Kain Tenun Ikat Bomba Donggala Sulawesi Tengah

Kain Tenun Donggala

Kain Tenun Ikat Bomba atau Buya Bomba merupakan penggabungan kata Buya dan Bomba, Buya berarti sarung sedangkan Bomba berarti bunga, maka dari itu Buya Bomba berarti sarung bunga. Maka motif yang tercipta memiliki berbagai kombinasi antara bunga dan bentuk lainnya.

Penggunaan kain Buya Bomba pun beragam, dapat menjadi sarung dan selendang sebagai pasangannya untuk wanita, kemeja untuk laki – laki dan jas yang dapat digunakan untuk wanita dan laki – laki, ketiga pakaian tersebut digunakan pada acara -acara formal.

Kain Tenun Bomba Subi (http://lavea.skp-ham.org)

Tingkat kerumitan yang tinggi dalam proses pembuatannya yang mengakibatkan kain Buya Bomba ini menjadi sulit diproduksi dan memakan waktu yang banyak dalam proses pembuatannya dan tidak dapat diproduksi secara massal karena sistem pengerjaannya masih membutuhkan tenaga kerja manusia melalui alat tenun baik alat tenun bukan mesin (ATBM) maupun gedogan.

Motif

Berbagai motif Buya Bomba yang khas dalam corak dan jenisnya, menurut hasil penelitian M. Masyhuda, BA pada tahun 1973 yaitu :

  1. Tavanggadue atau Daun Keladi.
  2. Sesekaranji atau Bunga Keranjang.
  3. Tonji Kea atau Burung Kakak Tua sedang hinggap.
  4. Vala’a dengan arti yang sama dengan bomba yaitu bunga merayap.
  5. Bomba Kota artinya Bunga berbentuk Kotak-kotak.
  6. Tavanggadue atau Daun Keladi.
  7. Sesekaranji atau Bunga Keranjang.
  8. Tonji Kea atau Burung Kakak Tua sedang hinggap.
  9. Vala’a dengan arti yang sama dengan bomba yaitu bunga menrayap.
  10. Bomba Kota artinya Bunga berbentuk Kotak-kotak.
  11. Bunga Poindo Tava Ronto. Bunga Poindo berarti bunga yang berbentuk seperti lampu gantung. Tava artinya daun, dan Ronto artinya gugur. Jadi, artikeseluruhan nya adalah bunga yang berbentuk lampu gantung dengan daun yang berguguran.
  12. Tava Nempule, tava adalah daun, nempule berarti merayap, melingkar atau merambat ke atas. Yang berarti daun yang merayap.
  13. Punanu unu, berarti Pohon Beringin.
  14. Bunga Cangko atau Bunga Cangkokan.
  15. Bunga Lanto, yang berarti bunga terapung yang tumbuh di atas air.
  16. Kacandiva kao-kao, Kacandiva merupakan nama kue yang dibuat dari beras dan gula yang dipotong-potong seperti ketupat; kao-kao berarti bersambung-sambung.
  17. Ukibanji, ukiran geometris berbentuk meander.
  18. Bunga Cangke atau Bunga Cengkeh.
  19. Gabe, Nama kue yang berlubang ditengahnya dan berbentuk seperti biskuit.
  20. Kototuvu Punanggayu, nama bunga pohon kayu.
  21. Bunga Boti atau bunga pengantin.
  22. Bunga Sero, yaitu bunga yang disusun secara diagonal.
  23. Mangga, Bunga yang disusun secara vertical atau tegak lurus atau juga disebut bunga renda. Menurut keterangan Ibu Andi Intan Pettalolo, Motif ini pada mulanya ditiru dari renda-renda karawangan pada alas tempat tidur pada hiasan pinggirnya.

Di daerah ini juga dikenal beragam jenis motif tenun Donggala, seperti: motif bunga mawar, bunga anyelir, buya bomba subi kumbaja, bunga subi, kombinasi bunga subi dan bomba, buya bomba, dan buya subi kumbaja. Tidak hanya itu, kain tenun Donggala ini juga mempunyai corak yang sangat unik dan langka, karena usianya mencapai 200 tahun. Kain tenun yang lazim disebut kain palaekat ini hanya dapat ditemukan di kediaman para keturunan raja-raja Palu.

Jenis Kain Donggala

Di Kabupaten Donggala dikenal enam jenis corak tenun Donggala, yaitu:

1. Kain Messa

Merupakan kain yang digunakan masyarakat sebagai busana sehari-hari masyarakat setempat sebelum adanya sarung
tenun ikat Donggala.

