Prosesi Pernikahan Adat Muna Sulawesi Tenggara

Pakaian adat pengantin putri Muna (https://www.picuki.com)

Perkawinan dalam masyarakat Muna sangat unik yang berbeda dengan Suku lainnya di Indonesia sistim perkawinan ini telah ada semejak dahulu kalah sebelum masuknya Islam di Muna. Setelah datangnya Islam dan dikenalnya agama ini oleh seluruh masyarakat Muna, sistem perkawinan yang dahulu tetap tidak berubah terutama yang berhubugan dengan masalah mahar (mas kawin). Yang berhubungan hanyalah proses Ijab Kabul-nya saja yang mengikuti ajaran Islam sebagai perkawinan dalam Islam.

1. Pemilihan jodoh

Sebelum melakukan pelamaran kadang kala orang tua sering memilihkan jodoh untuk anaknya, namun hal ini sudah tidak di jumpai lagi dalam kalangan masyarakat suku Muna saat ini. Pada hakekatnya pemilihan jodoh ini orang tua bercita-cita agar anaknya dapat kawin dengan seorang yang cocok dan disenanginya. Oleh karana itu sebelum orang tua mengambil keputusan terhadap jodoh anaknya, terlebih dahulu mereka mengadakan penilaian kepada perempuan yang akan dilamar. Penilaian ini tidak hanya dilakukan oleh orang tua, tetapi peranan kaum kerabat sangat menentukan pula yang menjadi ukuran penilaian adalah kecantikan, keturunan, agamanya, kekayaan, budi pekerti, serta ahlaknya.

Apabila seorang laki-laki bermaksud melangsungkan perkawinan hal tersebut orang tua merundingkan degan kaum kerabat dan anak yang bersangkutan.

2. Pertunangan

Perkawinan timbul setelah adanya persetujuan antara kedua belah pihak calon pengatin, selanjutnya melangsungkan perkawinan. Dan persetujuan ini dicapai oleh kedua belah pihak setelah terlebih dahulu melakukan lamaran yang bisanya oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan

Pertemuan yang pertama kalinya untuk membicarakan kehendak mengadakan perkawinan ini di daerah Muna di namakan Katangka yang mengandung arti permintaan dalam bentuk pernyataan kehendak dari suatu pihak kepada pihak lain untuk maksud mengadakan (ingin melaksanakan) ikatan perkawinan sudah memberikan kepada pihak perempuan.

Pertunangan baru mengikat apabilah dari pihak laki-laki (pihak yang meminang) sudah memberikan kepada pihak perempuan (pihak yang di pinang) sudah ada tanda pengikat yang kelihatan yang disebut Singkaru dalam arti sebuah cincin.

Tanda pengikat yang dimaksud diberikan kepada keluarga pihak perempuan atau kepada orang tua pihak perempuan atau kepada bakal mempelai perempuan itu sendiri yang di pinang.

Pakaian adat Pengantin Muna (https://www.picuki.com)

Tanda lamaran itu biasanya dapat berupa:

  • Sirih pinang
  • Sejumlah uang (mas kawin,uang adat)
  • Makanan matang
  • Bahan pakaian
  • Perhiasan

Tanda lamaran tersebut disampaikan oleh juru bicara pihak pelamar dengan bahasa dan peribahasa adat yang indah, sopan, santun, dan penuh hormat dengan memperkenalkan para anggota rombongan yang datang hubungan kekerabatan satu persatu dengan calon mempelai pria. Begitu pula juru bicara dari pihak wanita yang dilamar akan menyatakan penerimaannya degan bahasa dan peribahasa adat.

Setelah selesai kata-kata sambutan kedua belah pihak maka barang-barang tanda lamaran itu di teruskan kepada tokoh-tokoh adat, keluarga atau kerabat wanita, kemudian kedua belah pihak mengadakan perundingan tentang hal-hal sebagai berikut:

  1. Besarnya uang jujur (uang adat, dan mas kawin)
  2. Besarnya uang permintaan (biaya perkawinan) dari pihak wanita
  3. Bentuk perkawinan dan kedudukan suami istri setelah perkawinan
  4. Perjanjian-perjanjian perkawinan
  5. Kedudukan harta perkawinan
  6. Acara dan upacara adat perkawinan
  7. Waktu dan tempat upacara

Tidak semua acara dan upacara perkawinan tersebut dilaksanakan oleh para pihak yang akan melaksanakan perkawinan hal ini tergantung pada keadaan, kemampuan dan masyarakat adat yang bersangkutan.

