Prosesi Pernikahan Adat Tolaki Sulawesi Tenggara

Pernikahan adat Tolaki Sulawesi Tenggara

Suku bangsa Tolaki mendiami daerah yang berada di sekitar kabupaten Kendari, Kolaka dan Konawe. Suku Tolaki berasal dari kerajaan Konawe.

Ada berbagai upacara yang dilakukan sebelum upacara perkawinan adat Tolaki. Upacara-upacara itu dilakukan dalam rangka mematangkan perkawinan itu, mulai dari proses pemilihan jodoh hingga pada upacara peminangan. Proses ini melalui tahap-tahap tertentu.

Metiro (Melihat, Meninjau)

Bila seseorang bermaksud mengawinkan anak laki-lakinya dengan seorang gadis tertentu, maka orang tua pihak laki-laki mengadakan kunjungan pendahuluan ke rumah orang tua si gadis. Maksud kunjungan ini adalah untuk menyelidiki, apakah si gadis belum ada yang punya, dan apakah ada kemungkinan bila diadakan peminangan.

Dalam kunjungan pendahuluan ini akan diketahui apakah keinginan orang tua pihak laki-laki dapat dilanjutkan atau tidak. Bila terbuka kemungkinan, maka selanjutnya diadakan kunjungan yang disebut monduutudu.

Monduutudu (Mendalami)

Berarti menduga kedalaman, mengukur dalamnya air. Dalam hubungan dengan upacara sebelum peminangan dan perkawinan, monduutudu berarti orang tua pihak laki-laki atau utusannya mengadakan kunjungan secara resmi kearah orang tua pihak perempuan secara langsung.

Tujuannya untuk mengetahui dengan pasti apakah gadis yang bersangkutan belum bertunangan dan adakah kemungkinan bila orang tua pihak laki-laki mengadakan peminangan.

Tempatnya di rumah orang tua pihak perempuan
Waktunya biasanya malam hari.
Anggota-anggota Pelaksana; orang tua pihak laki-laki, orang tua pihak perempuan dan tolea (juru bicara) masing-masing.
Alat; kalo sara dan sirih pinang.

Busana pengantin wanita Tolaki (https://www.instarix.org)

Jalannya upacara:

Semua yang hadir tamu maupun tuan rumah duduk bersila di atas tikar dengan berhadap-hadapan. Juru bicara menyodorkan sekapur sirih dan pinang kepada tuan rumah.

Kemudian ia meletakkan perangkat adat berupa kalo serta uang minimal Rp. 100,- di tengah-tengahnya.

Ini merupakan pembukaan kata dan menanyakan apakah acara sudah dapat dimulai. Bila tidak ada lagi yang ditunggu, biasanya juru bicara pihak perempuan, menyatakan bahwa acara selanjutnya dapat dilaksanakan.

Tolea pihak laki-laki meletakkan lagi kalo-sara dan bungkusan sirih pinang, sambil mengemukakan kata-kata kiasan yang intinya mengungkapkan isi hati dan maksud kedatangan mereka. Pemuda yang akan meminang itu diumpamakan seseorang yang sedang mencari hutan belukar tempatnya berladang dan apakah orang tua si gadis mempunyai hutan belukar dimaksud dan apakah belum ada yang mengolahnya.

Tolea pihak perempuan akan menjawab bahwa memang mereka mempunyai hutan belukar dimaksud. Biasanya dikemukakan segala kesulitan yang akan dihadapi, sebagai hutan yang penuh onak dan duri, hutan yang masih muda dan sebagainya.

Persetujuan biasanya tidak diberikan pada saat itu, tetapi menunggu selama 4 hari. Kesempatan ini digunakan oleh orang tua pihak perempuan untuk berunding dengan kaum kerabat dan anak yang bersangkutan.

Setelah waktu 4 hari itu, orang tua pihak perempuan memberikan khabar kepada orang tua pihak laki-laki, atau juru bicaranya melalui seorang keluarga terdekat.

