Masjid Al Karomah Depok Kabupaten Cirebon Jawa Barat (Video)

Masjid Al-Karomah Depok, Kabupaten Cirebon (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Masjid Al Karomah berada di pesawahan Desa Depok, RT 01/01, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dulunya, lokasi mihrab masjid terletak di pinggiran atau ceruk sungai Jamblang, setiap kali datang musim hujan debet air sungai meluap hingga ke samping areal masjid.

Kesan teduh dan asri terasa saat mengunjungi masjid tua yang letaknya jauh dari keramaian, memiliki pemandangan yang cukup menyegarkan mata. Di seberang masjid ini ada suguhan hamparan persawahan yang disesuaikan dengan musim tanam padi.

Sejarah

Masjid Al-Karomah Depok, Kabupaten Cirebon (http://arsitekdankontraktorcirebon.blogspot.com)

Bila dikaitkan dengan awal perkembagan masjid di Cirebon, yakni pembangunan Tajug (Langgar) Pajlagrahan  yang diyakini sebagai bangunan masjid pertama di Cirebon berangka tahun 1449 M, kemudian Masjid Agung Sang Cipta Rasa25 sebagai salah satu ikon yang membentuk inti kota dari Kerajaan Islam yang dibangun sekitar tahun 1480 M dan selesai pada tahun 1498 M. Ada kemungkinan bahwa pembangunan masjid Al- Karomah dibangun pada abad pertengahan akhir abad 15 M atau awal abad ke 16 M.

Arsitektur

Masjid Al-Karomah Depok secara umum merupakan salah satu masjid dengan model bangunan kombinasi berbentuk tajug dan joglo. Ada tiga bagian bangunan masjid yang menyatu dan memanjang ke belakang. Tiap-tiap bagian masjid itu dapat diketahui dari bentuk atapnya yang tampak berbeda-beda. Bagian luar adalah serambi masjid yang cukup lapang dibuat mirip gazebo. Terkadang pengunjung melakukan shalat berjamaah di sana.

Denah

Denah ruangan Masjid Al-Karomah Depok, Kabupaten Cirebon

Bangunan

Masjid Al Karomah dengan luas bangunan ± 600 m² di atas tanah seluas ± 2.200 m² dan merupakan tanah kepemilikan pemerintah Desa Depok.

Ada tiga pintu gerbang untuk memasuki masjid ini yang menempel di pagar berbata merah. Pintu tengah yang terbuat dari kayu berukuran sekitar satu meter kerap tertutup. Hanya dua gerbang di kanan dan kiri yang sering terbuka.

Atap dan Mustaka

Di atas bangunan ini ada dua mustaka yang menjadi tanda bahwa bangunan itu merupakan tempat peribadatan. Atap masjid dibuat bertingkat dua dengan mustaka berupa mahkota yang bentuknya lebih besar daripada yang ada di bagian atas ruang mihrab.

Ruang Utama

Sketsa cekungan (cerukan) pada bagian bawah bangunan mihrab masjid

Luas ruangan utama masjid Al-Karomah Depok berukuran 10,5 x 10,5 meter dengan tinggi tidak lebih dari 170 cm berpondasi massif. Dulunya posisi mihrab yang menggantung di atas sungai dan tidak roboh meskipun konstruksi tanah di bagian bawahnya terkikis secara terus menerus oleh arus sungai Jamblang.

Mihrab awal (pertama)

Mihrab dan Mimbar

Mihrab dan Mimbar Masjid Al-Karomah Depok, Kabupaten Cirebon

Pondasi bangunan mihrab yang berada di atas tanah cekung (gerowok) menimbulkan kekhawatiran terhadap eksistensi mihrab dan bangunan masjid, sehingga pada tahun 1970 dilakukan penggeseran mihrab dan bagian kanan depan ruangan utama.

Cekungan Masjid Al-Karomah Depok setelah dilakukan proses penyenderan (pelapisan) di sepanjang areal kompleks masjid

Lebar bagian pondasi mihrab awal 2,1 meter panjang 2 meter dan tinggi bangunannya 1.9 meter, digeser ke arah Timur sejauh 1.6 meter (lokasi mihrab sekarang) dengan lebar mengikuti bangunan awalnya.