Pada masyarakat suku Muna dalam upacara adat perkawinan Nampak sekali sifat atau ciri khususnya seperti halnya pada masyarakat Tongkuno, pada masyarakat suku Muna di kenal beberapa tahapan dalam proses pelaksanaan adat perkawinan yaitu pemilihan jodoh, pertunangan, peminangan, dan nikah.

Pakaian adat pengantin putri Muna (https://www.picuki.com)

3. Pelamaran

Pada tahapan ini langka pertama yang dilakukan setelah adanya kesepakatan dari pihak laki-laki yaitu menghubungi orang tua pihak perempuan bahwa mereka akan berkunjung kerumah orang tua perempuan melalui juru bicara adat. Setelah itu bila orang tua perempuan bersedia untuk kedatangan mereka. Keluarga pihak laki-laki bersama juru bicara adanya berkunjung kerumah orang tua perempuan tersebut degan membawa sebuah bungkusan yang merupakan kabintingia (talang kecil persegi empat)

Jalannya upacara

Pada waktu yang ditentukan orang tua pihak laki-laki (peminang) berkunjung ke rumah orang tua pihak perempuan. Rombongan itu terdiri dari :

  • Orang-orang tua (laki-laki dan perempuan) yang berpakaian adat sebagai pelaksana adat.
  • Gadis-gadis yang membawa kebintingia yaitu suatu wadah atau tempat yang berisi bermacam-macam perhiasan seperti cincin dan sebagainya.
  • Pemikul buah-buahan.
  • Pemikul gong yang mengiringi rombongan itu.

Setelah rombongan tersebut tiba di rumah orang tua pihak perempuan, mereka diterima dengan baik dan duduk pada tempat yang telah disediakan.

Yang hadir dalam upacara peminangan ini adalah orang tua dan sanak saudara dari kedua belah pihak, pemuka-pemuka masyarakat dan pemerintah setempat. Setelah semuanya siap, maka penyerahan pinangan dilaksanakan oleh juru bicara kedua belah pihak.

Juru bicara pihak laki-laki pertama-tama menyerahkan uang pinangan kepada orang tua pihak perempuan atau yang dikuasakan untuk itu. Besarnya uang pinangan adalah sebagai berikut:

  1. Golongan kaomu (La ode) menikahi golongan kaomu (Wa ode) atau golongan bawahnya, maharnya senilai 20 boka (saat ini 1 boka bernilai Rp. 24.000,-)
  2. Jika golongan walaka menika degan golongan kaomu maka maharnya senilai 35 boka. Akan tetapi kalau menikah dengan golongan walaka juga maharnya bernilai 10 boka 10 suku (1 suku bernila 0,25 boka jadi 10 boka 10 suku sekitar 12,5 boka) akan tetapi golongan sara-kaomu maharnya adalah 15 boka. Golongan sara kaomu (perempuan sara-kaomu) artinya ayahnya golongan walaka sementara ibunya golongan kaomu.
  3. Jika golongan anangkolaki menikahi golongan kaomu, maka maharnya adalah 75 boka. Jika menikahi golongan walaka maharnya adalah 35 boka akan tetapi jika menikahi golongan anangkolaki juga atau dibawahnya maharnya adalah 7 boka 2 suku ( atau 7,5 boka)
  4. Jika golongan mardika menikahi golongan kaomu maharnya adalah 2 x 75 boka jika menikahi golongan walaka maharnya adalah 75 boka jika menikahi anangkolaki maharnya 7 boka 2 suku (7,5 boka)

Setelah uang pinangan diterima, di mana si gadis menyatakan bahwa ia menerima pinangan itu, maka selanjutnya adalah penyerahan bhelo-bhelo (bahan perhiasan). Sekarang ini bhelo-bhelo diwujudkan dalam bentuk baju, cermin, bedan dan sebagainya.

Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan buah-buahan yang dibawa masuk oleh pemikul buah-buahan.

Bila pernikahan akan dilaksanakan pada waktu singkat maka pada kesempatan itu diserahkan pula uang kantaburi sebagai tanda bahwa pinangan itu telah diterima secara resmi. Besarnya uang kantaburi adalah 10 boka untuk golongan Kaomu, 4 boka untuk golongan Walaka dan 2 boka untuk golongan Anangkolaki atau Maradika. Setelah itu dirundingkanlah hari atau waktu pelaksanaan perkawinan, kebutuhan pesta dan lain-lain.

