Permainan Lepetan (Video)

Permainan lepetan (https://www.youtube.com)

Istilah lepetan berasal dari bahasa Jawa yaitu dari kata lepet yang mendapat akhiran an. Oleh sebab itu lepetan adalah nama sebuah makanan yang terbuat dari beras ketan, berbentuk bulat panjang seperti lemper, terbungkus dengan daun bambu dan diikat dengan tali. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata lepetan berasal dari kata lipat clan diberi akhiran an, artinya kata lepetan sama artinya dengan kata lipatan, sehingga kata lipatan adalah sikap tangan dalam posisi terlipat atau dalam bahasa Jawanya bandan seperti sikap para peserta permainan lepetan. Permainan lepetan merupakan permainan yang bersifat rekreasi dan sebagai pengisi waktu luang serta dilakukan di halaman yang agak luas karena memakai kejar-kejaran.

Latar belakang permainan lepetan menggambarkan kehidupan seorang ibu dengan anak-anaknya. Selain itu, permainan lepetan juga membutuhkan kekuatan fisik karena terjadi kejar-kejaran. Di dalam permainan ini para peserta dapat berlatih berfantasi, menimbulkan keberanian berbicara sehingga para peserta dapat bersikap dinamis. Permainan lepetan tumbuh dan berkembang pada masyarakat perkotaan maupun pedesaan tanpa ada perbedaan. Sedangkan persebarannya terjadi di seluruh Jawa, termasuk di DIY baik bagi masyarakat bangsawan maupun masyarakat umum. Namun akhimya permainan ini banyak mengalami kemunduran karena telah tersaingi oleh permainan yang lain.

Pemain

Permainan lepetan memerlukan jumlah pemain agak banyak yang berusia sekitar 10 – 14 tahun yang dimainkan oleh anak putera maupun anak puteri, atau bahkan dapat dilakukan secara campuran. Permainan lepetan boleh dikatakan tidak memerlukan perlengkapan karena hanya membutuhkan sebuah tiang atau pohon untuk pegangan salah satu pemain. Permainan lepetan diiringi oleh lagu lepetan yang dinyanyikan di awal permainan yang dinyanyikan oleh semua peserta secara bersama-sama dan berulang-ulang sampai beberapa kali. Kata-kata dalam lagu lepetan itu adalah sebagai
berikut:

Lepetan lepetan angudari anguculi, janur kuning aningseti. Siti bali lunga dandan methika kembang srikaton

Pada akhir permainan diiringi lagu lagi dengan syaimya sebagai berikut : dhanggulung atau ngobong klasa bangka 2x.

Jalannya Permainan

Para peserta permainan lepetan berdiri menghadap searah sambil bergandengan tangan (a, b, c, d, e dan O). Salah satu tangan peserta terdepan (a) berpegangan pada sebuah tangan, sedangkan peserta yang berada di belakang sendiri yaitu f sebagai embok atau induk dan para peserta yang lain yaitu b, c, d, dan e menjadi anak-anaknya. Kemudian mereka bernyanyi bersama lagu lepetan sambil berjalan melalui bawah tangan a yang berpegangan tiang atau brobos sehingga a kini dalam posisi menghadap ke arah yang berlawanan dengan tangan terlipat atau bandan.

Selanjutnya c, d, e, dan f bernyanyi sambil berjalan melewati di bawah tangan b atau brobos sehingga b kini menghadap arah yang berlawanan dengan tangan terlipat. Demikian seterusnya hingga a sampai dengan e keadaan tangan mereka terlipat semuanya, maka lagu dihentikan. Kemudian f sebagai embok atau induknya memberi makan kepada anakanaknya dari a sampai dengan e sambil berkata:
enyo sega, enyo sega…….” sampai anak yang terakhir e menyatakan enyo enthonge, demikian seterusnya, kemudian dibalik dari e ke a dengan kata-kata sebagai berikut: “enyo iwak, enyo iwak……. ” sampai anak yang
terakhir  yaitu a menyatakan enyo balunge. Setelah semuanya mendapat bagian lalu si embok atau induknya yaitu f menanyakan kepada si anak semua di mulai dari e. Adapun pertanyaannya adalah sebagai berikut:
f : ”dibanda nyolong apa
e : “nyolong keris
f : “saiki endi kerise
e : “wis tak nggadheke
f : “endi dhuwite
e : “wis tak enggo nempur
f : “endi berase
e : “wis tak liwet
f : “endi segane
e : “wis tak pangan

Demikian percakapan embok dengan salah satu anaknya yaitu e dan demikian pula pertanyaan kepada anak-anaknya yang lain, namun jawaban sesuatu yang dicuri berlainan antara anak yang satu dengan yang lain
tergantung kepada fantasi si anak masing-masing. Setelah semua anak ditanya dan mereka telah menjawab, maka mereka berkumpul di tempat tiang seperti lebah sambil bemyanyi: dha ngobong atau nggulung klasa bangka yang
dinyanyikan dua kali. Selanjutnya si embok atau f berlari dengan terbirit-birit karena dikejar-kejar oleh anak-anaknya sambil memanggil “biyung…….biyung‘ . Apabila f tertangkap lalu dicubit oleh anak-anaknya seperti layaknya seekor lebah mengerumuni sambil menyengat badan orang. Demikian akhir dari permainan lepetan.

Sumber: Pembinaan Nilai Budaya Melalui Permainan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Anggaran 1997/1998

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.