Kain Tenun Endek Bali

Kain tenun Endek (https://tribunnews.com)

Kain tenun Endek merupakan hasil dari karya seni rupa terapan asal Bali yang memiliki motif sangat beragam. Beberapa motif kain endek Bali ada yang dianggap sakral sehingga hanya boleh digunakan untuk kegiatan keagamaan dan kegiatan lain di pura, namun ada juga motif kain endek yang boleh digunakan secara umum.

Dilihat dari asal bahasanya, nama endek sendiri berasal dari kata “gendekan” atau “ngendek” yang berarti diam atau tetap, tidak berubah warnanya. Peristiwa ini terjadi saat pembuatan motif endek yaitu dengan cara diikat. Saat dicelup benang yang diikat warnanya akan tetap alias tidak berubah atau di Bali disebut “ngendek”.

Kain tenun Endek (https://www.cantika.com)

Khusus untuk membuat kain tenun, teknik ikat yang berkembang di Bali merupakan teknik ikat tunggal pada benang pakan dan double ikat pada kedua benang yaitu lusi dan pakan. Seiring berjalannya waktu teknik pembuatan motif dengan cara mengikat inipun kemudian berkembang dengan teknik airbrush yang lebih praktis.

Kegiatan menenun kain endek sendiri bisa dijumpai di Karangasem, Gianyar, Klungkung, Buleleng, Negara dan kodya Denpasar. Sebutan yang dipakai pun cukup beragam, misal endek yang dibuat di Gianyar dikenal sebagai endek Gianyar, sementara untuk endek yang dibuat di Klungkung dikenal sebagai endek Klungkung.

Sedang menenun kain tenun Endek (https://jawapos.com)

Motif Kain Endek

Berdasarkan ragam hiasa yang ditampilkan, kain tenun endek secara umum memiliki motif yang beragam dan bermacam peranan. Beberapa motif kain endek bahkan ada pula yang dianggap sakral dan hanya boleh digunakan kalangan tertentu. Selebihnya motif dengan nuansa alam bisa digunakan untuk kegiatan yang lebih umum.

Beberapa contoh ragam hias atau motif yang banyak terdapat pada kain tradisional tenun endek diantaranya berupa:

1. Motif Geometris

Kain endek dengan motif geometri diungkapkan melalui bentuk-bentuk: garis lurus, garis putus, garis lengkung dan semua bidang geometri. Ragam hias geometri termasuk ragam hias tertua diantara ragam hias lainnya di Bali dan kerap digunakan sebagai simbolisasi keyakinan masyarakat Bali.

2. Motif Flora

Tenun ikat endek dengan motif flora atau tumbuh-tumbuhan merupakan hasil stilisasi atau proses penggayaan bentuk realistis tumbuhan yang didesain sedemikian rupa menjadi bentuk dekoratif sehingga tumbuhan tersebut terlihat lebih indah dan menarik tanpa harus meninggalkan bentuk maupun karakter aslinya.

Dalam sebuah kain tenun endek, pola atau ragam hias yang diadaptasi dari bentuk tumbuhan biasanya memiliki tampilan yang cenderung rapat dan sangat harmonis. Meskipun pembuatan motif kain dengan metode stilasi terdapat suatu kebebasan, tetapi harus dipertimbangkan pula ketentuan berikut.

  • Stilasi yang dibuat harus memberikan bentuk yang tegas.
  • Memiliki kesan datar.
  • Memiliki bentuk oranamen yang indah.
  • Tidak meninggalkan ciri-ciri yang mendukung karakter motif atau bentuk sumbernya.

3. Motif Fauna

Kain tradisional dengan motif fauna merupakan penggambaran atau stilisasi dari fauna, baik darat, laut maupun udara. Karena keterbatasan teknik pembuatannya maka bentuk-bentuk fauna tersebut dipakai sebagai pengisi atau penekanan di dalam kerangka bentuk ragam hias keseluruhan.

4. Motif Figuratif

Motif manusia atau figuratif merupakan penggambaran bentuk manusia atau tokoh/figure pewayangan dalam bentuk yang lebih sederhana, baik secara utuh atau hanya pada bagian tertentu.

