Mengenal Batombe, Tradisi Lisan di Sumatera Barat

Kesenian Batombe (https://blogkulo.com)

Nusantara kaya akan tradisi lisan, salah satunya adalah tradisi berbalas pantun di masyarakat Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batanghari, Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatra Barat yang disebut Batombe.

Nagari Abai sendiri terletak di Solok Selatan, sebuah Kabupaten di Sumatera Barat yang mendapat julukan “Nagari Seribu Rumah Gadang”. Satu di antara penyebab julukan itu adalah karena keunikan rumah gadang Abai tersebut.

Rumah Gadang 21 Ruang terbilang unik dibanding rumah gadang lainnya, karena rumah gadang yang memiliki 21 ruang sehingga bangunannya sangat panjang, juga menjadi cikal bakal kesenian Batombe. Pada umumnya, rumah gadang di Minangkabau hanya memiliki 9 ruang.

Istilah “batombe” berasal dari kata dasar tombe yang artinya tonggak atau tiang, musyawarah, dan persatuan. Kata dasar tombe mendapat awalan ba- sehingga dapat diartikan memiliki tonggak, melakukan musyawarah, dan membentuk persatuan.

Sejarah

Asal-usul munculnya tradisi lisan batombe dilatar belakangi oleh kisah pembangunan Rumah Gadang 21 Ruang. Konon, sebelum masa penjajahan Belanda, wilayah yang kini dikenal sebagai Nagari Abai masih sangat sunyi. Perkampungan yang ditempati oleh masyarakat juga masih dikelilingi oleh hutan belantara. Rasa cemas dan was-was menyelimuti penduduk di perkampungan itu.

Sewaktu-waktu, hutan yang ada di sekitar mereka bisa saja menjadi ancaman karena di dalamnya hidup bermacam satwa liar, seperti harimau, babi hutan, dan ular. Selain itu, rumah tempat mereka berlindung juga belum memadai. Untuk mengantisipasi hal tesebut, pemuka adat, tokoh agama, dan pemuka masyarakat melakukan musyawarah. Dari hasil musyawarah itu diperoleh kesepakatan untuk membangun rumah adat milik masyarakat Nagari Abai yang kelak dikenal dengan nama Rumah Gadang 21 Ruang.

Awalnya, Batombe merupakan kegiatan yang dilakukan orang-orang di Nagari Abai untuk mengusir kepenatan saat bergotong royong membangun Rumah Gadang 21 Ruang.

Musik Pengiring

Batombe biasanya diiringi dengan irama musik yang gembira. Alat musik yang dipakai biasanya adalah rebab, gendang, dan talempong. Ketiga alat musik tradisional itu digesek, ditabuh, dan dipukul dengan cepat mengikuti irama dendang dan tarian yang dibawakan oleh para pemain batombe.

Pertunjukan

Kesenian Batombe (https://infartikel.blogspot.com)

Pertunjukan biasanya dimulai setelah pembacaan pantun pembukaan oleh penghulu (datuk). Pertunjukan dilanjutkan oleh para pemain batombe yang saling berdendang (berbalas pantun), isi pantun batombe adalah nasihat orangtua kepada anak, etika pergaulan, percintaan, dan sebagainya, dengan menggunakan bahasa Minangkabau dialek setempat. Berbalas pantun dilakukan secara bergantian. Pertama dilakukan oleh laki-laki, kemudian disusul oleh perempuan. Usia para pemain tidak memiliki batasan tertentu, syaratnya hanyalah mahir menggubah pantun.

Para pemain batombe terdiri atas laki-laki dan perempuan yang duduk membentuk formasi lingkaran. Satu orang laki-laki lagi berada di tengah lingkaran sebagai pedendang. Kemudian mereka berdiri, melakukan gerakan berputar dan kemudian berbalik, tetapi tetap dalam bentuk lingkaran sambil berdendang. Gerakan penari laki-laki sesekali memukul bagian celananya yang komprang dengan kedua tangan, seolah bertepuk tangan sehingga menimbulkan suara khas, “bug, bug, bug.”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.