Komplek Percandian Padang Lawas Sumatera Utara

Pemandangan Dataran Padang Lawas

Gugusan percandian yang terdapat di kawasan Padang Lawas, saat ini merupakan bagian dari 2 kabupaten, yaitu Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Padang Lawas Utara. Saat ini Kabupaten Tapanuli Selatan dimekarkan menjadi 3 kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padang Sidempuan.Padang Lawas adalah suatu kawasan di mana terdapat situs-situs arkeologi berjumlah setidaknya 26 situs. Situs-situs tersebut berada di Kecamatan Gunung Tua, Kecamatan Portibi, Kecamatan Padang Bolak, Kecamatan Padang Bolak Julu, Kecamatan Barumun, Kecamatan Barumun Tengah, dan Kecamatan Sosopan yang kesemuanya termasuk dalam wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara dan Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara.

Situs

Peta Kepurbakalaan Padang Lawas

Situs-situs percandian tersebut terdapat di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Barumun, Batang Pane, dan Sirumambe. Bangunan-bangunan percandian tersebut banyak dipengaruhi oleh budaya India atau mewakili masa klasik pada pembabakan kepurbakalaan di Indonesia. Situs-situs tersebut meliputi:

A. Situs-situs di DAS Barumun

1. Candi Sipamutung

Candi Sipamutung

Terletak di Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas. Kompleks percandian ini berada di pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Batang Pane dan Sungai Barumun. Di kompleks percandian ini terdapat satu bangunan induk dan enam candi perwara. Percandian di kompleks ini telah mengalami pemugaran, sehingga kondisinya cukup baik. Kompleks percandian ini dilengkapi juga dengan gapura dan pagar keliling, sedangkan di bagian terluar terdapat tanggul-tanggul tanah yang mengelilingi. Di kompleks percandian ini terdapat cukup banyak komponen pelengkap bagi sebuah candi, antara lain adalah makara, fragmen arca penjaga, lapik arca, arca singa, stamba, umpak bangunan dan sebagainya. Kompleks percandian ini diperkirakan memiliki luas sekitar 30 hektar yang pada masa lalu merupakan areal pemukiman.

2. Candi Aek Tunjang

Terletak di Desa Aek Tunjang, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas. Situs Aek Tunjang saat in berada di pemukiman penduduk. Bangunan yang tersisa saat ini, berupa struktur bangunan terbuat dari bata berukuran tinggi sekitar 2 meter, panjang 5 meter dan lebar 4 meter.

3. Candi Tandihat

Candi Tandihat

Terletak di Desa Tandihat, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas. Sungai Barumun mengalir di sebelah barat candi ini. Candi Tandihat I merupakan kompleks pecandian yang terdiri dari sebuah bangunan induk dan 5 candi perwara. Candi Tandihat II setidaknya terdiri dari dua bangunan. Satu merupakan bangunan induk dan sebuah gundukan lebih kecil kemungkinan merupakan candi perwara. Komponen bangunan yang ditemukan di Candi Tandihat II antara lain adalah makara, dan tiga buah arca perunggu yang saat ini tersimpan di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Candi Tandihat III terletak di Desa Gunung Manaon Kecamatan Barumun Tengah. Candi tersebut disebut juga dengan Candi Longung. Bangunan candi ini terletak di meander Sungai Barumun, sehingga rawan akan erosi. Kondisinya saat ini tertimbun tanah. Setidaknya di lokasi tersebut terdapat dua bangunan candi, yaitu candi induk dan perwara. Komponen bangunan di Tandihat III antara lain adalah sebuah stamba berukuran cukup besar.

4. Candi Aek Linta

Terletak di Desa Padang Galugur Jae, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas. Di lokasi ini setidaknya terdapat tiga gundukan tanah, yang didalamnya diperkirakan terdapat struktur bata. Selain itu pada saat dilakukan inventarisasi oleh Kanwil Depdikbud tahun 1994 ditemukan kemuncak candi berbahan batu (Kanwil Depdikbud Prov. Sumut 1994:38).

5. Candi Longung

Candi Longung memiliki keistimewaan tersendiri, karena dibangun dari batuan tuff, bukan dari bata seperti umumnya candi di kompleks Padanglawas.

6. Candi Sangkilon

Candi Sangkilon

Terletak di Desa Sangkilon, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas. Kompleks percandian tersebut terletak di bagian hulu Sungai Barumun. Kompleks percandian Sangkilon dibatasi tembok keliling. Di sebelah utara terdapat runtuhan gerbang masuk ke candi. Di bagian dalam terdapat empat runtuhan bangunan, satu merupakan bangunan induk, sedangkan yang lain merupakan candi perwara. Yang tersisa pada bangunan candi induk saat ini adalah bagian kaki dan sebagian badan, sedangkan atapnya telah runtuh. Di sekitarnya terdapat candi perwara. Riwayat penelitian candi tersebut pernah ditemukan arca perunggu dan pertulisan pada lempengan emas. Berdasarkan ciri-ciri tulisannya diperkirakan candi tersebut berasal dari abad 12 M. komponen bangunan yang terdapat di sekitar kompleks percandian Sangkilon antara lain adalah fragmen makara, fragmen arca singa dan sebagainya.