Bila lamaran diterima, maka dapat dilanjutkan dengan peminangan. Bila lamaran ditolak, maka orang tua pihak perempuan mengirim seorang utusan untuk mengembalikan bungkusan sirih pinang tadi disertai uang ponduutudu dua kali lipat sebagai adat penutup jalan kepada orang tua pihak laki-laki. Utusan ini biasanya adalah tua-tua adat yang pandai bertutur kata sehingga dia dapat menjelaskan dengan alasan-alasan penolakan yang meyakinkan kepada orang tua pihak laki-laki, agar mereka tidak tersinggung dan hubungan kekeluargaan tetap terjalin dengan baik

Mowawo niwule (Meminang)

Prosesi meminang (http://toegeto.blogspot.com)

Peminangan bertujuan untuk meresmikan perjodohan antara laki-laki dan perempuan yang bersangkutan. · Dengan diadakannya peminangan maka sudah ada kepastian untuk pelaksanaan perkawinan. Resminya pertunangan menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing pihak, juga orang tua kedua belah pihak.

Tempat; Peminangan pada umumnya dilakukan di rumah orang tua pihak perempuan.
Waktu; Biasanya dipilih hari yang baik dan dilakukan pada malam hari. Dipilihnya waktu pada malam hari,_ karena orang tidak sibuk lagi dengan pekerjaan, sehingga orang tua dan kaum keluarga dapat turut menyaksikan peristiwa peminangan tersebut.

Pelaksana; Orang tua pihak laki-laki, orang tua pihak perempuan dan tolea (juru bicara) masing-masing.
Alat-alat; Alat-alat yang dipakai dalam upacara peminangan adalah:

Kalo sara serta alat perlengkapannya. Bungkusan sirih pinang yang terdiri dari 40 lembar sirih, 40 biji pinang muda dan tembakau secukupnya. Sepasang pakaian wanita untuk pengikat pertunangan. Biasa juga ditambah dengan alat-alat kebutuhan wanita seperti: cermin, bedak, lipstik, wangi-wangian dan lain-lain.

Jalannya upacara:

Yang hadir dalam upacara peminangan adalah:

  • Orang tua kedua belah pihak.
  • Sanak saudara terdekat dari orang tua kedua belah pihak.
  • Tolea (juru bicara) orang tua pihak laki-laki dan orang tua pihak perempuan.
  • Kepala desa dan aparatnya dan kadang-kadang hadir juga Kepala Kecamatan.
  • Tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh adat.
  • Kadang-kadang hadir juga laki-laki yang bersangkutan.

Semua yang hadir duduk dengan tertib dan sopan selama upacara peminangan berlangsung. Tolea (juru bicara) dari kedua belah pihak duduk berhadap hadapan di tengah-tengah sidang adat dan masing-masing didampingi seorang perempuan tua dan dikelilingi oleh semua yang hadir. Tolea ini telah mengetahui hal-hal apa yang harus diungkapkannya dalam sidang adat, karena ia telah diberi kuasa penuh oleh orang tua kedua belah pihak.

Dapat saja terjadi sesuatu masalah yang perlu dirundingkan waktu acara berlangsung, justru itu orang tua kedua belah pihak harus hadir dan duduk dekat tolea masing-masing. Selanjutnya tolea pihak laki-laki mengangkat perangkat adat yang terdiri dari kalo-sara yang dilandasi kain putih, terletak di atas siwole, lalu diletakkan dengan sopan dan tertib di hadapan tolea pihak perempuan. Dalam kalo-sara itu terdapat selembar sirih dan sebiji pinang serta uang seperlunya (biasanya Rp. 100,-).

Pada tahap pertama ini tolea pihak laki-Iaki mohon restu dari orang tua pihak perempuan untuk menyampaikan adat lamaran formal dan menanyakan apakah orang tua dan sanak saudara perempuan yang hadir sudah lengkap atau belum.

