan gembira. Motif Gembira Loka merupakan karya cipta KRAy. Hastungkara.

Peksi Manyura

c4d5c-peksi-manyura (https://www.google.co.id)

Peksi berarti burung. Manyura berarti Merak. Menggambarkan kecerian merak diantara lung anggur. Motif ini merupakan karya cipta RM. Notoadisuryo kerabat Pakualaman pada tahun 1920-an.

Poleng

860ad-bcp-145-batik-poleng(https://www.google.co.id)

Motif ini berarti belang yang diangkat dari bidang warna semula Putih, Merah, Kuning, Hitam dan Biru yang melambangkan Makro Kosmos :

– Putih (Endra) adalah simbol dewa kesuburan
– Merah (Yama) adalah simbol dewa maut/kematian
– Kuning (Waruna/Baruna) adalah dewa laut/angin
– Hitam (Wisnu) adalah dewa pemelihara
– Biru (Syiwa) adalah dewa segalanya

Kemudian berubah menjadi 4 mikro kosmos yaitu: Putih, Merah, Kuning dan Hitam. Sebagai simbol empat nafsu manusia yaitu : Mutmainah, Amarah, Lauwamah dan Supiah. Lalu berkembang menjadi dua warna, yaitu: Putih dan Hitam sebagai simbol Rwa Bhineda yang berlainan saling mengisi yang melambangkan ketegasan keselarasan.

Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya. Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan akhirnya nguri-uri (melestarikan).

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Solo Batik Carnival (SBC) Akan Digelar 22 Juni 2014

Fri Jun 6 , 2014
Kota Solo kembali menggelar Solo Batik Carnival (SBC) 7, 22 Juni 2014 mendatang dan tema yang diangkat “The Majestic Treasure” mulai pukul 15.00 WIB dengan start di Stadion R Maladi, Sriwedari – Jalan Slamet Riyadi – Gladag – Jalan Jenderal Sudirman – Balaikota Surakarta. Tim Kreatif dan Manajemen SBC 7, […]

You May Like