Kain Tapis Inuh Lampung Selatan Lampung

Kain Tenun Ikat Inuh (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Tapis (Tenun Ikat) Inuh Lampung merupakan salah satu identitas kekuatan produk budaya masyarakat Lampung Selatan. Bagi masyarakat Lampung pesisir (beradat saibatin) menggunakan Inuh untuk aktivitas adat istiadatnya. Inuh diyakini bukan hanya sekedar simbol yang mencerminkan kepada identitas dan pelengkap budaya semata tetapi lebih diyakini sebagai kain sakral yang agung (suci) yang dapat melindungi para pemakainya dari kotoran di luar badannya.

Inuh merupakan salah satu jenis Tapis yang berkembang di tengah masyarakat beradat Sai Batin, umumnya tinggal di pesisir Lampung. Inuh dibuat dengan bahan benang sutera yang pewarnaannya menggunakan teknik celup tradisional.

Raswan memadukan tenun ikat inuh dengan tenun ikat bidak galah napuh

Kepopuleran dan dikenalnya Tapis secara luas membuat masyarakat pada umumnya cenderung mengkatagorisasikan Inuh ke dalam salah satu jenis Tapis. Hal ini memang tidak keliru, namun patut dicatat bahwa Inuh memiliki cara pembuatan dan pemaknaan yang agak berbeda oleh masyarakat pendukungnya, dalam hal ini masyarakat beradat Sai Batin.

Sejarah

Mary Louise Totton berpendapat bahwa Inuh diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17 dan dibuat oleh Seniman Komering di Lampung Barat (Etnis Skala Brak). Asumsi ini dikemukakan oleh Totton berdasarkan pendapat ahli-ahli kain di Lampung terhadap kain Inuh yang berusia sangat tua yaitu sekitar 400 tahun. Totton menegaskan bahwa asumsi ini tentu belum final karena perlu dilakukan analisis fisik kain secara lebih ilmiah dengan metode radio karbon (Totton, 2009).

Motif

Pada kain-kain Inuh selalu terkandung pesan atau semacam cerita, seperti yang ditunjukkan oleh motif kapal. Pada jenis kain Pelepai dan Ketibin, selalu terdapat motif kapal besar, pohon, binatang, dan manusia. Motif tersebut menggambarkan kehidupan manusia, dan dari perspektif lain juga menggambarkan perjalanan Nabi Nuh dalam mengarungi laut. Ornamen pada Inuh pun menggunakan ornamen sejenis seperti pada kain Pelapai dan Ketibin yang sudah bertahan lama. Hanya saja, pada Inuh tidak ditemukan motif pohon kehidupan.

Ragam hias pada Inuh sebetulnya cenderung didominasi oleh bentuk-bentuk yang abstrak, namun penggolongan berikut ini berdasarkan interpretasi penulis terhadap bentuk yang bisa ditangkap secara kasat mata.

a. Hewan Laut

Inuh bermotif Hewan Laut

Hewan laut didesain tidak semirip seperti bentuk aslinya dan biasanya menampakkan potongan tubuhnya dari sisi atas dan samping. Jenis hewan laut yang dapat diketahui di antaranya adalah ikan, kepiting, cumi-cumi, udang, ubur-ubur, dan plankton. Seperti yang telihat di gambar, ragam hias yang nampak cenderung abstrak. Bentuknya yang abstrak memperlihatkan tingkat imajinasi masyarakat pesisir di masa lampau dalam menggambarkan laut beserta faunanya.

Inuh bermotif Hewan Laut

Tingkat abstraksi ini tentu tidak bisa disamakan dengan masyarakat modern saat ini, dimana gambaran mengenai laut bisa diperoleh dengan mudah dan utuh.

b. Gelombang Laut

Inuh bermotif Gelombang Laut

Gelombang laut merupakan motif berupa untaian segi tiga yang tersusun vertikal dan horizontal. Untaian segi tiga menggambarkan jenis laut rendah. Sementara untuk gelombang laut besar digambarkan dalam bentuk motif sulur gulung dan pucuk pakis yang berselang-seling (Firmansyah dkk, 1996: 42).

c. Sulur

Inuh bermotif Gelombang Laut dan Sulur

Sulur merupakan sulaman berbentuk tali. Ragam hias bentuk ini umum ditemui pada Tapis Inuh dan Tapis Cucuk Andak. Bentuk sulur berupa ikatan tali yang berliku-liku yang selintas seperti rangkaian yang tidak terputus. Makna simbol dari ragam jenis ini adalah ikatan kekeluargaan harus dijalin dengan siapa pun serta harus tetap utuh tidak terputus. Maksudnya, dengan terjalinnya ikatan kekeluargaan diharapkan masyarakat Lampung tidak akan menghadapi kesusahan di mana pun mereka berada. Pemaknaan ini terkait pula dengan kondisi masyarakat Lampung yang cenderung terbuka dalam menerima kedatangan etnis lain (Intani, 2006: 39).

