Pesanggrahan Taman Sari Kraton Yogyakarta

1

Pesanggarah Taman Sari (https://blog.tripcetera.com)

Pesanggarah Taman Sari terletak di Jalan Tamanan, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pesanggrahan Tamansari memiliki beragam fungsi dan arti penting bagi eksistensi Kasultanan Yogyakarta sebagai tempat pesiar, benteng pertahanan, panepen dan lain sebagainya. Keberadaan Pesanggrahan Tamansari bisa dikatakan merupakan akumulasi pengalaman  Sultan Hamengku Buwono I tentang strategi pertahanan, seni, religius, serta filosofinya yang dituangkan dalam wujud karya arsitektur.

Pesanggrahan Tamansari memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan 57 bangunan di dalamnya. Bangunan-bangunan tersebut berbentuk gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah.

Sejarah

Pesanggrahan Taman Sari

Konon, Pesanggrahan Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri.

Sebagai pimpinan proyek pembangunan Pesanggrahan Taman Sari ditunjuklah Tumenggung Mangundipuro. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko, beserta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari pungutan pajak.

Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh Pangeran Notokusumo, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Konon salah seorang arsitek kebun kerajaan ini adalah seorang Portugis yang lebih dikenal dengan Demang Tegis.

Pesanggrahan Taman Sari (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Tamansari, yang berarti taman yang indah, pada mulanya merupakan sebuah taman atau kebun Istana Keraton Yogyakarta. Kompleks ini dibangun secara bertahap pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pembangunan dimulai pada tahun 1758 M, ditandai oleh candra sengkala “Catur Naga Rasa Tunggal” yang menunjuk tahun 1684 Jawa.

Sengkalan yang dapat diartikan sebagai “empat naga satu rasa” ini dapat ditemukan di Gapura Panggung, Bagian-bagian penting dari kompleks bangunan diselesaikan pada tahun 1765 M, ditandai candra sengkala “Lajering Sekar Sinesep Peksi” yang menunjuk tahun 1691 Jawa. Sengkalan yang berarti “kuntum bunga dihisap burung” ini dapat ditemui di Gapura Agung dan ornamen beberapa dinding bangunan.

Denah

Cakupan wilayah kompleks Pesanggrahan Tamansari jaman dahulu

Taman yang mendapat sebutan “The Fragrant Garden” ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air.

Pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman  Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.

Pada awalnya bangunan Pesanggrahan Tamansari menghadap ke barat, sehingga lorong bagian depan (gledegan) terletak di sebelah selatan Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari). Adapun segarannya memiliki lorong depan lurus ke utara sampai di Plengkung Jagasura (Plengkung Ngasem). Sebagai tempat wisata, kini pintu masuk ke kompleks ini berubah ke arah timur menggunakan pintu yang dahulunya merupakan pintu belakang.

Denah kompleks Pesanggrahan Tamansari

1. Pongangan Timur

Pongangan Timur merupakan dermaga yang berada di sebelah timur Pongangan Peksi Beri. Dermaga ini digunakan khusus untuk Abdi Dalem yang bertugas di Tamansari

2. Pulo Panembung

Pulo Panembung merupakan pulau buatan yang berada di sebelah selatan dari Pulo Kenanga. Di sini terdapat bangunan berlantai dua yang disebut Gedhong Panembung, tempat Sultan berkontemplasi dan bermeditasi, memohon kepada Yang Maha Kuasa. Panembung sendiri berasal dari kata nembung, atau memohon. Di bangunan ini terdapat sebuah sumur yang menggantung di atas tanah, sehingga disebut juga Sumur Gumantung.

3. Pongangan Peksi Beri (Pongangan Barat)

Pongangan Peksi Beri merupakan dermaga tempat sampan dari segaran berlabuh, terutama bagi Sultan dan kerabatnya. Di atas atap bangunan ini terdapat hiasan burung beri, sejenis burung mitologi berwujud rajawali berukuran besar.

4. Pulo Kenanga

Pulo Kenanga, atau dikenal juga sebagai Pulo Cemeti, adalah sebuah pulau buatan yang berada di tengah-tengah segaranSegaran berasal dari kata dasar segara yang berarti laut, kata segaran sendiri bermakna laut buatan. Di segaran ini selain ditebar berbagai jenis ikan, juga dimanfaatkan untuk kerabat kerajaan bermain sampan. Kini lokasi segaran telah menjadi Pasar Ngasem dan pemukiman penduduk.

Di Pulo Kenanga ini pula didirikan sebuah gedung berlantai dua yang dikelilingi tanaman kenanga (Cananga odorata), dinamakan dengan Gedhong Kenanga. Posisinya cukup tinggi, membuat orang dapat mengamati kawasan Keraton Yogyakarta dari atasnya. Gedung inilah yang dari kejauhan tampak mengambang di atas air sehingga memunculkan istilah Istana Air (Water Castle).

