Prosesi Pernikahan Adat Wolio Sulawesi Tenggara

Pakaian adat pengantin Wolio (https://pikdo.info)

Tujuan pcrkawinan menurut adat di Wolio pada azasnya adalah untuk memperoleh keturunan. Hal ini berkaitan juga dengan kepentingan kehidupan clan status sosial dari lingkungan keluarga itu sendiri. Materi yang cukup dan sanggup tidaknya seseorang bertanggung jawab terhadap keluarga.

Pemilihan Jodoh

Untuk pemilihan jodoh di Wolio diperlukan pertimbanganpertimbangan tertentu agar di laki-laki dapat menemukan jodohnya yang cocok dan serasi. Untuk mencari bakal isteri maka perlu ada pada perempuan itu persyaratan utama yaitu: Berharta atau kaya; cantik, keturunan bangsawan, beradat dan beragama.

Dari keempat hal tersebut di atas yang terutama ialah beradat dan beragama. Meskipun seorang perempuan itu miskin. Tidak cantik atau budak sekalipun, tetapi ia memegang teguh adat dan agama, itulah yang menjadi pertimbangan utama.

Mengenai proses mencari jodoh terjadi bila seorang laki-laki telah menjelang dewasa. Orang tua mulai memperhatikan gadis-gadis yang cocok untuk dikawinkan dengan anak laki-lakinya. Dalam hal ini dilakukan dengan memperhatikan kemenakan-kemenakan dalam lingkungan keluarganya. Bila sudah ada calon dimaksud maka untuk meyakinkan orang tua dan anak laki-laki yang bersangkutan, biasa diadakan suatu acara bebas muda-mudi di rumah orang tua pihak laki-laki dan pada kesempatan itu gadis yang bersangkutan turut diundang.

Dalam acara ini dimana pemuda dan pemudi saling bertemu, diperhatikanlah sikap dan tingkahlaku si gadis, tutur katanya dan lain sebagainya. Bila orang tua pihak laki-laki dan anak mereka telah sepakat untuk rnemilih seorang perempuan tertentu untuk dikawini, maka dapat dilanjutkan dengan peminangan menurut prosedur yang berlaku.

Peminangan

Tujuan upacara ini adalah agar ada kepastian untuk dilangsungkannya perkawinan. Dengan adanya peminangan, maka hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bersangkutan menjadi resmi dan disaksikan oleh orang tua dan kaum keluarga kedua belah pihak. Upacara peminangan di Wolio dilakukan pada waktu yang baik dan biasanya pada waktu pagi hari. Dilakukannya pada waktu pagi hari dimana matahari sementara naik mengandung kepercayaan agar calon suami-isteri lanjut usianya, mendapat banyak rejeki yang halal dan sebagainya.

Apabila telah dilakukan peminangan, maka pihak laki-laki berkewajiban untuk mengantarkan kepada pihak perempuan melalui tolowea pemberian yang disebut katindana oda dan bakena kau. Bakena kau artinya buah-buahan kayu. Mereka yang tidak mampu mengantarkan buah-buahan, dapat diganti dengan uang yang jumlahnya sebagai berikut :

  • 5 boka (Rp. 6,- dulu) bagi kaum bangsawan,
  • 3 boka (Rp. 3.60,- dulu) bagi kaum Walaka, bagi kaum papara berlaku ketentuan setempat.

Dengan pengantaran buah-buahan, ada kepercayaan serta permohonan doa agar kedua muda-mudi akan mendapat anak (akan berbuah). Buah-buahan yang diterima dibagi-bagikan kepada tetangga dan kaum keluarga.

Pakaian adat pengantin wanita Wolio Buton (https://www.picuki.com)

Pertunangan

Katinda oda berarti “bekas memarang pada tangga”. Pertunangan menurut adat pada masa Jampau, untuk mengetahui apakah si gadis sudah bertunangan atau belum, dapat dilihat bekas (katinda) parang pada tangga rumah orang tua si gadis. Bila kelihatan dua tanda bekas berarti bahwa dua orang gadis dalam rumah itu sudah ada tunangannya secara sah dan menurut adat.

Dewasa ini katindana oda berubah menjadi katangkana pogau dan berwujud perhiasan wanita seperti anting-anting cincin, kalung dan sebagainya. Perhiasan ini dapat diganti dengan uang yang jumlahnya sebagai berikut:

  • 30 boka (Rp. 26,- dulu) bagi kaum bangsawan,
  • 3 boka (Rp. 3.60,- dulu) bagi kaum walaka, sedangkan bagi kaum papara berlaku ketentuan setempat, dalam arti tidak akan melebihi ketentuan yang berlaku bagi kaum bangsawan clan walaka.

