Geopark Meratus Kalimantan Selatan

Matang Keladang di Geopark Pegunungan Meratus (https://meratusgeopark.org)

Geopark Meratus terletak di Provinsi Kalimantan Selatan, Geopark Pegunungan Meratus menjadi salah satu ikon pariwisata dan kebanggaan masyarakat Banjarmasin pada khususnya.

Geopark (Taman Bumi) merupakan wilayah geografis tunggal yang menyatu, dimana situs geologi dan bentang alamnya dikelola secara holistik. Dimana komponen pengembangan Kawasan Geopark meliputi Pengembangan Masyarakat, Pembangunan Ekonomi dan Konservasi.

Geopark Pegunungan Meratus (https://meratusgeopark.org)

Pegunungan Meratus merupakan suture mesotethys hasil benturan antara mikrokontinet Schwaner dan Paternoster pada Early Cretaceous yang emplacement nya dengan cara obduction of detached oceanic slab yang lalu naik kepermukaan karena ekshumasi Paternoster dibawahnya (Satyana, 2003 -HAGI & IAGI; Satyana & Armandita, 2008-HAGI, Satyana, 2010-IPA; Satyana, 2012-AAPG).

Ekshumasi adalah terangkatnya kembali suatu massa yang pernah tenggelam. Geopark Pegunungan Meratus memiliki aktivitas tektonik yang cukup kompleks, hal ini didasarkan atas 2 (dua) sutur tektonik yang dikaji melalui evolusi metamorfik oleh Soesilo dkk (2015) dan dibatasi oleh Mikrokontinen Paternoster.

Geopark Pegunungan Meratus (https://meratusgeopark.org)

Sejarah

Peta Geologi Kalimantan Selatan (https://meratusgeopark.org)

Kompleks batuan dasar di Kalimantan di bagian barat dan bagian tengah Kalimantan (termasuk pegunungan Schwaner) mewakili singkapan dasar benua terbesar di Indonesia. Batuan dasar adalah batuan di dasar lapisan stratigrafi yang umumnya lebih tua dari batuan di atasnya. Batuan ini biasanya mengalami metamorfosis bila terkena  panas.

Hasil metamorfosis batuan ini yang khas adalah batu pualam yang berasal dari  batu kapur,  bati sekis hijau yang berasal dari batuan vulkanik, batu gneis yang berasal dari batu pasir atau granit. Daerah batuan metamorfosis atau batuan dasar adalah jenis kerak benua yang sering dipengaruhi oleh batuan intrusi muda.

Kompleks batuan dasar Kalimantan terdiri dari atas sekis dan gneis yang tercampur dengan granit dari era Palae Aoikum dan Periode terseir membentuk daerah kristal yang sangat luas.

Batuan yang berasosiasi dengan pinggir lempeng Kalimantan mencakup opiolit kerak samudera dan melange. Potongan lantai samudera kerak samudera terdapat  beberapa tempat didaratan Kalimantan. Potongan-potongan ini dicirikan oleh susunan  batuan beku yang padat gelap tipe basa dan ultra basa dengan komponen granit.

Batuan melange adalah batuan campuran potongan-potongan batu dari berbagai  jenis dan ukuran yang berbeda dalam matrik berliat yang terpotong, yang menunjukkan adanya tekanan yang sangat kuat. Malange sering dikaitkan dengan proses pembentukan  jalur penunjaman.

Kalimantan tidak memiliki gunung api yang aktif seperti yang terdapat di Sumatera dan Jawa, tetapi memiliki daerah batuan vulkanik tua yang kokoh di bagian  barat daya dan bagian timur  Kalimantan. Hal-hal tersebut merupakan peninggalan sejarah geologis Indonesia yang mencakup berbagai masa kegiatan vulkanik dari 300 juta tahun yang lalu sampai sekarang.

Situs Geologi

Berbagai Tujuan Wisata di Geopark Pegunungan Meratus (https://meratusgeopark.org)

Pulau Kalimantan merupakan pulau terbesar yang menjadi bagian dari lempeng mikro Sunda. Menurut Tapponnir (1982) Lempeng Asia Tenggara ditafsirkan sebagai fragmen dari lempeng Eurasia yang melejit ke tenggara sebagai akibat dari tumbukan kerak Benua India dengan kerak Benua Asia, yang terjadi kira-kira 40 – 50 juta tahun yang lalu. Fragmen dari lempeng Eurasia ini kemudian dikenal sebagai lempeng mikro Sunda yang meliputi Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Geoarea Pegunungan Meratus

Geoarea merupakan kumpulan beberapa geosite yang berada dalam satu kawasan. Geoarea Pegunung Meratus terdiri dari: Geoarea Pegunungan Meratus yang merupakan hamparan ofiloit berumur Yura-Kapur Bawah, Geoarea Cekungan Barito yaitu Cekungan Barito berumur Eosen-Oligosen, dan Geoarea Cekungan Asem-asem yaitu Cekungan Asem-asem yang berumur Oligosen-Mosen Awal. Masing-masing Geoarea ini memiliki keunikan dan kekayaan alamnya yang berbeda dan menarik untuk dipelajari.

