Tarian Tradisional Blitar Jawa Timur

1

Tari Reyog Bulkiyo

Kesenian tradisi merupakan medium yang nyaris tak terbatas untuk menyampaikan nilai-nilai, karena dekat dan akrab dengan masyarakat dan merupakan milik dari masyarakat itu sendiri.

Tari Barong Rampong

Tari Barong Rampong (https://explorerkeindahanblitar.blogspot.com)

Merupakan tarian khas Blitar yang diciptakan oleh Kholam Shiharta tarian tersebut merupakan perpaduan antara tari Barongan dengan tradisi Rampogan Macan yang pernah ada di wilayah Blitar pada abad 18 – 19 silam.

Uniknya lagi desainer kostum sosok barong yang digunakan dalam tarian tersebut mengambil dari relief candi penataran, selain itu ditambahi diatas kepala barong dengan hiasan lidi, dimana lidi tersebut menggambarkan tombak dari para prajurit yang melesat menusuk sang macan.Maha karya anak bangsa tersebut terpilih sebagai juara di Cheonan World Dance Festival 2011. Tarian Barong Ramong mampu menembus kancah kesenian dunia, kesenian tersebuta mendapat juara keempat se ASIA tahun 2011.

Tari Emprak

Tari Emprak (https://www.picuki.com)

Merupakan tarian ngamen dari rumah kerumah dengan sajian unik yang terkemas antara joget, sindenan dan bonang Pola sajianya beraneka ragam dengan membawakan beberapa lagu atau gending dolanan, tayuban bahkan jaranan.

Tari Emprak tradisional dimainkan oleh 9-15 orang dan semuanya laki-laki. Pementasan tari ini semalam suntuk di atas lantai dengan gelaran tikar lesehan. Dan emprak masa kini bisa dimainkan mulai dari 5 orang wanita.

Tari Emprak (https://www.picuki.com)

Kata “Emprak” diambil dari kosakata Jawa “pating klemprak” yang artinya kurang lebih “berserakan”. Tema diambil dari kejadian di masyarakat seperti : kawin lari, kawin paksa, perselisihan rumah tangga, dan sebagainya yang diakhiri dengan pesan‑pesan dan hikmah dari cerita yang dipentaskan.

Tari Reyog Bulkiyo

Tari Reyog Bulkiyo (https://news.detik.com)

Merupakan tarian sebagai media untuk latihan perang. Namun seiring perkembangan zaman, kesenian tersebut berfungsi sebagai sarana ritual, hiburan dan seni pertunjukan.

Sejarah

Perang Sabil atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Perang Jawa (De Javasche Oorlog dalam bahasa Belanda dan The War is Java) mempunyai dampak dalam sejarah nasional maupun sejarah lokal. Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap oleh Belanda pada 28 Maret 1830, banyak dari pasukan Pangeran Diponegoro yang melarikan diri di berbagai pelosok daerah untuk menghindar dari penangkapan Belanda. Akibat dari pelarian itu, mereka banyak yang menyamar menjadi rakyat biasa dan bertahan hidup hingga pada akhirnya mempunyai hasil karya seprti misalnya kesenian Reyog Bulkiyo merupakan kesenian tari hasil dari olah pikiran prajurit yang melarikan diri dari kejaran Belanda. Kesenian tari ini terdapat di Desa Kemloko Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar yang dahulu pada tahun 1825 daerah tersebut termasuk dalam bumi Mancanegara Wetan.

Reyog Bulkiyo dari Desa Kemloko Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, ciri khas yang menunjukan bahwa ada tiga unsur budaya terangkai dalam satu kesenian tari tradisional Reyog Bulkiyo yaitu budaya Jawa, Islam (Arab) dan, Cina, selanjutnya  faktor pendukung dan penghambat eksistensi suatu kesenian tradisional di arus modernisasi.

Tahun 2019 ini ada dua yang ditetapkan WBTB (Warisan budaya tak benda) dari Pemkab Blitar. Yaitu Larung Sesaji Pantai Tambakrejo dan tradisi kesenian Reyog Bulkiyo dari Desa Kemloko.

One thought on “Tarian Tradisional Blitar Jawa Timur

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Camilan Khas Gunung Kidul DIY

Sat Oct 10 , 2020
Gatot Gunung Kidul Beraneka ragam makanan ringan (camilan) di Gunung Kidul dengan bahan baku ketela (singkong) yang diolah menjadi berbagai camilan, seperti tiwul, gatot, getuk goreng dan lain sebagainya sudah berhasil menembus pasar di kota-kota besar karena kelezatannya. Tiwul Gunung Kidul Tiwul Gunung Kidul Di Gunung kidul, kalau lagi waktunya […]