Taman Nasional Way Kambas Lampung

Harimau Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK)

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terletak di Kecamatan Labuan Ratu, Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

Sejarah

Berdasarkan sejarah Pendirian kawasan pelestarian alam Way Kambas dimulai sejak tahun 1936 oleh Resident Lampung, Mr. Rookmaker, dan disusul dengan Surat Keputusan Gubernur Belanda tanggal 26 Januari 1937 Stbl 1937 Nomor 38.
Pada tahun 1978 Suaka Margasatwa Way Kambas diubah menjadi Kawasan Pelestarian Alam (KPA) oleh Menteri Pertanian dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 429/Kpts-7/1978 tanggal 10 Juli 1978 dan dikelola oleh Sub Balai Kawasan Pelestarian Alam (SBKPA).

Kawasan Pelestarian Alam diubah menjadi Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) yang dikelola oleh SBKSDA dengan luas 130,000 ha. Pada tahun 1985 dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 177/Kpts-II/1985 tanggal 12 Oktober 1985. Pada tanggal 1 April 1989 bertepatan dengan Pekan Konservasi Nasional di Kaliurang Yogyakarta, dideklarasikan sebagai Kawasan Taman Nasional Way Kambas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 444/Menhut-II/1989 tanggal 1 April 1989 dengan luas 130,000 ha.

Kemudian pada tahun 1991 atas dasar Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 144/Kpts/II/1991 tanggal 13 Maret 1991 dinyatakan sebagai Taman Nasional Way Kambas, dimana pengelolaannya oleh Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Way Kambas yang bertanggungjawab langsung kepada Balai Konsevasi Sumber Daya Alam II Tanjung Karang. Dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 185/Kpts-II/1997 tanggal 13 maret 1997 dimana Sub Balai Konsevasi Sumber Daya Alam Way Kambas dinyatakan sebagai Balai Taman Nasional Way Kambas.

Ekosistem

Taman nasional way kambas Berada pada ketinggian antara 0—50 m dpl dengan topografi datar sampai dengan landai, kawasan ini mempunyai 4 (empat) tipe ekosistem utama yaitu, ekosistem hutan hujan dataran rendah, ekosistem riparian, ekosistem hutan rawa, ekosistem mangrove dan ekosistem hutan pantai.

Penciri utama dari keberadaan ekosistem tersebut ditandai dengan formasi vegetasinya. Selain itu terdapat juga tipe-tipe ekosistem peralihan seperti ekosistem riparian. Ekosistem tersebut terbentuk dikarenakan terjadinya perubahan dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya. Sebagai contoh adalah formasi vegetasi dari daerah darat ke air.

Ekosistem hutan hujan dataran rendah mendominasi di daerah sebelah barat kawasan. Daerah ini terletak pada daerah yang paling tinggi dibandingkan dengan lain. Jenis yang mendominasi adalah meranti (Shorea sp), rengas (Gluta renghas), keruing (Dipterocarpus sp), puspa (Schima walichii) dan banyak jenis lain. Ekosistem tersebut rata-rata mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, dengan stratum tajuk yang lengkap, sehingga jenis flora dan faunanya cukup beragam

Ekosistem riparian di way kambas bukan ekosistem lazim yang telah dikenal selama ini. Ekosistem ini berada pada zona peralihan antara air dan darat, sehingga belum dikategorikan kedalam ekosistem yang ada. Dengan semakin luasnya wilayah atau badan air persatuan tempat, maka kemungkinan semakin besar ekosistem tersebut. Beberapa jenis yang biasa terdapat pada zona peralihan antara lain putat, dan beberapa jenis tanaman merambat/liana.

Ekosistem hutan rawa di way kambas terutama menempati pada daerah sekitar sungai terutama terletak di wilayah timur kawasan. Ekosistem tersebut terbentuk karena adanya daerah atau wilayah yang tergenang air tawar relatif lama yang dikarenakan wilayah tersebut lebih rendah dari wilayah sekitarnya. Jenis tanah tersebut mempunyai tingkat keasaman yang cukup tinggi, proses dekomposisi relatif lama. Tingkat keanekaragaman hayati cukup tinggi. Satwa jenis burung lebih suka pada ekosistem hutan rawa. Jenis dominan untuk hutan rawa antara lain Nephenthes atau kantung semar, Palm merah, pandan dan nibung. Salah satu ciri utama vegetasi rawa mempunyai akar lutut dan tunggang.

Ekosistem hutan mangrove/payau di way kambas terletak disekitar pantai dimana terdapat pergantian/salinasi antara air asin dan tawar secara teratur. Umumnya terletak disepanjang pantai timur kawasan TNWK. Ekosistem ini mempunyai peran atau manfaat nyata dalam mendukung sumber kehidupan manusia. Sebagai tempat hidup dan berkembang biak bagi jenis-jenis ikan dan udang laut. Sehingga menjaga tingkat ketersediaan suplai ikan dan biota lainnya. Di sekitar Pantai TNWK telah berdiri ratusan bagan yang dipergunakan untuk menangkap cumi, pemasangan jaring untuk menangkap ikan sekitar pantai, dengan demikian hal tersebut merupakan tanda bahwa dengan adanya TNWK memberikan lingkungan laut yang baik sehingga biota laut dapat hidup dengan baik.

