Prosesi Pernikahan Adat Pekalongan Jawa Tengah

Busana Pernikahan Adat Pekalongan

Pekalongan sebagai selah satu kota pesisir Utara Jawa, tak luput dari pengaruh kebudayaan-kebudayaan asing yang bercampur dengan kebudayaan asli penduduk setempat. Pengaruh Islam dan Cina sangat besar dalam tatanan upacara tradisional di Pekalongan, terutama dalam upacara pengantin dan kesenian. Nampak gejala semacam ini terjadi di kota-kota pesisir Utara Jawa yang lain seperti Semarang dan Cirebon.

Di PekeIongan pengaruh Islam dan Cine sangat nampak khususnya pada busana tradisional pengantin Pekalongan, busana pengantin tradisional Pekalongan pertama kali (paling kuno), pengantin pria memakai jubah dan sorban, sedangkan pengantin wanita memakai gaun putih panjang yang diistilahkan dengan gaun Persia. Adanya unsur budaya Cine pada cedar (penutup wajah) yang digunakan pengantin wanita Pekalongan tempo dulu.

Tata Urutan Upacara Pengantin Pekalongan

1. Upacara Lamaran

Dalam proses perkawinan dari pihak keluarga calon pengantin pria berkunjung ke rumah orang tua calon pengantin wanita. Hal ini dilakukan untuk mendapat keterangan apakah calon pengantin wanita itu sudah mempunyai calon suami atau belum. Jika sudah ada kejelasan dan kecocokan maka keluarga calon pengantin pria meminangnya.

Dalam meminang ini keluarga calon pengantin pria membawa perlengkapan ; uang, gelang, kalung, cincin, dan macam-macam makanan; rengginang, wajik, poci-poci (tepung ketan isi gula jawa), kue bugis isi unti disiram santan berbentuk segi tiga dibungkus daun pisang. Tiga hari sebelum perkawinan, diadakan pasrahan tukon atau sang-sangan yaitu menyerahkan berbagai perlengkapan hajatan. Perlengkapan yang dibawa yaitu ; kajeng (kayu bakar), cecek (nangka muda), beras, daun pisang, kambing atau kerbau (bagi keluarga yang mampu), ayam, pakaian wanita 3-6 pasang. Bahan mentah dibawa memakai jondhang dipikul 2 orang.

2. Upacara Midodareni

Sehari sebelum dilaksanakan perkawinan, di rumah calon pengantin wanita diadakan upacara siraman yang dilaksanakan pada sore hari. Dimana calon pengantin wanita disirami air bunga setaman (melati, mawar, kenanga, kantil, manggar), yang didahului oleh bapak, ibu, kakek, nenek (sesepuhnya) kemudian kerabat tua. Pada malam harinya calon pengantin wanita di beri daun pacar halus dan air mawar. Caranya yaitu calon pengantin wanita duduk bersimpuh di atas tempat tidur dengan kedua tangan di atas paha, kemudian para sesepuh dan tamu undangan khususnya yang sudah berkeluarga menempelkan daun pacar ditangan dan meneteskan air mawar dikening. Hal ini pertanda bahwa mereka telah mendoakan calon pengantin itu agar dalam melaksanakan kehidupan berumah tangga akan bahagia dan langgeng.

3. Upacara Pernikahan

Pada hari pernikahan, calon pengantin pria dari rumahnya menuju ke rumah calon pengantin wanita. Selama di perjalanan diiring atau dibacakan sholawat Nabi Muhammad SAW hingga tiba di rumah calon pengantin wanita. Upacara akad nikah ini dilakukan secara lesehan (menggelar tikar di bawah), acara ini disebut walimatul arus. Calon pengantin pria didampingi saudara tua atau saudara muda dari pihak bapak pengantin calon pengantin pria, menghadap penghulu disaksikan tamu-tamu lain sebagai penghormatan. Sebelum dilaksanakan ijab kabul ada pembacaan ayat suci Alqur’an. Semen-tara itu calon pengantin wanita tetap berada di kamarnya.

Setelah ijab kabul dilaksanakan, maka pengantin pria diantar masuk ke kamar pengantin wanita dengan membawa mas kawin. Pengantin wanita mencium tangan pengantin pria, sebagai tanda bakti seorang istri kepada suami. Untuk pengantar pengantin pria hanya sampai di ruang tamu saja. Selanjutnya pengantin pria di dalam kamar disambut oleh keluarga pengantin wanita.

Kelengkapan Tata Rias dan Busana

Busana Pernikahan Adat Pekalongan

A. Tata Rias

Pengantin Wanita

Tata rias dilaksanakan, di dalam kamar pengantin dan dilengkapi dengan sesaji berupa ; kelapa, gula jawa, jarum, benang, nasi bicu (nasi tumpeng kecil) yang di atasnya ditancapi tusukan bawang merah, dan cabe merah. Sesaji lain adalah pisang tujuh rupa, ayam panggang 1 ekor. Tata rias pengantin wanita terbagi tiga tahap yaitu:

a. Tata rias kepala (rambut)

Rambut disanggul rapi kemudian dipasang hiasan-hiasan di sekitar rambut, dan ditutup dengan untaian bunga melati membentuk hornet melati. Ujung-ujungnya menjuntai hingga kebagian punggung. Lalu pada bagian belakang sanggul di beri jebean belakang. Setelah itu pada bagian rambut agak ke muka diberi cunduk mentul yang berjumlah 12 buah yang dipasang setengah melingkar. Terakhir di atas kepala bagian muka diletakkan jamang berbentuk segi tiga yang berjumlah 9 buah dirangkai jadi satu. Jamang ini berfungsi sebagai mahkota.

b. Tata Rias Wajah

Tata rias wajah terdiri dari 4 tahap yaitu:

1. Mengerik sinom

Rambut disisir dengan rapi kebelakang, agar bagian kening akan terlihat sinomnya. Rambut sinom ini dikerik, sampai bersih, diteruskan dengan memberi bedak pada bagian wajahnya. Cara memberi bedak pada bagian muka ini agak tipis atau samar-samar saja sehingga nantinya muka akan kelihatan bersih halus.

