Tipong Tipong Balong Jakarta

Pong Pong Balong

Permainan Tipong Tipong Balong, sering diucapkan dengan Pong Pong Balong, bisa dimainkan dimanapun, tanpa butuh peralatan tertentu, hanya perlu tangan, nyanyian dan semangat kebersamaan untuk bisa menikmatinya. Tak ada pemenang, dan tak ada pesakitan. Namun justru disitulah keistimewaan dari permainan ini tersembunyi. Ada nilai luhur yang terendap dibalik kesederhanaan permainan ini.

Selain tentang kesederhanaan, “Pong Pong Balong” juga mengajarkan tentang iba dan tenggang rasa dan utamanya tentang kebersamaan. Dimana setiap pemain harus saling berempati dengan pemain lain dalam menjalankan skenario permainan yang tak kompetitif ini. Pola interaksi antar pemain yang cukup semangat juga memberikan kesadaran akan perbedaan pada anak-anak yang memainkannya.

Cara Bermainan

Pong Pong Balong (https://www.youtube.com)

Jalannya permainan sebagai berikut : sejumlah dua atau beberapa anak meletakkan kepalan tangan bersusun diatas satu dan lainnya. Anak yang penghabisan menggeser salah satu kepalan tangan dan telapak tangannya tetap ditempat, sambil menyanyikan lagu pong pong balong tadi. Pada sebiji, maka kepalan tangan yang paling bawah dibuka, kemudian nyanyian diulangi lagi. Kembali pula dibuka sebuah kepalan tangan, begitu seterusnya.

Setelah semua kepalan tangan terbuka, tersusun di atas satu dengan lainnya, maka anak yang tangannya paling atas, mencocokkan jari telunjuknya di sela–sela jari–jemari tangan yang tersusun itu, sampai menyentuh alas meja tempat mereka bermain atau tanah kalau permainan dilakukan di tanah. Saat mencocokkan jari tersebut, ia berkata “korek korek pantat ayam tembus apa belon”.

Lagu permainan untuk mengiringi permainan menyusun kepalan tinju secara vertikal. Syair lagunya adalah sebagai berikut :

Pong pong balong,
Ketipung balong,
Bunyi merak bunyi sampi,
Pece telor sebiji.

Kalimat pertama dan kedua tidak mempunyai makna apa–apa kecuali untuk mendapatkan irama sajaknya saja. Bunyi merak bunyi sapi memang dapat dimaklumi artinya, namun hubungannya dengan kalimat terakhir, hanyalah untuk memberikan irama bersajak pada huruf akhir berbunyi i. Sedangkan pece telor adalah bahasa khas Jakarta, yang artinya ialah pecah telor, dan yang dimaksudkan dengan telor itu, adalah kepalan tinju yang dibuka.

Sumber: lembagakebudayaanbetawi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.