Kain Tapis Negeri Katon Pesawaran Lampung

Kain Tapis Negeri Katon (https://travel.kompas.com)

Kain Tapis Negeri Katon terletak di Desa Katon, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Menuju ke desa Negeri Katon tidaklah sulit.  Cukup berkendara menuju pusat kabupaten Pesawaran  yang jarak tempuhnya  sekitar 1,5 jam  dari kota Bandar Lampung.

Lampung terbagi atas kota, kabupaten, dan desa. Setiap desa memiliki potensi sendiri-sendiri. Mulai dari pertanian, perkebunan, dan industri kerajinan. Salah satunya adalah desa Negeri Katon di kabupaten Pesawaran memiliki berbagai macam potensi dan potensi yang semakin berkembang serta mendominasi adalah pengrajin tradisional kain Tapis.

Beragam motif Kain Tapis Lampung (https://lampung.tribunnews.com)

Desa Negeri Katon merupakan desa yang unik karena hampir semua masyarakatnya, merupakan masyarakat Pepadun, pengrajin kain Tapis mulai dari ujung ke ujung desanya. Beberapa desa di Lampung ada yang masih membuat kerajinan kain Tapis namun tidak mendominasi seperti desa Negeri Katon.

Dari 21 desa yang ada di Kecamatan Negeri Katon, ada 10 desa yang memproduksi kain tapis. Dari 10 desa itu, jumlah produksi tapis yang besar berada di dua desa, yakni Negeri Katon dan Halangan Ratu.

Jenis Kain Tapis

Tapis yang sering di buat oleh pengrajin Desa Negeri Katon adalah Tapis Jung Sarat Kreasi, Tapis Cantik, Tapis Abung Biasa, Tapis Jung Sarat, Tapis Pengantin Kreasi dan Tapis Raja Medal Kreasi.

Motif

Motif Pucuk Rebung

Motif Tajuk Ayun

Motif Tajuk Ayun dipergaya

Motif Kembang Manggis

Motif Pohon Hayat

Motif Pucuk Rebung, Motif Tajuk Ayun, Motif Kembang Manggis, Motif Pohon Hayat, Motif Belah Ketupat, Motif Jung Sarat, Motif Bintang, Motif Bunga, Motif Sasab, Motif Pucuk Rebung dipergaya, Motif Tajuk Ayun dipergaya, Motif Ketak-ketik, Motif Hewan Tunggangan dan motif hasil perkembangan adalah Motif Lingkaran dan Motif Pita.

Motif Belah Ketupat

Motif Jung Sarat atau Dewa Sano

Motif Bunga

Motif Sasab

Motif Ketak-ketik

Pembuatan

Proses pembuatan Kain tapis dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

1. Penyusunan Benang

Alat yang digunakan untuk menyusun benang dinamakan Sesang dan proses penyusunan benang disebut Penyesang. Alat sesang terdiri dari dua buah blok kayu yang digunakan sebagai tempat memancangkan anak sesang dan tempat menyusun benang yang akan ditenun. Benang yang akan menjadi bahan dasar dimasukkan pada tempat peletakan gulungan benang. Kemudian ujung benang dikaitkan pada anak sesang, lalu benang tersebut direntangkan satu per satu dari gulungannya hingga mengelilingi anak sesang tersebut.

2. Penenunan Benang

Alat Tenun Bukan Mesin atau ATBM (http://senibudayasmpmuga.blogspot.com)

Penggulungan benang yang sudah disesang (alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun) kemudian dipindahkan ke terikan. Terikan digunakan untuk menggulung benang dari sesang. Susunan warna dalam penggulungan harus diperhatikan karena benang akan mempengaruhi hasil tenun. Pada tahap ini, penenun dalam keadaan siap bekerja. Penenun menggunakan amben dan duduk di atas tikar menghadap ke perlengkapan tenun. Pada awal proses penenunan, kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang) dimasukan belida (alat untuk merapatkan benang) dan ditarik beberapa kali ke arah penenun.

Kemudian belida dikeluarkan, sesekali dimasukan dengan arah membujur yang kemudian disusul dengan memasukan belida dan menariknya ke arah penenun untuk memantapkan susunan benang. Proses ini dilakukan secara berulang-ulang hingga kain tenun selesai dibuat.

3. Penyulaman Motif

Sedang menyulam benang perak di kain tapis (http://www.duniaindra.com)

Penyulaman motif dilakukan setelah kain dasar sudah selesai ditenun. Proses pembuatannya sama dengan teknik menyulam pada umumnya, yang membedakan adalah menggunakan benang pengikat pada bagian bawah kain yang membuat hasilnya unik dan rumit. Pada tahap ini, tidak semua kain akan disulam. Sebagai contoh, kain Tapis Ageng memang tidak diberi motif benang emas. Alat untuk menyulam menggunakan Tekang yang berbentuk persegi panjang, alat papan pengencang kain, dan jarum tangan.

Sebelum menyulam, kain tenun diatur dengan menyambung kedua ujung kain. Kemudian kain diletakkan pada kerangka tekang, dilanjutkan dengan memasukan papan pengencang secara melintang dari bagian tengah tekang dan kain yang akan disulam.

Kain yang akan disulam diberikan motif yang akan dipakai. Pemberian gambar harus sesuai dengan garis dan warna yang ada pada kain, kemudian mulai menyulam sesuai dengan motif tersebut. Penyulaman ini dinamakan Menyucug. Jika hanya mengikuti garis-garis kain yang ada, maka dinamakan Menyasap. Bagian atas tapis tidak disulam karena pada bagian tersebut akan diikat pada pinggang si pemakai.

Pengrajin

Berdasarkan banyaknya jumlah pengrajin industri kerajinan kain tapis di Kecamatan Negeri Katon yang termasuk dalam sentra industri kecil sangat potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu unggulan kearifan lokal yang dimiliki Kabupaten Pesawaran.

Pengembangan

Dahulu, kain tapis hanya digunakan sebagai pakaian adat pada acara pernikahan. Namun, kini, kain tapis mulai dikombinasikan menjadi pakaian sehari-hari, tas, kopiah, jilbab, taplak meja, syal, hingga hiasan dinding.

Sumber:

  • Ebook, Perancangan Buku Kain Tapis Lampung, Oleh Ika Livia Limawan, FSD UMN, 2018
  • Ebook, Implementasi Peraturan Bupati Nomor Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Kawasan Perdesaan Berbasis Sentra Industri Kerajinan Tapis di Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran, Oleh Aldin Muharom, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2019

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.