2. Membuat Paes

Pertama membuat pola di bagian tengah dahi dibuat garis melengkung seperti bulan sabit dengan bates antara rambut dengan garis melengkung dua jari. Setelah ini selesai dilanjutkan membuat garis segi tiga ke kanan dan ke kiri yang seimbang dan yang terakhir ditarik atau dibuat garis agak runcing yaitu semacam supit udang sampai pada ujung dahi.

3. Membuat Godek

Yang dimaksud dengan godek yaitu rambut yang tumbuh pada bagian muka telinga, untuk lebih menarik, godek dibuat seperti kuncup bunga yang belum berkembang dengan warna hitam yang melambangkan warna yang langgeng atau abadi, yang dimaksud agar kedua mempelai dalam mengarungi kehidupan rumah tangganya langgeng.

4. Merias alis dan bulu mata

Untuk memperindah agar alis kelihatan bagus maka biasanya dibentuk seperti bulan sabit dimana sebelumnya alis diatur sedemikian rupa agar rapi. Jadi kelihatan panjang digunting, setelah itu baru diberi warne hitam. Cara menghitamkannya yaitu dari pangkal alis ke kanan dan kiri sampai rata dan satu sama lain tebal tipisnya. Begitu pula dengan bulu mata tak ketinggalan setelah rapi juga diberi warna hitam. Bagian bibir tak ketinggalan juga diberi
bahan pemerah atau gincu.

Cara membuat agar bibir kelihatan merah, maka si pengantin wanita di suruh makan sirih yang terdiri dari : daun sirih, kinang, kapur dan gambir dimana bahan-bahan tersebut sudah disiapkan terlebih dahulu oleh si perias, yang sebelumnya sudah diberi mantera. Untuk daun sirih ini harus dicarikan daun sirih temu rose artinya bagian kerangka daun yang saling bertemu satu sama lain. Karena hal ini mengandung arti maksud agar calon pengantin nantinya hidupnya bisa langgeng. Sekarang menggunakan kosmetik.

c. Tata Rias Badan

Untuk memperindah leher, pengantin wanita mengenakan kalung tretes yang berjumlah 3 buah dengan motif hias berbeda satu sama lain. Pada kedua lengannya mengenakan kelat bahu, terbuat dari perak berwujud burung merak bermanik-manik mutiara. Pemakaiannya dalam tate rias pengantin mengandung simbol yang berarti bahwa sebagai orang yang memulai memasuki kehidupan baru sudah siap memikul beban dalam kehidupan berumah tangga.

Pada kedua pergelangan tangan pengantin wanita mengenakan gelang yang terbuat dari logam perak bermanik-manik mutiara. Gelang yang dikenakan pengantin mempunyai makna, fungsi dan simbol. Dengan mengenakan gelang maka lengan pengantin wanita kelihatan indah. Untuk jari tangan pengantin wanita mengenakan cincin bermata mutiara berbentuk belah ketupat yang jika digunakan jari manis pengantin wanita akan nampak indah. Untuk kedua telinga pengantin wanita dipasangi subang bermotifkan ceplok bunga berfungsi estetis sedang alas kakinya mengenakan selop hitam.

Pengantin Pria

a. Hiasan kepala mengenakan kopiah berwarna hitam
b. Hiasan wajah memakai bedak yang dipoleskan tipis secara samar-samar agar kulit wajah pengantin pria kelihatan cerah.
c. Hiasan badan mengenakan kalung untaian bunga melati.

B. Busana

Pengantin Wanita

Susana pengantin wanita bagian atas bernama srimpi dan bagian bawah berupa kain batik panjang bermotifkan sido luhur. Baju pengantin wanita ini terbuat dari beludru berwarna hitam dengan hiasan bordiran mote.

Sementara itu untuk bagian bawah mengenakan kain batik panjang yang bermotifkan sido luhur. Setelah rapi mengenakan busana maka dilengkapi dengan menggunakan selempang untaian bunga melati yang dikenakan dari bahu kiri hingga jatuhnya pada samping paha kanan kemudian untaian bunga tibo dodo dipasang dari belakang sanggul hingga jatuh di dada kiri.

Pengantin Pria

Busana pengantin pria mengenakan jas lengkap. Bagian dalam mengenakan baju lengan panjang warne putih, berdasi. Dan jas bagian dada kiri memakai bunga karang melok, bunga ini terdiri dari bunga mawar warna merah dan disekelilingnya dihiasi bunga melati. Untuk alas kaki menggunakan sepatu berwarna hitam.

Sumber: E-book, Gelar Busana dan Perlengkapan Upacara Pengantin se-Jawa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Permuseuman, 1997

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.