Masjid Agung Cianjur Jawa Barat

Masjid Agung Cianjur (https://kompas.com)

Masjid Agung Cianjur tepatnya berada di jalan Siti Jenab No. 14, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur 43211, Jawa Barat. Masjid ini berdiri megah di tengah kota, tak jauh dari alun-alun, pendopo, dan kantor pos Cianjur.

Sejarah

Masjid Agung Cianjur, pertama kali dibangun oleh masyarakat Cianjur tahun 1810 M di atas tanah wakaf Ny. Raden Bodedar anak dari Kangjeng Dalem Sabiruddin yang merupakan Bupati Cianjur ke-4. (namun sayang nama-nama orang yang pertamakali membangunnya tidak tercatat). Semula ukurannya sangat kecil. Sekitar tahun 1820 M, pertamakali dilakukan perbaikan dan peluasan, sehingga ukurannya menjadi 20 x 20 m2 atau seluas 400 m2.

Perbaikan dan perluasan dilakukan oleh cucu Dalem Sabirudin yakni Penghulu Gede, Raden Muhammad Hoesein Bin Syekh Abdullah Rifai. Syekh Abdullah Rifai adalah anak dari Muhammad Hoesein yang berdarah Arab dan Banten dari keturunan Bayu Suryaningrat, beliau juga merupakan Penghulu Agung Pertama Cianjur sekaligus menantu dari Kanjeng Dalem Sabiruddin, beliau menikah dengan NYR Mojanegara Binti Dalem Sabirudin.

Masjid Agung Cianjur saat hancur akibar dampak letusan Gunung Gede tahun 1879 (https://singgahkemasjid.blogspot.com)

Dalam sejarahnya, tahun 1879, masjid ini pernah hancur akibat letusan Gunung Gede hingga bangunan luluh lantak. Dalam peristiwa tersebut merenggut korban yang cukup banyak, salah satunya adalah ulama Cianjur, R.H. Idris bin R.H. Muhyi (Ayah dari KRH Muhammad Nuh, seorang ulama besar Cianjur), yang bertempat tinggal di daerah kampung Kaum Kidul.

Satu tahun setelah peristiwa letusan Gunung Gede (1880), Mesjid Agung Cianjur kembali dibangun oleh RH Soelaeman, yang pada waktu itu memegang posisi sebagai penghulu Agung bersama RH Ma’mun bin RH Hoessein atau lebih dikenal dengan nama Juragan Guru Waas, juga dibantu oleh masyarakat Cianjur.

Masjid Agung Cianjur jaman Now (https://travelingyuk.com)

Era Daendels

Jalan Raya Anyer-Panarukan, 1.000 Kilometer Saksi Kejamnya Pembangunan di Era Kolonial (https://www.suratkabar.id)

Pada era Daendels (1808), Cianjur adalah kota yang masuk ke dalam rute De Grote Postweg atau lebih dikenal sebagai Jalan Raya Pos Anyer – Panarukan. Dari Batavia rute menuju Buitenzorg lalu ke Cianjur, sebelum dilanjutkan ke Bandung. Akses utama Jalan Raya Pos dari arah Puncak ke Cianjur melalui beberapa ruas jalan utama. Rute jalur tersebut di antaranya kini  bernama Jl. Ir. H. Djuanda (Salakopi), Jl. Otista (Pasarean), Jl. Siti Jenab, Jl. Suroso (Bojongherang), dan Jl. Mangun Sarkoro (Jalan Raya). Nama-nama lama jalan tersebut belum terlacak.

Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa Jl. Mangun Sarkoro lebih dikenal dengan sebutan Jalan Raya, yang sepertinya mengacu pada sebutan lama “Jalan Raya (Pos),” pada masa Daendels berkuasa. Di sisi kiri-kanan ruas jalan tersebut masih dapat dilihat beberapa bangunan dengan arsitektur kolonial Belanda dan Tionghoa.

Masjid Agung Cianjur berlokasi di sisi Jl. Siti Jenab pada jalur pos Anyer-Panarukan, maka keberadaannya menjadi vital sebagai masjid utama penduduk muslim pribumi, maupun para pendatang yang melalui jalan Raya Pos saat singgah di Cianjur. Tepat di sisi selatan mesjid terdapat kantor pos Cianjur yang pernah menjadi kantor pos utama di wilayah Priangan.

Arsitektur

Arsitektur paduan empat budaya. Jawa, Timur Tengah, Oriental dan Kolonial. Nuansa Jawa tampak dari atap yang yang berbentuk limasan 3 tingkat, atap tertinggi juga berfungsi sebagai kubah. Sementara frasa Timur Tengah dimunculkan lewat menara. Aura oriental tercium lewat atap menara yang melengkung seperti payung. Sentuhan kolonial terasa sekali pada beranda yang megah berbentuk kotak dengan pintu-pintu yang tinggi.

Bangunan

Masjid Agung Cianjur dengan luas area 2.500 m2, luas bangunan 30.000 m2, dan mampu menampung sekitar 4.000 jamaah

Menara

Masjid Agung Cianjur memiliki dua buah menara yang menjulang indah di kedua sisi bangunan. Kedua menara tersebut kian artistik karena memiliki dua buah atap seperti payung dengan dua tingkat. Dahulu, menara tersebut merupakan tempat para muadzin mengumandangkan lantunan adzan dengan suara yang sangat merdu.

Memasuki area masjid, taman dengan aneka bunga berwarna-warni yang indah akan menyapa pengunjung. Di bagian depan masjid tampak lengkungan-lengkungan bercorak seni arsitektur Timur Tengah dan kedaerahan Indonesia. Keindahan corak arsitektural ini berpadu serasi dengan penggunaan batu alam yang dominan berwarna hijau di teras depan.

Pintu Masuk

Pintu utama diberi nama Babus Marhamah (pintu ketentraman), samping kanan Babus Sakinah (pintu kedamaian atau kebahagiaan), dan samping kiri Babus Salam (pintu keselamatan).

Tepat di bagian tengah teras masjid terdapat pintu masuk dengan langit- langit berbentuk seperempat kubah bernuansa kekuningan yang dipadu dengan hiasan berupa ukiran dan mozaik granit, menambah detail keindahan bagian depan masjid.

Ruang Utama

Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Cianjur (https://google.com)

Memasuki bagian dalam masjid, tampak ruang utama ibadah yang terdiri dari ruang induk-dibatasi pintu dan ram kaca yang memadukan gaya arsitektur khas Indonesia dan Timur Tengah dan selasar yang dapat digunakan untuk tempat shalat.

Lantai dua

Sementara itu, di lantai dua ruang utama, melingkar area persegi yang bagian tengahnya menembus ke tingkat dasar sehingga tampak berfungsi sebagai mezzanine. Area ini dihiasi dengan detail ornamen khas Islam yang sangat indah.

Pemugaran

Mesjid Agung Cianjur juga mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan. Meskipun demikian, sepanjang tahun 1950 hingga 1974, bentuk arsitekturnya tetap dipertahankan, yaitu bangunan dengan atap persegi. Hingga saat ini, Masjid Agung Cianjur tercatat sudah tujuh kali mengalami perbaikan. Perbaikan total terahir menghabiskan biaya Rp 7,5 miliar, pelaksanaannya mulai 2 Agustus 1993 sampai 1 Januari 1998 dan diresmikan pada tanggal 13 Juli 1998.

Follow me!

One thought on “Masjid Agung Cianjur Jawa Barat

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.