Sanggul Ciwidey Jawa Barat

Sanggul Ciwidey Jawa Barat

Di jawa barat terdapat satu kecamatan bernama Ciwidey, termasuk wilayah kota madya Bandung dan letaknya kurang lebih 50km disebelah selatan Bandung. Salah satu sanggul yang terenal di Jawa Barat bernama Ciwidey. Belum jelas siapa orang pertama yang menggunakan istilah itu. Nama sanggul itu agaknya tak dapat dilepaskan dari nama daerah itu.

Nama sanggul Ciwidey mulai dikenal di daerah Jawa Barat pada tahun 1947. Sanggul itu diperkenalkan oleh Kanjeng Haji Wiranatakusumah. Sebelum sanggul Ciwidey di kenal didaerah Jawa Barat, pada zaman pangeran Sumedang telah dikenal nama sanggul Pasundan atau sanggul kasundanan atau disebut juga kebesaran, yang umumnya dipakai oleh kaum ningrat hingga rakyat biasa. Kemudia nama sanggul itu berubah menjadi nama sanggul Ciwidey. Siapa yang mengubanya dan kapan diubahnya belum dapat diketahui secara pasti.

Jika dilihat dari segi bentuknya, sanggul Ciwidey dipengaruhi oleh bentuk huruf arab, yaitu alif ditamabah dengan huruf nun atau dikenal dengan istilah sunda; alif pakait sareng nun. Dalam hal ini terlihat pengaruh agama islam. Hal ini dapat dimengerti karena hampir seluruh penduduk asli Jawa barat pemeluk agama Islam.

Sanggul Ciwidey

Pada zaman dahulu umumnya wanita yang berambut panjang jarang menggunakan cemara. Pada zaman moden sekarang ini rata-rata wanita berambut pendek, tetapi masih tetap disanggul rambutnya dan mereka tidak meningglakan sanggul tradisional atau sanggul asli, yaitu sanggul pasundan atau Ciwidey.

Bentuk sanggul ciwidey terletak dikepala bagian belakang, dengan bentuk sanggul agak bulat dan bagian bawahnya tidak menentuh leher. Pada bagian kedua sisi menggunakan ”jabing” (dalam bahasa Jawa sama dengan sunggar) sanggul ini menggunakan perhiasan sepasang ”cucuk gelung” atau tusuk konde yang terbuat dari tanduk binatang, imitasi, emas, perak atau lainnya yang dipakai dkanan dan kiri sanggul.

Pemakaian jenis perhiasan tergantung pada golongan masyarakat pemakaianya. Jika pamakainya dari golongan ningrat hiasannya berupa emas dan apabila pemakaiya dari golongan biasa atau golongan bawah hiasannya terbuat dai tanduk atau imitasi.

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.