5. Motif Dekoratif

Motif dekoratif yang dalam istilah di Bali disebut prembon merupakan penggabungan dari seluruh motif yang sudah ada sebelumnya dan didesain sesuai keyakinan masyarakat Bali atau cerita pewayangan.

Berkembangnya berbagai motif kain endek Bali yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar juga semakin menarik perhatian banyak orang untuk menggunakan jenis kain yang satu ini. Meski pemakaian kain endek terbilang bebas, tapi motif-motif sakral tetap dipertahankan dan tidak digunakan secara sembarangan.

  1. Motif patra dan encak saji yang bersifat sakral hanya dapat digunakan untuk kegiatan upacara keagamaan. Motif patra dan encak saji tersebut memiliki makna mendalam yakni menunjukkan rasa hormat kepada Sang Pencipta.
  2. Motif yang mencerminkan nuansa alam, biasa digunakan untuk kegiatan sosial atau kegiatan sehari-hari.
  3. Motif kain endek yang menggambarkan flora, fauna, dan tokoh pewayangan yang sering muncul dalam mitologi-mitologi Bali digunakan untuk kegiatan upacara, kegiatan sembahyang serta bahan busana modern.

Fungsi Kain Endek

Sekalipun dalam perkembangannya kain tenun endek memang pernah mengalami pasang surut, namun aktivitas menenun sendiri sampai saat ini masih tetap dilestarikan olah para wanita Bali bahkan juga dijadikan sebagai mata pencaharian pokok bagi sebagian masyarakat di daerah setempat.

Dalam bentuk siap pakai kain tradisional inipun sering dijumpai di Bali dalam bentuk lembaran/kain panjang, sarung dan selendang yang disebut dengan anteng. Kain endek dalam bentuk sarung lazim dipakai oleh para laki-laki. Kain ini secara umum memiliki ciri khas yakni berupa sambungan pada bagian tengah atau sampingnya.

Sementara untuk kain endek dalam lembaran panjang biasa dipakai oleh kaum hawa. Dengan ciri khasnya berupa motif hias ikat di bagian pinggir, bagian tengah kain endek biasanya dibiarkan berwarna polos. Kalau sekarang ragam hias juga dibuat pada bidang tengah kain selain jalur hiasan pinggir.

Dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda, kain endek sendiri pada dasarnya juga dikenal sebagai kain yang memiliki fungsi sangat luas. Beberapa diantaranya yakni fungsi keseharian, fungsi sosial budaya dan juga fungsi ekonomi.

1. Fungsi Keseharian

Sebagai kain yang sangat sakral kain endek dahulunya banyak digunakan oleh orang tua sebagai pelengkap acara adat maupun upacara keagamaan. Tapi seiring dengan perkembangan zaman kain endek juga dipakai oleh banyak orang sebagai pelengkap kebutuhan harian.

  • Sebagian besar masyarakat Bali sudah menggunakannya baik untuk upacara besar dan sembahyang ke pura.
  • Selain digunakan sebagai pakaian adat saat ini endek banyak digunakan sebagai seragam sekolah dan kantor.
  • Bahkan kain endek sudah banyak dibuat berbagai macam produk inovasi yaitu kipas, tas dan pernak-pernik dekorasi.

2. Fungsi Sosial Budaya

Ditinjau dari aspek sosialnya, kain tenun endek pada prinsipnya dapat dipergunakan sebagai pakaian atau penutup tubuh, sebagai simbol ikatan tali persaudaraan (menyama braya) dan cindera mata kepada teman maupun kerabat. Dalam lingkungan masyarakat sekitar kain tenun ini juga dipinjamkan kepada tetangga.

Sementara kalau dilihat dari aspek budayanya, kain tenun endek dapat dipergunakan dalam banyak upacara-upacara adat dan keagamaan masyarakat Bali. Sebagaimana diketahui di pulau Bali terdapat 5 jenis upacara keagamaan penting di Bali yang sering disebut sebagai Panca Yadnya.

