Peninggalan Istano Tuanku Rajo Bagindo Balun

Istana Tuanku Rajo Bagindo Balun

Istano Rajo Daulat yang Dipertuan Tuanku Rajo Bagindo Raja Adat Alam Surambi Sungai Pagu atau disingkatnya dengan Istana Tuanku Rajo Bagindo Balun. Meskipun disebut istana raja, tapi bentuk bangunannya merupakan rumah adat tradisional Minangkabau.

Terletak di jl. Raya Muara Labuh, Nagari Pakan Rabaa Tengah, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Sekitar 46 Km dari Padang Aro, ibu kota kabupaten atau sekitar 4-5 jam perjalanan dari Kota Padang.

Raja ini berasal dari Suku Kapai 24 yang berfungsi sebagai Rajo Adat dan mempunyai kebesaran Kain Langko Puriang. Raja ini berwenang dalam menangani urusan adat (adat jo limbago), ekonomi, dan menguasai Tambo Alam.

Istana Tuanku Rajo Bagindo Balun

Istana ini berupa rumah gadang dengan 8 atap gonjong. Memiliki 2 anjungan, pada sisi kiri sebagai tempat duduk raja dan sisi kanan untuk tempat duduk permaisuri. Dindingnya yang penuh dengan ukiran yang didominasi warna merah, hijau dan kuning. Ada 5 jendela di istana ini sebagai perlambang Rukun Islam. Kemudian, istana ini dibangun dengan 24 tiang utama yang melambangkan 24 penghulu.

Diperkirkan sudah berusia lebih dari 600 tahun. Saat ini sudah ditetapkan sebagai bangunana cagar budaya dengan nomor inventaris 04/BCB-TB/A/16/2007. Sekeliling istana ini memiliki halaman yang asri dengan berbagai tanaman perdu yang warna-warni. Begitu juga pohon pelindung lainnya. Di depannya, pintu masuk terdapat kolam yang ada patung burungnya.

Peninggalannya

Istana ini layaknya museum yang di dalamnya banyak menyimpan berbagai macam koleksi barang dan penginggalan bersejarah lainnya. Terpenting, terdapat naskah kuno dari penginggalan Rajo Balun yang asli dan masih terjaga dipamerkan dalam lemari kaca. Ditulis dengan huruf arab gundul.

Perhiasan Raja (1853)

Baju hitam batabuah Raja

Merupakan baju raja yang dipakai saat acara-acara adat dan saat penobatan menjadi raja maka di pakailah baju hitam batabuah. Dikatakan sebagai baju hitam batabuah karena ada bulatan-bulatan kecil bewarna kuning keemasan pada baju hitam ini. Bulatan tersebut memenuhi seluruh baju seperti gambar diatas. Bentuknya yang menyerupai jas tetapi jas yang bertaburan dengan bulatan-bulatan kecil bewarna keemasan pada bagian tenganhnya berbentuk ukiran seperti ukiran dinding rumah gadang.

Ikek (Mahkota)

Merupakan hiasan kepala raja yang bewarna keemasan serta bentuknya yang melingkar seperti ular diatas kepala. Ikek fungsinya sebagai mahkota raja karena raja orang minang berbeda dengan raja-raja yang lainnya. Biasanya daerah-daerah lain mempunyai mahkota dan ciri-ciri khasnya masing-masing. Begitu juga dengan minangkabau terutamanya istano Balun ini. Ikek ini melambangkan bahwa seorang raja mempunyai tanggung yang besar terhadap daerah yang dikuasainya.

Saluak

Merupakan salah satu penutup kepala yang menyerupai topi dengan warna kuning keemasan. Saluak ini dipakai saat acara-acara adat dan ketika pengankatan seorang raja maka dipakailah saluak. Sampai saat ini saluak masih digunakan orang dalam acara-acara pernikahan adat minangkabau. Setiap ada upacara pernikahan persukuan kampai maka pengantinnya memkai baju pengentin seperti raja dan puti yaitu memakai baju batabua, suntiang, songket, serta saluak dikepala mempelai laki-lakinya.

Salempang kuning

Merupakan salempang yang digunakan untuk kelengkapan pakaian raja dan puti. Salempang ini melambangkan tanggung jawab seseorang terhadap kesejahteraan anak kemenakannya serta melambangkan tanda kebesaran seorang raja dan melambangkan bahwa Raja itu adalah orang yang jujur dan selalu menepati janji yang telah dibuat bersama. Bukan itu saja, salempang melambangkan penghapus keringat yang terdapat pada kening. Sekarang salempang digunakan saat acara pernikahan yang dipakai oleh pengantin wanita dan lai-laki.

