Camilan Khas Kota Gede Yogyakarta DI Yogyakarta

Camilan Kipo singkatan dari Iki Opo (Ini Apa)

Hutan Mentaok diberikan oleh Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir, kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas keberhasilannya, bersama putranya yaitu Danang Sutawijaya dalam menumpas pemberontakan Arya Penangsang, Adipati Kadipaten Jipang Panolan yang berpusat di daerah Panolan, Kedungtuban, Blora, Jawa Tengah sekarang ini.

Sejarah mencatat bahwa di kawasan Alas Mentaok ini, tepatnya di daerah Kotagede saat ini, pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Mataram Islam, seiring runtuhnya Kesultanan Pajang. Kini, bekas wilayah Alas Mentaok menjadi bagian dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman, di mana juga terdapat Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di wilayah Kota Yogyakarta.

Thiwul Tolo

Merupakan makanan yang berasal dari gatot (singkong yang sudah dikeringkan) dicampur dengan kacang tolo.  Berwarna hitam dengan taburan kacang tolo di tengahnya.

Grontol

Jenis makanan yang berasal dari jagung pipil yang direbus hingga merekah dan disajikan dengan parutan kelapa dicampur garam ataupun gula pasir. Di daerah Jawa Timur sering disebut blending. Rasanya gurih dan mengenyangkan.

Puli

Makanan kenyal berwarna kekuningan yang berasal dari nasi yang dikukus kemudian diolah dengan garam, bumbu-bumbu dan penyedap rasa. Rasanya cukup gurih, lebih nikmat apabila disajikan hangat-hangat dengan parutan kelapa atau srundeng. Puli juga bisa dijadikan kerupuk, caranya diiris tipis-tipis kemudian dijemur hingga kering.

Kipo

Nama Kipo berasal dari penyebutan “Iki Opo” (ini apa). Makanan yang terbuat dari tepung beras yang dipanggang dan berwarna hijau, didalamnya terdapat parutan kelapa dan gula jawa dan bentuknya kecil-kecil.

Legomoro

Legomoro dalam bahasa Jawa “hatine lego le moro yo lego” (yang datang membawa keridhoan dan yang didatangi juga mendapat keridhoan).

Jajanan tradisional yang terbuat dari ketan ini juga unik karena dibungkus dengan daun pisang dan diikat tali bambu. Satu ikatan berisi empat legomoro dan biasanya dibawa oleh pihak laki-laki dalam acara pernikahan.

Jadah manten

Inilah salah satu makanan atau jajanan tradisional yang unik dan paling favorit di Kota Gede Yogyakarta. Bentuknya sangat unik dan rasanya enak, karena terbuat dari ketan dengan isian daging ayam gurih. Jadah ini tambah enak karena dibakar dan kamu dapat menikmatinya dengan secangkir teh panas atau kopi hitam.

Kue lumpur

Kue ini sangat unik dengan tekstur yang lembut dan rasa yang manis. Disebut kue lumpur karena teksturnya yang halus dan lembut.

Krasikan

Jajan pasar ini terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan tepung ketan dan gula Jawa. Krasikan ini juga dibentuk potongan kotak seperti gethuk, tetapi berwarna cokelat. Rasa krasikan ini sangat menggoda, terutama kelezatan dari campuran tepung dan beras ketan yang disangrai dengan gula Jawa.

Wajik

Wajik juga ditemui di beberapa daerah di luar Yogyakarta. Bahan utamanya juga sama yakni beras ketan yang dicampur santan dan gula Jawa.

Rasanya unik, antara gurih dan manis yang bersatu di dalamnya. Tekstur dari wajik mengkilat dan biasanya dibentuk kotak.

Gethuk

Kalau kamu berkunjung ke daerah-daerah di luar Yogyakarta, kamu juga akan menemui gethuk ini. Sekarang gethuk bentuknya sangat bervariasi dan beraneka warna.

Di Kota Gede sendiri, gethuk terbuat dari singkong dihancurkan dan dibentuk kotak, sehingga mudah untuk memotongnya. Rasa gethuk ini manis dan cocok sebagai teman minum teh atau kopi.

Mbang Waru

Dinamakan mbang (Kembang atau Bunga) Waru karena di Kotagede banyak terdapat Pohon Waru. Makanan berbentuk bunga ini hampir punah dan jarang kita jumpai kecuali di Pasar Kotagede. Proses pembuatan kue ini cukup sederhana dan tradisional. Rasa kue ini manis gurih. Konon kue ini kesukaan Kanjeng Panembahan Senopati, pendiri dan raja pertama Kerajaan Mataram Islam.

Bentuknya harus menyerupai bunga berkelopak delapan yang artinya hasto broto atau delapan jalan utama. Di antaranya matahari, bulan, bintang, tirta (air), kismo (tanah), maruto (angin), awan, dan samudra. Harapannya, setelah makan, kita bisa menjiwai dan mengamalkan delapan jalan utama tersebut.

Yangko

Sebenarnya nama yangko ini sangat mewakili Kota Gede, karena yangko sendiri berawal kiyangko singkatan dari (ki tiyang Kota Gedhe, artinya ini orang Kota Gede).

Yangko terbuat dari ketan yang dikukus dan mempunyai makna mempererat persaudaraan, seperti tekstur dari ketan yang cenderung lengket.

Ukel dan banjar

Ukel dan banjar dibuat dengan cara yang sama hanya dibedakan pada saat finishing. Ukel adalah bentuk yang telah diberi finishing berupa gula halus, sedangkan banjar sebelum diberi finishing. Kue-kue renyah dan empuk ini terbuat dari tepung terigu dan telur sebagai bahan utamanya.

Untuk mendapatkan semua camilan di atas ada di Pasar Legi Kota Gede,  Jl. Mentaok Raya, Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, tentunya di pagi hari, ke siangan sedikit sudah habis. Apalagi saat hari legi (penanggalan jawa) merupakan hari pasaran, wah cukup ramai sekali, berbagai dagangan, anda tinggal pilih saja yang akan dibeli..

Sumber: gudeg | idntimes

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Camilan Khas Kota Yogyakarta DI Yogyakarta

Tue May 19 , 2020
Semar mendem Jogja Jogja itu ngangeni untuk dikunjungi lagi, dengan kekhasan sebuah kota Budaya dan kota Pariwisata, adem, ayem dan tentrem bagi siapapun yang pernah mengunjunginya. Juga Jogja merupakan kota yang meletin (memikat) yang membuat setiap orang yang pernah tinggal untuk menempuh pendidikan, ogah keluar dari Jogja lagi, hingga semakin […]