Di sebelah selatan Pulo Kenanga, menyembul bangunan-bangunan kecil yang disebut dengan Tajug. Bangunan kecil ini adalah ventilasi udara untuk terowongan bawah air, jalan masuk menuju Pulo Kenongo tanpa menggunakan sampan.

5. Sumur Gumuling

Bagian dalam Sumur Gumuling

Sumur Gumuling terletak di sebelah barat dari Pulo Kenanga, dari luar tampak sebagai menara bulat di tengah air. Bangunan ini berfungsi sebagai masjid dan hanya bisa dicapai melalui terowongan bawah air, atau disebut urung-urung. Terdapat dua buah lantai yang masing-masing memiliki ceruk di dinding yang berfungsi sebagai mihrab, tempat imam memimpin ibadah. Di pusat bangunan ini terdapat empat buah undakan yang bertemu di tengah. Dari pertemuan undakan ini terdapat lagi satu tangga menuju lantai dua. Di bawah pertemuan inilah terdapat kolam kecil yang dulu dipergunakan untuk berwudhu.

6. Gapura Agung (Gedhong Gapura Hageng)

Gapura Agung atau Gedhong Gapura Hageng dahulu merupakan pintu gerbang utama Tamansari. Gerbang ini berhiaskan relief burung dan bunga yang merupakan candra sengkala Lajering Kembang Sinesep PeksiSengkalan memet tersebut menunjuk tahun pembuatan Tamansari, tahun 1691 Jawa atau tahun 1765 Masehi. Di balik gapura terdapat tangga yang menuju ke pelataran di atas gedhong. Dari pelataran ini bisa terlihat pemandangan di bawah gapura. Pintu gerbang ini semula berhiaskan patung empat ekor naga yang ekornya saling melilit. Patung ini merupakan sengkalan memet yang berbunyi Catur Naga Rasa Tunggal, merujuk tahun 1684 Jawa sebagai tahun pendirian gapura tersebut.

7. Gedhong Lopak-Lopak

Dari Gapura Agung ke timur, terdapat pelataran berbentuk segi delapan. Pada masa lalu, terdapat menara pengawas berlantai dua di tengah pelataran ini. Menara tersebut bernama Gedhong Lopak-lopak. Di sekelilingnya ditempatkan pot-pot bunga besar, juga kebun buah dan bunga-bungaan.

8. Pasiraman Umbul Binangun

Pasiraman ini merupakan kolam pemandian bagi Sultan, para istri serta para putri keraton. Di area ini terdapat tiga buah kolam yang dihiasi dengan tempat keluarnya mata air berbentuk jamur. Ketiga kolam yang membujur dari utara ke selatan tersebut masing-masing bernama Umbul Kawitan, berfungsi sebagai tempat pemandian para putri raja, Umbul Pamuncar, tempat pemandian istri dan selir raja, serta Umbul Panguras, yang merupakan kolam khusus untuk sang raja.

Di antara Umbul Pamuncar dan Umbul Panguras terdapat bangunan menara yang dahulu hanya boleh dinaiki oleh Sultan. Dari menara tersebut, Sultan dapat melihat pemandian Umbul Panguras dari jendela. Dalam kompleks pemandian ini terdapat pula bilik-bilik tempat bagi puteri dan istri raja berganti pakaian dan beristirahat.

9. Gedhong Sekawan (Gedhong Sedah Mirah)

Di sebelah timur Umbul Binangun, terdapat lagi sebuah halaman berbentuk segi delapan dengan empat buah bangunan yang serupa. Bangunan yang disebut Gedhong Sekawan ini merupakan tempat istirahat Sultan dan keluarganya.

10. Gedhong Gapura Panggung

Di sebelah timur Gedhong Sekawan, terdapat sebuah bangunan yang juga berfungsi sebagai gerbang. Di bagian atas dari gapura ini terdapat sebuah panggung menghadap ke barat, tempat raja duduk mendengarkan bunyi gamelan atau menyaksikan pertunjukan di pelataran belakang gapura. Panggung ini dapat dicapai melalui tangga di sisi kanan maupun kiri gapura. Masing-masing sisi tangga ini dihiasi oleh relief/patung naga, yang merupakan sengkalan memet Catur Naga Rasa Tunggal, menunjuk pada tahun 1684 Jawa atau 1758 Masehi. Gapura ini kini menjadi pintu masuk bagi obyek wisata Tamansari.

