Kain Sulaman Tudung Manto Kepulauan Riau

Kain Tudung Manto (https://tudungmanto.wordpress.com)

Tudung manto merupakan kelengkapan pakaian adat perempuan Melayu Daik, berupa kain tipis penutup kepala yang terbuat dari berbagai jenis kain seperti kain kase, kain sifon, kain sari, dan kain sutera dengan warna tertentu seperti kuning, hijau, merah, hitam dan putih. Ciri khas utama tudung manto adalah hiasan tekat berbagai motif yang dibuat menggunakan kawat lentur seperti benang berwarna perak ataupun emas yang disebut genggeng atau kelingkan. Kelingkan adalah hiasan wajib dalam pembuatan tudung manto, dan tidak boleh diganti dengan bahan hiasan lainnya.

Sejarah

Kain Tudung Manto (http://www.pulaulingga.com)

Asal mula penyebutan pemakaian tudung oleh perempuan Melayu dapat ditemukan dalam naskah Sulalatus Salatin. Tudung manto telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Abdullah Muayat Syah yang pernah memindahkan ibukota kerajaan Melayu Johor-Riau ke pulau Lingga pada tahun 1618, dengan alasan menjauhkan diri dari pengaruh Aceh.

Hasil penelitian juga menyimpulkan bahwa tudung manto baru ada pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I (1722-1760). Pada masa ini pusat pemerintah Kerajaan Melayu Johor-Riau berada di Hulu Riau. Pulau Lingga pada masa ini dipimpin oleh megat kuning anak Datuk Megat Merah, yang disebut-sebut berasal dari Tanjung Jabung Jambi.

Beragam Kain Tudung Manto (https://tudungmanto.wordpress.com)

Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai Suku Mantang, Suak, Tambus dan Nyenyah. Pada masa Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I ini, disebutkan bahwa perempuan Melayu di Daik ini telah mengenakan kain penutup kepala yang disebut melayah atau tudung. Keberadaan melayah sebagai penutup kepala diperkirakan sebagai hasil enkulturasi dengan budaya Arab dan India.

Corak dan Ukuran

Beragam pola motif Tudung Manto (https://bajaklautairtawar.tumblr.com)

Tidak jauh berbeda dengan kain tradisional Indonesia yang berkembang di daerah lainnya, corak yang ditampilkan pada tudung manto pada dasarnya juga sangat beragam dan memiliki keterkaitan erat dengan nilai kehidupan yang berkembang dalam budaya Melayu. Sedangkan untuk ukuran tudung manto berkisar 150-200 cm dan lebar sekitar 70-80 cm.

Berdasarkan strukturnya motif hias yang biasa diaplikasikan pada tudung manto secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut.

a. Tali Air Atas dan Bawah

Tali air atas dan bawah, yaitu motif berbentuk garis pada posisi paling luar yang dibuat di sekeliling bahan kain dan berfungsi sebagai pembatas motif. Tali air atas merupakan pembatas antara bunga kaki bawah dengan bunga tabur atau bunga pojok. Sementara itu, tali air bawah merupakan pembatas antara oyah dengan bunga kaki bawah.

b. Bunga Kaki Bawah

Bunga kaki bawah, yaitu motif hias yang dibuat antara tali air atas dan tali air bawah. Motif yang digunakan untuk bunga kaki bawah di antaranya awan larat dengan kelok paku, bunga pecah piring dengan kelok paku, itik pulang petang dengan bunga pecah piring, semut beriring, awan larat dan bunga tanjung, awan larat dengan pecah piring, kelok paku dan bunga kangkung, bunga cengkeh dengan kelok paku, wajik serta kelok paku dengan bunga kundur.

c. Bunga Tabur dan Bunga Pojok

  • Bunga Tabur

Motif bunga tabur merupakan motif bunga sekuntum (tunggal) yang bertaburan secara teratur pada bagian tengah kain, dan biasanya disusun menurut jarak tertentu yang disesuaikan dengan ukuran kain bahan tudung manto. Motif ini terdiri dari motif tampuk manggis, motif bunga teratai dengan kelok paku, motif bunga kundur, bunga kangkung, bunga melur, kuntum sekaki, bintang-bintang, bunga tanjung serta bunga cengkeh.

