Kain Tenun Lipa’ Sabbe Sulawesi Selatan

Kain Tenun Sengkang atau Kain Tenun Lipa’ Sabbe (https://www.reqnews.com)

Nama Lipa’ Sabbe sendiri berasal dari bahasa Bugis yang artinya sarung sutera. Pusat produksi sarung ini ada di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, hingga sering kali Kain tenun Lipa’ Sabbe dikenal dengan nama Kain Tenun Sengkang, kota Sengkang merupakan ibukota Kabupaten Wajo.

Dalam pemakaiannya, Lipa’ Sabbe digunakan sebagai bawahan sarung yang dipadukan dengan jas tutup dan songkok recca bagi laki-laki. Untuk perempuan, sarung ini dikenakan sebagai bawahan dari baju bodo, di mana biasanya salah satu ujung Lipa Sabbe’ dibiarkan menjuntai dan cukup dipegang menggunakan tangan kiri. Khusus untuk pertunjukan tari tradisional, umumnya Lipa’ Sabbe akan digulung di bagian punggung dengan simpul menyerupai kipas.

Sejarah

Keterampilan  bertenun  pada  masyarakat  Bugis  sebagai  sumber  pendapatan  keluarga sudah lama dikenal sejak dahulu. Bahkan sekitar tahun 1785, Forrest  menulis: Penduduk Sulawesi sangat terampil menenun kain, umumnya kain  kapas  bergaya  kambai yang  mereka  ekspor  ke  seluruh  Nusantara.  Kain-kain  itu   bermotif   kotak-kotak merah bercampur biru. Mereka juga membuat sarung sutera (Bugis: tali bennang) indah, tempat menyelipkan badik.Saat ini, produk   sarung   sutera   kotak-kotak, kain tenun yang dihasilkan lebih bervariasi.

Fungsi dan Makna

Kain Tenun Sengkang atau Kain Tenun Lipa’ Sabbe (http://seniblogs.blogspot.com)

Selain sebagai busana yang merupakan fungsi yang paling lumrah, beberapa fungsi sosial budaya tersebut secara lebih jelas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Kain tenun Bugis sebagai hadiah

Kain tenun Bugis selain kegunaannya sebagai busana, juga merupakan simbol penghargaan terhadap seseorang yang dapat diartikan sebagai rasa hormat, penghargaan yang tinggi dan tanda diterimanya seseorang dengan baik. Sebagai contoh adalah pada upacara mapparola, yaitu upacara menerima menantu baru beserta keluarganya. Selain emas, maka pihak mertua dan kerabat juga memberikan lipa (sarung) kepada menantu perempuan sebagai tanda bahwa mereka menerima sebagai bagian dari keluarganya.

2. Kain tenun Bugis sebagai status sosial

Kain tenun Bugis merupakan simbol status yang merupakan prestise untuk memperlihatkan kedudukan ataupun keberadaan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Pada masyarakat Bugis kain tenun merupakan salah satu simbol yang merepresentasikan hal tersebut. Kain tenun sebagai simbol status tercermin pada tempat pelaminan pengantin Bugis. Semakin banyak kain tenun yang ditampilkan sebagai penghias tempat resepsi perkawinan (baruga) untuk pengantin Bugis, maka semakin tinggi strata sosial yang dimiliki keluarga tersebut.

3. Kain tenun Bugis sebagai identitas

Kain tenun Bugis sebagai identitas masyarakat Bugis banyak digunakan sampai saat ini sebagai benda perlengkapan adat, yaitu digunakan untuk keperluan upacara-upacara adat. Simbol dari corak yang terdapat dari lipa tersebutlah yang menempatkan lipa sebagai benda budaya yang dianggap sebagai warisan budaya yang selalu disertakan hampir pada setiap upacara adat Bugis.

Motif

Kain Tenun Sengkang atau Kain Tenun Lipa’ Sabbe (https://www.liputan6.com)

Ada 3 macam corak pada kain Sengkang, yaitu garasuk, labba, dan subi yang ketigannya mempunyai makna sendiri. Motif Garasuk lebih banyak dipakai oleh bangsawan Bugis, motif Labba melambangkan kesimbangan hidup, dan motif Subbi yang berbentuk pucuk berkembang mempunyai makna agar kehidupan senantiasa terus berkembang.

