Kain Tenun Muna Sulawesi Tenggara

Kain tenun Muna (https://www.intronesia.com)

Kain tenun Muna sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal dan identitas bangsa menyiratkan makna pada setiap rangkaian motif yang dihasilkan oleh penenun. Komodifikasi tenun dilakukan tanpa meninggalkan nilai lokal dari filosofi tenun Muna dengan mengedepankan nilai komersial. Proses komodifikasi motif dan makna dengan mengolaborasi kepentingan industri dan budaya fashion dengan pertimbangan adat istiadat, sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Komodifikasi motif dan makna simbolik pada motif tumbuh dari kedua kepentingan tersebut menggeser nilai-nilai sakral penggunaan tenun Muna menjadi sekuler.

Motif

Dalam perkembangannya, tenun Muna jaman dahulu terdiri atas kurang lebih 15 motif diantaranya; bharalo, samasili, paninotoghe, bhotu, bhia-bhia, ledha, findangkonini, mango-manggopa, dhadhalima, lante-lante, jhalima, gunung-gunung, kambheano bhanggai, kaparanggigi, katambaghawu, kapododo, kaburino, kaso-kasopa. Selain motif-motif tersebut untuk mengimbangi perkembangan kebutuhan pasar, maka motif tersebut kini ada yang dimodifikasi yang disebut dengan rangkaian motif.

1. Motif Dhalima, tenunan ini digunakan pada acara adat perkawinan. Khusus digunakan kaum bangsawan laki-laki dan peremuan.

2. Motif Samasili, tenunan ini digunakan pada acara adat pernikahan kalangan bangsawan laki-laki dan perempuan.

3. Motif Panino Toghe, tenunan ini digunakan oleh kalangan masyarakat umum, digunakan untuk shalat atau tidur.

4. Motif Bhotu, tenunan ini digunakan oleh kaum bangsawan pada acara adat seperti perkawinan.

5. Motif Findangkonini, tenunan ini digunakan oleh remaja saat mencari jodoh (Dekamata).

6. Motif Tibha-Tibha, tenunan digunakan oleh kaum remaja saat mencari jodoh (dekamata).

7. Motif Kambeano Banggai, tenunan ini digunakan oleh kalangan masyarakat umum, digunakan untuk shalat atau tidur.

8. Motif Lante-Lante, tenunan ini digunakan oleh remaja saat mencari jodoh (dekamata).

9. Motif Ledha, tenunan ini digunakan oleh masyarakat umum.

10. Motif Kaholeno Ghunteli, tenunan ini digunakan oleh kalangan masyarakat umum, digunakan untuk shalat atau tidur.

11. Motif Kambampu, tenunan ini digunakan oleh kalangan masyarakat pada umumnya digunakan untuk shalat atau tidur.

12. Motif Bhia-Bhia, tenunan ini khusus digunakan oleh anak remaja putri (perempuan yang belum menikah).

13. Motif Bharalu, tenunan ini digunakan oleh tokoh adat (kaomu).

14. Motif Manggo-Manggopa

15. Motif Kasokasopa, tenunan ini digunakan oleh remaja saat mencari jodoh (dekamata).

Modifikasi Motif

Rangkaian motif dihasilkan dari proses komodifikasi dari tenun terdahulu dengan aneka motif. Aneka motif ini oleh setiap penenun memiliki penyebutan yang berbeda. Namun demikian, aneka motif tersebut menggambarkan keadaan lingkungan sekitar seperti kupu-kupu, layang-layang, bukit, bunga, serta motif bebas yang tidak mewakili benda apapun hanya karena tercipta dari ide kreatif penenun. Berikut beberapa visual modifikasi rangkaian motif:

1. Rangkaian motif samasili dan layang-layang

Modifikasi motif samasili dan layang-layang

Rangkaian motif jenis ini merupakan perpaduan antara motif tenun Muna samasili dengan rangkaian motif hasil komodifikasi. Penempatan rangkaian motif layang-layang tergantung pada kreatifitas penenun yang menciptakan motif tersebut dengan tidak menghilangkan unsur motif Muna terdahulu yaitu samasili.

2. Rangkaian motif samasili dan kupu-kupu

Modifikasi motif samasili dan kupu-kupu

Rangkaian motif jenis ini juga merupakan perpaduan motif Muna terdahulu samasili dengan motif kupu-kupu. Rangkaian motif yang dihasilkan oleh penenun yang menciptakan motif ini akan menghasilkan aneka hasil tenun dengan rangakain motif kupu-kupu. Memadukan beberapa rangkaian motif dalam sebuah hasil karya menjadi sebuah kreativitas yang mutlak dimiliki oleh masyarakat penenun di Desa Masalili.

3. Rangkaian motif samasili dengan motif bukit

Modifikasi motif samasili dengan motif bukit

Rangkaian motif jenis ini dijual dengan harga lebih mahal dibanding dengan rangkaian motif laying-layang dan kupu-kupu. Perbedaan harga jual atas rangkaian motif yang dihasilkan berdasarkan pada tingkat kesulitas pembuatan motif tersebut. Semakin sulit pembuatan rangkaian motifnya maka akan semakin tinggi pula harga jualnya.