Geoarea Pegunungan Meratus terdiri dari geosite:

  • Air Terjun Lano
  • Air Panas Hantakan
  • Lok Lagah
  • Bukit Langgara
  • Air Terjun Sumargi
  • Bukit Kantawan
  • Air Panas Tanuhi
  • Air Terjun Kilat Api
  • Air Terjun Hanai
  • Air Terjun Barajang
  • Air Terjun Haratai
  • Air Terjun Mandin Tangkaramin
  • Air Terjun Gantungan Iwak dan Air Terjun Panas Lok Bahan
  • Air Terjun Balawaian
  • Tahura Sultan Adam Mandiangin
  • Matang Keladan
  • Air Terjun Bajuin dan Goa Marmer
  • Penambangan Intan Cempaka

Geoare Cekungan Barito

Cekungan Barito memperlihatkan bentuk cekungan asimetrik yang disebabkan oleh adanya gerak naik dan gerak arah barat dari Pegunungan Meratus. Sedimen-sedimen  Neogen diketemukan paling tebal sepanjang bagian timur cekungan Barito yang kemudian menipis ke barat. Secara keseluruhan sistem sedimentasi yang berlangsung pada cekungan ini melalui daur genang laut dan susut laut yang tunggal, dengan hanya ada beberapa subsiklus yang sifatnya lokal dan kecil.

Geoarea Cekungan Barito terdapat berbagai kumpulan geosite yang tak kalah uniknya. Di sana terdapat:

  • Goa Liang Tanah
  • Danau Biru
  • Goa Air Kukup
  • Goa Berangin
  • Bukit Sulingan
  • Bukit Pono
  • Batu Pagar-Benawa
  • Goa Liang Hadangan
  • Komplek Gunung Mandala
  • Air Panas Batu Bini
  • Bukit Batu Laki
  • Goa Baramban
  • Goa Batu Hapu
  • Bukit Kayangan

Geoarea Asem-Asem

Pada periode Eosen-Miosen (56-23) juta tahun yang lalu, terbentuklah Cekungan Barito dan Asam Asam. Dimana kedua cekungan ini diindikasikan sebagai satu kesatuan depocenter pada Eosen yang memiliki kecenderungan unit penciri litologi yang sama.

Geoarea Cekungan Asem-asem terdapat juga berbagai keunikan alam yang tidak boleh dilewatkan sebagai bagian dari Geopark Pegunungan Meratus.

  • Goa Liang Bangkai
  • Goa Liang Udud
  • Goang Perjuangan Hasan Basri dan Situs Arkeologi

Warisan Budaya

Geopark Pegunungan Meratus (https://meratusgeopark.org)

Geopark Pegunungan Meratus tidak sekedar menawarkan keajaiban geologi semata. Tujuan Geopark Pegunung Meratus sebagai perlindungan, pendidikan dan pembangunan kawasan secara berkelanjutan termasuk di dalamnya adalah menjaga kekayaan budaya (culturediversity).

Kekayaan budaya merupakan warisan bumi yang harus juga dimuliakan seperti yang tercantum dalam semboyan yang diantur Geopark Pegunungan Meratus. Ada keanekaragaman budaya asli Kalimantan Selatan yang bisa disaksikan ketika mengunjungi Geopark Pegunungan Meratus

Tato

Dalam kehidupan masyarakat Dayak tato adalah perlambang status sosial dari masyarakat itu sendiri. Masing-masing memiliki gambar tato yang berbeda sesuai dengan status sosialnya, maka dari itu melihat keunikan tato yang beragam di masyarakat Dayak menjadi sebuah pengalaman baru. Apalagi jika berkesempatan melihat proses pembuatan tato tradisional tersebut.

Senjata Tradisional

Masyarakat Dayak memiliki senjata tadisional khas yang disebut dengan Mandau dan Talawang.

Rumah adat

Ada berbagai jenis rumah adat yang terkenal di masyarakat Dayak. Nama-nama rumah adat Dayak adalah: Rumah Bubungan Tinggi, Rumah Gajah Baliku, Rumah Palimasan, Rumah Balai Rini, Rumah Tadah Alas, Rumah Gajah Manyusu, Rumah Balai Laki, Rumah Palimbangan, Rumah Cacak Burung, Rumah Lanting, Rumah Joglo Gudang atau Rumah Joglo Banjar, Rumah Bangun Gudang, Rumah Panjang, Rumah Balai dan Rumah Baloy. Itu tadi adalah jenis-jenis rumah adat yang bisa dilihat sebagai peninggalan budaya masyarakat Dayak.

