Mengenal Dadung, Tradisi Lisan di Jambi

Tradisi Dadung Jambi (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Kabupaten Batanghari, Jambi memiliki sejumlah tradisi yang unik dan memikat. Sebut saja tradisi Dadung yang berkembang di Kecamatan Pemayung. Selain sebagai media hiburan, Dadung juga digunakan untuk memikat hati perempuan.

Dadung merupakan ungkapan hati dari pemuda-pemudi kepada seseorang disukainya dengan cara melantunkan syair yang berbentuk seperti pantun. Biasanya, Dadung dimainkan pada saat malam pengantin. Dadung digunakan sebagai hiburan para gadis yang sedang memarut buah kelapa dan menghibur ibu-ibu yang sedang memasak.

Sejarah

Dadung sudah ada sejak kira-kira 300 tahun yang lalu, pada masa kerajaan Danau Bangko, anak sungai Batanghari di Lubuk Ruso. Pada zaman tersebut putri Raja Danau Bangko ditunangkan dengan seorang anak Raja di Hilir Jambi. Selesai akad nikah, kedua mempelai masih amat canggung karena belum saling mengenal, sehingga tidak betah duduk bersanding di pelaminan. Para orang tua mereka melihat keadaan tersebut merasa malu, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya saat perasaan tidak menentu, sang Putri menuangkan isi hatinya dalam suatu pantun dengan cara berdadung. Mempelai putra ternyata tidak tinggal diam dan membalas pantun sang putri dengan cara yang sama. Pada akhirnya terjadilah satu dialog dengan cara berbalas pantun.

Versi lainnya, para orang tua dari Desa Lubuk Ruso, bahwa dadung adalah nama seseorang rakyat biasa yang jatuh hati dengan seorang Putri Raja, dan berkeinginan menjadi pendampingnya. Oleh karena Dadung dari kalangan rakyat biasa, maka si putri tidak mau menerima keinginan Dadung. Dengan rasa kecewa mendalam, Dadung melantunkan isi hatinya melalui alunan syair-syair yang sangat menyentuh. Dari alunan syair-syair yang didendangkan terus oleh Dadung. Akhirnya si Putri tersentuh dan luluh hatinya. Singkat cerita kemudian si Putri menerima pinangan dari Dadung.

Musik pengiring

Alat-alat musik yang digunakan dalam musik dadung ini adalah: biola, suling, kelintang kayu, gendang panjang, gendang melayu, gong dan beduk.

Tradisi Dadung Jambi (http://atljambi.blogspot.com)

Pertunjukan

Kesenian dadung ini diawali dengan instrumen biola dengan nada panjang, kemudian dijawab dengan instrumen suling. Kedua jenis instrumen ini dimainkan dalam birama bebas atau biasa disebut rubato. Keduanya saling bergantian sahut menyahut dengan improvisasi berdasarkan interpretasi terhadap tema pokok yang terdapat pada musik dadung. Pada bagian lain, gendang panjang dan gendang Melayu memberikan kode tiga pukulan yang menandakan akan masuk pada hitungan birama. Setelah kelintang kayu memainkan nadanya barulah vokal terdengar yang diikuti oleh biola. Melodi lebih didominasi oleh biola dengan nada-nada yang panjang. Vokal masuk pada hitungan pertama kemudian pada hitungan kedua biola mengikuti irama vokal.

Sedangkan syair pantunnya sebagi berikut:

Kainlah putih panjang semilan
Dibuat budak pungikat tanggo
Biaklah putih lalang digenggam
Namunlah idak berubah kato
Pulaulah pandan jauh di tengah
Dibalik pulau angsolah duo
Ancurlah badan dikandung tanah
Budilah baik dikenang jugo.

Dadung biasanya dimainkan dari pukul sebelas malam hingga menjelang waktu subuh dengan memainkan beberapa langgam yang ada. Langgam Dadung yang dipertunjukan yakni Dadung Mambang, Dadung Dendang Sayang Rantau Peti, Dadung Ketimang Banjar dan Semawo.

Tradisi Dadung masih ada di Desa Lubuk Ruso, Kuap, Senaning, Olak Rambahan, Teluk, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari dan sekitarnya. Meskipun masih ada namun telah kehilangan panggungnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.