Macam motif yang diproduksi seperti motif “Balo Tettong” (bergaris atau tegak), motif “makkalu” (melingkar), motif “mallobang” (berkotak kosong), motif “Balo Renni” (berkotak kecil). Selain itu ada juga diproduksi dengan mengkombinasikan atau menyisipkan “Wennang Sau” (lusi) timbul serta motif “Bali Are” dengan sisipan benang tambahan yang mirip dengan kain Damas.

Seiring dengan perkembangan jaman, elemen-elemen kain Lipa’ Sabbe pun menjadi lebih variatif. Bermula dari motif tradisional kotak-kotak kecil berwarna cerah yang disebut balo renni atau motif kotak-kotak besar dengan warna merah terang hingga merah keemasan yang disebut balo lobang. Terdapat pula corak zig-zag yang diberi nama corak bombang, corak ini menggambarkan gelombang lautan. Pola zig-zag ini dapat diterapkan di seluruh permukaan sarung atau di bagian kepala sarung saja, adapun bagian kepala sarung justru terletak di area tengah sarung, dan sering juga corak bombang ini digabungkan dengan corak kotak-kotak.

Kini motif-motif modern pun sudah semakin banyak diproduksi. Akan tetapi, perkembangan ke arah lebih modern dilakukan dengan tetap menjaga nilai-nilai keunikan dan warna khasnya.

Warna

Warna juga memiliki makna di dalam motif kain tenun Lipa’ Sabbe, seperti warna hijau untuk kalangan bangsawan, merah yang diperuntukan untuk gadis remaja, hitam warna yang dipakai untuk orang tua, dan putih dipakai oleh inang pengasuh yang ada di lingkungan kerajaan.

Produk Kain

Tas dengan sentuhan kain sutra (https://www.liputan6.com)

Ada tiga bentuk dan corak kain sutra yang diproduksi oleh pengrajin, yaitu: kain setengah jadi (seperti sarung, baju, dan selendang); kain berbentuk gulungan yang dapat dibeli permeter sesuai dengan kebutuhan; dan pakaian siap pakai (seperti: baju, jas, kerudung, kipas, dompet, dan tempat peralatan rias wajah).

Proses Menenun

Untuk memperoleh kain tenun Lipa’ Sabbe yang berkualitas tinggi, benang lokal dan impor dipadukan menjadi satu dan diolah dalam beberapa tahap. Pertama, kedua macam benang tersebut dimasak dengan sabun dan soda sekitar 1 jam dalam suhu 90 derajat. Tahap selanjutnya, kain dijemur selama 3 jam dengan suhu 50º C. Setelah itu, benang siap dipasang di mesin tenun dan diolah menjadi kain. Satu kilogram benang lusi dapat menghasilkan sekitar 40 meter kain, dan satu kilogram pakan dapat menghasilkan 12 meter kain. Uniknya, semua proses penenun dilakukan di kolong-kolong rumah mereka.

Pengrajin

Di Sengkangterdapat  sekitar  4.982  orang  perajin  gedongan  dengan  jumlah produksi  sekitar  99.640  sarung  per  tahun  dan  perajin  Alat  Tenun  Bukan  Mesin (ABTM)  berjumlah  277  orang  dengan  produksi  sekitar  1.589.000  meter  kain  sutra pertahun (wajokab.go.id, Rabu 27 Agustus 2014, 23.45WIB).

Pengrajin Kain Tenun Lipa’ Sabbe terletak di Kecamatan Sabbangparu, Kecamatan Amesangeng, Kecamatan Sempange, Kecamtan Tangkoli, Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Batik Motif Parang Klitik

Mon Sep 7 , 2020
Batik motif Parang Klitik Motif batik Parang Klitik merupakan pola parang yang memiliki bentuk stilasi yang lebih halus dari parang rusak, bentuk lebih sederhana dan mempunyai ukuran yang lebih kecil. Motif parang klitik ini menggambarkan citra feminim, lembut, menggambarkan perilaku halus dan bijaksana. Motif parang klitik ini pada jaman dulu […]