B. Di DAS Batang Pane

1. Candi Bara

Terletak di Desa Bara kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara. Di areal percandian ini terdapat tiga gundukan tanah yang di dalamnya mengandung runtuhan temuan. Gundukan terbesar diperkirakan merupakan bangunan induk, sedangkan dua gundukan lain merupakan perwara. Kelompok bangunan ini memiliki tembok/pagar keliling dan dilengkapi dengan gerbang masuk. Di lokasi tersebut ditemukan juga temuan berupa lapik yang pada salah satu sisinya terdapat cerat berbentuk naga. Temuan lain adalah arca singa.

2. Candi Pulo

Terletak di Desa Bahal Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara. Bangunan Candi Pulo terbuat dari bahan bata berdenah persegi panjang dengan ukuran sekitar 4 X 9 meter dengan tinggi bangunan yang tersisa adalah sekitar 2 meter. Tangga bangunan diperkirakan terletak di sisi utara. Di tiap-tiap sisi terdapat relief motif sulur-suluran. Selain itu di bagian tersebut juga terdapat relief banteng bertubuh manusia, relief manusia dengan mata melotot dan relief manusia dengan kepala gajah.

3. Candi Bahal

Candi Bahal atau Candi Portibi (https://wisato.id)

Terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara. Di kompleks percandian Candi Bahal terdapat tiga kompleks percandian yang meliputi Bahal I, II dan III. Kompleks percandian ini ini kondisinya cukup baik setelah dilakukan pemugaran oleh instansi terkait.

4. Candi Sitopayan

Candi ini terdapat di Kampong Sitopayan, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara, di sebelah barat sungai Batang Pane. Di lokasi ini setidaknya ditemukan empat kelompok reruntuhan yang berbahan batu bata dan batu kali. Bangunan induk candi dikelilingi setidaknya 30 buah bata dan batu kali berupa lapik-lapik kecil. Dua diantaranya terdapat prasasti yang digoreskan pada salah satu sisi batu, alas tiang arca dan fragmen stamba. Berdasarkan bentuk tulisannya Schnitger (1937) menduga bahwa bangunan kompleks percandian tersebut berasal dari sekitar abad 12-14 masehi. Menurut Goris, yang dikutip Schnitger (1937: 32) berdasarkan isi prasasti tersebut terdapat kata-kata yang menunjukkan angka tahun, antara lain adalah Sapta, Buddhi, Imba dan Langgar merupakan angka-angka 7, 5, 1, dan 1 atau 1157 ka atau 1235 Masehi.

Berdasarkan isi kedua prasasti tersebut diperkirakan pada waktu bersamaan ada dua pekerjaan yang sedang dilakukan oleh kelompok pekerja yaitu antara Hang Tahi Si Ranggit dan pu Anyawarin yang membangun tempat kediaman para dewa, sedangkan kelompok kedua membangun vihara untuk Sri Maharaja (Schnitger, 1937: 32).

5. Gunung Tua

Tinggalan arkeologis yang ditemukan di Gunung Tua, Kabupaten Padang Lawas Utara, antara lain adalah sebuah arca kelompok berupa arca Lokananta, dua buah arca Tara. Arca Lokananta disebut juga dengan arca Avalokiteśvara. Di belakang alas arca tersebut terdapat prasasti yang berbunyi juru pandai suryya barbuat bhatãra lokanãtha. Berangka tahun 961ka (Bosch, 1930). Arca-arca tersebut memiliki gaya seperti gaya arca-arca perunggu masa Cola yang berkembang di India Selatan.

6. Candi Aek Haruaya

Terletak di Kampung Haruaya, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara. Tinggalan bangunan yang terdapat di lokasi ini sekarang sudah hilang. Menurut laporan dari Dinas Purbakala Tahun 1953 beberapa temuan yang masih tersisa adalah berupa temuan lepas, antara lain adalah: fragmen bagian bawah stamba, lapik padmasana, yang kemungkinan merupakan bagian bawah stamba (Susetyo, 2002).

7. Biaro Tanjung Bangun

Terletak di desa Bangun Purba, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara. Petunjuk adanya tinggalan budaya masa lampau adalah berupa dua buah makara batu yang kondisinya telah rusak. Pecahan bata dan batu persegi empat. Makara terbuat dari batu andesit, di bagian mulut makara tersebut terdapat hiasan manusia dalam posisi memegang pedang. Di bagian punggung makara terdapat hiasan sulur-suluran. Makara ini memiliki kesamaan dengan makara yang terdapat di Candi Bahal, Tandihat dan Sipamutung.

