Mengenal Kawasan Konservasi atau Kawasan Hutan Konservasi

Kawasan Konservasi (https://mui-lplhsda.org)

International Union for Conservation for Nature (IUCN) pada tahun 1994 menetapkan pengertian kawasan yang dilindungi (protected area) adalah sebuah wilayah daratan dan atau perairan yang ditetapkan untuk perlindungan dan pengawetan keragaman hayati dan sumber daya alam serta budaya yang terkait, serta dikelola secara legal atau efektif (Guthridge-Gould, 2010, dalam Hermawan et al., 2014). Kawasan konservasi dimaksudkan sebagai kawasan perlindungan keanekaragaman hayati yang ada didalamnya.

Konservasi keanekaragaman hayati yang diwujudkan dalam bentuk kawasan konservasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konsep pembangunan berkelanjutan karena bertujuan untuk mengelola sumberdaya alam dan ekosistemnya yang meliputi aspek pemanfaatan, pengawetan, dan perlindungan sehingga bermanfaat dan mendukung kehidupan manusia (Saefullah, 2017). Hermawan et al. (2014) menyatakan bahwa esensi dari sebuah kawasan konservasi adalah berbasis wilayah tertentu; bertujuan untuk keanekaragaman hayati; membutuhkan suatu pengelolaan; ada otoritas pengelola untuk menjamin penyelenggaraan upaya konservasi.

Sejarah

Konservasi dan Pelestarian Jenis (1920 – 1938) – (http://pika.ksdae.menlhk.go.id)

Pembentukan kawasan konservasi (KK) di Indonesia mengacu pada saat Pemerintah Kolonial Belanda menunjuk sebagian hutan Indonesia sebagai “natuurmonumenten” (monumen alam) atau “wildreservaat” (suaka margasatwa) di bawah Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Tujuan melestarikan hutan termasuk penelitian dan perlindungan alam dan habitat marga satwa, terutama mamalia besar, burung dan hewan menarik lainnya.

Beberapa kawasan yang dikelola oleh Kantor Kehutanan (Onder het beheer van den Dienst van het Boschwezen) seperti cagar botani atau Kebun Raya Bogor (Onder het beheer van den Directeur’s Land Paltentuin te Buitenzorg), sedangkan yang dan lainnya dikelola oleh pihak swasta (Onder het beheer door Particulieren) seperti cagar alam. Daerah-daerah tersebut ditetapkan sebagai cagar alam (natuurmonumenten) berdasarkan UU Cagar Alam No. 278 tanggal 18 Maret 1916 (Natuurmonumenten Ordonantie, Staatsblad van Nederlandch – Indie No. 278, 1916).

Selain itu, banyak daerah yang ditetapkan sebagai suaka margasatwa (wildreservaat) untuk melindungi spesies hewan yang terancam karena perburuan yang berlebihan untuk hobi dan keindahan. Situasi tersebut menyebabkan pembatasan kegiatan berburu melalui berlakunya Peraturan Berburu no. 133/1916 (Jacht ordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 133) yang diikuti oleh berlakunya Peraturan Satwa Liar (Dierenbeschermings Ordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134).

Pada tahun 1941, sebuah Hukum Perlindungan Alam (Natuurbeschermings Ordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167) diterbitkan sebagai perbaikan dari Hukum Monumen Alam tahun 1916. Namun, karena Perang Dunia II (dan invasi Jepang tahun 1942), tidak ada kegiatan terkait yang dilakukan sampai diundangkannya UU No. 5 tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Kehutanan. Menurut undang-undang ini, kawasan konservasi dibagi menjadi Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata. Berdasarkan undang-undang ini, yang sebelumnya natuurmonumenten dan   wildreservaat ditetapkan kembali sebagai suaka alam dan suaka margasatwa.

Selain itu, lebih banyak wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan lindung baru seperti cagar alam, suaka margasatwa, hutan wisata, dan hutan buru di bawah Departemen Pertanian. Namun, dasar konservasi keanekaragaman hayati berlaku setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, yang pada saat yang sama mencabut undang-undang yang sebelumnya dikeluarkan Pemerintah Kolonial Belanda.

Pada tahun 1978/1979, beberapa kawasan konservasi, terutama Cagar Alam dan Suaka Margasatwa dinilai untuk diusulkan menjadi taman nasional dengan menggambungkan areal hutan yang berdampingan sekitarnya menjadi areal yang layak terkelompok. Lima taman nasional pertama ditetapkan pada tahun 1980, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Komodo. Pada tahun 1982, selama Kongres Taman Nasional Dunia (World National Park Congress) di Bali, 11 kawasan lainnya dinyatakan sebagai taman nasional. Saat ini, ada 521 kawasan konservasi di Indonesia, meliputi lebih dari 27 juta hektare, yaitu: CagarAlam (220Ha), Suaka Margasatwa (75Ha), Taman Nasional (51Ha), Taman Hutan Raya (23Ha), Taman Wisata Alam (115Ha), dan Hutan Buru (13Ha).

Kawasan

Di Indonesia istilah kawasan yang dilindungi dikenal dengan kawasan konservasi atau kawasan hutan konservasi. Menurut UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Kategorisasi kawasan konservasi menurut UU No. 5 Tahun 1990 sebagai berikut:

1. Kawasan Suaka Alam (KSA)

Merupakan kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan, satwa dan ekosistemnya juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.

a. Cagar Alam (CA)

Cagar Alam Pulau Dua Banten

Merupakan kawasan suaka alam yang dikarenakan keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan cagar alam. Cagar alam hanya dapat dimanfaatkan secara langsung untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan budidaya.

b. Suaka Margasatwa (SM)

Suaka Margasatwa Rimbang Baling Riau, menjadi rumah bagi beragam spesies fauna yang dilindungi dan terancam punah seperti Harimau Sumatera (https://www.cnnindonesia.com)

Merupakan kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam suaka margasatwa adalah kegiatan bagi kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, wisata dalam jumlah yang terbatas (menikmati keindahan alam dengan syarat tertentu) serta kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.

2. Kawasan Pelestarian Alam (KPA)

Merupakan kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat ataupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari terhadap sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan pelestarian alam terdiri atas:

a. Taman Nasional (TN)

53 Taman Nasional Indonesia

Merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

b. Taman Hutan Raya (Tahura)

Taman Hutan Raya (Tahura) Ir.H. Djuanda Bandung (https://bukanrastaman.com)

Merupakan kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

c. Taman Wisata Alam (TWA)

Merupakan kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.

Kategori

a. Kategori Kawasan Konservasi di Indonesia 

Kategori Kawasan Konservasi di Indonesia

b. Kategori Pengelolaan Kawasan Konservasi Menurut IUCN

Kategori Pengelolaan Kawasan Konservasi Menurut IUCN

Luas Kawasan Konservasi

Rekapitulasi Luas Kawasan Konservasi Berdasarkan Fungsi s.d Tahun 2016

Sumber: undip

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

TWA Pelangan Lombok Barat NTB

Mon Nov 2 , 2020
Taman Wisata Alam Pelangan Taman Wisata Alam (TWA) Pelangan terletak di di Desa Pelangan, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan luas 344,00 Ha. Memiliki dua tipe tempat wisata yang ditawarkan, yaitu perbukitan dan hutan alam, serta wisata pantai yang bisa dijadikan alternatif pilihan. Jika anda […]