Garam dan Bakau Bertemu Menciptakan Harmoni di Pesisir Utara Lamongan Jawa Timur

Produk Garam rebus yang dihasilkan Arifin dengan Kelompok Usaha Garam Karya Lestari di Dusun Mencorek, Kecamatan Brondong, Lamongan, Jawa Timur.

Farihin, perempuan lanjut usia ini merebus garam untuk kali terakhir. Ibu delapan anak itu tinggal menghabiskan sekitar 10 karung kecil berisi garam mentah untuk dimasak menjadi garam siap makan. Setelah itu, pembuat garam sejak 1970-an itu tidak akan lagi membuat garam. “Tidak ada yang mau meneruskan. Ini masak garam terakhir,” katanya.

Membuat garam adalah warisan pekerjaan ibunya di Dusun Mencorek, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Secara turun temurun, sebagian warga dusun dengan sekitar 500 jiwa ini membuat garam secara tradisional sejak zaman kolonial Belanda. Namun, saat ini, generasi pemasak garam di kampung ini tersisa sekitar 5 rumah tangga saja. Padahal, seperti halnya Farihin, mereka adalah rantai penting dari usaha tambak garam rakyat yang menghubungkan antara petani di tambak dengan pembeli di pasar.

Ia menyulut api dari kertas bekas untuk membakar kayu yang akan memanaskan wadah persegi empat dari seng tempat memasak garam selama tiga jam. Sebelumnya, garam mentah hasil panen dari tambak yang masih kotor direndam air. Garam kristal ini kemudian disaring untuk mengendapkan kotorannya. Air bekas rendaman dituangkan ke wadah seng, setelah mendidih disusul garam hasil tirisan.

Diaduk beberapa kali sampai air menyusut dan garam mengkristal dan terlihat lebih bersih. Pondok dapur tempat menggodok garam penuh jelaga dan asap. Farihin berkisah, sebelum diberi bantuan wadah seng persegi ini ia menggunakan tong tanah liat. Waktu memasaknya bisa semalaman.

Para pemasak garam menjual langsung ke pasar. Dijual curah, menggunakan takaran wadah. Cara yang baik mengurangi bungkus plastik. Makin berkurangnya pemasak garam, selain ketiadaan penerus, juga karena harganya tak selaras dengan kenaikan harga sembako dan biaya kayu bakar.

Pembuat garam seperti Farihin dan ibu-ibu lainnya merupakan salah satu bagian dalam rantai produksi dan pemasaran garam tradisional di pesisir utara Lamongan. Namun, tak ada lagi generasi baru setelah para perempuan pembuat garam yang rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun tersebut. Begitu pula dengan para petani garam di tambak yang telah membuat garam sejak Republik ini bahkan belum merdeka.

Tanpa adanya generasi baru, para pembuat garam tradisional di pesisir utara Kabupaten Lamongan, Jawa Timur terancam mati dan tinggal cerita. Namun, seorang petani penerus berusaha menemukan cara-cara baru dalam memproduksi garam yang sudah diproduksi sejak zaman kolonial Belanda ini sekaligus melestarikan lingkungan pesisir dengan meremajakan ladang bakau.

Siasat Baru

Arifin sedang mengkristalkan air payau di tambak yang beratap agar bisa terus produksi saat musim hujandi Dusun Mencorek, Kecamatan Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Siasat pelestari garam rakyat sekaligus menghijaukan tambak dengan bakau

Sangat sedikit generasi baru yang masih mau memproduksi garam di pesisir utara Lamongan ini. Salah satu di antara pelestari pertanian garam di kawasan ini adalah Arifin Jami’an yang mendirikan Kelompok Usaha Garam Karya Lestari di Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan.

Pria yang awalnya loper buku Lulusan Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel ini bersiasat agar usaha tambak garamnya bisa eksis ketika pembuat garam lainnya makin hilang tanpa adanya pengganti. Arifin mencoba cara-cara baru untuk membuat garam di kampungnya, pekerjaan yang dia warisi dari bapaknya.

Tambaknya terlihat paling menonjol. Jika tambak-tambak lain hanya berupa ladang berisi air payau, milik Arifin berisi penutup lahan dari plastik bening tebal. Selama ini, pembuat garam tradisional hanya mengandalkan cuaca panas pada musim kemarau atau sinar matahari yang berlimpah. Begitu hujan, garam yang sudah diproses namun belum “matang”, akan hilang begitu saja.

Arifin mencoba cara baru, melindungi tambak-tambaknya dengan terpal plastik transparan. “Ini cara agara tetap bisa buat garam di musim hujan,” serunya. Jika hujan petani garam menghilang, ia berpikir kenapa sebelum hujan tak ditampung dulu air payau bahan baku dalam bak.