C. Situs di DAS Sirumambe

1. Situs Mangaledang

Berada di Dusun Tor Na Tambang, Desa Mangaledang Godang, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara. Tinggalan arkeologis terdapat di belakang perkampungan Dusun Tor Na Tambang berupa gundukan tanah yang diperkirakan merupakan Biaro Mangaledang yang dilihat Schnitger pada tahun 1935. Schnitger melihat adanya tiga gundukan tanah dengan ketinggian sekitar 1 meter dengan ukuran gundukan di bagian tengah lebih besar daripada yang lain. Selain gundukan tanah tim penelitian Puslitbang Arkenas berhasil menemukan beberapa buah stamba, lapik stamba, lapik berhias singa, dan lapik berhias sulur

2. Situs Naga Saribu

Terletak di Desa Bangun Purba, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara, 150 meter sebelah barat tepian Sungai Sirumambe atau 600 meter sebelah barat pasar desa Naga Saribu. Temuan arkeologis di situs tersebut adalah berupa gundukan tanah dengan ketinggian sekitar 3 meter. Temuan lain selain gundukan tanah tersebut adalah beberapa buah makara.

3. Situs Padang Bujur

Terletak di Desa Padang Bujur, Kecamatan Padang Bolak Julu, Kabupaten Padang Lawas Utara. Situs ini berjarak sekitar 10 km dari situs Naga Saribu. Jenis tinggalan arkeologis di situs ini adalah berupa bangunan megalitik, dan lapik stamba yang kelilingnya dipahatkan relief padma dan banaspati.

4. Situs Batu Gana

Terletak di Desa Batugana, Kecamatan Padang Bolak Julu, Kabupaten Padang Lawas Utara. Tinggalan arkeologis di situs ini adalah berupa bangunan megalitik. Selain itu di situs tersebut ditemukan juga dua umpak batu berdenah bujursangkar.

5. Situs Si Soldop

Berada di desa Tangga-tangga Hambeng, Kecamatan Padang Bolak. Situs ini terletak di puncak bukit batu yang disebut tortor Sisoldop. Tinggalan arkeologis di situs yang oleh penduduk disebut pangulu baling antara lain terdiri dari lapik stamba, fragmen stamba dan batu berpahatkan kaki dan tangan. Selain yang disebutkan di atas di kawasan ini juga terdapat situs-situs lain, antara lain Situs Aek Tolong Huta Jae, Situs Tor Na Tambang, Situs Aek Haruaya (Susetyo, 2002).

6. Permukiman Kuno

Selain itu, di sekitar situs-situs tersebut juga ditemukan adanya indikasi permukiman kuno, hal ini diketahui dari adanya makam-makam tua yang menunjukkan pengaruh tradisi megalitik ataupun klasik. Beberapa situs permukiman tersebut antara lain (Susetyo dan Utomo, 2002):

7. Situs Lobu Dolok

Terletak di Desa Aek Tolong Tonga, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara. Situs ini terletak di atas bukit. Sungai terdekat yang mengalir adalah sungai Panantanan yang berada di kaki bukit Lobu Dolok. Tinggalan arkeologisnya berupa kuburan yang disebut dengan Lobu Dolok berbentuk papan-papan batu yang dilengkapi dengan motifmotif hias.

8. Situs Aek Korsik

Terletak di Dusun Aek Korsik, Desa Aek Tolong Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara. Tinggalan arkeologis di lokasi tersebut berupa tinggalan megalitik susunan lempengan papan batu melingkar, di bagian tengahnya terdapat batu tegak dengan bagian atas melengkung. Kuburan itu oleh masyarakat setempat disebut dengan kuburan Jama I Tahon beserta kedua anaknya.

Sumber: Pemanfaatan dan Pengembangan Obyek Arkeologi di Padang Lawas dan Padang Lawas Utara Sebagai Kawasan Wisata Budaya Terpadu Oleh Repelita Wahyu Oetomo, Balai Arkeologi Medan, BAS NO. 27 / 2011.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Desa Wisata Torosiaje Pohuwato Gorontalo

Fri Oct 16 , 2020
Desa Wisata Torosiaje (https://www.tripzilla.id) Desa Wisata Torosiaje juga dikenal dengan Kampung Bajo terletak di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Etnik Bajo, mereka dikenal dengan julukan gipsi laut, hebat dalam menaklukkan ombak dan berpengalaman dalam mengarungi lautan. mereka pun tidak menetap disatu tempat untuk tinggal, mereka lebih memilih […]