Candi Tandihat Padanglawas Sumatera Utara

Candi Tandihat 1 (https://referensi.data.kemdikbud.go.id)

Biaro/Candi Tandihat I (Sijoreng Belanga I) terletak di Desa Tandihat, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas. Candi ini oleh masyarakat setempat di sebut juga dengan sebutan Candi Joreng Belanga karena lokasinya berbentuk seperti belanga. Di dekat Candi Tandihat I/Joreng Belanga I terdapat juga candi yang dikenal dengan nama Candi Sisangkilon. Sementara itu di sebelah barat Candi Tandihat I/Joreng Belanga I mengalir sungai Barumun yang mengalir ke arah Utara.

Berdasarkan bentang geografisnya biaro tersebut berada pada suatu dataran rendah dengan ketinggian 55 d.p.l. Di dalam areal tersebut terdapat satu biaro induk dan 5 biaro perwara. Biaro-biaro perwara sekarang tampak berupa gundukan tanah yang diselimuti rumput.

Candi Tandihat 1 (https://referensi.data.kemdikbud.go.id)

Biaro/candi Tandihat I (Sijoreng Belanga I) dibangun pada abad ke-12 M yang didasarkan atas temuan sebuah prasasti batu berangka tahun 1101 Saka atau sama dengan tahun 1179 Masehi oleh seorang epigraf (ahli membaca tulisan kuno) bernama Louis Charles Damais. Menurutnya, berdasarkan pertanggalan prasasti dipastikan candi ini berasal dari masa 26 April tahun 1179 M. Sebagaimana percandian lain di Padang Lawas, kompleks percandian Biara Tandihat I ini juga dilatarbelakangi oleh agama Buddha mazhab Vajrayana. Salah satu  bukti sifat Vajrayana dari kompleks percandian ini adalah ditemukannya satu landasan arca yang permukaan atasnya dihiasi oleh bentuk vajra (petir).

Biaro induk Tandihat 1

Candi Tandihat 1 (https://referensi.data.kemdikbud.go.id)

Biaro induk merupakan sebuah bangunan bata yang berdiri di tengah (agak ke barat) halaman percandian yang berukuran 45 X 45 meter. Biaro induk tersebut berukuran 5 X 5 meter dengan tinggi 5 meter, dan ruangan dalam berukuran 2,27 X 2,27 meter, dengan pintu masuk menghadap ke timur. Pada dinding bagian dalam terdapat lubang berukuran 25 X 30 cm dan kedalaman 10 cm.1 Bangunan biaro induk terdiri dari bagian batur, kaki, dan badan, sedangkan atapnya telah runtuh.

Biaro Perwara B

Biaro Perwara B berada tepat di depan biaro utama. Biaro tersebut berupa sisa-sisa bangunan yang permukaannya ditutupi oleh rumput, berukuran 8 X 6 meter, tinggi 1 meter. Biaro perwara berikutnya adalah yang berada di sisi kiri biaro utama, berupa suatu gundukan berukuran 5 X 3 meter dan tinggi 1 meter. Di utara biaro induk terdapat dua gundukan dengan stupa di bagian atasnya. Hasil ekskavasi di dekat biaro perwara tersebut terdapat prasasti betarikh 1179 M, yang diduga merupakan tahun mulai didirikannya biaro ini (Schnitger 1938: 100).

Biaro Perwara C

Biaro Perwara C (https://referensi.data.kemdikbud.go.id)

Di sebelah selatan biaro induk terdapat biaro perwara berbentuk gundukan setinggi 1,2 meter, di atasnya terdapat lapik berdenah bulat terbuat dari batu dengan garis tengah berukuran 95 cm dan tinggi 40 cm. Di bagian atas lapik terdapat lubang persegi empat dengan kedalaman 20 cm. Pada pinggir lapik tersebut terdapat hiasan padma ganda. Dari ekskavasi yang dilakukan Schnitger mendapatkan bukti bahwa lapik yang terdapat di puncak gundukan ini merupakan lapik stupa, dan di sudut gundukan yang merupakan biaro perwara tersebut ditemukan arca singa (Schnitger 1938: 97).

