Prosesi Pernikahan Adat Saluan Sulawesi Tengah

Pakaian pengantin adat Saluan (https://www.youtube.com)

Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah menjadi daerah tinggal suatu komunitas suku yang bernama suku Saluan. Orang Loinang merupakan sebutan lain  dari orang Saluan, yang berarti “orang gunung”. Orang Saluan memiliki bahasanya tersendiri yang disebut bahasa Saluan.

Urutan acara pernikhan adat suku Saluan sebagai berikut:

Mompokilawa

Yaitu dilaksanakannya musyawarah orang-orang tua dari keluarga pria yang intinya mencari atau menentukan calon istri bagi anak laki-laki mereka yang sudah siap untuk menikah. Setelah tahu calon istri bagi anaknya, maka ditunjuk seorang utusan untuk menanyakan kepada orang tua pihak wanita yang disampaikan secara adat dengan kalimat Apakah bunga di taman belum ada pemiliknya? Dan dijawab oleh pihak wanita Bunga kami masih lelang. Jawaban tersebut manandakan pihak wanita bersedia untuk dilamar. Setelah ada kesepakatan dilanjutkan dengan musyawarah bersama kedua keluarga untuk menentukan waktu yang tepat untuk menduta (meminang).

Menduta

Adalah cara membawa pinangan dari keluarga pihak laki-laki ke keluarga pihak perempuan pada waktu dan hari yang telah disepakati. Waktu pelaksanaan pinangan tergantung kesepakatan kedua belah pihak keluarga, tetapi biasanya sebelum dilakukan pinangan selalu didahului dengan pemberitahuan dari keluarga pihak laki-laki dan pihak keluarga perempuan pun sudah siap menerima utusan keluarga laki-laki yang biasanya dilaksanakan pada sore atau malam hari. Bahan hantaran menduta terdiri dari: (1) Mengantar kopuan yang berisi sirih, pinang, gambir dan lain-lain. (2) Setelah tenggang waktu tiga sampai tujuh hari isi kopuan tersebut dikembalikan dalam keadaan kosong berarti pinangan diterima, akan tetapi apabila dikembalikan tetapi isi kopuan tidak berubah berarti pinangan tersebut tidak diterima.

Sedang melaksanakan akad nikah (https://www.youtube.com)

Membalut (menentukan harta)

Dilaksanakan dengan cara menggunakan sobekan-sobekan daun pisang dengan catatan tiap sobekan daun pisang tersebut nilainya satu rupiah,

Memboa sindua

Mengantarkan semua kebutuhan perempuan sesuai kesepakatan bersama serta penentuan waktu pelaksanaan pernikahan.

Mengombon

Yaitu tebusan mulai dari pintu pagar, tangga, pintu kamar pengantin, dan tempat pelaminan, tebusan ini berupa uang tunai yang harus dibayar oleh pihak laki-laki.

Membuat

Setelah mengombon diadakan adat membuat yang artinya kedua mempelai mendatangi rumah keluarga laki-laki dan disambut dengan; (1) kedua mempelai disambut dengan taburan beras kuning yang melambangkan keselamatan dan harapan serta murah rezeki. (2) tiba di depan pintu mempelai disambut oleh ibu mempelai laki-laki yang melambangkan bahwa keluarga perempuan dan keluarga laki-laki telah diikat dalam satu ikatan keluarga besar. (3) mempelai perempuan dipijakkan pada sebuah kampak atau parang yang melambangkan perkawinan ini tidak akan mudah hancur atau bercerai yang disebut balayou mu pesak (bobalo) kah mageak nah komiu yang artinya melambangkan jalinan perkawinan tidak mudah retak. (4) pengantin laki-laki disambut dengan selendang yang melambangkan keluarga pengantin laki-laki menyambut pengantin perempuan dengan hati terbuka.

Sumber: warisanbudaya.kemdikbud

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Prosesi Pernikahan Adat Toli Toli Sulawesi Tengah

Wed Sep 2 , 2020
Pakaian pengantin adat Toli Toli Sulawesi Tengah (https://www.picuki.com) Perkawinan merupakan ikatan sosial antar laki-laki dan perempuan yang akan membentuk hubungan untuk mencapai tujuan yang baik sesuai dengan syariat Islam demi terciptanya keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah. Perkawinan merupakan suatu cara yang ditetapkan oleh Allah sebagai jalan bagi manusia untuk […]