4. Rangkaian motif samasili dengan motif bebas

Modifikasi motif samasili dengan motif bebas

Rangkaian motif jenis ini sekan tidak nampak dari kejauhan, tidak menggambarkan ikon atau benda apapun sehingga dikatakan sebagai motif bebas. Namun demikian, setiap rangkaian motif yang dihasilkan oleh penenun memiliki penyebutan yang berbeda-beda sehingga dilakukan pemberian nama secara umum dengan menggambarkan identitas motif. Jenis motif ini merupakan yang paling murah dari rangkaian motif lainnya karena pembuatan motifnya yang tidak terlalu sulit.

Makna Simbolik Motif Tenun Muna Hasil Komodifikasi

Motif komodifikasi tenun Muna yang diilhami dari keadaan sekitar masyarakat yang dituangkan dalam berbagai bentuk desain motif. Berikut makna-makna simbolis yang terkandung dalam motif maupun warna hasil komodifikasi tenun Muna adalah sebagai berikut:

  1. Menggambarkan Identitas daerah. Salah satu motif komodifikasi adalah motif layang-layang. Desain motif layang-layang yang ada dalam rangkaian motif tenun Muna menggambarkan pelestarian nilai kaerifan lokal dalam konteks pelestarian nilai sejarah bahwa layang-layang tertua ada di Kabupaten Muna.
  2. Pelestarian budaya. Motif-motif dasar tenun Muna terus dipertahankan meskipun telah mengalami komodifkasi motif. Samasili sebagai salah satu motif yang banyak mengalami komodifikasi oleh penenun dipadukan dengan beragai ragam motif seperti kupu-kupu, layang-layang, bahkan rangkaian motif lainnya. Artinya bahwa penenun memahami untuk tetap menjadikan tenun daerah tetap eksis ditengah perkembangan fashion dunia maka motif yang dihasilkan pun harus lebih menarik sesuai dengan perkembangan zaman.
  3. Terbuka dengan kemajuan. Adanya rangkaian motif yang dituangkan dalam motif dasar tenun Muna menggambarkan keterbukaan masyarakat Muna akan perkembangan trand fashion. Masyarakat tidak menutup diri dalam menghadapi perkembangan zaman namun menyerap dan menyesuikannya dengan kebudayaannya. Memadukan rangkaian motif dengan motif dasar Tenun Muna merupakan pilihan yang tepat bagi masyarakat penenun dalam menghadapi perkembangan fashion dan tetap mempertahankan identitas tenunan Muna.
  4. Melalui perpaduan warna dalam setiap motif tenun Muna yang dihasilkan menggambarkan keberagaman dalam sebuah karya. Tenun Muna dihasilkan oleh lebih dari satu warna dalam sebuah kainnya. Warnanya pun selalu bervariasi. Perpaduan warna yang menarik menjadikan motif tenun Muna semakin hidup.

Proses

Sedang menenun kain tenun Muna (https://inakoran.com)

Proses pembuatan sarung tenun adat Muna, pada dasarnya terdiri dari dua bagian :

Proses meng-hani/Kasoro

Suatu proses awal yang dilakukan dengan cara menyusun setiap helai lembaran benang pada alat yang telah disiapkan sebelumnya dan cara-cara tertentu pula. Bahan dasar utama yang digunakan dalam pembuatan sarung Muna yaitu benang biasa dan benang mamilon/nilon dengan warna yang berbeda sesuai dengan warna sarung yang akan dibuat. Beberapa peralatan yang dipakai pada tahap ini seperti Lhangku, Jangka, Kae, Ati, Kaju, Parambhibhita, Bhibhita, Kaghua dan Kangkai. Pada proses ini dikenal istilah Palida yaitu memukul atau memberikan tekanan terhadap benang yang abru saja dimasukkan agar rapat.  Jika tidak rapat, maka hasilnya akan cacat.

Proses menenun

Proses lanjutan setelah meng-hani/kasoro yang menjadi penentu apakah sarung yang dihasilkan akan memiliki bunga/corak atau hanya sarung polos. Proses menenun ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang telah mahir dan menekuni pembuatan sarung tenun ini. Dalam proses menenun ini ada beberapa peralatan yang biasa dipakai seperti Katai, Kafetadaha, Lobu, Katokano Bunga, Kadanda, Bhalida, Kabuntuluha, Tetere dan Talikundo.

Pengrajin

Pengrajin Kain Tenun Muna berada di Desa Waulai, Kecamatan Barangka, Desa Bolo, Kecamatan Lohia, Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga, Desa Lakarinta, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna,  Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sumber: Komodifikasi dan Makna Simbolik Motif Tenun Muna Sebagai Bentuk Kearifan Lokal Masyarakat Kabupaten Muna, Oleh Wa Ode Lusianai¹, Aryuni Salpiana Jabar², Ikrima Nurfikria³, Sitti Hairani Idrus, Vol.2 No.2. July 2019. pp.52-64. Copyright©2019 Journal PUBLICUHO, Facultyof SocialandPoliticalSciencesHalu Oleo
University, Kendari, Southeast Sulawesi, Indonesia.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Kain Tenun Mekongga Sulawesi Tenggara

Fri Sep 4 , 2020
Kain tenun Mekongga (https://www.blanja.com) Busana adat berupa kain tenun Mekongga merupakaj salah satu warisan budaya leluhur Suku Tolaki Mekongga atau Suku Mekongga di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kolaka dikenal memiliki pakaian adat khas yang berbeda dari pakaian rakyat biasa. Sejarah Asal muasal busana adat tradisional suku ini berawal mengenal pakain […]