Candi Koto Rao Rao Selatan Pasaman Sumatera Barat

Temuan bata di Candi Koto Rao tahun 2008

Candi Koto Rao terletak di Jorong Tanjung, Lubuk Layang, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Candi Koto Rao dapat dihubungkan dengan keberadaanPrasasti Kubu Sutan. Jika dilihat dari susunan katanya, dapat disimpulkan bahwa Sri IndrakilaPartawapuribhaya adalah sebuah tempat yang besar atau sebuah kompleksyang di dalamnya terdapat sebuah tempat atau bangunan bernamaPitamahadara. Selain itu, juga dapat disimpulkan bahwa Raja Bijayendra‐sekhara beragama Hindu. Hal ini dapat dilihat dari nama tempat suci yangdijadikan sebagai lokasi pemujaannya, yaitu Pitamahadara dan SriIndrakila Partawapuribhaya.Pertama, kata “pitamahadara” berasal darigabungan dua kata, pitamaha dan dara. Pitamaha adalah nama lain DewaBrahma, sedangkan Dara adalah istri. Jadi, Pitamahadara dapat diartikansebagai tempatpemujaaan atau peristirahatan bagi istri Dewa Brahma.

Sebagaimana diketahui Dewa Brahma adalah salah satu dewa yang hidupdalam pantheon agama Hindu.10Kedua, kata “Sri Indrakila Parwata‐puribhaya” dapat diartikan sebagai istana di gunung yang bercahayatempat bagi Dewa Indra. Sebagaimana diketahui, Dewa Indra adalah dewayang juga hidup dalam kepercayaan agama Hindu.

Satu hal yang menarik untukdihubungkan lebih lanjut dengan temuan candi di Bukit Koto Rao, yaituaktivitas pemujaan yang dilakukan oleh Raja Bijayendrasekhara di Sri Indrakila Parwatapuribhaya. Sebagaimana telah disebutkan, Sri Indrakila Parwata‐puribhaya dapat diartikan sebagai istana di gunung, sehingga dapatdiperkirakan bahwa tempat pemujaan tersebut berada di atas gunung ataubukit. Sementara itu, sampai saat ini belum pernah diketemukan candi diperbukitan atau di gunung di dekat lokasi prasasti ini, kecuali Candi KotoRaoyang ditemukan di Bukit Koto Rao baru‐baru ini. Berdasarkan hal tersebut,dapat diperkirakan bahwa situs percandiandi Bukit Koto Rao inilah yangdimaksud sebagai Sri Indrakila Parwatapuribhaya dalam Prasasti Kubu Sutan.

Temuan struktur bata di Candi Koto Rao tahun 2008

Jika asumsi tersebut di atas benar, maka pertanggalan relative dan latar belakang keagamaan dari situs percandian di Bukit Koto Rao pundapat ditentukan perkiraannya, yaitu pada akhir abad ke‐14 M dan berlatarbelakang agama Hindu. Dengan dapat diperkirakannya pertanggalan relatif dari situs di Koto Rao ini, dapat dikatakan bahwa situs candi khususnya dan situs masa klasik lainnya di Kabupaten Pasaman mempunyai pertanggalan yang sezaman dan eksis pada abad ke‐14 M. Sementara itu, berdasarkan analisis komparatif di atas, fungsi situs percandian di Bukit Koto Rao pun dapat diperkirakan, yaitu sebagai tempat pemujaan bagi istri Dewa Brahma. Namun demikian, belum dapat diperkirakan istri Dewa Brahma manakah yang dipuja di tempat ini, apakah Aditi, Sarasvati (Brahmi, Satarupa, Savitri) ataukah Gayatri?

Situs percandian di Bukit Koto Rao diperkirakan merupakan bangunan suci sebagaimana dimaksudkan dalam Prasasti Kubu Sutan, Sarasvati, Gayatri, Aditi ataukah lainnya. Situs percandian di Bukit Koto Rao mempunyai latar belakang agama Hindudan berasal dari abad ke‐14 M. Situs percandian di Bukit Koto Rao juga yaitu Sri Indrakila Parwatapuribhaya, yang didirikan sebagai pemujaan untuk istri Dewa Brahma (Pitamahadara). Namun demikian, belum dapat diketahui istri Dewa Brahma yang mana dimaksud, apakah merupakan situs pemukiman kuna. Hal ini ditunjukkan oleh temuan gerabah dan makam kuna. Selain itu, juga didukung oleh kepercayaan dan keyakinan masyarakat Rao bahwa asal‐usul mereka berasal dari Bukit Koto Rao.

Masyarakat pendukung situs percandian di Bukit Koto Rao merupakan masyarakat yang sudah mempunyai sistem pengetahuan dan sistem teknologi yang cukup tinggi sesuai dengan kondisi zamannya. Hal ini salah satunya ditunjukkan oleh adanya keterpaduan antara aspek teknis dengan aspek keagamaan dalam pemilihan lokasi pendirian candi di Bukit Koto Rao. Selain itu, juga ditunjukkan oleh teknologi yang digunakan dalam pendirian struktur pondasi candi. Masyarakat yang pernah bermukim di kawasan Bukit Koto Rao telah mengalami peralihan dua zaman agama, yaitu dari Hindu ke Islam. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan temuan makam kuno yang berasal dari tradisi Islam (berorentasi utara‐selatan). Proses peralihan dua zaman agama tersebut di atas salah satunya mengakibatkan masyarakat yang pernah bermukim di kawasan Bukit Koto Rao mempunyai perilaku budaya (cultural behavior) berupa berupa pengunaan ulang (reuse) terhadap bagian‐bagian bangunan Hindu (candi) untuk bangunan‐bangunan Islam (makam).

Kondisi Candi Koto Rao yang tertutup oleh poho

Struktur yang ditemukan pada ekskavasi penyelamatan tahun 2008 membentuk denah seperti huruf U dengan ukuran panjang pada masing-masing sisi 3 m dan tinggi struktur 1 m atau sekitar 10-11 lapis bata. Ukuran bata yang membentuk struktur, rata-rata berukuran panjang 30 cm, lebar 17 cm dan tebal 7 cm. Tim ekskavasi penyelamatan tahun 2008 menyimpulkan bahwa struktur yang ditemukan adalah struktur dinding pondasi dari bangunan candi, kesimpulan ini didapat dari analisis dari profil bata candi, struktur bata semuanya polos, tidak ditemukan bata berprofilyang biasa ditemukan pada bagian atap, tubuh maupun kaki candi. Karena tidak ditemukannya bata berprofil maka tim menyimpulkan bahwa struktur yang ditemukan adalah bagian pondasi dari candi. Walaupun sisi keempat tidak ditemukan, bentuk candi dapat diperkirakan berdenah bujursangkar dengan ukuran 3 x 3 m. Secara keseluruhan bentuk struktur candi berupa piramida terpancung, bata disusun satu per satu secara vertikal dan horizontal, pada bagian dalamnya berupa gundukan tanah yang dipadatkan. Melihat kondisiini, memungkinkan dalam pembuatannya terlebih dahulu dibuat gundukan tanah baru kemudian bata disusun satu per satu pada dinding gundukan tersebut, susunan bata semakin ke atas semakin ke dalam sehingga membentuk seperti piramida.

Sumber: ebook Deskripsi Cagar Budaya Tidak Bergerak Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.