Batik Motif Wahyu Tumurun Solo

Nama pola berarti yang turun dari “Atas”. Yang dimaksud dengan “Atas” tentunya Tuhan Pencipta Alam Semesta. Tahukah kita sekarang mengapa Wahyu Tumurun begitu banyak peminatnya.

Sejarah

Pada tahun 1930, RA Setya dari kalangan istana Mangkunegaran ingin menciptakan sebuah pola batik yang melambangkan sesuatu yang umum atau dasar sehingga dapat digunakan oleh semua orang. Setelah selesai, pola tersebut dinamakan Kukila Wibawa, yang berarti burung yang berwibawa. Memang ada motif burung dalam pola tersebut, tapi dari namanya orang tidak dapat menebak makna yang ada dibelakangnya. Dan memang demikianlah kenyataannya. Ketika mulai dipasarkan, tidak ada tanggapan dari masyarakat, dan Kukila Wibawa dilupakan orang.

Kira-kira 30 tahun kemudian, seorang bangsawan lain dari Mangkunegaran, R.U. Surahmat Suryodipuro, menemukan pola yang sudah terlupakan orang. Rupa-rupanya ia dapat membaca pesan yang terkandung dalam pola itu dan merasa sayang apabila masyarakat tidak memperoleh kemanfaatannya. Untuk itu, pola yang sama tersebut diberi nama baru, nama yang jelas-jelas menyatakan apa yang terkandung dalam polanya, yaitu harapan akan rahmat Tuhan.

Begitu pola yang sama diperkenalkan kembali dengan nama baru, yaitu Wahyu Tumurun, masyarakat menyambutnya dengan positif. Segera saja Wahyu Tumurun menjadi sangat terkenal dan banyak diminati sampai sekarang.

Akhirnya, tercapailah keinginan RA Setya, pencipta pola, bahwa ia mampu menyusun pola yang melambangkan harapan dasar manusia, karena tidak ada yang lebih dasar daripada harapan akan turunnya rahmat Tuhan.

Follow me!

One thought on “Batik Motif Wahyu Tumurun Solo

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.