Prosesi Pernikahan Adat Surakarta

Busana Pengantin Basahan Surakarta

Kotamadya Surakarta dikenal sebagai kota Surakarta atau Sala atau Solo. Popularitas itu semakin menanjak dengan banyaknya nama itu disebut dalam perjalanan sejarah Indonesia, sebagai pusat kebudayaan Jawa maupun kesenian serta pelbagai sektor kehidupan lainnya ditingkat regional, nasional dan internasional.

Sebagai kota budaya, kota Sala mempunyai tempat bersejarah dan juga peristiwa-peristiwa budaya yang sangat menarik, seperti misalnya Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran. Dua Keraton di Tanah Jawa yang sampai saat ini masih mengadakan kegiatan budaya. Boleh dikatakan bahwa kedua tempat ini menjadi pusat budaya dan tulang punggung pariwisata di kota Sala yang diharapkan akan mampu menyedot arus wisatawan untuk datang ke kota Sala.

Tata Urutan Upacara Pengantin Surakarta

Pada umumnya masyarakat Surakarta untuk melaksanakan perkawinan perlu persiapan antara lain:

1. Lamaran

Jaman Dulu

Merupakan mengajukan permohonan secara tertulis yang biasa, disebut Surat Lamaran. Surat lamaran ini dibuat oleh colon pengantin laki – laki, yang ditujukan kepada colon pengantin putri. Surat lamaran ditulis tangan dengan bahasa Jawa; biasanya memakai kata – kata mutiara yang bogus selalu merendahkan diri. Misalnya dengan kata – kata ngembun – ngembun enjing, anjejawab sonten untuk istilah meminang. Setelah kira – kira setengah bulan pihak calon pengantin putri harus memberikan jawaban tertulis kepada orang tua calon pengantin pria, apabila jawaban tertulis berisi berita yang mengabulkan lamaran, maka segera diatur waktu dan persiapan untuk pembicaraan upacara Srah – srahan atau Peningset.

Jaman Sekarang

Keluarga calon mempelai pria mendatangi (atau mengirim utusan ke) keluarga calon mempelai perempuan untuk melamar putri keluarga tersebut menjadi istri putra mereka. Pada acara ini, kedua keluarga jika belum saling mengenal dapat lebih jauh mengenal satu sama lain, dan berbincang-bincang mengenai hal-hal yang ringan. Biasanya keluarga dari calon mempelai perempuan yang mempunyai hak menentukan lebih banyak, karena merekalah yang biasanya menentukan jenis pernikahannya:

  • Paes Agung yaitu pernikahan agung
  • Paes Basahan
  • Paes Kesatriyan yaitu pernikahan jenis kesatria yang lebih sederhana

2. Upacara Srah-srahan atau Peningset

Penyerahan dari keluarga colon pengantin putra kepada orang tua colon penganten putri. Adapun benda – benda yang dibawa oleh keluarga pihak colon pengantin pria adalah :

  • Pisang Ayu (pisang raja) dan Suruh Ayu (sirih) sebagai lambang Sedya Rahayu, yang artinya pengharapan akan datangnya kesejahteraan setelah hari perkawinan
  • Dua buah jeruk gulung (Jeruk Getri), merupakan lambang tekad bulat untuk mengarungi pernikahan
  • Dua buah Cengkir Gading (Kelapa muda warna kuning), merupakan lambang ketetapan hati dan pikiran untuk melaksanakan perkawinan
  • Dua batang Tebu Wulung (ungu), merupakan lambang Ketetapan kalbu atau hati
  • Kain Batik Tradisional motif Sido Mukti, Sido Luhur, Sido Mulyo, merupakan lambang cita-cita yang mulia atau luhur
  • Kain batik motif Truntum untuk Ayah dan lbu yang mengandung arti turun temurun atau berkembang
  • Kain pemesing, berupa kain warne putih polos, untuk nenek
  • Dua kepal nasi golong, merupakan lambang kesepakatan (gemolong)
  • Jadah, jenang dan wajik merupakan lambang kemakmuran dan keluarga setelah melaksanakan perkawinan
  • Empon-empon; Jahe, kunyit dan kencur, merupakan lambang kesehatan yang menyertai kehidupan keluarga
  • Stogen warne putih dari bahan lawe, merupakan lambang kemakmuran sandang yang menyertai kehidupan keluarga
  • Cincin emas, merupakan lambang ikatan antara pengantin pria dan wanita

Disamping itu, dalam upacara srah-srahan juga sering ditambah dengan macam-macam pakaian dan perhiasan menurut kemampuan masing-masing atau yang sering disebut abon-abon.

