Prosesi Pernikahan Adat Dompu NTB

Pernikahan Adat Dompu Sumbawa NTB (https://graphixto.com)

Suku Dompu adalah salah satu suku yang terdapat di pulau Sumbawa kabupaten Dompu provinsi Nusa Tenggara Barat. Populasi suku Dompu diperkirakan lebih dari 80.000 orang. Menurut cerita asal-usul Dompu, dahulu kala di daerah ini merupakan salah satu daerah bekas kerajaan, yaitu Kerajaan Dompu. Kerajaan Dompu diperkirakan merupakan salah satu kerajaan tua. Arkeolog dari Pusat Balai Penelitian Arkeologi dan Purbakala, Sukandar dan Kusuma Ayu, dari hasil penelitiannya menyimpulkan Kerajaan Dompu, adalah merupakan salah satu kerajaan tua di wilayah timur Indonesia.

Beberapa rangkaian prosesi pernikahan adat Dompu sebagai berikut:

1. La Lose Ro La Ludi (Kunjungan Rahasia)

Upaya yang dilakukan oleh pihak orang tua untuk mencari jodoh putranya hanya diketahui oleh keluarga dekat. Hal ini masih bersifat rahasia dan Belum diumumkan kepda seluruh keluarga dan handai tolan. Karena itu kegiatan ini disebut “La lose ro la ludi” atau kegiatan yang hanya diketahui oleh keluarga dekat. Kadang-kadang kegiatan ini dikenal dengan istilah “Nari ro mpida” karena masih dirahasiakan.

2. Katada Nggahi (Mengikrar Kata Hati )

Setelah mendapat kepastian bahwa gadis tersebut belum dilamar atau menjadi tunangan pemuda lain, maka pihak keluarga pemuda akan melakukan kunjungan yang kedua ke rumah orang tua gadis  sebagai tindak lanjut dari la lose ro la ludi. Dalam kunjungan ini pihak orang tua pemuda biasanya akan diwakili oleh seorang tokoh adat yang disebut ” Ompu Panati” didampingi oleh beberapa orang keluarga dekat. Ompu Panati adalah seorang tokoh yang dipandang ahli dalam pinang meminang gadis. Dia biasanya juga ahli dalam berpantun dan bersyair.

3. Pita Nggahi

Guna meningkatkan hubungan baik antara keluarga, maka kedua keluarga terus meningkatkan kegiatan silaturahim. Kegiatan yang dilakukan oleh kedua keluarga tersebut dinamakan “Pita Nggahi” (mengulang kata) dalam pengertian memepererat hubungan kekeluargaan antara kedua keluarga.

4. Wa’a Mama dan Sarau

Wa’a mama artinya mengantar atau membawa bahan untuk makan sirih (mama) seperti nahi ( sirih), u’a (pinang), tambaku (tembakau), tagambe dan afu mama (kapur khusus untuk pemakan sirih). Dalam pelaksanaanya pihak orang tua pemuda bukan hanya mengantar bahan untuk makan sirih (mama) tetapi juga membawa berbagai jenis makanan dan kue tradisional.

5. Ngge’e nuru

Maksudnya calon suami tinggal bersama di rumah calon mertua. Ngge’e artinya tinggal, nuru artinya ikut. Setelah pria sudah diterima lamarannya dan  bila kedua belah pihak menghendaki, sang pria diperkenankan tinggal bersama calon mertua di rumah calon mertua. Dia akan menanti bulan baik dan hari baik untuk melaksanakan upacara pernikahan.Datangnya sang pria untuk tinggal di rumah calon mertua inilah yang disebut dengan Ngge’e Nuru. Selama terjadinya ngge’e nuru, sang pria harus memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang baik kepada calon mertuanya. Bila selama ngge’e nuru ini sang pria memperlihatkan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang tidak sopan, malas dan sebagainya, atau tak pernah melakukan shalat, lamaran bisa dibatalkan secara sepihak oleh keluarga perempuan. Ini berarti ikatan sodi angidiantara dua remaja tadi putus.

6. Mbolo Ro Dampa

Bila ngge’e nuru telah berjalan mulus, maka orang tua dan keluarga dua belah pihak akan mengadakan “Mbolo ro dampa” (musyawarah) untuk menentukan hari dan bulan yang baik untuk pelaksanaan nikah. Jumlah atau besar kecilnya mahar serta persyaratan lainnya semua diputuskan dalam mbolo ra dampa.

7. Nggempe

Setelah hari pernikahan diputuskan bersama, maka calon penganten putri harus melakukan ketentuan adat yang disebut “nggempe”. Pada tahapan ini calon penganten perempuan tidak leluasa lagi meninggalkan rumah untuk bergaul dengan teman – teman sebaya. Ia harus berada di pamoka (loteng) didampingi oleh seorang tokoh adat perempuan sebagai “Ina ruka” (inang pengasuh) bertugas untuk membimbing dan menasehati calon penganten. Selama nggempe calon penganten akan ditemani oleh beberapa teman gadis sehingga tidak merasa kesepian.

