Desa Adat Citorek Lebak Banten

Desa adat Citorek (https://albiansyah.com)

Desa adat Citorek teletak di Citorek, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa Citorek yang berada di dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini juga dikenal dengan kearifan lokalnya.

Kawasan adat Citorek mempunyai 5 wilayah adat atau disebut empat kasepuhan, yaitu Citorek Timur, Citorek Barat, Citorek Tengah, Citorek Selatan dan Citorek Sabrang. Kelima Citorek ini masing-masing dipimpin oleh kepala kasepuhan. Adapun pusat kelembagaan adat masyarakat Kasepuhan Citorek berada di Desa Citorek Timur.

Masyarakat adat Citorek masih memegang erat tradisi nenek moyak semenjak kampung ini dibentuk dahulu. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani, hingga memiliki tradisi Seren Taun sebagai bentu rasa syukur pasca panen. Seperti halnya masyarakat adat Cisungsang, masyarakat Citorek lebih terbuka dengan dunia luar. Akses jalan telah sampai ke Citorek sehingga bisa memudahkan para pelancong ke desa ini. Dari Kota Rangkas Bitung, kawasan adat Citorek berjarak kurang lebih 180 kilometer.

Sejarah

Suasana Desa adat Citorek (http://mochrizki92.blogspot.com)

Para leluhur mereka yang membentuk komunitas kasepuhan adalah para pemimpin Laskar Kerajaan Padjajaran yang mundur ke daerah selatan karena kerajaan dikuasai oleh Kasultanan Banten pada abad ke-16. Kasepuhan Citorek awalnya terletak di Kampung Guradog, Desa Curug Bitung, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Pada tahun 1946, Kasepuhan Citorek kemudian berpindah ke wilayah Citorek karena perintah leluhur. Nama Citorek disematkan, bermula saat awal pindah dan sampai ke kawasannya sekarang, adanya sungai berair deras yang tidak bersuara. Selanjutnya, sungai itu dinamai sebagai Sungai Citorek. Ci berarti air atau sungai dan torek berarti tuli.

Kelembagaan

Masyarakat adat Citorek menganut kepemimpinan tiga unsur yakni negara (lura atau jaro), karhuhun (kasepuhan atau kaolotan) dan agama (penghulu). Tiga unsur inilah yang kemudian membentuk sistem sosial yang menjunjung peninggalan leluhur dan selalu mengedepankan kelestarian lingkungan.

Aturan Adat

Masyarakat Citorek sampai saat ini masih memegang adat dari leluhur, berupa tradisi para warganya, pertanian dan kelestarian hutan adat.

Pertanian

Acara Tradasi Seren Taun di Desa adat Citorek (https://inovasidesa.kemendesa.go.id)

Menurut aturan adat, masa tanam panen di wewengkon adat Kasepuhan Citorek adalah 1 (satu) kali dalam setahun (tanam panen selama 6 bulan), sistem penanaman tersebut sangat efektif untuk memutus rantai hama. Lahan pertanian digunakan budidaya ikan untuk menunggu tanaman padi yang selanjunya.

Sistem pertanian, masih berpatokan pada ilmu astronomi. Kepala adat memberikan keputusan, kapan warga mulai menanam dan kapan kegiatan panen dilakukan.

Dikutip dari laman pancercitorek, jenis padi yang ditanam adalah varietas lokal yang dikumpulkan sejak dulu dan dibudidayakan secara turun-temurun, yang hingga saat ini telah mencapai 127 varietas. Masyarakat Tradisi Citorek memilih jenis padi yang akan ditanam berdasarkan kecocokan dengan musim dan ketinggian tanah.