Keris

Keris juga salah satu perhiasan yang terletak dipinggang. Selain sebagai perhiasan keris juga sebagi pelindung dari musuh. Keris merupakan salah satu alat kelengkapan saat pengangkat raja. Keris juga sebagai salah satu lambang dan mengandung arti yang mendalam. Pemakaiannya tertentu dengan kelengkapan pakaiannya, letaknya condong ke kiri dan bukan ke kanan supaya mudah mencabutnya. Letak keris ini mengandung pengertian bahwa harus berfikir terlebih dahulu dan jangan cepat marah dalam menghadapi sesuatu persoalan, apalagi main kekerasan.

Tongkat raja

Merupakan tongkat kebesaran seorang raja di minangkabau yang melambangkang bahwa seorang raja dapat berdiri sendiri tampa bantuan dari orang lain lain. Selain itu, tongkat juga melambangkan sebagai penopang adat, harta pusaka dan kemenakannya. Tongkat ini terbuat dari kayu bewarna hitam yang ujung diberikan ukiran serta bewarna kuning keemasan. Biasanya tongkat ini juga dipakai saat penobatan seorang raja karena tongkat ini merupaka salah satu perlengkapan untuk penobatan raja.

Tombak

Merupakan salah satu senjata yang digunakan untuk melindungi diri dari musuh dan hewan buas. Di rumah gadang ini tombak ini hanya sebagai benda pajangan saja dan sudah jarang digunakan. Dahulunya tombak juga digunakan untuk berburu binatang maka digunakan tombak ini sebagai senjata. Saat ini di minangkabau masih menggunakan tombak untuk berburu kehutan tetapi itu hanya sebagian kecil saja yang menggunakannya. Orang sekarang menggunakan tembakan sebagai senjata untuk berburu dan tombak sudah tidak digunakan lagi.

Perhiasan Puti (1853)

Baju hitam batabuah Puti

Merupakan baju untuk seorang puti yang dipakai saat acara-acara adat dan pada saat pengangkatan seorang puti. Puti merupakan istri dari raja yang juga memakai baju hitam batabuah. Baju hitam Raja menyerupai jas akan tetapi baju hitam batabuah puti seperti baju bundo kanduang sekarang kita kenal. Pada bagian leher baju terdapat motif bunga yang menyerupai sebuah kalung yang melingkar dileher bewarna kuning keemasan. Sedangkan pada bagian bawah baju terdapat manik-manik yang menggantung.

Suntiang

Merupakan hiasan kepala pengantin wanita yang berhiasan besar bewarna keemasan. Dahulu suntiang merupakan mahkota seorang puti yang diletakkan dikepala serta ukurannya yang tidak terlalu besar. Suntiang ada ukuran yang besar dan ada yang kecil, jika yang besar digunakan oleh mempelai wanita dn yang kecil untuk anak dao kecilnya. Suntiang dahulu lebih berat dari suntiang sekarang sehingga ketika acara pernikahan mempelai wanita takut menggunakan suntiang dikepalanya. Suntiang juga banyak macamnya bentuk dan ukurannya. Tetapi untuk suntiang seorang puti tidak terlalu berat dan besar.

Tengkuluk tanduk

Merupakan bagian penutup kepala wanita di minangkabau. Penutup kepala wanita di minangkabau ini berbentuk tanduk kerbau yang dipakai pada acara tertentu. Tengkuluk tanduk ini terbuat dari salendang tenunan yang dibuat menyerupai tanduk kerbau. Warna tenkuluk tanduk puti rumah gadang istano Balun adalah merah dan bercampur kuning keemasan. Tengkuluk melambangkan sebagai rumah adat minang yang bergonjong serta melambangkan sebagai tanggung jawab dan kepercayaan kepada seorang Bundo Kandung harus dijunjung tinggi.

Sanggul

Merupakan kumpulan rambut yang dibentuk dengan sedemikian rupa dan diletakkan dikepala. Seorang puti menggunakan sanggul yang besar dikepalannya yang dipasang secara rapi. Jika sekarang sanggul digunakan orang saat acara pernikahan maka pengantin wanitanya memakai sanggul agar suntiang dikepalanya terletak dengan erat dan memperindah hiasan dikepalanya. Berbeda dengan orang jawa yang sampai saaat sekarang ini masih memakai sanggul setiap hari bagi kaum bangsawan tetapi orang minang hanya mekai sanggul ketika ada acara pernikahan.