d. Kapal

Inuh bermotif Kapal dan Manusia

Beberapa sarjana menafsirkan kebanyakan citra kapal ini sebagai kiasan perjalanan jiwa yang pergi menyeberangi batas kematian. Namun, kita juga bisa membaca cerita dalam salah satu sulaman Inuh secara harfiah. Kekayaan para elit daerah Lampung secara dekat diasosiasikan dengan keuletan dan usaha keras mereka dalam bidang bahari.

e. Perahu

Makna ragam hias perahu memiliki kemiripan makna dengan kapal. Hias kapal melambangkan fase kehidupan, sementara perahu melambangkan peralihan seseorang menuju derajat yang lebih tinggi. Masyarakat Lampung memandang perahu sebagai simbolisasi dari kendaraan arwah nenek moyang dari dunia bawah menuju dunia atas (Firmansyah dkk, 1996:34).

Warna

Warna yang digunakan untuk Inuh diambil dari warna alami, seperti buah-buahan; manggis, kunyit, duren, buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal, dan lain sebagainya. Warna-warna pada kebanyakan Inuh muncul dari hasil benang celupan warna yang tekniknya mengikuti resep celup keluarga.

Pembuatan

Alat Penggulung Benang (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Tapis Inuh adalah kain tapis yang terbuat dari lima panel yang dijahit secara bersama. Lurik tenun ikat berwarna merah bata hasil dari teknik menenun diversified plain weave berselang-seling dengan lurik berwarna biru indigo hasil dari teknik menenun warp face yang sepenuhnya tertutupi oleh sulaman benang sutra berwarna-warni (kain satin, tangkai, dan jahitan belakang) dan beberapa cermin applique. Garis sederhana warp face yang membatasai lurik tenun ikat ditegaskan dengan tajam dalam warna merah dan kuning, dan dihiasi dengan desain rentetan intan horizontal berukuran kecil yang dibuat dengan jarum tenun tunggal (Totton, 2009).

Menurut Zulkifli Yusbir selaku kolektor dan ahli kain, untuk meniru teknik pembuatan Inuh secara otentik dengan
metode lama, dengan sumber daya manusia sekarang ini, setidaknya diperlukan tenaga 5 sampai 7 orang pekerja. Itu pun bisa memakan waktu 1 hingga 2 tahun. Hal yang paling menyulitkan dalam pembuatan Inuh adalah teknik pencelupan warna pada benang yang harus helai per helai dan disesuaikan dengan ragam hias dan motif yang ingin dibentuk.

Berdasarkan metode celup benang helai per helai, kain Inuh cenderung memiliki warna-warna yang bernuansa gelap. Hal ini terjadi karena warna kain Inuh diambil dari warna-warna yang berasal dari alam.

Pemakai

Pemakaian Inuh turut merepresentasikan stratifikasi sosial masyarakat Sai Batin. Semakin rumit Inuh yang dipakai, semakin tinggi stratifikasi sosial pemakainya. Semakin besar kainnya pun turut mempengaruhi kerumitan motif. Artinya, pemakai yang stratifikasi sosialnya lebih tinggi cenderung memakai Inuh yang ukurannya lebih besar.

Aturan dalam pemakaian Inuh pun lebih ketat daripada pengaturan penggunaan kain Tapis pada masyarakat Lampung Pepadun (pedalaman). Inuh yang digunakan oleh Penyimbang (kepala adat) pada masyarakat beradat Sai Batin selalu diwariskan secara turun-temurun pada anak tertua. Anak-anak Penyimbang yang lain tidak pernah membuat Inuh dengan bentuk atau motif yang lain. Apabila Inuh tersebut rusak dalam pewarisannya, maka barulah dibuat Inuh yang baru dengan bentuk dan motif yang sama, sementara Inuh yang telah rusak tidak digunakan lagi dan disimpan.

Sumber: Ebook, Makna dan Nilai Budaya Tapis Inuh pada Masyarakat Pesisir di Lampung Selatan, Oleh Hary Ganjar Budiman, Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, 5 Agustus 2013.

Follow me!

One thought on “Kain Tapis Inuh Lampung Selatan Lampung

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.