3. Upacara pasang tarub

Untuk melaksanakan upacara perjamuan pengantin, pihak yang punya gawe pada umumnya mendirikan Tarub. Pembuatan tarub ini dilaksanakan pada hari ke tujuh, lima atau tiga hari sebelum acara “sangat” atau kepastian acara perjamuan dilaksanakan. Bahannya terbuat dari Daun Nipah I atau Daun Kelapa namanya Bertepe = untuk atapnya sedang bambu wulung untuk tiang – tiangnya.

Kalau tarub sudah jadi disekitarnya diberi hiasan berupa plisir gula kelapa, terbuat dari bahan dua macam warna, merah dan putih yang mempunyai arti merah – berani, putih – suci.

Pasang Tuwuhan

Setelah tarub jadi, pada kanan kiri pintu dipasang tuwuhan. Tuwuh yang artinya tumbuh, bahannya terdiri dari :

  • Satu batang pisang Raja, yang masih lengkap dengan satu tundun pisangnya dipasang di sebelah kanan pintu
  • Satu batang pisang Pulut, juga masih lengkap dengan satu tundun pisangnya dipasang sebelah kiri pintu
  • Satu janjang Cengkir Gading, satu janjang cengkir kelapa hijau, masing – masing dipasang pada sebelah kanan dan kiri pintu
  • Dua batang Tebu Wulung, masing-masing juga dipasang pada sebelah kanan dan kiri pintu
  • Duo ikat pada dan lima macam daun-daunan, yaitu Daun Kluwih, Daun Dadap Serep, Daun Along – along, Daun Nanos, dan Daun Opo – opo;
  • Janur kuning, dipasang melingkar-lingkar diatas regal (pintu masuk). Hal ini dipergunakan sebagai tanda bahwa tempat itu sedang mengadakan perjamuan mantu

4. Upacara Siraman

Siraman Calon Pengantin Wanita

Upacara siraman ini dilaksanakan sehari sebelum akad nikah, maksudnya untuk mensucikan calon pengantin, waktu yang baik untuk siraman ialah pada jam 11.00 WIB.

Upacara siraman ini bukan hanya colon pengantin putri soja, tetapi untuk pengantin pria, waktunya bersamaan, hanya tempatnya yang berbeda.

Yang memandikan adalah para pinisepuh yang masih genap bersuami istri dan sejahtera hidupnya, supaya dapat menuruni atau meneruskan kebahagiaannya kepada calon penganten, yang memandikan berjumlah ganjil 7 – 9 yang terakhir juru rias mengguyur dengan air kendi, kemudian kendi dipecah sambil mengucapkan “Colon pengantin wis pecah pamore”.

Bahan untuk siraman :

a. Air tawar atau hangat yang telah ditaburi Bunge Telon.
b. Duo buah Kelapa Goding yang diikat jadi satu dimasukkan dalam bak mandi.
c. Mangir, untuk membersihkan baden.

5. Upacara Adol Dawet (Jual Dawet)

Upacara jual dawet ini dilaksanakan selesai siraman. Menjual dawet itu dilakukan oleh ibu calon pengantin dipayungi oleh ayah calon pengantin. Para tamu membeli dawet dengan menggunakan kereweng atau pecahan genteng sebagai uang. Setclah itu uang dimasukkan dalam kandi dan disimpan dalam pendaringan atau tempat menyimpan beras.

Upacara tradisional Adol Dawet yang mengesankan ini memang sulit untuk dilupakan. Dawet melambangkan “kemruwet” berdesakan. lni mengandung harapan agar pada upacara perjamuan tamu – tamu banyak yang datang.

6. Upacara Midodaren (Midodareni)

Malam Midodareni merupakan malam tirakatan, tidak ada gamelan yang dibunyikan, tidak ada tarian dan tidak ada atraksi.

