Kain Sulaman Koto Gadang Sumatera Barat

Kain Sulaman Koto gadang (https://gaya.tempo.co)

Koto gadang yang merupakan nagari yang terletak dekat kota Bukittinggi, tepatnya di Kecamatan IV Koto,Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Nagari Koto Gadang terkenal dengan hasil karya tangan atau kerajinan penduduknya yang berbentuk sulaman ,yang dilakukan oleh para perempuan dan kerajinan perak yang dikerjakan oleh para pria.

Sejarah

Busana Pengantin (https://www.sociviews.com)

Keterampilan menyulam telah berkembang di Koto Gadang setidaknya sejak abad ke-16. Hampir setiap rumah tangga di Koto Gadang, terutama yang memiliki anak perempuan, pandai menyulam. Pengetahuan menyulam diwarisi secara turun temurun dari orang tua ke anak. Dalam pandangan adat, seorang perempuan dipandang terhormat jika peralatan yang dipakai saat menikah, seperti selendang, adalah hasil sulaman sendiri. Selendang bersulam Koto Gadang merupakan bagian kelengkapan pakaian adat. Oleh karena itu, maka setiap rumah tangga di Koto Gadang mempunyai sekurang-kurangnya satu helai selendang.

Busana Pengantin (https://www.sociviews.com)

Pada awalnya, selendang bersulam Koto Gadang hanya dipakai oleh orang Koto Gadang dan tabu apabila dipakai oleh orang di luar Koto Gadang. Bahkan, keterampilan menyulam tidak diajarkan kepada orang yang bukan asli Koto Gadang. Sulaman Koto Gadang mulai terkenal sejak berdirinya Kerajinan Amai Setia pada 1911. Didirikan oleh Roehana Koeddoes, sekolah tersebut mengajarkan berrnacam-macam keterampilan rumah tangga untuk perempuan, termasuk menyulam, baik untuk perempuan Koto Gadang maupun dari luar Koto Gadang. Lama kelamaan, selendang bersulam Koto Gadang dikenal oleh orang dan bahkan banyak pesanan akan selendang tersebut. Salah seorang rekan Roehana yang seorang saudagar, Hadisah memasarkan hasil sulaman Koto Gadang ke istri pejabat-pejabat Belanda untuk dipakai atau dikirimkan ke kolega mereka di luar Minangkabau, yakni Eropa. Sementara itu, rekan Roehana yang lain, Rukbeny memperkenalkan selendang bersulam Koto Gadang ke luar daerah Sumatra Barat.

Teknik Sulaman

Contoh Teknik sulaman Suji Caia

Di antara teknik sulaman Koto Gadang yang masih digunakan saat ini yakni teknik sulaman “Suji Caia” dan “Kapalo Samek“. Sulam suji caia merupakan permainan gradasi warna benang yang saling menyatu (bahasa Minang: caia, artinya cair) sehingga menghasilkan bentuk bunga yang tampak hidup. Adapun sulam kapalo samek (dari bahasa Minang, artinya kepala peniti) karena dalam pembuatannya benang dikait dan ditarik sampai ujung peniti sehingga menghasilkan bentuk bulat di atas kain.

Contoh Teknik sulaman Kapalo Samek (https://www.antarafoto.com)

Jenis Sulaman

Jenis sulaman Kota Gadang pun beraneka ragam,mulai dari Sulaman Suji, Sulaman Kapalo Samek, Terawang yang terdiri dari terawang kumbang, terawang kasiak, terawang filet atau papan, dll. Jenis sulaman tersebut dibuat untuk selendang, baju, tas, taplak meja, jilbab, sapu tangan, sarung Hp, dll.

Motif

Motif-motif yang dibuat umumnya motif flora seperti bunga matahari, bunga mawar, bunga melati, dan sebagainya. Selain motif-motif flora, terdapat motif yang berasal dari fauna yang telah digubah atau distilirisasi, seperti burung dan sejenisnya, tetapi cenderung tidak digunakan saat sekarang. Sebagaimana kerajinan Minangkabau pada umumnya, bentuk motif makhluk hidup tidak digambar secara utuh. Hal ini berkaitan dengan keyakinan masyarakat Minangkabau terhadap ketentuan agama Islam, yakni akan dianggap berdosa apabila menggambar makhluk hidup.

Peralatan dan bahan

Teknologi pembuatan sulaman Koto Gadang masih menggunakan teknologi tradisional. Peralatan utama untuk menyulam dikenal dengan nama pamedangan. Ukurannya yakni 200 x 60 cm. Pamedangan terbuat dari kayu pada bagian kerangkanya. Keempat kayu dirangkaikan menjadi empat persegi panjang dengan paku. Tinggi pamedangan yakni sekitar 30 cm mengikuti ukuran standar yang memudahkan bagi penyulam untuk duduk bersimpuh ataupun meluruskan kakinya di bawah pamedangan pada saat menyulam.