Suku

Masih banyak suku asli Dayak Meratus yang tinggal di Geopark Pegunungan Meratus dan menjadi pengalaman tersendiri untuk bertemu dengan mereka. Suku Dayak Meratus terdiri dari: Dayak Pitap, Dayak Alai, Dayak Atiran dan Dayak Kiyu, Dayak Hantakan (Dayak Bukit), Dayak Labuhan Amas, Dayak Loksado (Dayak Amandit), Dayak Harakit (Dayak Tapin), Dayak Paramasan, Dayak Kayu Tinggi, Dayak Bangkalan, Dayak Sampanahan, Dayak Riam Adungan, dan Dayak Bajuin.

Kesenian dan Tarian

Kesenian dan tarian tradisional adalah daya tarik sendiri yang bisa mengundang siapapun untuk datang dan menikmati berbagai pertunjukan seni serta tarian. Ada beragam kesenian dan tarian tradisional yang sampai sekarang masih dilestarikan. Tarian dan kesenian asli dari Suku Dayak adalah Tari Mandau, Tari Talawang, Upacara Tiwah, Tari Kecet Ledo, tarian Suku Banjar dan Tarian Suku Dayak Bukit.

Batik

Kalimatan Selatan juga memiliki batik dengan ciri khas tradisional yang sangat unik yang dikenal dengan nama Batik Sasirangan. Batik Sasingaran adalah batik khas yang dibuat dengan teknik tusuk jelujur kemudian diikat tali raffia dan selanjutnya diberi pewarna alami. Untuk motifnya sendiri terdiri dari motif yang sangat dekat dengan masyarakat lokal: motif Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja, Kulit Kurikit, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Sari Gading, Kulit Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan, Turun Dayang, Kambang Tampuk Manggis, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Sisik Tanggiling, dan Kambang Tanjung.

Situs Arkeologi

Salah satu yang tidak boleh dilewatkan dari Geopark Pegunungan Meratus adalah mengunjungi berbagai lokasi penemuan situs-situs Arkeologi. Ada banyak penemuan Arkeologi yang ada di lokasi Geopark Pegunungan Meratus, seperti misalnya penemuan hasil atau produk kegiatan manusia purba berupa tulisan di dinding goa atau juga alat untuk berburu dan meramu. Di lokasi penemuan arkeologi tersebut hingga saat ini masih berlangsung berbagai penelitian dan proses evakuasi untuk mencari penemuan lebih jauh tentang kehidupan manusia purba di sana.

Situs Prasejarah

Salah satu situs prasejarah dapat ditemukan di hulu Sungai Riam Kanan yang berada di lereng sebelah barat daya Pegunungan Meratus yang dikenal dengan nama situs Awangbangkal. Di sana ditemukan beberapa peralatan dari batu. Situs Awangbangkal disebut sebagai situs budaya paleolitik pertama di Kalimantan.

Kemudian pada hulu Sungai Riam Kanan dari aliran Sungai Hajawa dan Paao terdapat situs Rantau Balai. Dalam situs Rantau Balai ditemukan berbagai penemuan berupa kapak perimbas-penetak, batu inti, seperih dan kerakal pangkas. Penelitian menunjukan bahwa alat-alat tersebut dengan teknik yang menunjukkan ciri budaya paleolitik.

Masih dari Riam Kanan, situs budaya paleolitik juga ditemukan di situs Pulau Sirang. Dari situs Pulau Sirang ditemukan kapak perimbas-penetak, batu inti, serpih, serut berpunggung tinggi, dan kerakal pangkas.

Situs Sejarah

Ada cukup banyak situs sejarah yang bisa ditemukan di Kalimantan Selatan. Seperti misalnya situs Sungai Sipei yang di sana ditemukan berbagai temuan sejarah berupa gerabah, keramik, terak besi, fragmen bata dan masih banyak lagi.

Lalu ada Situs Cindai Alus dengan temuan berupa gerabah, katambung, sendok kayu dan tempurung kelapa, wadah berbentuk bulat lonjong, senjata dari kayu, palu dari kayu, tugal, kulit kayu, anyaman tali ijuk, sirap, dan damar.

Kemudian situs Lok Udat dengan temuan yang sangat banyak dan tersebar dalam 5 sektor. Temuan tersebut berupa keramik (piring, mangkuk, sendok), stoneware (botol, wadah terbuka, dan tempayan), gerabah (wadah tertutup, tungku, dan kendi), botol kaca, logam, tempurung kelapa, ijuk, gaharu, peralatan dari kayu, (gasing, alat pemukul, kulit kayu, ember, lesung, dayung dan alat penyulam jala), logam, bijih besi, kerak besi, dan manik-manik.

Sebenarnya masih banyak situs arkeologi lain yang bisa dijelajahi ketika datang ke Kalimantan Selatan. Dengan berkunjung ke Geopark Pegunungan Meratus para pengunjung dapat berkeliling dan belajar banyak dari berbagai situs arkeologi yang tersebar di area Geopark Pegunungan Meratus.

Informasi lebih lanjut hubungi

Meratus Geopark
Jl. Dharma Praja No.1, Kawasan Perkantoran Pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan
Telp.:0511 477 0002
Fax.: 0511 477 0008 atau 0511 477 0009
Website: https://meratusgeopark.org
E-mail: info@meratusgeopark.org

Follow me!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.