Sesudah siraman, colon pengantin putri sudah dikerik dan dihalub – halubi, dirias, lotha dioleskan dengan welat atau paes berwarna hijau, disanggul dengan konde, kemudian memakai Kain Sawitan (kain dan kebaya sama). Sawitan dipakai selama menunggu hari panggih. Pada malam midodareni, pengantin putri yang telah dirias duduk di depan Krobongan didalam keputren yang dinamakan Probo Suyoso, ditemani sanak keluarga, para pinisepuh. Dalam keheningan, diadakan pembacaan Macapat, Wulang Reh atau aneka Kidungan.

7. Upacara Panggih

Upacara panggih dilaksanakan pada waktu sesudah Magrib (surup), karena mempunyai makna pertemuan antara siang dan malam. Tempat untuk panggih ditengah – tengah pintu dibawah along – along.

Sebelum pengantin kedua sampai ditempat panggih, didahului dengan balang – balangan gantal. Gantal berjumlah 4 buah, masing- masing dua buah, yang namanya Gondang Asih dan Gondang Tutur. Pengantin putri melempar dua kali sasaran di kaki pria yang artinya tunduk dan berbakti kepada suomi. Pengantin pria juga 2 kali sasarannya jantung yang artinya melempar kasih sayang serta memberi pitutur I nasehat kepada istri.

Selanjutnya pengantin pria menginjak telur, dan pengantin putri membasuh kaki yang digunakan untuk menginjak telur. Sesudah upacara panggih kedua pengantin bergandengan jari kelingkin, berjalan menuju Krobongan.

8. Upacara Krobongan

Urut- urutan upacara Krobongan adalah sebagai berikut :

  • Sungkem dari pengantin putri kepada pengantin pria, walaupun pna itu bukan bangsawan, maksudnya istri horus berbakti kepada suomi
  • Tompo Koyo/kacar kucur
  • Minum rujak degan (kelapa muda) dan wedang tape ketan
  • Nimbang yang dilaksanakan oleh orang tua pengantin putri
  • Sungkem kepada orang tua kedua pengantin
  • Dahar Klimah dilaksanakan di kamar pengantin secara tertutup. Masing – masmg membuat tiga kepelan Nasi Punar, nasi kepelan pengantin putri dimakan pengantin pria dan nasi kepelan pengantin pria dimakan pengantin putri.

Kelengkapan Tata Rias dan Busana

Busana Pengantin Solo Basahan (https://www.weddingku.com)

1 . Busana Basahan Putri

Yang dimaksud dengan busana basahan adalah busana yang bahannya terbuat dari kain mori halus yang dicelup dalam duo warne; hitam dan putih atau hijau dan putih, kemudian dilukis dengan bahan perada yaitu cat emas (bhs.Jawa : pradha).

Pada kain batik ini dilukis hewan – hewan hutan seperti kijang, kalajengking, kupu – kupu, mimi dan mintuno dan sebagainya. yang bentuknya serba indah, artistik dan bukan hewan yang besar-besar.

Panjang kain “kampuh” untuk pengantin putri adalah 41/2 meter dan lebarnya dobel, sehingga seluruhnya ada 8 kacu.

Warna yang dianggap baik di lingkungan kraton dahulu adalah :

  • Bangun tulak (hitam kebiruan dan putih)
  • Gadung mlathi (hijau tua dan putih)

“Kampuh” ataudhodhot semacam ini disebut alas- alasan, mungkin karena lukisannya terdiri dari hewan – hewan hutan.

2. Tata Rias Wajah

Tata rias wajah dilaksanakan oleh perias atau juru paes. Pada jaman dahulu rias wajah lebih sederhana, misalnya menggunakan pupur tradisional, pada bagian mota cukup dengan celak dan alis dibentuk “menjangan ranggah” yang dilukis dengan menggunakan pensil alis. Konon pada waktu itu sekalipun pensil alis termasuk istimewa, di kraton tersedia. Perona atau pemerah pipi tidak digunakan. Sebagai pemerah bibir dipakai gincu atau benges, yaitu
semacam kertas berlipat – lipat yang bagian dalamnya berwarna merah dengan cara memakainya dioleskan pada bibir. (abad ke 19). Menurut sejarah, wanita – wanita Indonesia bagian Baret dilukiskan sebagai wanita yang
berkulit langsat.