Jenis padi tersebut bukan jenis unggul yang dapat dipanen beberapa kali dalam setahun. Jenis padi yang di tanam di Citorek adalah jenis padi tradisional yang biasa ditanam pada ketinggian 900-1200 mdpl antara lain, CindeAngsana; Gajah Pondok; Gajah Bareuh;  Sunlig; Leneng; Nete; Kui; dan Ceure’. Untuk ketinggian 600 mdpl biasanya ditanami padi Angsana, Cere Abah, Sri Kuning, Banteng, dan Pare Bandung. Sedangkan untuk jenis padi ketan adalah Ketan Bogor, Ketan Kidang, Ketan Bereum, dan Ketan Hideung. Namun yang paling dominan adalah jenis padi kewal, ketan bogor, ketan bilatung, ketan beledug, ketan larasri, ketan gadog, ketan hidung, ketan nangka, peteuy, seksek, kui, nete, sri kuning, raja wesi, cere, gantang.

Leuit menjadi wujud warisan budaya turun-temurun, sebagai tempat penyimpanan padi atau beras yang merupakan makanan pokok bagi masyarakat adat Citorek.

Konservasi Hutan Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek

Lingkungan alam paling primer bagi masyarakat Kasepuhan adalah hutan yang merupakan sumber kehidupan. Hutan di sekitar Citorek secara adat dibedakan sesuai dengan fungsinya. Di Citorek dikenal 3 (tiga) jenis hutan, yakni:

1. Leuweung Tutupan

Leuweung Tutupan atau Leuweung Geledegan arti harfiahnya adalah hutan tua, yaitu hutan yang masih lebat dengan berbagai jenis tumbuhan asli besar dan kecil, lengkap dengan semua satwa penghuninya. Hutan jenis ini sama sekali tidak boleh dijamah oleh manusia, dalam istilah secara umum oleh pihak perhutani terutama disebut hutan primer. Hutan jenis ini menurut Adat Kasepuhan Citorek tidak boleh dirusak karena dianggap sebagai pelindung kehidupan atau seumber kehidupan, intinya merupakan sumber mata air (hulu cai’). Contoh jenis hutan ini adalah kawasan hutan di dalam TNGH (Taman Nasional Gunung Halimun). Yang mengelilingi wilayah Citorek.

2. Leuweung Titipan

Leuweung Titipan merupakan Leuweung Kolot juga yang dikeramatkan. Hutan jenis ini sama sekali tidak boleh dieksploitasi atau diganggu. Bahkan hanya untuk melewatinya atau memasukinya saja cukup sulit. Setiap warga yang hendak lewat atau masuk ke dalam hutan jenis ini harus meminta ijin khusus dari Sesepuh (ketua adat).

Penggunaan hutan tersebut dimungkinkan apabila telah datang ilapat/wangsit dari nenek moyang kepada ketua adat. Adanya jenis Leweung ini lebih memudahkan pemerintah dalam melasakanakan  perlindungan hutan dan kawasannya yang sejalan dengan prinsip-prinsip Masyarakat Adat Citorek dalam melestarikan dan melindungi hutan dari segala bentuk pengrusakan dan bahkan penjarahan.

Leuweung Titipan di Citorek terletak di bagian timur, yakni di Gunung Ciawitali yang merupakan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH), dan di bagian barat Citorek, tepatnya di kawasan Gunung Nyungcung (Cibedug) dan Gunung Bapang. Leuweung titipan yang paling dominan adalah dikenal dengan hutan Sangga Buna dan hutan Lebak Cawene.

3. Leuweung Bukaan (Garapan)

Leuweung Sampalan atau Leuweung Bukaan merupakan hutan yang dapat dimanfaatkan warga untuk pembukaan ladang, pengembalaan ternak (kerbau), membuat petak sawah, mengambil kayu dan hasil hutan lainnya. Jenis hutan ini terletak di sekitar tempat pemukiman dan mengelilingi perkampungan Citorek. Jika pembukaan hutan tersebut telah melibatkan penanaman kayu albasia dan sejenisnya atau kayu keras lainnya dan terjadi pertumbuhan sekunder, maka hutan jenis ini disebut juga sebagai reuma ngora (blukar baru), dan reuma kolot (blukar tua) bagi yang prosesnya lebih lanjut.

