Mata Uang Kuno di Nusantara

Gobog Wayang

Sejarah uang di Indonesia telah dimulai sejak masa kerajaan-kerajaan Nusantara zaman dahulu kala. Setiap kerajaan memiliki mata uangnya masing-masing yang berbeda dari kerajaan lain. Awalnya uang terbuat menggunakan emas dan perak, dan nilainya ditentukan oleh berat. Ada juga satu kerajaan yang  memiliki bentuk uang unik terbuat dari bahan kain tenun yang disebut kampua. Nah, kalau uang kampua ini dinilai berdasarkan coraknya.

Kerajaan Mataram Kuno (Abad 8 M)

Koin Masa (Ma) Kerajaan Mtaram Kuno, wangsa Syailendra (http://koinkunoantik.blogspot.com)

Pada jaman Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8), dunia perekonomian telah mengalami perkembangan, yakni dari yang semula sistem barter menjadi sistem nilai tukar uang.  Di era di mana emas menjadi simbol kemakmuran ini, Kerajaan Mataram Kuno memiliki mata uang koin emas. Koin-koin emas tersebut adalah Masa (Ma) dengan berat 2.40 gram, Atak dengan berat 1.20 gram, dan Kupang (Ku) dengan berat 0.60 gram, serta Saga dengan berta 0,119 gram.

Kerajaan Jenggala (Abad 11 – 12)

Koin Kerajaaan Jenggala (https://www.popular-world.com)

Kerajaan Jenggala juga menggunakan mata uang berbentuk kepingan emas. Jika sebelumnya uang yang beredar bentuk kotak, kali ini dibuat lebih bulat. Kerajaan Jenggala membuat cetakan sendiri sehingga berat setiap uang akan sama. Pada abad ke-11 dan 12, pedagang dari Tiongkok juga banyak yang mendatangi Indonesia. Mereka menggunakan uang kepeng yang akhirnya juga dipakai oleh Kerajaan Jenggala di masa lalu sebagai mata uang resminya.

Kerajaan Majapahit (Abad ke 12 – 13)

Koin Masa (Ma) atau nisfu dinar (http://koinkunoantik.blogspot.com)

Saat era Kerajaan Majapahit tiba, sisa-sisa mata uang dari Mataram Kuno masih digunakan oleh penduduk. Dari beberapa peninggalan yang ditemukan, mata uang jenis Masa (Ma) masih ditemukan dengan beberapa uang perak dan mata uang berbentuk geometri seperti segitiga. Selain uang yang mirip dengan era Syailendra, ditemukan juga Gobog Wayang. Uang ini mirip sekali dengan kepeng logam milik pedagang dari Tiongkok. Meski berupa uang, koin ini digunakan untuk persembahan-persembahan saat upacara adat atau keagamaan dilaksanakan.

Koin Gobog Wayang (https://www.popular-world.com)

Koin-koin tersebut dicetak tahun 850 M, dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama dan mempunyai beberapa nominal satuan:

  • Pitu Tahil atau 7 Dinar, berat 31,103 gram
  • Tahil Jawa (Ta) atau 1 Dinar, berat 4,44 gram emas murni – sama dengan 4 atak atau 8 Kupang. Tahil dalam bahasa Jawa Kuno artinya Murni, atau dalam bahasa Arab disebut Takhalli artinya MURNI
  • Masa (Ma) atau nisfu dinar, berat 2.22 gram emas murn – sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
  • Atak atau rub’u dinar, berat 1.11 gram emas murn – sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
  • Kupang (Ku) atau Tsumun dinar, berat 0.555 gram emas murn – sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak
  • ½ Kupang (0.2775 gram) dan 1 Saga (0,13875 gram).

Sedangkan uang perak disebut Darahama atau Dirham, dengan pecahan:

  • 1 Masa Perak atau 1 Darahama (Da) atau 1 dirham, berat 3,11 gram perak murni
  • 10 Masa Perak atau 10 Darahama (Dasada) atau 10 dirham, berat 31,103 gram perak murni

Kerajaan Samudra Pasai (Abad ke-13)

Koin Kerajaan Samudera Pasai (https://tengkuputeh.com)

Berakhirnya kekuasaan kerajaan Hindu Budha di Indonesia membuka babak baru berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu kerajaan Samudera Pasai di ujung pulau Sumatera.