Anting

Merupakan salah satu perhiasan wanita yang dipakai ditelinga sebagai perhiasan. Selain itu, anting merupakan perhiasan yang menggantung dikuping telinga serta bentuknya yang bermacam ragam. Perhiasan seperti anting digunakan sebagai simbol yang mengandung norma-norma dan nilai-nilai yang dapat digunakan sebagai acuan dalam kehidupan masyarakat. Subang yang dipakai seorang puti
berbeda dengan subang yang kita pakai sehari-hari. Bentuk subang puti yaitu panjang seperti rantai bewarna keemasan

Kaluang (Kalung)

Merupakan hiasan leher dengan bentuk yang panjang dengan warna keemasan. Kalung ini melambangkan bahwa semua rahasia dikumpulkan serta melambangkan bahwa kebenaran akan tetap berdiri teguh. Selain itu, kalung juga melambangkan bahwa ia mempunyai harta. Kalung dulunya hanya orang-orang bangsawan saja yang memakainya tetapi sekarang ini setiap orang memakai kalung dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan bentuk dan model kalung tersebut dalam berbagai macam bentuk dan ukuran yang berbeda. Mulai untuk anak-anak sampai orang dewasa. Akan tetapi kalung seperti ini hanya dipakai saat acara pernikahan saja.

Gelang

Merupakan hiasan tangan yang berbentuk bundar dan bewarna keemasan yang dipakai dikedua tangan. Selain itu, gelang merupakan keindahan dan memamerkan kemampuan atau kekayaan sipemakai. Pemakaian gelang melambangkan batas-batas yang dapat dilakukan oleh seorang dalam kehidupan. Serta melambangkan bahwa dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan harus disesuaikan dengan kemampuan. Ukuran dari gelang yang dipakai seorang puti ada yang besar dan ada yang tidak terlau kecil. Sampai sekarang gelang seperti itu hanya digunakan saat acara pernikahan saja.

Songket

Merupakan kain tenun dan diselipan benang emas dalam tenunan tersebut dengan berbagai macam motif. Dahulunya songket hanya digunakan oleh orang bangsawan dan orang yang mempunyai kekayaan. Selain orang terpandang songket juga digunakan oleh raja sebagai kelengkapan pakaian raja. Sedangkan puti juga menggunakan songket sebagai rok yang lilitkan. Tetapi sekarang ini songket bukan hanya orang terpandang saja yang memakai tetapi orang biasa juga mekainya. Songket sekarang digunakan orang hanya untuk acara tertentu saja.

Peralatan Rumah Tangga (1853)

Belango sirih

Merupakan tempat sirih yang lengkap dengan rempah-rempah untuk makan sirih. Selain itu, diatas belango sirih ini terdapat tempat untuk menumbuk sirih bagi yang tidak biasa langsung makan dan bisa ditumbuk terlebih dahulu dengan tempat penumbuk sirih dibelango ini. Bukan itu saja, diatas belango ini terdapat kendi kecil untuk pembuangan air sirih. Balango sirih bewarna kuning keemasan ini diletakkan dimeja panjang yang ada di rumah gadang serta ketika ada tamu atau orang yang berkunjung bisa memakannya.

Kendi

Kendi-kendi ini merupakan tempat pembuangan air sirih oleh raja setiap makan sirih maka air sirih tersebut dibuang kedalam kendi. Bentuk dan model kendi berbeda-beda tidak sama antara satu dengan yang lain. Walupun bentuknya berberbeda tetapi fungsinya sama yaitu tempat pembuangan air sirih. Jika dilihat sekarang orang makan sirih sudah tidak ada lagi hanya sebagian kecil orang yang memakan sirih. Dahulu orang banyak yang makan sirih untuk menjaga kesehatan gigi agar tetap kuat walaupun sudah tua.

Carano

Merupakan wadah yang diisi dengan kelengkapan sirih, pinang, gambir dan kapur sirih. Biasanya orang memakainya saat penyambutan tamu dan acara-acara adat seperti perkawinan. Makna dari carana itu adalah suatu penyampaian kata dari “sipangka” kepada adat yang datang. Selain itu, carano juga suatu kemuliaan bagi raja dan penghulu. Carano dalam fungsi upacara adat mamanggia (memanggil) penganten laki-laki dan upacara adat manta sirih, carano menjadi penentuan bentuk penghormatan dalam upacara adat tersebut.

Dulang

Didalam dulang ini berisikan dulang yang tujuah, setiap dari cawan tersebut berisikan makanan yang lengkap dengan lauk pauknya. Tuanku Rajo Bagindo Balun menggunakan dulang untuk makan. Dalam satu dulang berisikan makanan yang lengkap yang sering disebut dengan “Cawan Nan Tujuah Diateh Dulang”. Di sebut sebagai cawan nan tujuh karena isinya lengkap dengan lauk pauk diatas dulang tersebut. Dulang ini berjumlah 24 buah yang melambangkan 24 penghulu di rumah gadang ini. Sampai sekarang ini dulang ini masih ada tetapi tidak lengkap lagi tetapi dahulunya dulang ini berjumlah 24 buah dulang.