Upacara Pelaksanaan Pernikahan

Sebelum upacara perkawinan dilaksanakan, dilakukan persiapan-persiapan agar upacara perkawinan itu dapat terlaksana dengan baik.

Persiapan-persiapan itu antara lain: rumah pesta, bahan-bahan kebutuhan pesta, panitia penyelenggara pesta, undangan untuk menghadiri pesta dan lain-lain.

Pelaksana upacara

Dalam pembayaran mahar ada beberapa orang pelaksana. Di pihak laki-laki: satu orang juru bicara dan pembawa uang mahar ditambah dengan pemuka adat lainnya.

Di pihak perempuan: satu orang pemuka adat sebagai pembantu/pendamping orang tua pihak perempuan atau yang diberi kuasa untuk menerima mahar. Untuk peresmian perkawinan dilakukan oleh petugas agama (Imam).

Pada hari atau waktu yang telah ditentukan dilaksanakanlah upacara perkawinan itu dirumah orang tua pihak laki-laki. Bila pengantin wanita telah siap, maka dari pihak laki-laki mengirim utusan untuk menjemput pengantin wanita. Yang menjemput 1 terdiri dari pemuka adat (juru bicara), orang-orang tua (laki-laki dan perempuan) serta sanak saudara pihak laki-laki.

Pengantin wanita yang dijemput diusung pada sebuah usungan dan dipikul oleh beberapa orang, dewasa ini sudah lazim dipergunakan kuda atau mobil.

Rombongan pengantin wanita disambut di rumah pesta perkawinan dan duduk pada tempat yang telah disediakan. Selanjutnya dilaksanakanlah upacara kakawi (perkawinan atau pernikahan). Dewasa ini di Muna peresmian perkawinan dilakukan menurut ketentuan agama masing-masing.

Bagi yang beragama Islam, pernikahan dilakukan oleh petugas agama setelah terlebih dahulu meminta keikhlasannya dengan menyebutkan jumlah mas kawin yang harus dibayar. Setelah peresmian perkawinan, para tamu memberikan ucapan selamat. Sesudah itu pengantin wanita disarungi dua lapis sebagai tanda bahwa ia telah bersuami.

Upacara-upacara Sesudah Pernikahan

Menurut tradisi sesudah perkawinan ada upacara-upacara yang dilakukan atas inisiatif orang tua kedua belah pihak. Upacara ini adalah sesuatu yang diwajibkan sehubungan dengan terjadinya perkawinan itu.

Kabhongkasi

Kabhongkasi adalah upacara pembacaan doa selamatan yang· dilakukan 40 hari sesudah perkawinan. Dewasa ini dilakukan 4 hari sesudah perkawinan sebagai simbol waktu 40 hari.

Kabhongkasi artinya pembukaan, maksudnya ic~r~e!11uan resmi sebagai suami-isteri. Dalam upacara itu suami-isteri dimandikan secara bersama di bawah sebuah tudung. Niat mereka adalah agar suami-isteri dapat hidup rukun bagaikan air/sungai yang mengalir dari satu sumber (udik) dan mengalir satu arah (hilir).

Kafosulinoakatulu

Sesudah beberapa lama menetap di rumah orang tua pihak laki-laki, maka ada lagi upacara yang disebut kafosulino-katulu (menutup/mengembalikan jejak), maksudnya kembali ke rumah orang tua pihak perempuan secara resmi.

Suami-isteri yang diiringi para anggota keluarga dari kedua belah pihak, pergi ke rumah orang tua pihak perempuan. Disana dilakukan pembacaan doa selamat berhubung dengan telah selesainya upacara perkawinan itu.

Sumber:

  • rosnianiania
  • Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Sulawesi Tenggara, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Sulawesi Tenggara. 1978/1979

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Prosesi Pernikahan Adat Wolio Sulawesi Tenggara

Tue Sep 1 , 2020
Pakaian adat pengantin Wolio (https://pikdo.info) Tujuan pcrkawinan menurut adat di Wolio pada azasnya adalah untuk memperoleh keturunan. Hal ini berkaitan juga dengan kepentingan kehidupan clan status sosial dari lingkungan keluarga itu sendiri. Materi yang cukup dan sanggup tidaknya seseorang bertanggung jawab terhadap keluarga. Pemilihan Jodoh Untuk pemilihan jodoh di Wolio […]