Istana Negara Gedung Agung Gondomanan Yogyakarta

Istana Negara Gedung Agung (https://jogja.idntimes.com)

Istana Negara Gedung Agung terletak di Jl. Margo Mulyo, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta 55122, menempati lahan seluas 43,585 m².

Istana Yogyakarta atau Gedung Agung, sama halnya dengan istana Kepresidenan lainnya yaitu sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Selain itu juga sebagai tempat menerima atau menginap tamu-tamu negara. Sejak 17 Agustus 1991, istana ini digunakan sebagai tempat memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk Daerah Istimewa Yogyakarta dan penyelenggaraan Parade Senja setiap tanggal 17 yang dimulai 17 April 1988.

Sejarah

Gedung Agung Residen

Gedung utama kompleks istana ini mulai dibangun pada Mei 1824 yang diprakarsai oleh Anthony Hendriks Smissaerat, Residen Yogyakarta ke-18 (1823-1825) yang menghendaki adanya “istana” yang berwibawa bagi residen-residen Belanda sedangkan arsiteknya adalah A Payen.

Karena adanya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) pembangunan gedung itu tertunda. Pembangunan tersebut diteruskan setelah perang tersebut berakhir yang selesai pada 1832. Pada 10 Juni 1867, kediaman resmi residen Belanda itu ambruk karena gempa bumi. Bangunan baru pun didirikan dan selesai pada 1869. Bangunan inilah yang menjadi gedung utama komplek Istana Kepresidenan Yogyakarta yang sekarang disebut juga Gedung Negara.

Pada 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi dimana Gubernur menjadi penguasa tertinggi. Dengan demikian gedung utama menjadi kediaman para gubernur Belanda di Yogyakarta sampai masuknya Jepang.

Pada 6 Januari 1946, Kota Gudeg ini menjadi ibu kota baru Republik Indonesia yang masih muda dan istana itu berubah menjadi Istana Kepresidenan, tempat tinggal Presiden Soekarno beserta keluarganya, sedangkan Wakil Presiden Mohammad Hatta tinggal di gedung yang sekarang ditempati Korem 072/Pamungkas. Sejak itu Istana Kepresidenan Yogyakarta menjadi saksi peristiwa penting diantaranya pelantikan Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TNI pada 3 Juni 1947 dan sebagai pucuk pimpinan angkatan perang Republik Indonesia pada 3 Juli 1947.

Pada 19 Desember 1948, Yogyakarta diserang oleh tentara Belanda dibawah pimpinan Jenderal Spoor, Presiden, Wakil Presiden dan para pembesar lainnya diasingkan ke luar Jawa dan baru kembali ke Istana Yogyakarta pada 6 Juli 1949. Sejak 28 Desember 1949, yaitu dengan berpindahnya Presiden ke Jakarta, istana ini tidak lagi menjadi tempat tinggal sehari-hari Presiden.

Denah

Istana Negara Gedung Agung (https://kabarberita.id)

Istana Kepresidenan Yogyakarta memiliki 26 bangunan. Perkembangan bagian-bagian bangunan Istana Kepresidenan Yogyakarta tidak banyak berubah, baik dari gedung induknya, Gedung Agung, maupun bangunan wisma-wisma, seperti: Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu, dan Wisma Saptapratala. Selain ke-empat wisma tersebut, sejak  20 September 1995,  Kompleks Seni Sono  seluas 5.600 m2, yang terletak di sebelah selatan, yang semula milik Departemen Penerangan, kini menjadi bagian dari Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Pintu Gerbang Utama

Pintu Gerbang Utama Kompleks Istana Yogyakarta “dijaga” oleh dua buah patung besar Dwarapala yang juga disebut Gupala, masing-masing setinggi dua meter. Kedua patung ini berasal dari salah satu tempat di sebelah selatan Candi Kalasan. Di halaman istana, di depan Gedung Induk, tampak sebuah monumen yang terbuat dari batu andesit setinggi 3.5 meter; namanya Dagoba, yang berasal dari Desa Cupuwatu, di dekat Candi Prambanan. Orang Yogyakarta menyebutnya Tugu Lilin karena tampak seperti lilin yang senantiasa menyala, melambangkan kerukunan beragama, yaitu agama Hindu Ciwa dan agama Budha: agama Hindu Ciwa dilambangkan dengan Lingga, yang menopang stupa sebagai lambang agama Budha.