  • Bunga Pojok

Motif bunga pojok merupakan motif bunga tertentu biasanya lebih beragam dan lebih ditekatkan pada keempat sudut kain tudung manto. Motif ini terdiri dari motif kembang setaman, bunga melur, dan motif awan larat dengan buah setandan.

d. Motif Bulat Kecil

Motif berbentuk bulat kecil seperti titik yang disebut mutu berfungsi untuk memadati hiasan.

e. Motif Hiasan Pinggir

Motif hiasan pinggir yang terdiri dari tiga bentuk hiasan, yaitu oyah (jalinan benang emas dengan kelingkan yang berbentuk motif ombak), selari (motif ombak yang langsung dibuat menyatu dengan motif tali air bawah), dan jurai (terbuat dari manik-manik).

Motif-motif yang digunakan pada tudung manto tersebut kebanyakan dipilih berdasarkan pada pengamatan terhadap kesesuaian antara nilai dan konsepsi dengan kondisi alamiah motif. Dengan demikian motif hias tudung manto dapat dipisah dari konsepsi atau nilai yang dikandungnya, sesuai dengan perkembangan pikiran masyarakat Melayu yang memakainya.

Bahan Pembuatan Tudung Manto

Berbicara mengenai bahan dasar pembuatannya, jenis kain yang dapat digunakan untuk membuat tudung manto secara umum banyak berasal dari bahan kain kase, kain chifon, kain sari dan kain sutra. Sedangkan untuk benang hiasnya bisa berupa benang emas atau perak yang dapat memancarkan efek yang mewah dan glamor.

  1. Bila menggunakan benang emas jarum yang digunakan untuk menyulam motif hias hendaknya dibuat dari bahan perak.
  2. Bila menggunakan benang perak jarum yang digunakan untuk menyulam motif hias hendaknya dibuat dari bahan tembaga.

Proses Pembuatan Tudung Manto

Sebelum pembuatan tudung manto dimulai, mula-mula harus disiapkan terlebih dahulu seperangkat peralatan pemidang yang dilengkapi benang sebagai peregang. Bahan kain yang diregang ini mustinya juga dilapisi dahulu dengan siba (kain tebal) disekelilingnya lalu dibuatkan tali air berupa garis lurus yang berguna membentuk motif (corak).

Selesai melakukan persiapan selanjutnya barulah pekerjaan tekat mulai dilaksanakan sesuai motif. Proses tekat ini umumnya dilakukan melalui jahitan tangan para ibu-ibu pengrajin dengan kurun waktu yang bervariasi. Setelah penekatan selesai dilakukan, bahan kain siba dilepaskan dan diganti dengan benang lilit ubi untuk memasang oyah (renda).

  1. Pekerjaan membuat tudung manto diawali dengan menegangkan bahan kain dengan bantuan kayu pembidang, benang penarik dan kain bantu. Kayu pembidang biasa dibuat dengan ukuran lebar 80cm dan panjang 160 – 170cm.
  2. Untuk menarik bahan kain, biasanya digunakan benang wol yang kuat dan diikatkan pada kain bantu yang disebut kain siba yang terbuat dari beberapa lapis kain katun.
  3. Setelah bahan kain menjadi tegang, dilanjutkan dengan menekat kelingkan emas atau perak pada kain bahan sebagai hiasan. Menekat kelingkan berarti menyulam kelingkan pada kain bahan tudung manto dengan bantuan jarum sulam (jarum khusus yang dibuat dari perak murni), sehingga membentuk motif tertentu sesuai dengan pola yang telah dibuat.
  4. Motif hias yang pertama dibuat adalah garis paling luar dari motif tudung manto, yaitu dua buah garis yang dibuat disekeliling kain bahan yang berfungsi sebagai pembatas motif tengah tudung manto. Kedua garis ini biasa disebut dengan istilah tali air atas dan tali air bawah.
  5. Diantara kedua tali air terdapat motif yang disebut bunga kaki bawah. Motif ini dibuat saling menyambung disekeliling kain tudung manto. Selanjutnya barulah ditambahkan motif-motif lain untuk mengisi bidang yang kosong.
  6. Setelah penekatan atau pembuatan motif tudung manto selesai dilakukan, kain siba dilepaskan dan diganti dengan benang lilit ubi untuk memasang oyah (renda).