Kain endek juga digunakan untuk menghias tempat-tempat upacara di pura, rumah maupun di pusat desa. Kain tenun endek asli seperti endek cepuk dan endek bebali dipercaya dapat berfungsi sebagai penolak bala sementara endek bermotif gringsing diyakini dapat menangkal wabah penyakit.

3. Fungsi Ekonomi

Kain endek bukan hanya sekedar sebuah kain yang memiliki nilai seni tapi lebih dari itu kain endek juga memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Terbukti sampai saat ini industri kain endek mampu membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal sekaligus melestarikan kearifan budaya.

Alat Produksi Kain Endek

Terkait dengan alat produksi yang digunakannya, untuk membuat kain tenun endek pada prinsipnya diperlukan alat tenun tradisional yang biasa dikenal sebagai ATBM (alat tenun bukan mesin). Fungsi dasar dari ATBM ini yaitu sebagai tempat memasang benang lungsi sementara proses penenunannya tetap diperlukan tenaga manusia.

Nama-nama dari komponen alat tenun bukan mesin yang digunakan untuk membuat kain endek antara lain:

  1. Boom lusi, untuk menggulung benang lusi.
  2. Boom kain, untuk menggulung kain yang sudah ditenun.
  3. Guun, untuk mengendalikan dan menggerakkan benang lusi agar sekoci dapat masuk di sela-sela benang lusi.
  4. Injakan guun, untuk mengatur guun.
  5. Sisir, untuk menyusun kerapatan benang lusi.
  6. Pemberat gulungan benang lusi, untuk menjaga kekencangan benang tetap stabil.

Selain alat tenun yang sudah disebutkan di atas dalam membuat kain endek sebenarnya diperlukan pula alat-alat berikut:

  1. Sekoci, untuk menaruh benang pakan.
  2. Tempat benang kelos, untuk menaruh benang kelos saat proses pengebooman.
  3. Sisir silang/sisir hani, untuk mengatur dan menyusun helaian benang.
  4. Kelos, untuk menggulung helaian benang.
  5. Penamplikan, untuk membentangkan benang.
  6. Pemalpalan, untuk menggulung benang pakan dan merapikan susunan helaian benang pakan yang sudah dicatri.
  7. Undar, untuk membentangkan benang agar mudah dipindahkan ke dalam ulakan.
  8. Pengeredegan/pengehengan, untuk menggulung benang ke dalam ulakan.
  9. Pemaletan, untuk menggulung benang pakan.

Proses Produksi Kain Endek

Proses pembuatan kain endek dengan alat tenun bbukan mesin bisa dibilang merupakan serangkaian proses kreatif yang memadukan unsur seni, teknik pewarnaan dan inovasi untuk menghasilkan lembaran kain endek yang berkualitas. Selain itu dibutuhkan pula keterampilan, ketelitian dan waktu yang cukup lama dalam pengerjaannya.

Hampir sama dengan kain tenun tradisional yang lainnya, bila dilihat dari prosesnya prinsip pembuatan kain endek sendiri bisa dibilang cukup rumit karena masih dibuat dengan cara tradisional, mulai dari pemilihan bahan seperti benang alami, pewarnaan menggunakan warna-warna alam, serta proses menenunnya.

Terkait dengan cara pembuatannya, untuk menciptakan sebuah kain tenun endek yang berkualitas, proses pembuatannya sendiri harus melewati tiga tahap utama yakni proses pengolahan benang lusi/lungsi, pengolahan benang pakan dan proses penenunan.

1. Proses Pengolahan Benang Lusi

Proses pengolahan benang lusi/lungsi dalam pembuatan kain tenun endek terdiri dari pengkelosan, pencelupan warna, penganihan (proses merapatkan benang) dan pencucukan.

a. Pengkelosan
Pengkelosan adalah proses memintal benang. Prinsip pengerjaannya yaitu benang dalam gulungan besar dipintal menjadi gulungan-gulungan kecil. Dari satu pak benang dengan berat 5 kilogram biasanya akan didapatkan30 buah kon benang yang sudah tergulung.

b. Pencelupan Warna
Proses pemberian warna pada benang dilakukan dengan cara dicelup. Hal ini dimaksudkan agar hasil pewarnaan merata. Ada pula pertenunan yang merebus benang terlebih dahulu selama 30 menit sebelum dilakukan pencelupan warna.

c. Penganihan (Merapatkan Benang)
Proses penganihan atau proses merapatkan benang dikenal juga sebagai proses pengebooman. Prinsip pengerjaannya yaitu benang lusi diatur dan digulung pada boom lusi dengan sistem penggulungan sejajar. Ukuran panjang dan lebar bahan kain endek ditentukan pada proses ini.

