Candi Sipamutung Padanglawas Sumatera Utara (Video)

Candi Sipamutung (https://www.mandailingonline.com)

Candi Sipamutung (Biaro Sipamutung) adalah salah satu candi bercorak Buddha peninggalan Kerajaan Pannai di Kompleks Percandian Padanglawas. Secara administratif, candi ini terletak di Desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padanglawas, Provinsi Sumatra Utara. Bangunan candi ini diperkirakan berdiri pada abad 11.

Areal Candi Sipamutung berada di antara 3 (tiga) wilayah desa, yakni Desa Siparau Lama, Siparau Baru, dan Desa Siharbogoan, diapit dua sungai, yakni Sungai Batangpane yang berada 600 meter di sebelah barat dan Sungai Barumun sekitar 100 meter di sebelah selatan. Kedua sungai itu bertemu di sebelah utara yang selanjutnya membentuk Sungai Barumun.

Sekitar 3 (tiga) kilometer dari Binanga, ibukota Kecamatan Barumun Tengah, 40 kilometer dari ibu kota Kabupaten Padanglawas, Sibuhuan atau sekitar 70 kilometer dari Kota Padangsidimpuan dan 400 kilometer dari Medan, Ibu kota Provinsi Sumatra Utara. Secara geografis, Candi Sipamutung terletak di tepi Sungai Barumun yang membelah dataran rendah Padanglawas.

Berbeda dengan di Jawa yang cenderung menyebutnya dengan candi, masyarakat Padanglawas menyebut sisa kepurbakalaan disana dengan kata biara yang berasal dari bahasa Sansekarta, vihara yang aslinya berarti serambi tempat para pendeta berkumpul atau berjalan-jalan. Kelak dalam bahasa Indonesia kata itu menjadi biara atau wihara, yang artinya adalah tempat para biksu. Berkenaan dengan itu maka di sana dikenal misalnya Biara Bahal dan Biara Sipamutung, yaitu peninggalan kuna yang dikesempatan ini menjadi fokus pembicaraan.

Bangunan

Candi Sipamutung merupakan candi terbesar di Kompleks Percandian Padanglawas. Candi Sipamutung secara umum terbuat dari bata dan mempunyai luas lahan 6000 meter persegi dan luas candi 74 x 74 meter yang dikelilingi tembok bata. Komplek Candi Sipamutung terdiri dari 1 bangunan utama dan 6 candi perwara dan 16 stupa. Bangunan utamanya memiliki luas 11 x 11 meter dan tinggi 13 meter yang terdiri dari bagian kaki, badan, dan atap. Candi-candi perwara di sekitar candi induk berbentuk mandapa berdenah segi empat berukuran luas 10,25 X 9,9 meter dan tinggi 1,15 meter.

Bangunan induk

Bangunan induk Candi Sipamutung (https://referensi.data.kemdikbud.go.id)

Biara Sipamutung selesai dipugar tahun 1998. Denah bangunan bata ini bujur sangkar berukuran 11 meter x 11 meter, tinggi 14 meter. Dari permukaan tanah, bangunan ini terdiri dari 247 lapis bata. Pola ikatan bata berselang-seling lebar panjang dengan menggunakan spesi adonan bata. Ada 2 (dua) kaki bangunan biaro. Kaki pertama berdenah bujursangkar 11 m x 11 m setinggi 3,1 m. Umumnya perbingkaian yang digunakan adalah pelipit rata, pelipit sisi genta, dan pelipit padma. Lantai dan tangga berada di sebelah timur. Lebar tangga 2,12 m dan kedua ujung bawah tangga masing-masing dilengkapi makara berbahan batuan tufaan. Lebar lantai kaki pertama 6,04 m yang berada pada lapis ke-65. Di bagian pinggir sisi utara, selatan, barat, dan sebagian sisi timur terdapat pagar langkan berupa susunan bata yang dibentuk seperti buah catur.