Selain memakai motif tradisional yang dipelajari turun temurun dan telah berlaku umum, saat ini pengrajin tudung manto dan tokoh budaya di Daik berusaha menciptakan beberapa motif kreasi yang digunakan sebagai hiasan bunga kaki bawah. Pembuatan motif tudung manto yang bersumber dari binatang harus disamarkan untuk menambah keindahan.

  1. Binatang yang dijadikan simbol atas makna tertentu sedemikian rupa dibuat secara abstrak.
  2. Tidak boleh ada bagian tubuh binatang tersebut yang dibuat dengan jelas.
  3. Pembuatan motif harus merujuk kepada segala sesuatu yang ada dalam lingkungan Melayu, dan mengandung makna tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan oleh pembuat motif.
  4. Motif yang dibuat berdasarkan sesuatu yang tidak diketahui oleh orang Melayu tidak akan diterima oleh masyarakat dan dianggap sebagai motif yang tidak memiliki makna.
  5. Penggabungan beberapa motif dasar juga boleh dilakukan selama pembuat motif mampu memaknai setiap motif secara tepat.

Pembuatan tudung manto yang masih bersifat sambilan dan home industri biasanya dapat memakan waktu yang cukup lama bahkan hingga sampai satu bulanan. Namun bila proses pembuatan tudung manto dikerjakan secara kontinyu alias berkelanjutan maka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya hanya sekitar 7 hari.

Warna Tudung Manto

Sebagai bentuk representasi sosial dan budaya masyarakat Kepulauan Riau setiap warna dasar kain yang digunakan untuk membuat tudung manto pada prinsipnya memiliki makna dan arti tersendiri yang mewakili status para pemakainya. Bahkan para pengrajin sekalipun tidak bisa memberikan warna tudung manto kepada sembarang orang.

  1. Warna kuning biasanya dipakai ibu-ibu yang berketurunan sultan dan raja. 
  2. Warna hijau untuk ibu-ibu bergelar syarifah dan tengku.
  3. Sedangkan warna hitam dipakai ibu-ibu atau masyarakat awam.

Filosofi Tudung Manto

Dari segi motif atau ragam hias yang ditampilkan, tudung manto memang dapat digolongkan sebagai warisan budaya bangsa yang memiliki tampilan sangat indah. Bahkan seperti yang sudah disinggung di awal, setiap corak atau motif yang dituangkan ke dalam sehelai kain tradisional tersebut sebenarnya juga mengandung makna yang sangat sakral.

Makna-makna yang ada pada tudung manto kebanyakan merupakan konsepsi tentang sesuatu yang dianggap baik, bernilai dan dicita-citakan oleh orang Melayu Daik. Selain itu pemilihan dan pemakaian motif hias tudung manto menunjukkan bahwa orang-orang Melayu Daik memiliki kepribadian kolektif yang khas.

Gambaran lengkap mengenai berbagai motif hias tudung manto serta makna yang dilekatkan pada setiap motif dapat anda temukan pada penjelasan berikut.