Gedung Induk

Sejak didirikan dua abad yang lalu hingga kini, Gedung Induk kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta tidak pernah berubah; bentuknya sama seperti ketika selesai dibangun pada tahun 1869. Ruangan Induknya disebut Ruang Garuda dan berfungsi sebagai ruang resmi penyambutan tamu negara atau tamu agung yang lain. Di ruangan ini pulalah Kabinet Republik Indonesia dilantik tatkala ibu kota negara berpindah ke Yogyakarta. Pada dinding ruangan yang bersejarah ini tergantung gambar-gambar pahlawan nasional, di antaranya gambar Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, Dokter Wahidin Soedirohusodo, dan Tengku Cik Di Tiro.

Di sisi selatan Gedung Induk terletak Ruang Tidur Presiden beserta keluarga, sedangkan di sisi utara terletak kamar tidur yang disediakan bagi Wakil Presiden beserta keluarga dan bagi tamu negara atau tamu agung yang lain beserta keluarga. Di bagian depan kanan Gedung Induk terdapat ruangan yang diberi nama Ruang Soedirman untuk mengenang perjuangan Panglima Besar Soedirman dalam memimpin gerilya melawan Belanda. Di ruangan inilah dulu Panglima Besar Soedirman mohon diri kepada Presiden Soekarno, untuk meninggalkan kota dalam rangka memimpin perang gerilya melawan Belanda. Di bagian depan kiri gedung utama terdapat ruangan yang diberi nama Ruang Diponegoro, untuk mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Dalam ruang ini tampak pula lukisan beliau sedang berkuda.

Dari Ruang Garuda ke arah belakang terdapat ruangan besar yang lain, yaitu Ruang Jamuan Makan, tempat jamuan makan bagi tamu negara atau tamu agung yang lain. Di belakang ruang jamuan makan terdapat ruangan luas, yang berfungsi sebagai Ruang Pertunjukan Kesenian. Kedua ruangan ini juga ditata dengan baik sesuai dengan tuntutan ruang. Sebagai ruang makan dan ruang kesenian, kesederhanaan, keramahan, serta ketenangan tertangkap dari tataan kedua ruang itu.

Gedung Agung

Gedung yang diperuntukkan sebagai tempat penyimpanan koleksi benda-benda seni, pameran, dan tempat pertunjukan kesenian ini semula adalah bangunan kuno yang dibangun Belanda pada tahun 1911.

Wisma Negara

Wisma ini dibangun pada tahun 1980. Wisma ini dimaksudkan untuk para Menteri dan rombongan tamu negara. Bangunan ini bertingkat dua dan mempunyai 19 kamar. Setiap kamarnya dihias dengan lukisan serta benda seni lain yang sesuai dengan fungsi-fungsi kamarnya, terutama untuk beristirahat.

Wisma Indraphrasta

Wisma ini merupakan wujud bangunan asli kantor Asisten Residen Belanda, penggagas bangunan yang kini menjadi istana ini.

Wisma Sawojajar

Disediakan bagi petugas atau rombongan Staf Presiden atau tamu negara.

Wisma Bumiretawu

Wisma Bumiretawu

Disediakan bagi para Ajudan serta Dokter Pribadi Presiden atau Ajudan dan Dokter Pribadi tamu negara.

Wisma Saptapratala

Wisma ini disediakan bagi petugas-petugas dan para anggota rombongan Presiden atau tamu negara.

Kompleks Seni Sono

Gedung Seni Sono

Kompleks Seni Sono mulai dipugar pada tahun 1995 dan terdiri atas gedung auditorium, gedung tempat penyimpanan koleksi benda-benda seni, gedung pameran dan perkantoran. Auditorium ini semula adalah gedung Seni Sono yang dibangun pada 1915 dan diperuntukkan sebagai tempat pertunjukkan kesenian terpilih yang berkaitan dengan acara kenegaraan. Gedung yang diperuntukan sebagai tempat penyimpanan koleksi benda-benda seni semula adalah bangunan kuno yang dibangun Belanda pada 1911 dan terakhir digunakan sebagai kantor PWI/Antara. Bangunan yang diperuntukkan untuk gedung pameran dan perkantoran semula adalah bangunan kantor Departemen Penerangan.

Sumber: setneg

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Gedung Bank Indonesia Gondomanan Yogyakarta

Wed Aug 5 , 2020
Gedung Bank Indonesia Yogyakarta (https://www.gudeg.net) Gedung Bank Indonesia terletak di Jl Panembahan Senopati No. 4–6, Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta 55122, menempati lahan seluas sekitar 300 m².Gedung Bank Indonesia Yogyakarta awal mulanya adalah sebuah kantor cabang De Javasche Bank Djogdjakarta. Gedung tersebut dibangun sekitar tahun 1879. Pembangunan Kantor Cabang […]