Serambi

Serambi Masjid Al-Karomah Depok, Kabupaten Cirebon (http://arsitekdankontraktorcirebon.blogspot.com)

Perluasan masjid kembali dilakukan pada tahun 1985 dengan membangun serambi masjid. Serambi ini berjenis bangunan joglo dengan bentuk bujur sangkar dengan konstruksi seperti dua bangunan yang menyatu (serambi besar dan kecil) dan menyatu dengan ruangan kedua. Serambi ini dilengkapi dengan tiang-tiang berjumlah 18 (empat tiang berukuran besar berada di tengah-tengah serambi atau saka guru), sepuluh tiang lain atau saka rawa berada di sekeliling serambi dan empat tiang di sebelah Barat (menyatu dengan konstruksi dinding yang menempel dengan ruangan kedua dengan memiliki ukuran yang sama dengan saka rawa pada bagian lain). Keseluruhan tiang (saka guru dan saka rawa) berbentuk Persegi dengan besar sisi yang sama yakni 35 cm dan mendapat tugas yang sama secara konstruksi untuk menjaga keseimbangan bangunan serambi.

Pada bagian umpak serambi masjid memiliki ukuran yang sama antara saka guru dan saka rawa yakni sebesar 52 cm dengan keseluruhan umpaknya berbentuk seperti bangunan trapesium dilihat dari setiap sisinya. Sedangkan pada Bagian lantai serambi masjid terbuat dari keramik marmer dengan ukuran 90 x 30 cm berwarna cokelat keputih-putihan.

Pawestren (Ruang Wanita)

Pawestren Masjid Al-Karomah Depok, Kabupaten Cirebon

Ruangan pawestren terletak di sebelah kiri ruang utama masjid Al-Karomah Depok dengan luas 8 x 2 meter dan dibangun bersamaan dengan pemugaran ruang utama di tahun 1970 M. Ruangan ini berbentuk persegi panjang berukuran 10,5 x 5 meter dan dengan tiga susunan tiang berjejer dari timur ke Barat masing-masing berukuran 17,5 cm. Terdapat pula dua pintu masuk disertai 20 lubang ventilasi udara dengan kapasitas penampung sekitar 40 orang jama’ah shalat berjama’ah.

Paseban atau pendopo

Paseban atau pendopo Masjid Al-Karomah Depok, Kabupaten Cirebon

Merupakan bangunan tambahan yang ada di kompleks masjid Al-Karomah Depok yang didirikan pada tahun 2004 sebagai tempat tinggal para jama’ah yang sedang beri’tikaf di masjid. Luas bangunan ini 14 x 8 meter dan berada di atas pondasi setinggi 30 cm.

Tempat wudhlu (bersuci)

Tempat bersuci yang ada dan sampai saat ini masih digunakan berada di sebelah utara. Pada bulan Oktober 2014, dilakukan pemugaran pada areal ini, yakni dengan menambah jumlah kamar mandi (sebelumnya ada 4 ruangan, sekarang menjadi delapan) dan mengubah posisi balong (kolam untuk wudu) menjadi lebih kecil dengan dibuatkan deretan kran untuk berwudhu.

Kemudian terdapat kran yang juga dapat digunakan untuk berwudhu bagi kaum perempuan (dengan jarak yang lebih dekat dengan serambi dan ruang pawestren).

Jam Matahari

Istiwa’ Masjid Al-Karomah Depok, Kabupaten Cirebon

Salah satu ciri masjid yang ada di Jawa adalah terdapat jam matahari atau dinamakan pula dengan bancet atau Istiwa’. Meskipun daya guna jam masih dimanfaatkan namun tidak secara maksimal. Akan tetapi hal ini menunjukan adanya sebuah bentuk keserasian budaya yang tetap melestarikan budaya lama meski budaya baru (modern) telah ada di sekitar kita, seperti adanya jam digital yang dapat menentukan waktu sholat secara lebih optimal (tanpa mengandalkan cuaca sebagai patokan utamanya).

Jam matahari ini dibuat oleh juru kunci Masjid Al-Karomah Depok yakni H. Hariri pada tahun 2003-an sebagai alat bantu penentu waktu shalat meskipun memang tekhnologi sekarang sudah canggih. Tinggi jam matahari ini hanya 90 cm dengan keliling kepala bancet 19×6 cm dan terbuat dari bahan batu saka (batu atau pilar yang biasanya digunakan untuk tiang atau pagar), bagian atasnya terbuat dari paku besi dan tembaga atau seng sebagai penutupnya. Jam ini ditempatkan di sebelah Utara atau tepatnya dekat tempat bersuci (sebelah selatan) dan sebelah Timur pendopo atau paseban.

Bangunan lainnya

Bangunan-bangunan lain yang ada dikomplek masjid Al-Karomah Al-Makhzan terletak di sebelah Barat sejajar dengan tempat bersuci dan berfungsi sebagai tempat tinggal marbot masjid dan terdapat dapur umum dengan bangunan berbentuk persegi panjang, mengusung konsep baru namun tidak melupakan konsep utamanya (yakni bata merah).

Sumber: Ebook, Akultuasi budaya pada Masjid Al-Karomah Depok Kabupaten Cirebon Oleh Anonim, IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.