2. Kain Pelekat Garusu dan Buya Cura

Corak asli kain pelekat Donggala yaitu kotak–kotak. Corak demikian disebut buya garusu. Kata garusu sama untuk sebutan kain sarung dalam bahasa Bugis. Buya garusu yang berjalur emas pada bagian kepala kainnya yang disebut pucawana dan corak yang bukan motif garusu yang disebut buya cura.

3. Kain Buya Bomba

Motif hias yang dibuat dengan cara mengikat benang pakannya kemudian dicelup dalam bahan warna, sebelum ditenun. Bagian yang diikat sudah merupakan pola hias yang dikehendaki dan kemudian dicelupkan ke dalam bahan warna. Bagian yang diikat tetap mempunyai warna asli benangnya. Sedangkan bagian yang tidak diikat berubah warnanya, sesuai dengan warna celupannnya.

4. Kain Buya Subi Sabe

Pada dasarnya buya subi adalah tenunan dengan corak hias yang dibuat dengan tehnik songket atau sungkit. Ada dua macam buya subi menurut jenis benang sungkitnya antara lain:

  • Buya subi sabe, adalah buya subi dengan hiasan timbul benang sutera aneka warna. Desain ikat dan subi menggunakan warna yang beragam dengan dasaran kain polos.
  • Buya subi kumbaja, adalah buya subi dengan hiasan timbul benang emas atau perak dan dasaran kain tenun berwarna
    polos.

5. Kain Buya Subi Kumbaja

Merupakan buya subi dengan hiasan timbul benang emas atau perak dan dasaran kain tenun berwarna.

6. Kain Kombinasi Bomba dan Subi

Proses pembuatan tehnik ini dikerjakan dua kali. Mula-mula ragam hias bomba diterapkan pada benang-benang yang diikat,
sebelum dicelup. Setelah pencelupan warna dasar kain selesai, bagian–bagian yang diikat dibuka. Ada kalanya setelah dibuka
tidak diberi warna olesan lain, kecuali bagian khusus yang akan diberi hiasan benang timbul emas atau perak. Bagian tersebut biasa diberi olesan warna kuning. Letak benang pakan (nupusua) yang sudah diberi ragam hias disusun pada waktu menenunnya, supaya sesuai dengan bentuknya, kemudian bagian yang berwarna kuning disungkitkan benang timbul sabe
atau kumbaja.

7. Kain Buya Bomba Kota

Yaitu kain dengan bentuk motif hiasan kotak–kotak khusus. Bentuk dibuat dengan cara mengikat banang yang vertikal atau benang lungsi dan benang yang horizontal atau benang pakan.

8. Kain Buya Awi

Kain panjang yang dibuat terdiri dari salah satu warna benang celupan, tanpa ragam hias, merupakan suatu unsur kain yang khas di Sulawesi Tengah yang tidak dipergunakan sebagai bahan pakaian, tetapi khususnya dimanfaatkan sebagai selimut untuk perlengkapan tidur

Warna

Warna pada sarung tenun ikat terdiri dari warna terang dan warna gelap, selain itu tidak terdapat batasan warna pada sarung tenun ikat Donggala. Warna kuning dan ungu digemari konsumen ditahun 2010, warna orange menjadi tren ditahun 2012. Warna biru benhur dan hijau zambrut merupakan tren warna ditahun 2013.

Proses Pembuatan Sarung Tenun Ikat Donggala

  1. Benang putih untuk motif bunga dikelos/diputar pada alat penggulung benang atau spul.
  2. Memasang benang warna putih lainnya pada pemidangan.
  3. Benang digambar menggunakan spidol sesuai dengan desain.
  4. Benang kemudian diikat mengikuti motif bunga menggunakan tali rafia dan dicelupkan ke dalam warna.
  5. Setelah itu benang diangin-anginkan.
  6. Buka ikatan pada benang kemudian di colek sesuai dengan disain dan warna, dan angin–anginkan.
  7. Setelah kering, benang dipecah/dibagi per lembar.
  8. Pada proses dasar/pemasangan pada alat tenun.
  9. Menenun benang yang telah selesai dipasang pada alat tenun.
  10. Proses menenun.

Sentra pengrajin tenun

Di Dusun Limoyo, Kelurahan Pantoloan Boya, Kelurahan Watusampu di Kota Palu dan Desa Labuan Panimba di Kecamatan Tawaeli, Desa Limboro, Desa Towale, Desa Salubomba di Kecamatan Banawa Tengah; Desa Tosale di Kecamatan Banawa Selatan; dan Desa Wani di Kecamatan Tanantovea. Desa Watusampu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Follow me!

One thought on “Kain Tenun Ikat Bomba Donggala Sulawesi Tengah

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.