Tarian Tradisional Kabupaten Semarang Jawa Tengah

Tari Ning Nong

Kabupaten Semarang merupakan salah satu daerah yang kaya akan obyek wisata baik wisata alamnya yang sangat menarik, wisata budaya, peninggalan sejarah maupun sejarah tehnologinya. Mengingat letaknya, Kabupaten Semarang berada pada posisi yang menguntungkan, yaitu sebagai daerah penyangga (hinterland) Ibu Kota Jawa Tengah dan mampu memposisikan daerah ini sejajar lebih tinggi dari daerah tujuan wisata lain di Jawa Tengah.

Di Kabupaten Semarang sendiri terdapat sekitar 595 kelompok-kelompok kesenian yang tersebar di hampir semua Kecamatan di Kabupaten Semarang. Kelompok-kelompok kesenian tersebut perlu diperhatikan dan diberi wadah khusus agar dapat menampilkan karya mereka secara rutin dan terjadwal. Tidak hanya kelompok kesenian dari Kabupaten Semarang saja, kelompok kesenian di sekitar lingkup Jawa Tengah juga perlu diperhatikan keberadaannya.

Tari Prajuritan

Tari Prajuritan (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Tari Prajuritan mula-mula tumbuh dan berkembang di wilayah Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, provinsi Jawa Tengah, khususnya di Dusun Manggisan. Tari Prajuritan ini merupakan bentuk tiruan atau penggambaran derap langkah prajurit dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai prajurit kemudian dikemas dalam bentuk tarian.

Sejarah

Tari Prajuritan (https://ungarannews.com)

Embrio tari prajuritan diperkirakan mulai muncul abad XVIII dimana pada saat itu seorang tokoh pejuang pembela rakyat yang sangat kharismatis  dalam menentang penjajah Belanda beliau adalah Pangeran Samber Nyawa, dalam memimpin perlawan terhadap Penjajah  dengan perang gerilyanya memiliki semboyan “Tiji Tibeh“ (Mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh) dan berpegang teguh pada “Tridharma“ prajurit yaitu Rumongso Handarbeni – Melu Hangrungkebi – Mulat Sariro Hangrosowani, dan semboyan  Tridharma ini merupakan kekuatan yang sangat sulit untuk ditumpas.

Menghadapi kelompok Sambernyawan membuat Belanda kewalahan, maka diundanglah Pangeran Sambernyawa untuk mengadakan  perundingan  dengan fihak Belanda di Salatiga tanggal 17 Maret 1757 dengan hasil kesepakatan  Dinobatkannya Pangeran Sambernyawa menjadi Adipati bergelar Adipati Mangkunegara I.

Prajurit-prajurit ini mendirikan barak-barak disekitar Getasan dan pada waktu waktu tertentu mengadakan latihan perang-perangan,  dari latihan prajurti Sambernyawan ini kemudian anak-anak muda sekitar Getasan mencoba menirukan gerak prajurit-prajurit tersebut sambil bekerja di kebun tembakau  sehingga gerak gerak mereka tirukan disesuaikan dengan posisi mereka bekerja dikebun tembakau.

Tari Ning Nong

Tari Ning Nong (https://kabarmhf.com)

Tari Ning Nong berasal dari dusun Bajangan. desa Sambirejo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Tari Ning Nong, Ning berarti perempuan, dan Nong adalah laki-laki. Oleh sebab itulah, tari Ning Nong, biasanya dimainkan oleh perempuan dan laki-laki.

Tari Ning Nong ini, sesuai dengan gerakan tarian dan musiknya, menggambarkan seorang anak tumbuh dewasa, dengan lika-liku kehidupan yang akan mereka hadapi. Oleh sebab itu diperlukan keselarasan dan gotong royong.

Tari Reog Krido Santoso

Tari Reog Krido Sentoso (https://docplayer.info)

Tari Reog Krido Sentoso berasal dari Desa Sumberejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Sebagai tari rakyat yang di dalamnya memiliki ciri-ciri gerak sederhana, tata rias dan busana seadanya dan cendurung sederhana, musiknya tarinya dinamis, terkadang saat penari dalam keadaan kerasukan membuat lelucon yang membuat penontonnya tertawa. Tari Reog Krido Sentoso yang tidak ada unsur bujang ganong, warok, dan dhadhak merak.

Sejarah

Tari ini tercipta dari pemikiran almarhum Warli yang pada saat itu menjabat sebagai Bekel di Dusun Ngasinan. Pemikiran almarhum Warli ini melahirkan Reog yang difungsikan sebagai pelengkap upacara ngayahi. Awal lahirnya Reog Krido Santoso hanya sebuah pertunjukan yang diciptakan dengan kesederhanaannya. Kesederhanaan ini diwujudkan dengan gerakan improvisasi menirukan gerakan menunggang kuda dengan berjalan seiring dengan arak-arakan yang dilakukan.

Pada tahun 1980 masih sering adanya upacara ngayahi, dianggap sepi oleh almarhum Warli disebabkan tidak ada hiburan yang meramaikan,  akhirnya beliau menciptakan sebuah sajian seni dinamakan Reog diiringi dengan musik seadanya. Pertama-tama dipertunjukan hanya dengan tiga buah bande atau kenong, kendang, dan gong yang dimainkan sesuai dengan musik reog yaitu tabuhan bende yang bergantian diikuti kempul dan bunyi kendang.

Ngayahi merupakan salah satu upacara yang ada di Desa Sumberejo ini, bentuk upacara ngayahi merupakan upacara arak-arakan yang biasa dilakukan oleh seorang warga yang sudah lanjut usia dan memiliki jumlah cucu serta buyut yang banyak, minimal 25 orang. Di Jawa selain ngayahi sering di sebut dengan angon putu atau angon wayah. Selain tujuan untuk mengarak ke sebuah kali, ngayahi memiliki tujuan untuk menjadikan anak cucunya berkumpul pada suatu waktu dan bersenangsenang bersama.

Follow me!

One thought on “Tarian Tradisional Kabupaten Semarang Jawa Tengah

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.