  • Pada proses pengebooman ini pertama ujung benang lusi diambil, dijepit dengan kayu selebar boom lusi yang dipergunakan, kemudian digulung sesuai kebutuhan.
  • Boom lusi disetel sedemikian rupa sehingga kedudukannya tepat berada di gulungan lusi, boom kemudian diputar sesuai keinginan dan kebutuhan bahan kain tenun yang akan dibuat.

Satu putaran boom setara dengan kain berukuran dua meter. Untuk membuat bahan kain sepanjang satu meter membutuhkan 16.000-18.000 benang.

d. Pencucukan

Pencucukan merupakan proses pemasukan benang lusi yang dilakukan secara dua tahap, yaitu proses pencucukan pada mata guun dan yang kedua ke sisir tenun.

  • Mata guun menjadi tempat memasukkan benang lusi sehingga gerakan benang menjadi terkendali saat menenun.
  • Serat/sisir berfungsi mengatur kerapatan benang pakan dan digunakan sebagai pengarah teropong penggerak benang pakan.

Benang yang telah melalui tahap pencucukan selanjutnya digulung secara hati-hati untuk nantinya memasuki tahapan penenunan.

2. Proses Pengolahan Benang Pakan

Proses pengolahan benang pakan dalam pembuatan kain tenun endek terdiri dari pengkelosan, pemindangan atau mempen, pengikatan, pencelupan, pencoletan/nyatri/ pengobatan/fiksasi, penginciran dan pemaletan.

a. Pengkelosan

Proses pengkelosan pada benang pakan sama dengan proses pengelosan pada benang lusi.

b. Pemindangan atau Mempen

Benang yang sudah dikelos (30 kones) dimasukan ke dalam rak benang, kemudian ditata ke dalam penamplik/pemidangan untuk menghitung jumlah putaran dengan tujuan untuk menentukan besar kecilnya motif yang diinginkan.

c. Pengikatan

Proses pengikatan menggunakan tali berbahan plastik atau kupas dari pelepah pohon pisang sesuai dengan desain yang telah ditentukan.

d. Pencelupan

Proses pencelupan pada benang pakan sama dengan proses pencelupan pada benang lusi. Hal ini dimaksudkan agar hasil pewarnaan jadi lebih merata.

e. Pencoletan atau Nyatri

Pencoletan atau pengisian warna disesuaikan dengan desain yang telah ditentukan, kemudian dijemur sampai kering.

f. Pengobatan/Fiksasi

Fiksasi dilakukan dengan cairan yang bernama fixanol.

g. Penginciran

Penataan benang dengan cara digulung ke dalam suatu alat penginciran, untuk mempermudah dalam tahap pemaletan.

h. Pemaletan

Benang digulung lagi ke dalam palet agar memudahkan memasukan benang ke dalam sekoci, untuk selajutnya ditenun.

3. Proses Penenunan

Selesai melakukan tahap persiapan benang selanjutnya dilakukan proses menenun bahan kain. Selama proses menenun sedang berlangsung, lakukan pengendalian/pengecekan terhadap kemungkinan putus benang lusi/lungsi dan pakan dengan cara mengamati selama proses penenunan.

Dengan proses pembuatannya yang sedemikian rumit tidak heran bila untuk menghasilkan selembar kain tenun endek kira-kira dibutuhkan waktu paling cepat 2 minggu itupun dengan motif yang simple. Jika penenun ingin membuat motif yang rumit, waktu pembuatannya pun bisa sampai satu bulanan bahkan lebih.

Sumber: fitinline

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.