Masjid Jami’ Jagabayan Lemah Wungkuk Kota Cirebon Jawa Barat

Masjid Jagabayan

Masjid Jagabayan terletak di Jalan Karanggetas No. 9, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Kotamadya Cirebon, Jawa Barat. Posisi masjid berada diantara pertokoan, jalan raya, dan pemukiman.

Sejarah

Masjid Jagabayan

Pada awalnya masjid Jagabayan ini merupakan pos jaga, yang berfungsi sebagi tempat pelaporan setiap pengunjung akan masuk ke area Kraton, dibangun sekitar awal abad ke 15 M, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah, Raja I Kerajaan Cerbon. Selanjutnya pada tahun 1972, langgar Jagabayan ini diresmikan menjadi masjid oleh Pemerintah Kota Cirebon.

Kata Jagabayan itu sendiri berasal dari nama Pangeran Jagabayan, utusan Pabu Siliwangi dari Kerajaan Pakuan-Pajajaran, yang kemudian menetap di Cirebon (Nugroho, 20122). Dilain pihak Jagabayan memiliki arti “jaga bahaya‟, yaitu menjaga tamu yang akan masuk ke wilayah Kraton.

Bangunan

Masjid Jagabayan mempunyai luas tanah 63 m² dengan luas bangunan 270 m². Bangunan berdenah persegi panjang berukuran 8,5 x 6 meter dengan atap limasan sebanyak dua susun yang pada bagian puncaknya terdapat mustaka. Atap ditopang oleh empat tiang utama (saka guru) dan dua tiang lain yang berada pada sebelah timurnya. Atap lainnya ditopang oleh dinding. Sayangnya tiang saka guru kini telah dilapisi oleh semen dan bata, yang menyisakan balok tarik pada bagian atasnya. Pelapisan ini dilakukan oleh pengurus beserta masyarakat setempat dikarenakan tiang asli telah keropos dan tidak mungkin dipertahankan lagi.

Saka guru yang asli merupakan tiang berbentuk persegi empat yang tidak ditopang oleh umpak seperti terlihat pada masjid kuna lainnya. Jarak antara deretan saka guru paling barat dengan dinding barat masjid 1,2 meter, dan jarak dengan deretan saka guru lainnya 1, 9 meter. Di sebelah timur keempat saka guru terdapat dua tiang yang memiliki ukuran lebih kecil yang jaraknya 2,5 meter dari saka guru.

Mustaka

Mustaka Masjid Jagabayan

Mustaka pada puncak atap Masjid Jagabayan ini terbuat dari tanah liat bakar. Pada bagian dasar mustaka terdapat hiasan pilinan berbentuk pucuk daun di tiap empat sudutnya yang menjuntai ke atas, motif hias ceplok bunga di tiap empat sisi permukaan, dan motif hias daun yang terdapat di sekitar motif hias ceplok bunga.

Pada bagian atas mustaka terdapat hiasan pilinan berbentuk pucuk daun di tiap empat sudutnya yang menjuntai ke atas, motif hias ceplok bunga, motif hias sulur-suluran majemuk, dan motif hias tumpal. Pada bagian kuncup bunga terdapat empat buah hiasan pilinan yang berbentuk kelopak.

Pintu dan Jendela

Pintu masuk masjid berjumlah 2 buah masing-masing berada di sisi utara dan timur. Pintu yang berada di sisi utara tidak dipergunakan lagi atau hanya digunakan saat-saat tertentu saja. Pintu ini berbentuk persegi panjang berukuran lebar 75 cm yang di sebelah kanannya terdapat jendela. Sedangkan pintu utama yang terletak di sebelah timur merupakan pintu berbentuk persegi panjang dengan setengah lingkaran (melengkung) pada bagian atasnya, daun pintunya berukuran 1,3 meter, di kiri dan kanannya terdapat jendela.

Mihrab dan Mimbar

Mihrab dan Mimbar (http://tourislamimasjidjagabayan.blogspot.com)

Mihrab tersebut berukuran panjang 1,8 meter dan lebar 1,2 meter. Pada mihrab ini terdapat sebuah mimbar tempat seorang khatib berceramah.

Bedug

Bedug (http://tourislamimasjidjagabayan.blogspot.com)

Di sebelah utara mihrab terdapat sebuah bedug yang hingga kini masih digunakan saat tiba kumandang azan.

Tempat Wudhlu

Sumur (http://tourislamimasjidjagabayan.blogspot.com)

Di sebelah selatan bangunan masjid terdapat sebuah sumur yang digunakan sebagai sumber air untuk berwudhu dan keperluan lainnya.

Sumber: Ebook, Mustaka pada Bangunan Islam Kuno di Cirebon, Oleh Yogi Abdi Nugroho, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Arkeologi, Universitas Indonesia, 2012

Follow me!

One thought on “Masjid Jami’ Jagabayan Lemah Wungkuk Kota Cirebon Jawa Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.