Berdasarkan laporan Schnitger di halaman biaro Tandihat-1 ditemukan kepala kala mengenakan rantai leher. Hal tersebut menunjukkan bahwa pola hias kala-makara juga dijumpai di biaro Padang Lawas. Temuan penting lainnya adalah prasasti yang menggunakan aksara Nagari dan Bahasa Sanskerta. Prasasti ditulis pada lempengan emas berukuran panjang 12,5 cm dan lebar 4,5 cm(Schnitger 1938: 98). Pada saat sekarang di halaman biaro Tandihat-1 terdapat beberapa artefak lepas yaitu 6 lapik dan 2 alas kemuncak yang semuanya terbuat dari batu pasir (sandstone). Deskripsi artefak-artefak tersebut sebagai berikut:

Bagian dasar (lapik) Stambha

Fragmen bagian dasar (lapik) stambha terbuat dari batu berada di bagian bawah biaro perwara yang terletak di sebelah kanan biaro utama. Lapik tersebut hanya satu lapis berbentuk bulat dan bagian sekelilingnya  berhias padma. Ukuran lapik diameter 83 cm, tinggi 10 cm, lubang di bagian atas berbentuk bujur sangkar berukuran 18 X 18 cm.

Fragmen Stupa

Fragmen Stupa dari batu berbentuk bulat berdiameter 60 cm, tinggi 40 cm. Bagian atas tengah berlubang bulat dengan diameter lubang 15 cm dan kedalaman 17 cm.

Lapik Stupa

Lapik polos terbuat dari batu berbentuk bulat, di bagian tengah terdapat lubang persegi. Ukuran lapik tersebut diameter 68 cm dan tinggi 35 cm, lubang berukuran 20 X 26 cm.

Lapik Bulat berhias yaksha

Lapik berbentuk bulat terbuat dari batu, di keempat sisinya terdapat pahatan tokoh yaksa dalam berbagai posisi, namun hanya dua tokoh yang masih dapat diamati sedangkan dua lainnya sudah aus. Tokoh 1 kedua tangan ke atas seolah mendukung bagian atas lapik; tokoh 2 digambarkan dalam posisi tiduran (sayana) dengan posisi miring, salah satu tangan menopang kepala. Ukuran lapik, tinggi 46 cm dan diameter 1,2 meter. Hiasan yang terdapat di sekeliling lapik berupa hiasan padma dan ceplok bunga.

Lapik segi 8 berhias Vajra

Lapik berbentuk segi 8 terbuat dari batu. Pada Biaro Tandihat-1 terdapat 3 lapik dengan bentuk yang sama tersebut, namun dalam tulisan ini hanya 1 yang akan dideskripsikan. Lapik dengnan bentuk segi 8 tersebut, bagian atas dan bawah menonjol sedangkan bagian tengahnya tidak. Pada bagian tengah terdapat panil panil yang dihias motif sulur daun dan relief manusia sedang memainkan alat musik. Di bagian atas lapik terdapat lubang berbentuk lingkaran dengan garis tengah berukuran 30 cm, dan kedalaman 8 cm. Pada permukaan atas di keempat sisi terdapat hiasan vajra. Ukuran lapik 80 X 80 cm dan tinggi 44 cm.

Stambha 1

Stambha 1 terbuat dari batu disimpan di Museum Negeri Sumatera Utara dengan nomer inventaris 1942. Stambha tersebut berukuran tinggi 80 cm, diameter bagian bawah 52,5 cm dan diameter bagian atas 35 cm. Bagian dasar berbentuk segi empat berukuran 34 X 34 dan tebal 20 cm. Di atas dasar persegi empat tersebut dihias kelopak padma ganda, sedangkan bagian tengah hingga atasnya polos. Adapun bagian paling atas berbentuk kuncup bunga yang sudah hilang bagian ujungnya.

Stambha 2

Stambha 2 disimpan di Museum Negeri Sumatera Utara dengan nomor inventaris 1941. Stambha terbuat dari batu, dengan ukuran tinggi keseluruhan 78 cm, diameter bagian bawah 48 cm, diameter bagian tengah 23 cm, dan diameter atas 26 cm. Di bagian bawah stambha terdapat bagian yang menonjol dengan ukuran panjang 7 cm dan diameter 25 cm. Pada bagian atas memiliki lubang dengan ukuran panjang 5 cm, lebar 5 cm, dan kedalaman lubang 5 cm. Di bagian atas stambha terdapat hiasan segi empat yang berisi ceplok bunga, di bawah hiasan segi empat terjuntai 3 untaian manik, di antara hiasan segi empat yang satu dengan lainnya terdapat hiasan suluran. Pada bagian tengah terdapat sabuk polos yang mengelilingi stambha. Di bagian bawah stambha dipahatkan padma ganda.