Besarnya pengaruh perdagangan dengan saudagar dari Arab membuat mata uang di Samudra Pasai menggunakan satuan dirham. Satu keping uang emas memiliki berat sekitar 0,6 gram. Mata uang ini berbentuk kepeng namun tidak memiliki lubang di tengahnya. Di permukaan dari uang emas ini tertulis aksara Arab dengan bunyi Malik az-Zahir yang merupakan nama dan gelar dari sultan di Samudra Pasai.

Kerajaan Buton (Abad ke-14)

Kampua Kerajaan Buton (https://museumnasional.wordpress.com)

Kemungkinan kampua merupakan uang tertua di Pulau Sulawesi. Selain di Buton, kampua juga pernah diberlakukan di Bone, Sulawesi Selatan, dengan bahan serat kayu. Menurut legenda, kampua diciptakan pertama kali oleh Ratu Buton yang kedua, Bulawambona yang memerintah sekitar abad ke-14.

Uang kampua disebut juga bida. Uang ini sangat unik dan langka. Dibuat dengan keterampilan tangan. Cara pembuatannya bukan dicetak tapi ditenun oleh putri-putri istana atau kalangan kerajaan.

Kesultanan Banten (Abad ke-16)

Koin kasha Kasultanan Banten (http://indische-archipelago.blogspot.com)

Saat Demak semakin goyah karena adanya perang saudara, Kesultanan Banten menjadi tumbuh dengan sangat cepat. Kerajaan ini akhirnya mampu melepaskan diri dan melakukan pemerintahannya dengan baik. Saat perkembangan perdagangan di kawasan ini meningkat, Kesultanan Banten akhirnya menggunakan mata uang bernama Kasha. Uang ini berbentuk bulat mirip sekali dengan uang kepeng Tiongkok. Yang membedakan uang Kasha dengan milik pedagang Tiongkok adalah bulatan di tengahnya. Pada mata uang Kasha, bulatan di tengah berbentuk segi enam sama sisi.

Kesultanan Banten pertama kali membuat mata uang  untuk proses kegiatan ekonominya sekitar 1550-1596 Masehi yang bernama Kasha. Jenis uang koin itu terdiri dari 3 bahan yaitu emas, tembaga dan timah.

Kesultanan Cirebon (Abad ke-17)

Koin Picis Kasultanan Cirebon

Sultan yang memerintah Kasultanan Cirebon pernah mengedarkan mata uang yang pembuatannya dipercayakan kepada seorang Cina. Uang timah yang amat tipis dan mudah pecah ini berlubang segi empat atau bundar di tengahnya, disebut Picis.

Uang koin jenis Picis ini dibuat sekitar abad ke-17. Di sekeliling lubang ada tulisan Cina atau tulisan berhuruf Latin yang berbunyi “CHERIBON”.

Kesultanan Sumenep (Abad ke-17)

Real batu Kerajaan Sumenep (http://indische-archipelago.blogspot.com)

Kerajaan Sumenep di Madura mengedarkan mata uang yang berasal dari uang-uang asing yang kemudian diberi cap bertulisan Arab berbunyi “Sumanap” sebagai tanda pengesahan.

Uang kerajaan Sumenep yang berasal dari uang Spanyol disebut juga “Real Batu” karena bentuknya yang tidak beraturan.

Kerajaan Gowa (Abad ke-17)

Koin Jinggara Kerajaan Gowa (https://kreditgogo.com)

Pada abad ke-17, Kerajaan Gowa yang terletak di kawasan Sulawesi Selatan mencetak mata uang bernama Jinggara. Mata uang ini terbuat dari timah dan tembaga dengan warna kuning keemasan. Di permukaan yang yang tidak berlubang di tengahnya ini terdapat tulisan Arab yang menjadi bukti bawah kerajaan ini merupakan kerajaan Islam. Sultan Hassanudin adalah orang dibalik mata uang yang saat ini mulai dicari oleh banyak orang.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Peninggalan Istano Tuanku Rajo Bagindo Balun

Thu Sep 10 , 2020
Istana Tuanku Rajo Bagindo Balun Istano Rajo Daulat yang Dipertuan Tuanku Rajo Bagindo Raja Adat Alam Surambi Sungai Pagu atau disingkatnya dengan Istana Tuanku Rajo Bagindo Balun. Meskipun disebut istana raja, tapi bentuk bangunannya merupakan rumah adat tradisional Minangkabau. Terletak di jl. Raya Muara Labuh, Nagari Pakan Rabaa Tengah, Kecamatan […]