Pemakaian katindana ada ini adalah sebagai tanda pengenal bagi si gadis bahwa ia telah bertunangan secara resmi. Selama masa pertunangan, orang tua dari kedua belah pihak wajib memperhatikan segala sesuatu yang menjadi kewajiban dalam adat dan wajib pula untuk mengetahui keadaan dari masing-masing pihak. Perhatian mereka ini dikiaskan dengan kata apotalinga rusa artinya seperti jauhnya atau tajamnya pendengaran dan penciuman rusa.

Upacara Pelakasaan Pernikahan

Setelah melalui upacara pertunangan, maka kedua belah pihak menantikan waktu pelaksanaan perkawinan. Perkawinan biasa dilaksanakan pada bulan Syaban, Zulhijjah atau Jumadilawal dan pada umumnya dilakukan pada malam hari.

Pada waktunya kedua belah pihak mengadakan undangan yang dalam adat dikenal dengan pokemba kepada kaum keluarga untuk turut mengantarkan dan menerima mempelai. Pada hari perkawinan, semua yang hadir memakai pakaian adat menurut tingkatan kedudukan mereka dalam adat. Tempat duduk resmi bagi yang hadir diatur menurut tingkatan kedudukan seseorang sesuai dengan adat. Beberapa hari sebelum hari perkawinan, pengantin perempuan diantar dan tinggal di rumah salah satu keluarga terdekat, sampai hari atau waktu perkawinan tiba.

Di rumah masing-masing diadakan jamuan makan yang dinamakan haroa. Selanjutnya dari pihak perempuan dengan diiringi oleh beberapa orang perempuan tua dan dikawal oleh seorang laki-laki, diantarkanlah karangan bunga kepada pil1ak laki-laki. Inilah yang dinamakan pengantaran kamba. dan merupakan pertanda bahwa mereka telah siap untuk menerima kedatangan pihak laki-laki. Penerimaan kamba ini ditebus oleh pihak laki-laki dengan mengirimkan uang sebesar 1 boka sebagai tanda penerimaan. Sebelum pengantin laki-laki berangkat dari rumah orang tuanya, lebih dulu diantar lengka-lewa yang besarnya 7 boka 2 suku (Rp. 9). Lengka-lewa ini maksudnya sebagai pembuka pintu. Ini juga menandakan bahwa pengantin laki-laki akan segera tiba. Lengka-lewa yang diantar itu dibagi-bagikan oleh mereka yang menghadiri undangan perempuan.

Pada masa dulu lengka-lewa ini berwujud lapis kain putih yang dikenal dengan nama bida. dan biasa diganti dengan kain sarung beberapa lembar.

Bila lengka-lengka ini tidak diserahkan, maka pengantin laki-laki beserta pengiringnya tidak akan dibukakan pintu, kecuali melalui saluran adat secara khusus yang dinamakan jo/i. Joli artinya tutup. Pada waktu melaksanakan joli ini pihak perempuan berada di dalam halaman rumah, sedangkan pengantin laki-laki dan pengiringnya berada di luar pagar. Masing-masing pihak mengutus juru bicaranya yang pandai bertutur kata. Setiap kali selesai berbicara, pihak laki-laki membayar sejumlah uang yang pada akhirnya sesuai dengan ketentuan lengka-dewa.

Pakaian adat pengantin pria Wolio Buton (https://www.picuki.com)

Bila pintu belum juga dibuka, sedangkan uang yang diserahkan sudah cukup, maka pihak laki-laki memberikan sumbangan lagi menurut kerelaan. Penerimaan ini disebut kaulana wutitinai. Dapat dijelaskan bahwa pengantin perempuan yang disingkirkan tadi, kemudian dijemput dan dibawa ke rumah pesta perkawinan. Setelah ia tiba, maka di pintu masuk telah bersiap-siap seorang perempuan tua yang langsung mengantar perempuan itu ke kamar pengantin dengan ucapan : iweitu mo mboresamu tee laanu artinya disitulah tempat tinggalmu dengan laanu (nama pengantin laki-laki).

Akad Nikah

Waktu pengantin laki-laki tiba ia mengambil tempat duduk yang disediakan, dan pengiringnya juga duduk menurut tingkat kedudukan rnereka dalam adat. Kernudian pengantin laki-laki diantar rnasuk di kamar pengantin dimana akan dilakukan akad nikah. Di kamar tersebut ada 4 orang perempuan tua yang disebut bisa.

