Mengenal Adat Timbang Kepala Kerbau Banyuasin Sumatera Selatan

Sedang melakukan penimbangan Kepala Kerbau

Timbang kepala kerbau adalah tradisi menimbang pengantin dengan kepala kerbau hasil sembelihan dalam masyarakat Banyuasin. Tradisi ini terutama dikenal di Pangkalan Balai, ibu kota kabupaten Banyuasin dan sekitarnya, serta dilaksanakan setelah akad nikah sebagai rangkaian dari upacara perkawinan.

Adat ini dilakukan karena orang tua pengantin dahulu ketika anaknya masih kecil mempunyai nazar (janji kepada Allah yang wajib dibayar) atau dalam bahasa Banyuasin disebut Sangi. Sangi biasanya diucapkan pada saat anaknya masih kecil. Orang tuanya berjanji akan menyembelih kerbau (kebo) dan kepalanya akan ditimbang  dengan anaknya pada saat nanti si anak sudah mendapatkan jodoh.

Sejarah

Tidak diketahui kapan dan siapa yang pertama kali mengenalkan tradisi ini. Menurut dokumen yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud), timbang kepala kerbau sudah berlangsung ratusan tahun dalam masyarakat Banyuasin, Sumatera Selatan dan masih terus dilestarikan. Keberdaanya sebagai warisan budaya takbenda Indonesia ditetapkan oleh Kemdikbud pada 2018.

Nazar

Sangi itu muncul dari hati biasanya karena orang tua sulit mendapatkan anak. Saat belum punya anak itulah dia bermohon pada Allah Yang Maha Kuasa, jika nanti dia dikarunia keturunan akan melakukan adat Timbang Kepala Kebo. Niat penyembelihan hewan untuk membayar Sangi ini bisa saja dengan hewan yang lain seperti kepala kambing atau kepala sapi, tetapi nama adat ini tetap disebut Timbang Kepala Kebo.

Perlengkapan

Perlengkapan yang disiapkan untuk pelaksanaan Timbang Kepala Kerbau ini :

a. Timbangan, dahulu terbuat dari kayu sekarang dari besi

Kepala kerbau, yang sudah disembelih sebelum acara timbang kepala kerbau. Kepala kerbau kadang diganti dengan kepala kambing atau kepala sapi karena niat orang tuanya ingin  menimbang anaknya dengan kepala kambing atau sapi, tetapi acara adatnya tetap disebut Timbang Kepala Kerbau.

b. Beras kunyit atau beras yang sudah direndam dengan kunyit diparut.

Beras kunyit (https://fbrs14.blogspot.com)

c. Kain panjang tujuh helai untuk dilewati pengantin saat menuju tempat acara adat Timbang Kepala Kerbau

Berbagai macam hasil pertanian yang digantungkan dekat acara adat ini seperti rempah-rempah, padi, kelapa tumbuh, kunyit, serai, nenas, ketupat, dan lain-lainnya yang ditampilkan di atas timbangan sebagai simbol filosofi doa orang tua agar anaknya yang saat itu jadi pengantin ini akan memperoleh rezeki yang banyak dan halalal toyiban (yang halal dan baik).

Pelaksanaan upacara adat Timbang

Para petugas yang terlibat dalam pelaksanaan upacara adat Timbang Kepala Kerbau yang dipandu oleh para pemangku dan sesepuh adat Kabupaten Banyuasin.

  • Orang tua pengantin
  • Pengantin yang dibayar nazar timbang kepala kerbau.
  • Ibu-ibu bertugas menghamburkan beras kunyit ke atas kepala pengantin yaitu sebelah kiri 7 orang dan sebelah kanan 7 orang saat pengantin berjalan di atas kain tujuh helai.
  • Ulama yang akan membacakan doa.
  • Pembaca syair dan pantun yang langsung menjadi pembawa acara adat tersebut.
  • Tentunya disaksikan, sanak keluarga, para undangan serta masyarakat Banyuasin pada umumnya.
  • Tata laksana Timbang Kepala Kerbau biasanya dimasukkan dalam acara resepsi pernikahan setelah akad nikah (ijab kabul) selesai.

Saat pengantin wanita digiring orang tuanya menuju tempat upacara adat ini petugas pembaca syair membacakan syair pantun seperti ini:

Selendang Delima
Pegi keutaaan ngambekla bulo
Bulo dibuet belengkar sangi
Penganten di timbang kepala kebo
Bak embiknyo meyerla sangi.

Pengantin wanita duduk di ayunan untuk ditimbang

Sebelum pengantin sampai di ayunan untuk ditimbang, penganten disuruh berjalan menuju timbangan melewati tujuh helai kain yang di pasang di lantai. Saat itu  pembawa syair membacakan dua kali Kalimasyahadat dan mendoakan agar anak yang ditimbang kepala kerbau ini berakhlak mulia, berperilaku baik dan menjadi anak yang soleh. Contoh syairnya begini:

Serambe
La illa ha illaloooh, Muhammad da rosulullloh
Beperau ke Tanjung Putuuus,
Ngambik la kumpai makanan sapi,
Anak kami paling la begus,
Dudok di buek bejontai kaki,
Lai illa ha illalooh Muhammad da rosululloh (seluruh hadirin ikuti syair ini)

Sesampainya dekat timbangan, pengantin yang diniatkan orang tuanya untuk ditimbang, lebih dulu naik untuk ditimbang. Kemudian dia diayun oleh orang tuanya dari belakang, sebagai simbol anak harus menyadari betapa orang tua sangat sayang kepadanya sejak kecil hingga dihantarkan sampai ke pelaminan atau menikah. Ia dituntut tetap patuh dan tidak melawan kepada orang tua, menyayangi serta selalu mendoakan orang tua meskipun nanti sudah meninggal dunia. Saat diayun orang tuanya dengan timbangan kepala kerbau itu pembaca syair juga membacakan pantun yang berbunyi:

Batang jeremi ditebang roboh
Ditebang roboh ditijak kaki
Semoge kamu panjanglah jodoh
Panjang jodoh murahlah rezeki (sesepuh adat yang dipercaya lalu menghamburkan beras kunyit ke atas kepala pengantin)

Kemudian dibacakan pantun lagi yang berbunyi:

Beras makanan burung serindit
Dimakan cacing di tanah
Pengantin sudah ditebar beras kunyit

Pemandu adat membaca doa (langsung pemangku adat membacakan doa biasanya sampai dua kali doa) untuk pengantin. Setelah itu anak yang ditimbang kepala kebo (bersama suami/istrinya) harus sujud kepada kedua orang tuanya.

Pemandu adat membacakan do’a

Kemudian kedua orang tua disuruh duduk berjejer, lalu pengantin wajib menyalami kepada kedua orang tua dan mertuanya, sambil menyampaikan ucapan terima kasih telah dibesarkan dan diberi kasih sayang dan selalu diperhatikan oleh orang tua. Suasana seperti ini biasanya diwarnai isak tangis orang tua maupun  pengantin bahkan undangan yang hadir  juga ikut terharu menangis).

Orang tua kemudian menggiring pengantin yang melewati (memijak) kain tujuh helai sampai ke panggung pelaminan. Sepanjang jalan melewati kain tujuh helai itu sebagai tanda telah selesai melakukan prosesi Timbang Kepala Kebo lantunan syair-syair nasihat lainnya dibacakan terus oleh pembawa acara baru kemudian orang tua menyerahkan pengantin kepada panitia resepsi pernikahan di panggung pelaminan guna diadakan perayaan acara resepsi pernikahan layaknya acara nasional pada umumnya.

Sumber: E-book  Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Banyuasin

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.