Bila tolea pihak perempuan memberikan jawaban bahwa acara sudah dapat dilaksanakan, maka tolea pihak laki-laki menarik kembali perangkat adat tadi dan mempersiapkan adat pelamaran. Selanjutnya diadakan pertukaran niwule (tempat sirih pinang) antara perempuan yang mendampingi tolea kedua belah pihak, sebagai pengantar hubungan menurut adat antara kedua belah pihak. Sesudah itu tolea pihak laki-laki meletakkan lagi sejumlah uang (biasanya Rp. 100,-) di tengah lingkaran kalo-sara, lalu diangkatnya perangkat adat itu dan diletakkannya dengan tertib di hadapan tolea pihak perempuan, disertai dengan bungkusan sirih pinang yang sudah dipersiapkan. Bungkusan ini diletakkan di sebelah kanan perangkat adat, kemudian tolea pihak laki-laki mengucapkan kata-kata yang intinya menjelaskan bahwa pinangan yang diletakkan itu berasal dari ayah dan ibu si X (disebutkan nama kedua orang tua laki-laki).

Kedatangan mereka adalah dengan hati suci, tulus ikhlas dan penuh kesungguhan. Juga dijelaskan bahwa pinangan itu adalah sebagai susulan berdasarkan perjanjian terdahulu pada waktu monduutudu. Dengan pinangan itu orang tua pihak laki-laki ingin mendengarkan jawaban dari orang tua pihak perempuan. Setelah itu maka tolea pihak perempuan memberikan jawaban dengan mengemukakan hal-hal yang terlebih dahulu telah dirundingkan dengan orang tua pihak perempuan.

Busana sepasang pengantin Tolaki (https://www.instarix.org)

Kalau perninangan itu sudah diterima, maka tolea pihak perempuan penyatakan bahwa lamaran pihak laki-laki diterima. Kemudian tolea pihak perempuan menyebutkan berapa besarnya popolo dan sara-peana yang harus dibayar oleh pihak laki-laki. Popolo biasanya berupa kerbau, gong, lumpun sagu, barang pecah belah, kain kaci, kain sarung, uang logam, barang-barang perhiasan dan sebagainya.

Dalam pertemuan itu dirundingkan pula apakah dalam upacara perkawinan akan diadakan pesta atau tidak. Hal ini ditentukan oleh orang tua pihak perempuan. Bila mereka menghendaki diadakan pesta, maka disebutkan besarnya biaya dan kebutuhan pesta, yang terdiri dari : beras, kerbau atau sapi, uang tunai dan lain-lain.

Mengenai jumlah beras, kerbau dan uang tunai tidak ada suatu ketentuan yarig berlaku umum. Hal ini tergantung pada besar kecilnya pesta yang akan diadakan dan juga melihat kemampuan orang tua pihak laki-laki, sebab pada umumnya merekalah yang akan menanggung biaya pesta, sedangkan orang tua pihak perempuan hanya membantu dalam hal-hal tertentu. Bila jumlah biaya pesta yang diminta terlalu tinggi, maka tolea pihak laki-laki meletakkan sejumlah uang di atas kain putih dalam lingkaran kalo sara sebagai syarat untuk memohon keringanan. Demikian seterusnya sampai diperoleh kata sepakat dari kedua belah pihak.

Dalam tawar-menawar ini Kepala desa dan tua-tua adat mempunyai peranan yang penting, karena merekalal1 yang memberikan saran-saran, agar kata sepakat dapat dicapai.

Kemungkinan lain orang tua pihak perempuan menentukan, bahwa dalam upacara perkawinan tidak diadakan pesta. Dalam hal ini orang tua pihak laki-laki hanya membayar popolo dan suatu pembayaran yang disebut powada hala (wada = bayar, hala = utang); berupa benda atau uang tunai menurut jumlah yang ditentukan oleh orang tua pihak perempuan melalui pertimbangan Kepala Desa dan Kepala Adat.

Cara yang terakhir ini lebih ringan, pelaksanaannya juga lebih mudah. Sesudah itu dirundingkanlah mengenai waktu diadakannya pesta perkawinan. Cepat lambatnya diadakannya pesta perkawinan itu tergantung daripada orang tua pihak laki-laki. Jika mereka sanggup untuk membayar popolo dan semua kebutuhan pesta dalam waktu singkat, maka pesta dan upacara perkawinan itu dapat dilangsungkan dalam waktu singkat, begitu pula sebaliknya.