Selesai acara akad nikah, kedua pengantin masih menunggu 4 hari lagi, baru diadakan upacara adat. Selama 4 hari itu pengantin laki-laki ditemani 3 orang bisa, dan pengantin perernpuan ditemani 1 orang bisa. Keempat orang yang dinamakan bisa karena dianggap tertua dalam lingkungan keluarga. Mereka itu berkewajiban untuk memberikan pengertian dan petunjuk yang menuju kepada kebahagiaan rumah tangga yang akan dibina oleh suami dan isteri. Ketiga orang bisa yang mengawali laki-laki disebut bisa umane, dan yang mengawal perempuan disebut bisa bawine. Selama 4 hari itu, yaitu dari hari pertama sampai hari terakhir disebut pobangkasia Baku (bekal) dari pengantin baru ditanggung oleh pihak laki-laki.

Upacara Sesudah Pernikahan

Setelah beberapa hari upacara pobongkasia, selesai pengantin laki-laki “turun tanah” mengunjungi rumah orang tuanya. Turun tanah yang pertama ini juga dilakukan dengan suatu upacara adat. Waktu kembali dari orang tuanya ia membawa suatu pemberian dari orang tmmya yang disebut kabaku sebagai hadiah untuk isterlnya. Sesudah itu maka diadakanlah permufakatan, dan memilih waktu yang baik untuk mengantar peti pakaian pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Keluarga pihak perempuan diundang untuk menyambut pengantaran peti pakaian pihak lakilaki, yang dalam bahasa adat disebut dingkona atau soronggana umane. Di samping peti pakaian ini juga ada barang-barang lain untuk kebutuhan dalam rumah tangga.

Kehadiran keluarga pihak perempuan adalah untuk meyakinkan pengantaran peti pakaian pihak laki-laki dan barang-barang bawaan dari masing-masing pihak. Setelah peti pakaian itu tiba di rumah perempuan, langsung diantar ke kamar pengantin, lalu dibuka dan isinya dikeluarkan satu persatu kemudian disatukan dengan barang-barang bawaan pihak perempuan.

Waktu mempersatukan barang-barang dari suami-isteri itu, bertindak sebagai orang tua seseorang yang ditunjuk oleh keluarga. Sambil membakar kemenyan ia memohon doa keselamatan dan kebahagiaan suami-isteri yang baru dalam hidup rumah tangga.

Penyaksian dari keluarga kedua belah pihak terhadap barangbarang suami-isteri, erat hubungannya dengan permasalahan harta warisan kalau terjadi perceraian (hidup atau mati) dengan tidak meninggalkan anak. Upacara-upacara ini sudah mendarah daging di kalangan keluarga Wolio, meskipun sekarang ini telah mendapat banyak pengaruh. Setelah beberapa hari, maka diadakan lagi upacara adat yaitu perkunjungan isteri ke rumah orang tua pihak lakilaki. Pada hari yang ditentukan keluarga pihak perempuan berkumpul lagi untuk melakukan perkunjungan tersebut. Di rumah orang tua pihak laki-laki dilakukan persiapan-persiapan untuk penyambutan dinrnksud. Selama berada di rumah orang tua pihak laki-laki, kaum keluarga dari kedua belah pihak mengantarkan pemberian berupa makanan untuk suami-isteri. Pemberian yang berasal dari keluarga pihak perempuan disebut pobalobua kea, sedangkan dari keluarga pihak laki-laki disebut kalonga.

Beberapa lamanya berada di rumah orang tua pihak laki-laki, suami-isteri dapat kembali di rumah perempuan dengan membawa perlengkapan rumah tangga yang telah disediakan seperti tempat tidur, alat-alat dapur dan sebagainya

Sumber: Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Sulawesi Tenggara, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Sulawesi Tenggara. 1978/1979

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Prosesi Pernikahan Adat Mandar Sulawesi Barat

Tue Sep 1 , 2020
Pakaian pengantin adat Mandar (http://thebridedept.com) Hal yang paling penting dalam sebuah pernikahan bagi masyarakat Mandar adalah adanya kerjasama, bantu membantu dalam mengerjakan sesuatu baik yang bersifat material maupun yang bersifat spiritual, baik pekerjaan yang ringan maupun yang berat, jadi dalam hal ini menyangkut bekerja sama bergotong royong dalam membina rumah […]