Untuk menyulam kain yang berukuran kecil, seperti saputangan, bunga baju, dan sarung bantal maka digunakan alat bernama ram. Ram berbentuk bundar dengan diameter berkisar 20 cm sampai 50 cm. Ram terbuat dari dua buah besi ataupun kayu yang dibentuk melingkar dengan menggunakan alat pengunci.

Peralatan utama dalam menyulam berikutnya yakni kelos. Kelos berfungsi untuk menggulung benang. Kelos terbuat dari batang kulit manis dengan panjang berkisar 15 cm sampai 20 cm. Jumlah kelos bergantung pada banyak warna benang yang akan digunakan.

Adapun alat bantu dalam membuat sulaman yakni karton manila atau kertas minyak untuk membuat pola, kertas karbon untuk memindahkan pola, jarum jahit untuk membuat aneka tusukan pada kain, dan gunting untuk memutus benang. Kesederhaan peralatan membuat proses pembuatan sulaman Koto Gadang menjadi lama dan rumit serta membutuhkan kepiawaian atau keahlian dari penyulam karena semata-mata mengandalkan pekerjaan tangan dan bukan mesin.

Sementara itu, bahan-bahan yang digunakan untuk menyulam yakni kain dan benang. Kain yang digunakan yakni semua jenis kain seperti katun, linen, sutra, atau wol. Ukuran kain yang standar adalah dua meter untuk panjang dan lebar yang bervariasi dari 50 cm hingga 75 cm, tetapi ukuran lebar yang standar adalah 50 cm. Adapun benang sulam dapat berupa benang mauline dan benang katun.

Pengerjaan

Pekerjaan membuat sulaman melalui beberapa tahap yakni membuat pola, memindahkan pola, memasang kain pada pamedangan, membuat sulaman, membuat renda, dan memasang renda. Setiap tahap dikerjakan oleh masing-masing orang karena orang yang ahli membuat sulaman kadang kurang mahir membuat renda. Oleh karena itu, pengerjaan sulam jarang sekali yang dilakukan oleh satu orang saja. Untuk selendang, pengerjaannya bisa melibatkan dua atau tiga orang.

Pola dibuat di atas karton manila atau kertas minyak menggunakan pensil atau pena. Biasanya, karton manila lebih sering digunakan karena karena dapat digunakan berulang-ulang dibandingkan kertas minyak. Ukuran kertas yang digunakan untuk pola yakni mengikuti ukuran kain untuk memudahkan proses pemindahan pola ke dasar kain. Namun, secara umum, pola yang dibuat hanya untuk setengah kain. Jika kain yang akan disulam berukuran 200 x 60 cm, berarti ukuran pola dibuat yakni sepanjang 100 x 60 cm dan yang setengahnya lagi dijiplak dari pola yang sudah jadi. Lamanya proses pembuatan pola bergantung pada kepiawaian perancang pola.

Setelah rancangan pola selesai, tahap berikutnya yakni meminahkan pola ke kain dengan kertas karbon berwarna mengikuti warna kain. Kertas karbon diletakkan di antara pola dan kain. Di sekeliling pola yang sudah diletakan di atas kain, dipasangi jarum pentul kain agar posisi pola terhadap kain maupun karbon tidak bergesar saat dilakukan penindisan. Penindisan dilakukan dengan menggunakan alat rader. Jika kain yang digunakan berbahan tipis dan berwama terang, pola dapat dijiplak langsung di atas kain dengan menempelkan pola ke kain menggunakan jarum pentul.

Sebelum memasang kain pada pamedangan, sekeliling kain bahan disambungkan dengan kain perca. Kain perca dilipat dan pertemuan lipatan tersebut disambungkan ke kain bahan yang telah digambar pola sehingga membentuk sebuah rongga. Bagian rongga kain perca berfungsi untuk memasukkan kayu atau bilah bambu sehingga kain bahan dapat diregangkan. Tepi kain perca diikat ke kerangka pamedangan dengan tali atau kain pengikat. Ketika mengikat, kayu atau bilah bambu di tepi kain diregang sekuat-kuatnya agar kain bahan terentang rapi sehingga memudahkan ketika menyulam. Jarak satu tali ke tali yang lain sekitar 30 cm. Tali pengikat diikat mati agar tidak mudah lepas saat menyulam.

Sumber: wikipedia

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.