Jenis hutan ini kondisi pada saat ini telah mengalami berbagai penggarapan seiring makin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan lahan-lahan tersebut untuk menanam berbagai jenis pohon produksi dan buah-buahan. Kebiasaan berladang secara berpindah-pindah telah ditinggalkan oleh masyarakat Adat Kasepuhan Citorek. Mereka dalam melaksanakan bercocok tanam kini telah menetap dan berusaha untuk mengindari kerusakan hutan dan ekosistemnya dari akibat pembukaan dan penggarapan lahan dari leweung bukaan tersebut.

Pembagian peruntukkan hutan secara adat tersebut menunjukkan bahwa dalan kearifan adat, disadari sepenuhnya fungsi hutan untuk konservasi. Dalam hal ini hutan sebagai hulu/sirah cai’, yang mempunyai pengertian secara harfiah adalah kepala air, yang dimaksudkan sebagai pelindung mata air. Secara tradisi/adat masyarakat Adat Kasepuhan Citorek menyadari bahwa hutan sangat berperan dalam mempertahankan kelangsungan mata air dan tersedianya air. Hal ini tidak berbeda dengan konsep ilmu pengetahuan modern.

Kegiatan Wisata

Wisata Seni Budaya

a. Leuit

Leuit di Desa adat Citorek (https://bangfirman.com)

Merupakan benda warisan budaya yang sangat penting, karena sebagai tempat penyimpanan padi atau beras yang merupakan makanan pokok bagi masyarakat adat Citorek, sebagai ketahanan pangan.

b. Seren Taun

Merupakan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Citorek tiap satu tahun sekali, biasanya di bulan Syawal. Tujuannya untuk menghormati dan sebagai tanda terima kasih kepada Yang Maha Kuasa dan Leluhur yang telah memberikan keberkahan dan kesuburan. Masyarakat Citorek setiap mengadakan perayaan Sunatan atau hajatan selalu dilakukan saat Seren Taun, perayaan sunatan dilakukan secara besar-besaran.

Proses Seren Taun di Wewengkon Adat Kasepuhan Citorek adalah sebagai berikut:

1. Ngabakti dan ngajiwa

Ngabakti merupakan kegiatan membawa/masrahkeun hasil pertanian berupa Padi kepada kasepuhan.  Ngajiwa merupakan konsep sensus jiwa warga adat dan harta benda dilingkungan Adat Kasepuhan Citorek.

2. Hiburan (Raramean)

Hiburan dilakukan pada malam hari sebelum perayaan seren taun, biasanya hiburan topeng, koromong, Angklung, dan kesenian moderen.

3. Memotong Kerbau

Motong kerbau dilakukan pagi hari dilakukan oleh para sesepuh/kokolot setelah itu daging tersebut yang disebut daging jiwaan dibagikan kepada seluruh masyarakat Citorek atau kepada tiap keluarga (susuhunan), semua masyarakat harus dapat bagian walaupun sedikit. Daging kerbau tersebut dibeli dari iuran masyarakat.

4. Ziarah (Ngembangan)

Ziarah ketanah leluhur atau ke karuhun.

5. Rasul serah tahun (Syukuran atau Selametan)

Syukuran dilakukan di Citorek Timur di tempat Kasepuhan, biasanya para kasepuhan/kokolot, jaro, panghulu berkumpul sambil bermusyawarah mengevaluasi hasil pertanian dari tahun ke tahun dan makan secara bersama-sama.

6. Hajatan (Sunatan)

Kebiasaan masyarakat Citorek setelah meakukan upacara Adat Seren tahun dilangsungkan dengan kegiatan hajatan secara masal, yang diiringi dengan arak-arakan (helaran).

7. Asup Leuweung

Pertanda warga Adat/Incu putu memulai kegiatan pekerjaan di sawah dan di ladang, acara ini biasanya diiringi dengan menabuh Goong gede.

Wisata Alam

Negeri di atas Awan

Menikmati pemandangan awan yang khas dan terlihat dari ketinggian Gunung Luhur yang berkisar 901 meter di atas permukaan laut (mdpl). Untuk menikmati pemandangan elok ini, wisatawan bisa berkunjung sekitar pukul 05.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB.

Follow me!

One thought on “Desa Adat Citorek Lebak Banten

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.