Kaki kedua biara induk berdenah bujur sangkar 8,2 meter x 8,2 meter setinggi 1,4 meter yang terdiri atas 25 lapis batu. Perbingkaiannya adalah pelipit rata, padma, dan pelipit sisi genta. Lebar tangga naik di sisi timur 1,54 meter. Jarak dinding kaki kedua dengan pagar langkan di kaki pertama 73 cm yang digunakan sebagai jalan untuk mengelilingi bangunan (pradaksina dan prasawya).

Tubuh bangunan biara berdenah bujur sangkar 5,72 meter x 5,72 meter setinggi 4,6 meter. Dinding tubuh bangunan terbagi menjadi panel-panel di sisi utara, selatan, dan barat. Perbingkaiannya adalah pelipit rata dan sisi genta. Tangga di sisi timur selebar 1,38 meter. Pintu masuk dilengkapi penampil di kanan-kiri. Ruang/bilik di tubuh bangunan biara seluas 2,58 meter x 2,58 meter.

Atap

Atap bangunan induk bertingkat 2 (dua) berbentuk segi empat. Tingkat pertama berukuran 4,76 meter x 4,74 meter dan dikelilingi 16 stupa yang masing-masing berukuran 76 cm x 76 cm. Adapun tingkat kedua yang berada di atas tingkat pertama berukuran 2,38 meter x 2,36 meter. Di tingkat kedua ini terdapat lubang persegi 16 cm x 16 cm, diduga tempat kedudukan kemuncak atap yang kemungkinan berbahan batuan tufaan. Seperti di tingkat pertama, atap tingkat kedua juga dikelilingi 12 buah stupa yang masing-masing berukuran 62 cm x 86 cm.

Pagar

Pagar Candi Sipamutung (https://referensi.data.kemdikbud.go.id)

Pagar keliling bangunan Biara Sipamutung juga menggunakan bata. Ukuran pagar keliling 66 meter x 50,22 meter setinggi 1,1 meter. Tebal pagar keliling 94 cm. Di sudut baratlaut, pada bagian bawah pagar keliling itu ada lubang persegi empat 16 cm x 16 cm yang diperkirakan merupakan lubang pembuangan air (drainase).

Gapura

Gapura Candi Sipamutung (https://referensi.data.kemdikbud.go.id)

Adapun gapura terdapat di sebelah timur bangunan induk. Ukurannya 8 meter x 5,5 meter setinggi 4 meter.

Temuan lepas di kompleks Biara Sipamutung berupa arca Amitabha, juga arca yaksa, fragmen stambha, serta relief seorang wanita yang digambarkan dengan wajah seram, kedua alis bertemu, mata melotot, bertaring, dan dalam sikap tangan anjalimudra. Dua arca yaksa di sana digambarkan berukuran besar namun bagian kepalanya telah hilang. Yaksa bertangan dua itu berada dalam posisi berdiri, memakai kalung ganda, tali kasta berupa ular, tangan kanan memegang gada, dan tangan kiri di depan perut dalam sikap tarjanimudra. Arca yaksa digambarkan mengenakan kain motif ceplok bunga sampai batas lutut atas (dhoti) dengan wiron di bagian depan dan belakang, dan dilengkapi gelang kaki berupa ular (Setianingsih 2001,94).

Sumber: Biara Bahal dan Biara Sipamutung, Peninggalan Kepurbakalaan Masa Klasik Indonesia di Kawasan Padanglawas, Sumatera Utara Oleh: Lucas Partanda Koestoro (Balai Arkeologi Sumatera Utara)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Candi Tandihat Padanglawas Sumatera Utara

Tue Oct 13 , 2020
Candi Tandihat 1 (https://referensi.data.kemdikbud.go.id) Biaro/Candi Tandihat I (Sijoreng Belanga I) terletak di Desa Tandihat, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas. Candi ini oleh masyarakat setempat di sebut juga dengan sebutan Candi Joreng Belanga karena lokasinya berbentuk seperti belanga. Di dekat Candi Tandihat I/Joreng Belanga I terdapat juga candi yang dikenal […]