Pombesawuki (Pombebabuki)

Adalah barang-barang pemberian pihak laki-laki kepada tunangannya dan diterima oleh pihak perempuan itu sendiri sebagai tanda pengikat. Sejak itu pihak perempuan resmi menjadi tunangan laki-laki yang meminangnya.

Setelah selesai acara pombesawuki, maka laki-laki dan perempuan yang bertunangan itu diberi nasehat tentang hak dan kewajiban mereka selama masa pertunangan.

Upacara Pelaksanaan Perkawinan

Upacara perkawinan dilaksakan pada hari yang telah ditentukan bersama. Sebelum upacara perkawinan berlangsung orang tua pihak laki-laki membawa dan menyerahkan semua biaya dan kebutuhan pesta ke rumah orang tua pihak perempuan. Hal ini disebut mombe ‘ekangako onggoso yang berarti menyerahkan biaya untuk pesta kawin.

Untuk pelaksanaan upacara perkawinan dipilih hari/waktu yang baik dan menguntungkan. Biasanya dipilih bulan Syawal dan Zulhijjah pada hari keempat belas atau kelima belas menurut perhitungan terbitnya bulan di langit yang disebut molambu dan mata-omehe (bulan purnama).

Pengantin laki-laki beserta rombongannya pertama-tama disambut oleh keluarga pihak perempuan di pintu pagar, kemudian di pintu rumah. Tiap tempat penyambutan ini dijaga oleh kaum wanita yang menghalangi pintu masuk, sambil menghamburkan beras ketan kepada rombongan pengantin laki-laki. Mereka baru diperbolehkan melewati tempat penjagaan itu dengan syarat harus menyerahkan sejumlah barang atau uang kepada wanita-wanita penjaga pintu. Dengan penyerahan itu mereka dibebaskan untuk masuk ke tempat yang sudah disediakan.

Akad Nikah

Sehari sebelum acara akad nikah dilaksanakan, orang tolaki biasanya melakukan acara Malam Khataman Al-Quran. Mempelai wanita diwajibkan menyelesaikan khatam al-Quran. Tentunya ketika upacara ini digelar, tidak keseluruhan dibaca, mengingat waktu yang terbatas. Dipandu oleh pemuka agama dan adat, misalnya bacaan dimulai dari QS Adh-dhuha, hingga Al-Fatihah dan Al-Baqarah ayat 1-7.

Selanjutnya dilaksanakan upacara powindahtakoa yaitu upacara penyerahan popolo (mas kawin), sara-peana dan lain-lain oleh orang tua pihak laki-laki melalui juru bicaranya kepada orang tua pihak perempuan.

Tolea pihak 1aki-laki mempersilakan untuk memeriksa, apakah yang diserahkan itu sudah cukup sesuai dengan perundingan, ataukah masih ada yang kurang. Kemudiannya tolea pihak perempuan memeriksa sepintas lalu, dan kalau ternyata jumlahnya cukup sesuai dengan yang telah dirundingkan, maka tolea pihak perempuan menyatakan bahwa mereka menerima popolo itu.

Sebelum prosesi akad nikah atau ijab qobul  dilaksanakan, mempelai laki-laki mendapat ‘ujian’ dari penghulu yaitu membaca hafalan surat-surat pendek dari Al-Quran. Hal ini dilakukan, karena nantinya suami akan menjadi imam sholat bagi istri dan anak-anaknya, sekaligus imam dalam mengarungi kehidupan.

Resepsi Pernikahan

Resepsi pernikahan orang tolaki pada umumnya sama dengan acara resepsi penikahan lainnya.  Nah, yang membedakannya yaitu selepas resepsi yaitu kedua pasangan pengantin turun dari pelaminan lalu dilanjutkan hiburan dengan acara tarian bersama atau Tari lulo. Bergandengan tangan satu sama lain dan dilakukan secara massal, gerakannya pun memutar.

Sumber: Ebook, Adat Dan Upacara Perkawinan Daerah Sulawesi Tenggara, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Sulawesi Tenggara 1978/1979

Follow me!

One thought on “Prosesi Pernikahan Adat Tolaki Sulawesi Tenggara

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.