Setelah kulit wajah dirias dengan warna tersebut, mulailah mata dirias terlebih dahulu dengan membuat alis berbentuk “menjangan ranggah” berwarna hitam karena pada umumnya rambut orang Jawa adalah hitam. Kemudian digunakan perona mata berwarna natural misalnya coklat, hijau muda atau kuning muda sehingga mata tampak menjadi lebih indah atau cemerlang.

Untuk tata rias wajah ini memang diperlukan ketrampilan dan perasaan peka, agar wajah pengantin menampilkan citra yang halus, anggun dan mempesona; berselera ketimuran, sekalipun menggunakan alat – alat rias modern.

Apabila tata rias wajah telah selesai dikerjakan, dimulailah melukis dahi dengan paesan pengantin.

3. Tata Rias Dahi (Paes)

Seni paes dahulu merupakan suatu seni yang diajarkan secara turun temurun, dengan cara membuat lukisan pada dahi pengantin pun dengan perasaan seni yang mendalam. Jadi tidak seperti sekarang dimana paes pengantin dibuat dengan menggunakan ukuran bahkan kadang – kadang dengan pertolongan benang untuk memperoleh hasil yang simetris dan tepat.

Tugas juru paes atau perias pengantin hanya terbatas merias pengantin putri saja; sedang pengantin pria ditangani juru rias pria.

Pada waktu ini seorang juru paes merangkap membuat sajen, sekaligus merias pengantin putri dan pria, menjadi dukun pengantin dan kerapkali bertindak sebagai panitia urusan upacara pengantin.

Tata rias dahi (cengkorongan) sebelum diwarnai dengan “lotha” yaitu ramuan khusus sebagaimana diuraikan sebelumnya yang antara lain terbuat dari bahan malam “kote”. minyak jarak dan pipisan daun dandanggula dan seterusnya.

Paes ini terbagi menjadi :
a. Gajah = bagian tengah dahi berbentuk seperti pangkal telur bebek

4. Tata Rias Rambut

Sesudah wajah selesai dirias, maka rambut pengantin disisir ke belakang membentuk sunggar dengan cara menyisir perlahan – lahan rambut yang tumbuh diatas telinga kearah atas (ubun – ubun), kemudian dengan menggunakan ibu jari, rambut tersebut didorong ke depan sehingga membentuk sunggar yang dimaksud tadi, lalu dijepit dengan jepit rambut. Selanjutnya rambut di bagian tengah atas dahi diambil atau disisihkan selebar 2 jari untuk “lungseng” yaitu penguat sanggul. Jika rambut panjang, diambil sedikit soja tetapi jika pendek terpaksa diambil sampai kira – kira di tengah kepala atau secukupnya.

Setelah itu semua rambut diikat dengan tali dan dilengkapi sebuah rajut panjang berisi irisan halus daun pandan wangi yang dibentuk bulatan dan berlubang di tengahnya. Lubang di tengah bulatan ini gunanya untuk dimasuki rambut yang telah diikat tadi dan selanjutnya rambut disisir menutupi seluruh bulatan pandan.

Dengan harnal dan jepit rambut, sanggul dikuatkan kedudukannya agar tidak mudah lepas dan terurai. Sedang “lungsen” ditarik perlahan ke belakang untuk mengetatkan sanggul. Setelah ditutup dengan rajut halus, diberi hiasan rangkaian bunga melati berbentuk segi empat besar yang kiranya cukup untuk membungkus seluruh sanggul tersebut. Karena bentuknya yang mirip sebuah bokor, maka sanggul semacam ini diberi nama: “Ukel Bokor Mengkureb”.

Selesai membuat sanggul dimulailah membuat hiasan rambut bagian depan berupa “centhung”. Centhung untuk pengantin basahan sebenarnya dibuat dari rambutnya sendiri yang kemudian diberi pradha. Bentuk centhung menyerupai sebuah kipas dan terletak dipangkal kedua pengapit.

Pada saat ini centhung semacam itu dapat dibuatkan dari potongan rambut (imitasi rambut) yang dibentuk dan dipradha sebagaimana centhung asli, agar memakainya lebih mudah karena tinggal menempelkan saja.

Sebagai penyelesaian atau pelengkap centhung ini di bagian tepinya dihiasi sekuntum bunga melati yang setengah mekar. Untaian bunga melati yang disebut “tiba dada” dipasang pada sanggul di sebelah kanan atas dan menjuntai ke bawah.