11.a. Gedhong Pangunjukan (Gedong Patehan)

Bangunan ini terletak di sebelah kanan dan kiri jalan menuju Gapura Panggung. Gedung yang terdiri dari dua buah bangunan identik ini berfungsi sebagai tempat para Abdi Dalem menyiapkan minuman untuk sultan dan keluarganya.

11.b. Gedhong Temanten

Di dekat Gedhong Pangunjukan, terdapat dua bangunan identik yang disebut sebagai Gedhong Temanten. Gedung ini diibaratkan seperti sepasang pengantin, atau temantenGedhong Penganten berfungsi sebagai tempat piket jaga Abdi Dalem.

12. Gapura Kenari

Gapura Kenari berada di ujung timur kawasan Tamansari, gerbang ini dulunya berfungsi sebagai pintu belakang taman. Saat ini lokasi Gapura Kenari menjadi jalan masuk menuju obyek wisata Tamansari dari Jalan Tamanan.

13. Gedhong Carik

Gedhong Carik terletak di selatan Umbul Binangun, bentuknya berupa lorong dengan dua ruang di kanan kirinya. Gedhong ini sekaligus berfungsi sebagai jalan masuk ke Pasarean Ledhok Sari. Sesuai namanya, gedung ini tempat dimana para carik (juru tulis) bertugas.

14. Gedhong Madaran

Setelah menuruni anak tangga pada Gedhong Carik, di sebelah selatan akan ditemukan bangunan yang disebut sebagai Gedhong Madaran. Tempat ini berfungsi sebagai dapur, tempat memasak santapan untuk Sultan dan keluarganya.

15. Pasareyan Ledhoksari

Pasarean atau Pesanggrahan Ledhoksari adalah tempat di mana Sultan beristirahat. Ornamen di bangunan ini didominasi oleh ornamen gaya eropa. Di dalam bangunan berbentuk U ini terdapat tempat tidur Sultan yang di bawahnya terdapat aliran air. Keberadaan alur aliran air dan ventilasi di bangunan ini menunjukkan teknologi pendinginan alami yang memungkinkan suasana sejuk meskipun cuaca sedang panas.

16. Gedhong Garjitawati

Gedhong Garjitawati terletak di sebelah timur Gedhong Madaran, 20 meter di selatan Gedhong Carik. Terdapat pemandian di sisi selatan gedung ini yang berfungsi sebagai tempat pemandian para Abdi Dalem perempuan. Gedung ini kini hanya tersisa tembok bagian bawah saja.

17. Pasiraman Garjitawati

18. Gedhong Blawong

Gedhong Blawong berada di dekat Pasarean Ledhoksari, bangunan ini memiliki fungsi sebagai tempat menyiapkan makanan yang akan disajikan untuk Sultan dan keluarganya selama mereka berada di Pasarean Ledhoksari.

19. Gapura Umbulsari

Gapura Umbulsari terdapat di sebelah selatan Pasarean Ledhoksari. Merupakan pintu masuk ke arah Pasiraman Umbulsari. Ornamen yang terdapat di sini juga banyak yang bergaya Eropa. Saat ini Gapura Umbulsari menjadi bagian dari pemukiman warga.

20. Pasiraman Nagaluntak

Pemugaran

Pada tahun 1867, di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, terjadi peristiwa gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunan di Yogyakarta. Kompleks bangunan Tamansari mengalami kerusakan yang cukup parah dan menjadi terbengkalai. Hal ini menyebabkan banyak penduduk membangun hunian di antara bekas kebun dan puing bangunan.

Renovasi secara serius dimulai semenjak 1977. Beberapa bangunan yang tertimbun dibongkar. Namun hanya sedikit sekali bagian dari bangunan Tamansari yang bisa diselamatkan.

Gempa besar terjadi lagi di wilayah Yogyakarta pada tahun 2006. Gempa tektonik yang berkekuatan 5,9 SR ini sekali lagi membawa kerusakan pada Tamansari. Proses renovasi dan revitalisasi kembali dilakukan, beberapa bangunan diperbaiki, diperkuat, dan dilapis ulang.

Sumber: wikipedia | kratonjogja

One thought on “Pesanggrahan Taman Sari Kraton Yogyakarta

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Pesanggrahan Warungboto Umbulharjo Yogyakarta

Wed Apr 1 , 2020
Pesanggrahan Rejawinangun atau Warungboto (@gpswisata) Pesanggarah Warungboto atau Rejawinangun terletak di Jalan Veteran No.77, Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pesanggrahan atau tempat pesiar merupakan tempat peristirahatan bagi raja beserta kerabatnya. Fungsi utamanya berkaitan dengan ketenangan dan kenyamanan untuk tempat peristirahatan, maka pada umumnya pesanggrahan dilengkapi dengan […]