Kain Tenun Songket Melayu Batubara Sumatera Utara

Kain tenun Songket Melayu Batubara (https://www.mondasiregar.com)

Di Sumatera Utara, keberadaan budaya tenunan songket dalam sistem pembelajarannya berbeda dengan kawasan-kawasan Melayu lainnya, dan memiliki ciri-ciri khas budaya setempat. Sistem pembelajaran dari satu generasi ke generasi lain dilakukan secara terbuka, oleh siapa saja dan dari etnik apa saja. Songket tidak dimonopoli oleh keluarga bangsawan Melayu. Penenun songket juga menurut pengamatan lapangan, tidak banyak dilakukan oleh kerabat bangsawan Melayu, lebih banyak dilakukan oleh masyarakat awam.

Belajar dilakukan menurut tradisi lisan, artinya seorang calon penenun datang melihat ke rumah gurunya dan kemudian langsung melakukannya, tidak disertai dengan petunjuk-petunjuk ajar melalui buku atau media sejenis lainnya.

Motif

Motif Naga berjuang

Ada beberapa ragam hias yang tetap dipertahankan seperti Naga Berjuang (fauna), merupakan peninggalan pra-Islam. Motif ini melambangkan nilai kepahlawanan saat menghadapi musuh, peletakannya di buat pada kepala kain.

Motif Pucuk Caul bermakna nilai kehidupan yang agung penerapannya di ujung kain. Motif lain Pucuk Betikam, melambangkan idealisme seseorang ini bisanya diletakkan di kepala kain. Motif Serek atau Sejarum-jarum ini melambangkan yang pertama (utama) sekali, bisanya di posisi pinggiran kain. Selebihnya ada motif menyerupai perahu (lancang) ini menceritakan kedatangan nenek moyang orang melayu dahulu.

Bagian-bagian lainnya berupa hiasan yang di letakkan di tengah kain seperti motif Rantai tampuk berombang. Tak semuanya motif diposisikan sama, ada juga bebas seperti motif Bunga Tekwa, Ombak-ombak dan Pucuk Rebung. Pada umumnya ragam motif ini tujuannya untuk melengkapi hiasan yang sudah baku, asal dia seimbang (proporsional).

Kain tenun Songket Melayu Batubara (http://songketbatubara.blogspot.com)

Warna

Kain tenun songket Batubara memiliki tekstur yang lembut, ringan tidak luntur sehingga lebih nyaman di pakai, songket Batubara juga di kenal unik karena cenderung menggunakan warna cerah seperti merah, kuning, hijau, biru dan ungu. Kualitas kainnya pun bisa di bilang unggul karena peroses pembuatannya secara manual dengan Okik atau ATBM.

Pemakaian

Songket batubara selain berbentuk kain selempang juga banyak dijadikan bahan untuk baju pengantin, kebaya, topi (penutup kepala) dan tas. Kain songket batubara juga bisa sebagai penunjang untuk dekorasi seperti sarung bantal, taplak meja, gorden dan tudung saji.

Jenis Alat Tenun

Ciri khas budaya songket dan ulos di Sumatera Utara, adalah menggunakan tiga jenis alat tenunan yaitu:

Yang pertama adalah okik, yang digunakan dalam tradisi songket Melayu Batubara di Sumatera Utara. Alat tenun ini, secara struktural sama dengan yang terdapat di Semenanjung Malaysia. Begitu juga dengan proses pembuatan songket, dan istilah-istilah yang digunakan banyak memiliki kesamaan dengan di Semananjung Malaysia. Persamaan lainnya adalah penggunaan jenis-jenis motif songket, yang sama antara kawasan Batubara dengan Semenanjung Malaysia. Ini membuktikan bahwa Batubara adalah sebagai salah satu daerah kebudayaan Melayu. Sementara kawasan Dunia Melayu sendiri merentasi beberapa negara di kawasan ini.

Okik, penenunnya mengerjakan sambil duduk

Alat tenun yang kedua adalah partonunan, yaitu alat tenun yang digunakan oleh masyarakat Batak Toba untuk menghasilkan ulos. Bedanya dengan okik, alat partonunan ini dilakukan sambil duduk selepoh, bukan di tempat duduk seperti okik. Alat partonunan ini, bagaimana pun memiliki unsur dan teknik yang hampir sama dengan okik. Misalnya dari segi istilah, pada okik ada istilah balero dalam partonunan ada belira, pada okik ada papan penggulung pada partonunan ada pamapan. Namun ditemui juga ciri-ciri khas partonunan yang berbeda dengan okik. Alat partonunan ini digunakan untuk menenun ulos di kawasan Batak Toba, seperti di Tomok, Tarutung, dan Parapat. Alat ini dipandang sebagai alat tenun tradisional Batak Toba.

Partonunan, penenunnya mengerjakan duduk selonjor

Alat tenun yang ketiga adalah alat tenun bukan mesin (ATBM). Alat tenun ini berasal dari Jawa. Alat tenun ini merupakan bagian dari program pemerintah Indonesia untuk dipergunakan menenun kain tradisional di seluruh Indonesia.

ATBM, penenunnya mengerjakan sambil duduk

Namun demikian, di kawasan Sumatera Utara, ada pula yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) ini, yaitu di kawasan budaya Karo dan Dairi, tepatnya di Kota Kabanjahe. Bagaimanapun keberadaan alat tenun ini tak lepas dari peranan Bapak S. Tambun, S.Teks. Ia adalah lulusan Institut Teknologi Tekstil di Bandung tahun 1995. Dengan demikian, ada juga yang lebih menyenangi alat tenun bukan mesin. Alasan mereka adalah bahan tenunan yang dihasilkan lebih berkualitas, dan akurasi tenunan lebih baik dibandingkan dengan menggunakan alat tenun tradisional, okik atau partonunan. Alat tenun bukan mesin ini, bagi yang menggunakannya boleh menurunkan harga satu unitnya dengan cara membuatnya sendiri, tidak mengimpornya dari Jawa.

Pengrajin

Pengrajin tenun Songket Batubara berada di Desa Padang Genting, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara. Lebih dari 300 pengrajin Songket Batubara dapat ditemui di sana dengan berbagai varian corak dan kualitas tenunnya.

Di kabupaten Batubara sendiri, selain Desa Pandang Genting, daerah lainnya juga turut melestarikan Songket Melayu, seperti di Desa Kampung Panjang, Desa Masjid Lama, Kecamatan Talawi, Kecamatan Tanjung tiram, maupun daerah lainnya.

Sumber: Ebook, Songket Melayu Batubara: Eksistensi dan Fungsi Sosiobudaya, Oleh: Fadlin Muhammad Djafar, Akademi Pengajian Melayu UM, Departemen Etnomusikologi USU

Follow me!

One thought on “Kain Tenun Songket Melayu Batubara Sumatera Utara

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.