Perhiasan Rambut Pengantin Putri

a. Sebuah cunduk jungkat = sisir hias
b. 11 buah cunduk mentul = kembang goyang terdiri dari :
– 1 cunduk mentul kupu ageng (kupu – kupu besar)
– 1 pasang cunduk mentul sekar srengenge (bunga matahari)
– 1 pasang cunduk mentul kupu alit ( kupu – kupu kecil)
– 1 pasang cunduk mentul sekar sruni (bunga seruni)
– 1 pasang cunduk mentul liman (gajah)
– 1 pasang cunduk mentul menjangan (kijang)
c. buah peniti hias untuk dipasang di tengah belakang sanggul.
d. pasang hiasan “sokan”, diletakkan di kiri dan kanan sanggul. Perhiasan ini berbentuk persegi panjang dengan bunga -bunga kecil yang dapat bergoyang

5. Busana Pengantin Basahan Pria Surakarta

Sejak jaman dahulu, pengantin pria sebelum mengenakan busana kampuh, tubuhnya diolesi dengan boreh, yaitu bagian badan atas, tangan dan jari – jari, kaki mulai dari mata kaki sampai ke jari – jari kaki. Demikian pula wajahnya tidak luput dari tata rias dengan bedak atau pupur sekedar untuk menyesuaikan warna kulit muka dengan tubuh yang telah diborehi.

Alis mata jika bulu – bulunya cukup tebal, hanya disikat dengan sikat alis supaya tampak rapi sebaliknya jika bulunya jarang atau tipis, dipertebal menurut bentuk aslinya dengan pensil alis berwarna hitam, agar tidak kelihatan pucat karena pengaruh bedak tadi. Demikian pula bagian tepi mata diberi celak sepantasnya agar raut muka tampak berseri, cerah dan berwibawa. Tata rias ini untuk megimbagi tatarias sang putri yang kelihatan cantik disamping juga untuk menjaga agar wajah pengantin pria tidak tampak mengkilat jika berkeringat.

Perlengkapan Busana

  • Celana panjang yang terbuat dari cinde sutra sepeti kain cinde pengantin putri; adakalanya di bagian bawah kaki diberi sered atau plisir emas
  • Kain dhodhot atau kampuh jenis alas – alasan yang serupa dengan pengantin putri; dan secara “ngumbar Kunco” khusus untuk pria (bukan ngumbar kunco seperti yang dipakai putri). Adapun corak kain kampuh alas – alasan untuk pria gambarnya agak lebih besar daripada kampuh untuk putri. Panjangnya ± 5 meter
  • Ukup : dipakai sebagai ikat pinggang terbuat dari pita emas selebar 4 em, dan dilapisi kain beludru atau sutra merah
  • Kuluk mathak : yaitu kuluk dengan mathak berwarna putih kebiru-biruan dipakai sebagai penutup kepala (topi). Kuluk mathak yang berwarna putih seluruhnya, biasanya dipakai untuk ijab kabul
  • Keris atau wangkingan : yang biasanya dipakai adalah keris ladrang atau keris pusaka milik pribadi
  • Perhiasan : kalung ulur emas dengan singgetan, karset, timangtretes yaitu timang bermata berlian
  • Bunga : 2 kuntum bunga melati untuk sumping telinga kiri dan kanan. l untaian buntal yang terbuat dari dedaunan, bunga melati dan kanthil.

Perlengkapan Upacara Pengantin Surakarta

  1. Sepasang kembar mayang bermakna agar mempelai selamat dan sejahtera
  2. Sepasang krambil degan ijo bermakna agar mempelai diharapkan hidupnya penuh manfaat seperti kelapa muda yang serabut, tempurung, daging dan airnya dapat dimanfaatkan
  3. Bokor. Berfungsi sebagai tempat air kembang
  4. Kendi sebagai tempat air  suci
  5. Kocohan berfungsi sebagai tempat meludah Dewi Sri
  6. Padupan berfungsi sebagai wadah/tempat membakar dupa
  7. Pakinangan berfungsi sebagai perlengkapan makan sirih
  8. Tandu berfungsi sebagai alat mengangkut sarana peningset
  9. Cangkir berfungsi sebagai tempat air minum

Sumber: E-book, Gelar Busana dan Perlengkapan Upacara Pengantin se-Jawa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Permuseuman, 1997

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.