8. Wa’a Masa Nika

Sesuai keputusan Mbolo ro dampa, maka beberapa hari menjelang lafa (akad nikah), akan dilangsungkan upacara wa’a masa nika (pengantaran emas nikah) atau wa’a co’I (pengantaran mahar). Upacara dilaksakan sore hari sesudah sholat ashar, diikuti oleh keluarga, ompu panati,  ulama, tokoh adat dan para kerabat. Para peserta akan berangkat dari rumah orang tua penganten laki – laki, berbusana adat yang sesuai dengan status sosial masing – masing.

Busana pengantin wanita Dompu Sumbawa NTB (https://graphixto.com)

9. Kalondo Wei

Upacara pengantaran calon penganten putri dari rumah orang tuanya menuju uma ruka (rumah untuk penganten). Dilaksanakan pada bulan purnama sesudah sholat Isya. Calon penganten putri diturunkan (kalondo) dari atas rumah orang tuanya dan diusung ke uma ruka (rumah penganten). Diantar oleh sanak keluarga dan kerabat dengan berbusana adat yang beraneka ragam sesuai dengan status sosial dan usia pemakai.

10. Upacara Kapanca

Setelah calon penganten putri bersama rombongan tiba di Uma Ruka, maka akan dilanjutkan dengan upacara kapanca (penempelan inai). Upacara kapanca atau penenpelan inai di atas telapak tangan calon penganten putri dilakukan oleh para tokoh adat perempuan. Dilakukan secara bergilir diiringi dengan lantunan jiki kapanca (jikir kapanca) tanpa iringan musik. Syair jikir berisi pujian atas kebesaran dan kemuuliaan Allah dan Rasul.

11. Weha Nggahi

Sebelum prosesi Akad Nikah, calon penganten puteri meminta ijin kepada orang tuanya untuk menikah. Prosesi ini berlangsung di Uma Ruka, atau di tempat tidur yang sudah dirias. Inilah proses Weha Nggahi atau meminta restu ayah bunda sebelum menikah. Didampingi oleh penghulu, calon penganten puteri bersujud dan mencium tangan ayah bundayanya. Lalu memohon ijin kepada ayahnya.

“Ayah, ijinkan saya menikahkan dengan Si Fulan. Maafkan atas segala kesalahan dan khilaf selama ini.”

“Baiklah anakku, Aku ijinkan engkau menjadi istri Si Fulan. Semoga kalian mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.“

12. Lafa atau Akad Nikah

Merupakan acara kunci dalam pernikahan. Pada intinya akad nikah adalah upacara keagamaan untuk pernikahan antara dua insan manusia. Melalui akad nikah, maka hubungan antara dua insan yang saling bersepakat untuk berumah tangga diresmikan di hadapan manusia dan Tuhan.

13. Hengga Dindi dan Kelambu

Penganten pria bersama sara hukum didampingi ompu tua (Orang Yang Dituakan) dan ompu panati akan melaksnakan satu upacara adat yang dilaksanakan setelah upacara lafa yaitu Hengga Dindi dan Hengga Kelambu.

14. Nenggu (Persembahan Kesetiaan)

Kini tiba saatnya bunti mone untuk melangkah mendekati bunti siwe guna  melaksanakan upacara nenggu, yaitu mempersembahkan jungge ke sanggul sang bunti siwe tercinta. Upacara ini kadang–kadang disebut upacara cepe jenggu. Bunti mone mengawali upacara dengan mempersembahkan sekuntum jungge kala (Sanggul Merah) sebagai isyarat bahwa bunti mone seorang gagah berani, namun jungge kala lambang keberanian dibantik oleh bunti siwe.

15. Boho Oi Ndeu

Merupakan upacara memandikan penganten, dilakukan oleh ina ruka dan disaksikan oleh kaum ibu. Berlangsung pagi hari jam 09.00. karena itu upacara ini di namakan “boho oi ndeu” atau menyiram air mandi. Pada upacara boho oi ndeu, kedua penganten berdiri di atas “tampedan lihu” (dua jenis alat tenun tradisional), kedauanya berdiri menghadap kiblat. Badan mereka disatukan dengan ikatan “ero lanta” (benang putih). Kemudian di sekitar penganten dinyalakan lampu lilin.

16. Ngaha Nggula

Sesudah upacara boho oi ndeu, maka dilanjutkan dengan upacara adat yang di kenal dengan “Ngaha Nggula”. Sebenarnya upacara ini merupakan upacara do’a yang dihadiri oleh gelara, lebe dan para tokoh agama dan adat beserta sanak saudara.Dalam upacara ini para undangan akan menikmati makanan khas Mbojo yaitu “Mangge Mada”.Mangge mada sejenis lauk pauk yang dibuat dari isi perut kambing atau kerbau, yang di cincang halus. Kemudian dicampur dengan santan kelapa, diberi bumbu “ringa” (wijen) dan bumbu khas Mbojo yang lain.

17. Pamaco

Pada sore hari sesudah sholat ashar, dilanjutkan  dengan upacara adat “tawori”atau “pamaco”. Upacara ini berlangsung di uma ruka dihadiri oleh para sanak keluarga atau anggota keluarga saja. Dalam upacara tawori atau pamaco, seluruh keluarga akan datang memberikan sumbangan kepada penganten baru untuk dijadikan modal dalam mebina rumah tangganya.

Sumber: agamalokal2016pab4kel12

Follow me!

One thought on “Prosesi Pernikahan Adat Dompu NTB

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.