Ekosistem hutan pantai di way kambas atau lebih dikenal pantai saja, ini dicirikan dengan kondisi lingkungan yang terletak di dekat laut namun tidak mendapat genangan baik air laut dan tawar. Dengan jenis tanah biasanya didominasi oleh pasir. Ekosistem hutan pantai ini khususnya terletak di sepanjang pantai timur TNWK. Salah satu penciri hutan pantai antara lain ketapang (Terminalia cattapa), cemara laut (Casuarina equisetifolia).

Flora

TNWK merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar, dan hutan pantai di Sumatera. Kawasan ini terdiri dari hutan rawa air tawar, padang alang-alang/semak belukar dan hutan payau/pantai dengan jenis floranya yaitu: Api-api (Avicenia marina), Pidada (Sonneratia sp.), Nipah (Nypa fructicans), gelam (Melaleuca leucadendron), Salam (Eugenia polyantha), Rawang (Glocchidion boornensis), Ketapang (Terminalia cattapa), Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Pandan (Pandanus sp.), Puspa (Schima walichii), Meranti (Shorea sp.), Minyak (Diptorecapus gracilis), Merbau (Instsia sp.), Pulai (Alstonia angustiloba), Bayur (Pterospermum javanicum), Keruing (Dipterocarpus sp.), Laban (Vitex pubescens) dan lain-lain.

Fauna

Pada salah satu sungainya, TNKW menyimpan mentok Rimba (Cairina scutulata) yang terancam punah.

TNWK yang terletak di sebelah utara Lampung ini identik dengan gajah, walaupun sebetulnya taman nasional itu juga tempat hidup satwa langka lain seperti habitat Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Gajah Sumatera (Elephas maximus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Tapir (Tapirus indicus), Beruang madu (Helarctos malayanus), Anjing hutan (Cuon alpinus), Rusa (Cervus unicolor), Ayam hutan (Gallus gallus), Rangkong (Buceros sp.), Owa (Hylobates moloch), Lutung Merah (Presbytis rubicunda), Siamang (Hylobates syndactylus), Bebek Hutan (Cairina scutulata), Burung Pecuk Ular (Anhinga melanogaster) dan sebagainya.

Mentok Rimba atau Cairina scutulata (https://id.wikipedia.org)

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:

1. Resort Way Kanan

  • Kegiatan pengamatan burung (birdwatching). Adanya jenis burung langka seperti jenis mentok rimba (Cairina scutulata), beberapa jenis rangkong, elang dan banyak jenis burung lainnya, menjadi daya tarik utama kawasan ini.
  • Safari menyusur sungai (Way Kanan- Kuala Kambas, Kali Biru)
  • Variasi kegiatan berupa atraksi budaya nelayan, monitoring habitat buaya muara, monitoring habitat harimau sumatera
  • Pengamatan Siamang (Symphalangus syndactylus)
  • Jungle Tracking
  • Berkemah

2. Pusat Latihan Gajah (PLG)

  • Jungle tracking/safari night yaitu menyusuri lokasi PLG way kambas dan sekitarnya dengan menunggang gajah
  • Atraksi gajah yaitu melihat berbagai keahlian gajah seperti joget, parade, menendang bola, melangkahi deretan manusia yang terbaring dan lain sebagainya.
  • Naik kereta gajah, gajah berenang dll.

3. Penelitian dan penangkaran badak sumatera dengan fasilitas laboratorium alam dan wisma peneliti, Rawa Kali Biru, Rawa Gajah, dan Kuala Kambas.

Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)

4. Atraksi budaya di luar taman nasional.

  • Terdapat kelompok kesenian Reog Ponorogo di Desa Plang Ijo
  • Terdapat Kelompok kesenian Tari Lampung di Sukadana
  • Terdapat Situs Purbakala Pugung Raharjo (1 jam perjalanan)
Musim kunjungan terbaikbulan Juli s/d September setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi:
  • Jakarta – Tanjungkarang (pesawat ± 45 menit)
  • Bandar Lampung – Metro – Way Jepara (roda empat ± 120 km ± 2 jam)
  • Branti – Metro – Way Jepara (roda empat ±100 km ± 1 jam 30 menit)
  • Bakauheni – Panjang – Sribawono – Way Jepara (roda empat ± 170 km ± 3 jam)
  • Bakauheni – Labuan Meringgai – Way Kambas (roda empat ± 170 km ± 3 jam).
Informasi lebih lanjut hubungi

Kantor Balai Taman Nasional Way Kambas
Jl. Raya Labuhan Ratu Kec. Labuhan Ratu, Lampung Timur
Telp : 0725-7645024
Fax : 0725-7645090
Email : program@waykambas.or.id, kabalai@waykambas.or.id
Website : www.waykambas.or.id

One thought on “Taman Nasional Way Kambas Lampung

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.