  1. Tali air sebagai sebuah simbol keutuhan dan persatuan, menuntut setiap orang Melayu Daik memiliki perasaan sebagai kesatuan kolektif manusia yang memiliki satu wilayah geografis, satu leluhur serta satu budaya. 
  2. Bunga kaki bawah dalam budaya Melayu memiliki arti melindungi masyarakat Daik dari pengaruh budaya asing yang dinilai tidak sesuai dengan budaya Melayu Daik.
  3. Tampuk manggis yang memiliki arti kejujuran dan ketulusan hati menuntut setiap orang Melayu Daik untuk selalu berkata jujur terhadap orang lain.
  4. Awan larat bagi orang Melayu Daik bermakna panjang usia dan keagungan. Di balik makna keagungan yang terkandung di dalamnya tersimpan pesan kerendahan hati, bahwa kekuasaan seorang pemimpin sangatlah terbatas, tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Allah Tuhan seluruh Alam.
  5. Bintang-bintang merupakan dasar bagi perilaku taat beribadah kepada Allah SWT sebagai pemilik alam semesta.
  6. Pecah piring memiliki makna saling berbagi, baik dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan masyarakat.
  7. Itik pulang petang menjadi dasar untuk selalu menjaga nilai ketertiban, kerukunan, kedisiplinan dan tidak mementingkan kepentingan pribadi
  8. Bunga cengkeh, bunga tanjung dan bunga kundur menuntut setiap orang Melayu menjaga harga diri dengan tidak berkata kotor, tidak bersikap sombong, tidak berkhianat serta tidak melanggar ketentuan adat Melayu.
  9. Bunga teratai merupakan tuntunan bagi seorang sultan agar memimpin dengan adil dan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Bunga teratai juga menjadi dasar hukum bagi rakyat untuk menyanggah sultan apabila tidak berbuat adil.
  10. Bunga melur memiliki makna kesucian dan ketulusan hati.
  11. Kuntum sekaki menjadi simbol rasa persaudaraan. Perasaan dan sikap bersaudara inilah yang mempersatukan masyarakat Melayu Daik, bukan tujuan-tujuan hidup, bukan pula sekadar kesamaan lingkungan tempat tinggal.
  12. Kembang setaman, jurai, dan oyah menjadi dasar bagi orang Melayu Daik untuk giat berusaha dan mendapatkan kekayaan serta keagungan.
  13. Jurai oyah memiliki makna kekayaan dan keagungan.
  14. Buah setandan yang memiliki arti kesuburan menjadi tuntunan bagi orang Melayu Daik untuk memiliki anak keturunan yang banyak, dalam istilah melayu disebut “beranak-pinak”.
  15. Kelok paku mengajarkan orang Melayu Daik untuk mencapai keagungan dan juga bersikap mengalah, serta rendah hati.

Diantara sekian banyak motif atau ragam hias yang ada motif kelok paku dan awan larat merupakan motif yang dominan dan paling banyak dipadukan dengan motif lain karena keduanya lebih mudah dibuat dan dipadankan nilai kerendahan hati dan pencapaian kekayaan serta keagungan menjadi nilai terpenting bagi orang Melayu Daik.

Penggunaan Tudung Manto

Tertarik untuk mengenakan tudung manto sebagai pelengkap gaya penampilan anda?. Penting untuk anda ketahu bahwa tata cara pemakaian tudung manto baik bagi seorang gadis maupun bagi perempuan yang sudah bersuami pada prinsipnya sudah diatur oleh adat setempat lho, jadi tidak boleh sembarangan.

  1. Bagi seorang gadis, tudung manto dipakai dengan cara mengalungkan tudung manto dileher dan bagian ujung tudung dibiarkan menjuntai di depan dada. 
  2. Bagi perempuan yang telah bersuami, tudung manto dipakai dengan cara menutup kepala dan bagian ujung tudung menjuntai di depan dada.
  3. Sementara, seorang janda boleh memakai tudung manto seperti seorang gadis dan boleh pula seperti perempuan yang telah bersuami.

Tudung manto ini juga hanya boleh dipakai dengan pakaian yang dinilai sepadan, yaitu baju kurung atau baju kebaya labuh yang bermakna “mengurung adat dan akhlak”. Untuk pemakaian tudung manto dengan baju kurung, dilengkapi dengan kain dagang, yaitu kain tenun yang dikenakan seperti mengenakan kain sarung.

Demikian pembahasan singkat mengenai motif, warna dan cara pembatan dari kain tradisional tudung manto khas Kepulauan Riau lengkap dengan makna filosofi yang tersembunyi di dalamnya. Meskipun saat ini pemanfaatan tudung manto telah mengalami banyak pengembangan namun ada satu yang tidak pernah berubah yakni unsur filosofinya.

Sumber: kebudayaan | fitinline

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.