Arca Ganeśa     

Arca Ganeśa terbuat dari batu ditemukan tahun 1979 pada waktu melakukan  pembersihan Biaro Tandihat-1. Arca berukuran 39 X 39 cm dan tinggi 45 cm, digambarkan duduk dengan telapak kaki kiri bersila, dan kaki kanan ke bawah, telapak kaki menapak. Bertangan 4, tangan kanan depan diletakkan di atas utut kaki kanan dan tangan kiri depan memegang mangkuk diletakkan di atas kaki kiri, ujung belalai berada di dalam mangkok tersebut. Tangan kanan belakang memegang camara dan tangan kiri belakang memegang setangkai kuncup bunga (?) (Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Sumatera Utara 1994: 56).

Lapik Bulat

Lapik terbuat dari batu berwarna putih berbentuk bulat, sekarang di Museum Sumatera Utara. Lapik berukuran tinggi 30 cm, diameter bagian bawah 80 cm, dan diameter bagian atas 40 cm. Kondisi lapik aus, namun masih terlihat hiasan padma ganda. Di bagian atas terdapat lubang segi empat dengan ukuran panjang 15 cm, lebar 15 cm, dan kedalaman lubang 27 cm. m) Lapik Yoni

Lapik yoni terbuat dari batu berukuran 80 X 40 cm dan tebal 15 cm, ditemukan di Biaro Tandihat-1 pada tahun 1979. Bagian permukaan lapik terdapat lubang dan mempunyai cerat (Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi SumateraUtara 1994: 56).

Arca singa 1

Arca singa terbuat dari batu, berada di Museum Negeri Sumatera Utara. Arca tersebut berkuran tinggi 73 cm, panjang 58 cm, dan lebar 33 cm. Kondisi arca aus di bagian muka. Posisi arca dua kaki depan berdiri tegak sedangkan kaki belakang ditekuk ke depan. Sebagaimana arca singa lain di biaro Padang Lawas, pantat singa dipahatkan besar, ekornya

mengarah ke atas sampai punggung. Sedangkan surai dipahatkan di sekitar leher bagian bawah dan di belakang kepala. Di antara dua kaki depan terdapat pola hias sulur tetapi sebagian besar aus.

Arca Singa 2

Arca Singa 2 terbuat dari batu disimpan di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Arca dalam posisi kedua kaki depan berdiri tegak, kaki belakang ditekuk ke depan. Arca berukuran tinggi 65 cm, panjang 71 cm dan lebar 31 cm. Di antara kaki depan dan samping badan singa dihias pola sulur. Ekornya ke atas menempel punggung hingga kepala, mata bulat melotot, telinganya kecil. Mulutnya terbuka dan terlihat gigi-giginya. Surai berupa garis-garis dengan ujung melengkung, di bawah mulut dan belakang kepala. Bagian hidung aus.

Fragmen lapik arca berhias garuda

Fragmen arca terbuat dari bahan perunggu ditemukan oleh penduduk di sekitar Biaro Tandihat 1, sekarang disimpan di Museum Negeri Sumatera Utara dengan nomor inventaris 3459. Fragmen arca berupa telapak kaki di atas padmasana ganda bulat yang masuk ke dalam lapik segi empat. Lapik segi empat berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8 X 8 cm, pada bagian depan lapik segi empat terdapat pahatan garuda dalam sikap jongkok, kedua tangan diangkat ke atas.

Kedua tangan garuda memakai gelang polos, memakai kalung berbentuk bulat, ikat pinggang agak lebar, aus. Di atas lapik persegi empat terdapat lapik bulat berhias padma ganda, yang di atasnya terdapat dua telapak kaki manusia. Dalam mithologi Buddha, Garuda dalah wahana Amogasiddhi yaitu salah satu Dhyānibuddha dalam agama Buddha aliran Vajrayana. Arca yang berada di atas lapik tersebut diduga adalah tokoh Amogasiddhi (Soedewo 2006: 50). Belum diketahui arca tersebut mendapat pengaruh dari mana karena bentuknya yang sangat fragmentaris.

Sumber: candidimadurasampaikalimantan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Candi Sangkilon Padanglawas Sumatera Utara

Tue Oct 13 , 2020
Candi Sangkilon (http://belantarakhatulistiwa.blogspot.com) Kompleks Candi atau Biaro Si Sangkilon terletak di Desa Sangkilon, Kecamatan Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Biaro Si Sangkilon berupa beberapa gundukan tanah yang terletak di tengah areal persawahan. Sekitar 20-30 meter menuju arah utara terbentang Sungai Sangkilon (anak Sungai Barumun di daerah hulu).  Pada […]