Wadah

Merupakan wadah yang digunakan untuk meletakkan nasi dalam jumlah yang banyak. Selain tempat nasi wadah ini juga digunakan untuk meletakkan lauk pauk. Wadah ini terbuat dari keramik sehingga wadah ini sangat berat sekali jika diangkat. Dahulunya wadah-wadah ini sangat banyak tetapi ketika terjadi gempa bumi banyak diantara wadah-wadah yang pecah sehingga tersisa dua wadah ini saja. Sampai sekarang wadah ini hanya dipajang diatas lemari karena berat maka dibiarkan saja terletak di
atas lemari.

Sendok

Merupakan salah satu peralatan makan yang digunakan untuk menuangkan sayur mayur, lauk pauk dan sebagainnya. Kedua peralatan makan ini merupakan alat makan yang sering digunanakan orang serta mempunyai tangkai untuk menggunakannya. Sepasang sendok ini merupakan hadiah dari kerajaan jawa kepada raja balun ketika salah satu kerajaan kecil dijawa melakukan kunjungan untuk menjalin silatuhrahmi dengan kerajaan balun ini. Sebagai hadiah mereka memberikan sepasang sendok dengan tangkainya berbentuk wayang.

Gelas dan Teko

Gelas adalah benda yang bulat yang memiliki gagangan untuk orang minum dan bentuknya yang unik. Dahulunya gelas yang ada di rumah gadang ini memilik tangkai yang panjang dan bewarna kuning keemasan. Oleh karena sifatnya yang sangat bagus gelas banyak digunakan dalam banyak bidang kehidupan. Gelas yang ada di rumah gadang ini masih sama dengan gelas sekarang yang kita kenal. Gelas digunakan untuk minum dan untuk menghidang air teh untuk tamu serta untuk meletakkan berbagai macam minuman didalannya.

Teko

Merupakan salah satu tempat yang digunakan untuk meletakkan air didalamnya. Selain itu, teko merupakan suatu wadah yang digunakan untuk menjerang daun teh atau campuran herbal dengan air yang hampir mendidih dan biasanya teko digunakan untuk menghidangkan teh kepada tamu. Bukan hanya menyajikan teh, teko juga digunakan untuk menyajikan air putih saat makan. Dahulunya teko digunakan untuk menghidangkan teh untuk tamu-tamu raja dan jika bubuk teh menyebar maka digunakan penyaringan teh saat menhidangkannya. Sekarang sudah ada teh celup tanpa harus menggunakan penyaringan lagi.

Teko kran

Merupakan teko yang mempunyai kran untuk mengambil air dari dalam teko ini. Jika ingin minum maka cukup dengan memutar kran teko ini maka air dalam teko ini akan keluar seperti kran air. Teko ini mempunyai penyaring air tidak seperti teko-teko sekarang yang kita jumpai. Dahulunya teko ini digunakan untuk air minum raja. Dibagian badan teko ini terdapat motif-motif bunga dengan warna kuning keemasan dan bercampur warna biru serta warna ungu.

Lesung (Lesuang) Batu

Merupakan tempat menumbuk padi saat pemerintahan raja balun. Kerajaan ini sudah ada sejak Belanda menjajah Indonesia dan datang kedaerah Alam Surambi Sungai Pagu ini. Semua padi yang ada di rumah gadang ini dibawah oleh Belanda keteluk bayur dan dibuang ke laut. Karena Belanda tidak ingin orang Indonesia untuk makan nasi. Untuk tetap mempertahankan hidup raja balun ini menggali lobang besar dan didalamnya disimpan padi. Ketika sudah malam maka padi-padi tersebut diambil secukupnya dan tumbuk dengan lasuang batu ini.

Sumber:

  • kidalnarsis
  • Brosur Indeks Beranotasi Koleksi Peninggalan Benda Cagar Budaya Rumah Gadang Istano Tuanku Rajo Bagindo Balun di Solok Selatan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Perhiasan Garudeya

Thu Sep 10 , 2020
Garudeya kemungkinan hiasan ini merupakan peninggalan dari abad XII – XIII Masehi Ditemukan oleh sdr. Seger pada tahun 1989, di Desa Plaosan, kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dilihat dari reliefnya, kemungkinan hiasan ini merupakan peninggalan dari abad XII – XIII Masehi. Selain itu dari penggambaran paruh (yang menunjukkan paruh […]