Dalam area satu hektar, sekitar luas 2000 meter adalah kotak atau tambak garam kristal, sisanya pematang dan kolam menuakan air. Arifin punya cara menyiapkan diri jelang musim hujan. Dia akan membaca tanda-tanda alam.

“Begitu tanda hujan dari Lamongan terlihat dari uap air laut Selatan sekitar 25 km, saya ngebel (nelpon) teman. Keluarga di Kecamatan Laren ditelpon. Selama 3 hari saya masukkan ke 2 unit bunker,” kisahnya.

Tak heran, ketika petambak garam lainnya libur, sementara ia kalau hujan masih bisa produksi. Arifin mengatakan sudah panen puluhan ton. Ia memerlukan lebih banyak modal untuk peralatan jika ingin menambah produksi.

Ia sudah mendapat dukungan pengadaan plastik penutup tambak. “Kalau ada lahan 50 hektar, tiap hektar berisi 300 kubik air tua, bisa panen garam 100 ton garam kristal. Kok ditinggal hanya karena hujan?” Arifin menggugah petani lain.

Ia ingin petambak garam lebih maju dengan inovasi baru. Upayanya juga dimulai dari kegagalan. Ia mulai mencoba pertama pakai terpal 2011 tapi gagal karena kandungan tanah tak cocok.

Lalu pernah ditutup mika tapi kemudian tahu uap bisa mengandung timbal berbahaya karena ia juga menampung air embunnya untuk diminum. Menurutnya kandungan H20 murni bagus bagi pencernaan dan harganya mahal sampai Rp 20ribu per liter.

Tak hanya memproduksi garam kristal langsung dari tambak, Arifin juga mengolahnya menjadi garam bubuk seperti yang dilakukan Farihin. Bedanya, Arifin menggunakan cerobong asap untuk proses pemasakan garam biar lebih sehat. Ia mengaku masih kalah dengan pabrik besar yang memakai alat canggih. Sehingga harga garam pabrik lebih murah.

“Kalah saing di warung, sebungkus dia jual Rp500, saya Rp800. Masyarakat ndak mau tahu dari mana, yang penting asin,” sesalnya.

Reboisasi Bakau

Gunung Menjuluk di kejauhan menjadi latar belakang bagi pemandangan di kawasan Solaria, Lamongan, Jawa Timur

Kawasan tambak di kawasan ini adalah tanah negara di sepanjang kanal buatan Sodetan Lamongan Ceria (Solaria). Bahan baku tambak garam didapatkan dari sodetan sungai Bengawan Solo yang disodet sejak zaman Belanda dan dilanjutkan pada 2000-an untuk mengatasi banjir di Lamongan bagian Selatan.

Di areal tambak yang juga sering jadi tempat nongkong ini, istrinya membuka warung kopi kecil. Dari sampah mi instan dijadikan polybag bibit. Ia tertarik pembibitan bakau dahulu baru menekuni produksi garam sejak 2011.
“Ini anugerah selama hampir 20 tahun ini. Saya ingin tanam saja dan diikuti orang,” ujarnya ketika ditanya bagaimana ia memulai menanami pematang tambak yang kini rimbun bakau.

Karena hanya ada tambak garam, lahan terlihat kosong dan angin kencang. Sementara di samping rumah ada jalur air laut pantai Utara Lamongan. Ia mendapat bibit sisa-sisa hutan bakau yang makin habis seperti Kecamatan Paciran, Mantren, dan Labuhan, Brondong.

Deretan mangrove di Solaria Lamongan, Jatim. menjadi rumah bagi ekosistem baru termasuk bangau, kepiting, dan ikan

Ia senang tanaman. Dari buku yang dibacanya ketika jadi loper buku, mangrove sumber kehidupan. Minimal dampaknya akan banyak kepiting, burung, ikan, dan cuaca sekitar tambak lebih sejuk karena bakau sumber oksigen.

Kemudian terbukti. Di area satu hektar lahan tambaknya saja terasa sejuk. Ada burung dan warga sekitar yang mencari kepiting. Ekosistem hutan bakau mulai tercipta.

Arifin mulai intensif tanam bakau sejak 2000. Kini tak hanya di tempat tinggalnya yang ditanami bakau juga sepanjang pematang desa dan pinggir kali. Di rumahnya terpajang piagam bertulis Kenduri Ageng Pengabdi Lingkungan KAPAL dari Gubernur Jawa Timur Sukarwo.

Pembuatan bibit makin banyak sampai 200 ribu setelah bantuan polybag. Ia mengatakan jika warga sekitar mau tanam boleh, sementara kalau pemerintah harus beli.

Sumber: mongabay

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.