Desa Adat Kenekes Lebak Banten

Desa Adat Kenekes dari atas bukit

Desa Adat Kenekes terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, berjarak 38-40 km dari Kota Rangkasbitung. Urang Kanekes, begitulah sebutan penduduk asli dari desa tersebut.

Dengan populasi sekitar 26.000 orang, mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri dari dunia luar. Selain itu, mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Baduy Dalam.

Desa Kanekes memiliki 56 kampung Baduy. Orang Baduy Dalam tinggal di Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Sedangkan orang Baduy Luar tinggal di 53 kampung lainnya. Kampung Baduy Luar sering disebut kampung panamping atau pendamping, yang berfungsi menjaga Baduy Dalam.

Sebuah tempat yang tepat untuk merasakan ketenangan yang jarang ditemukan di kota besar. Berjalan kaki di seputaran Badui sangat menyenangkan, khususnya bagi penyuka trekking.

Sejarah

Diperkirakan akhir abad ke-18 wilayah Baduy ini terbentang mulai dari Kecamatan Leuwidamar sekarang sampai ke Pantai Selatan. Wilayahnya yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C. Sekarang luas wilayah Baduy ini sekitar 5.102 hektar. Batas wilayah sekarang ini dibuat pada permulaan abad ke-20 bersamaan dengan pembukaan perkebunan karet di Desa Leuwidamar dan sekitarnya.

Suku Baduy sering disebut urang Kanekes. Baduy sebetulnya bukanlah nama dari komunitas yang ada di desa ini. Nama tersebut menjadi melekat karena diberikan oleh peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan Badawi atau Bedoin Arab yang merupakan masyarakat nomaden atau berpindah-pindah.

Dari Badawi atau Bedoin, kemudian nama itu pun bergeser menjadi Baduy. Orang Baduy, karena bermukim di Desa Kanekes, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Orang Kanekes. Namun karena istilah “Baduy” terlanjur lebih dulu dikenal, maka nama “Baduy” lebih populer ketimbang “Orang Kanekes”.

Aturan Adat yang Ketat

Salah satu peraturan keras suku Baduy Dalam yaitu dilarang menggunakan alas kaki, dilarang menggunakan alat transportasi, dilarang menggunakan alat elektronik, menggunakan kain warna putih/hitam yang ditenun atau dijahit sendiri dan pintu setiap rumah harus mengarah ke utara atau selatan.

Semua aturan adat yang berlaku adalah sesuatu yang harus dipatuhi karena sudah berlaku sejak turun temurun. Dari tidak bisa bermain handphone di dalam desa, tidak bisa mendokumentasikan diri maupun keadaan desa, boleh memfoto hanya sebatas gerbang desa saja.

Di desa ini, satu rumah itu satu lampu, dan sisanya, sudah jelas menggunakan obor. Jadi memang masih terjaga orisinalitas dan keasriannya. Dan obor yang menjadi alat penerangan masyarakat desa saat malam hari, merupakan hal unik yang membuat banyak orang penasaran.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penduduk Desa Kanekes Baduy memiliki usaha kecil-kecilan seperti produksi madu dan sepatu kulit. Tapi untuk sepatu kulit, jangan dikonotasikan dengan bahan kulit yang mahal, akan tetapi ini dari bahan yang murah meriah, namun mutu serta daya tahan sepatu tersebut dijamin tidak kalah dengan produk lokal lainnya di luar wilayah Baduy.

Satu lagi yang menjadi sandaran hidup masyarakat lokal di sana adalah dengan menjual madu hutan asli/orisinil. Biasanya penduduk mengambilnya dari sarang lebah yang ada di hutan kawasan lereng pegunungan Kendeng, dan membawa hasilnya untuk disuling di rumah sampai akhirnya ditempatkan ke wadah-wadah botol yang siap jual.

Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Buddha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari. Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apa pun”, atau perubahan sesedikit mungkin.

Sumber: Intisari | RRI

Follow me!

One thought on “Desa Adat Kenekes Lebak Banten

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.