Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Sulawesi Tenggara

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (https://kokoh-gallery.blogspot.com)

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) terletak di Kabupaten Konawe (6.238 ha), Kabupaten Konawe Selatan (40.527 ha), Kabupaten Kolaka (12.824 ha), dan Kabupaten Bombana (45.605 ha), Provinsi Sulawesi Tenggara. Memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik flora, fauna maupun ekosistemnya. Beberapa jenis burung langka dan dilindungi terdapat di taman nasional ini.

TNRAW memikul tanggung jawab sebagai penjaga ekosistem lahan basah Wallacea, dengan luas 105.194 hektare ini bagaikan tandon air raksasa bagi Sulawesi. Sebagai penyangga kehidupan, Rawa Aopa menyandang status sebagai salah satu situs Ramsar dunia.

Sejarah

Di TNRAW terdapat 31 jenis Bunga Anggrek (https://zonasultra.com)

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai termasuk salah satu taman nasional tua yang dikukuhkan di Indonesia, yaitu tahun 1990 atau tahun yang sama dengan pengukuhan UU Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang menjadi payung hukum pengelolaan taman nasional dan kawasan konservasi lainnya di Indonesia.

Tahun 1976. Penunjukan kelompok Hutan Watumohai sebagai Taman Buru (TB) Gunung Watumohai melalui SK Mentan No.648/Kpts/um/10/1976 dengan luas 50.000 ha.

Tahun 1978. Berdasarkan hasil penelitian Direktorat PPA (sekarang Ditjen PHKA) bekerjasama dengan Mr Jacob (ahli botani dari Belanda), kelompok hutan Rawa Aopa dicadangkan sebagai kawasan Cagar Alam (CA).

Tahun 1983. Memperhatikan hasil penelitian tersebut, Pemda Tk. I Sultra mengusulkan dan merekomendasikan terbentuknya suatu kawasan konservasi yang meliputi areal Rawa Aopa dan TB Gunung Watumohai menjadi Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Tahun 1984. Persiapan pembangunan TNRAW mealaui proyek Pembinaan Suaka Alam dan Hutan Wisata / Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Tahun  1985. Penunjukan kelompok hutan Rawa Aopa seluas 55.560 ha sebagai kawasan Suaka Margasatwa (SM) berdasarkan SK Menhut no.138/Kpts-II/1985. Sekitar 45 hari kemudian, melalui SK Menhut no.189/Kpts-II/1985 kawasan TB Gunung Watumohai  dibagi menjadi 2 yaitu SM Gunung Watumohai seluas 41.244 ha dan sisanya TB Dataran Rumbia seluas 8.756 ha. Pemisahan ini dimaksudkan agar sebagian dari TB G. Watumohai (SM Gunung Watumohai) dapat digabungkan kembali dengan SM Rawa Aopa yang telah ditunjuk lebih dulu. Penggabungan kedua SM (SM Rawa Aopa dan SM G. Watumohai) masih oleh SK yang sama yaitu SK Menhut no.189/Kpts-II/1985 dengan nama baru SM Rawa Aopa – G. Watumohai.

Tahun 1989. Bertepatan dengan pekan Konservasi Alam di Kaliurang, Menhut mendeklarasikan 3 buah taman nasional di Indonesia, salah satunya adalah TNRAW ( melalui SK No. 444/Kpts-II/1989).

Tahun 1990. Dengan telah selesainya penataan batas luar kawasan TNRAW pada tahun 1986/1987 dan dengan telah disahkannya Berita Acara Tata Batas oleh panitia tata batas, maka Menhut menetapkan kawasan TNRAW seluas 105.194 ha melalui SK No. 756/Kpts-II/1990 tanggal 17 Desember 1990. Luas tersebut diperoleh dengan menggabungkan kembali TB Dataran Rumbia, SM Rawa Aopa – Gunung Watumohai dikurangi 2 buah lokasi enclave seluas 366 ha.

Tahun 1997. Dalam rangka meningkatkan pengelolaan TNRAW, maka dibentuklah UPT Ditjen PHPA (sekarang Ditjen PHKA) dengan nama unit Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai melalui SK Menhut No.185/Kpts-II/1997.

Tahun 2002. Melalui SK Menhut No. 6186/Kpts-II/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman Nasional, unit pengelolaan TNRAW ditingkatkan lagi menjadi Balai TNRAW.

Tahun 2008. Kawasan TN Rawa Aopa Watumohai ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Strategis Nasional (KSN) lingkungan hidup melalui Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). Peraturan pelaksanaan yang lebih teknis tentang sistem pengelolaan KSN TNRAW tersebut sampai saat ini masih belum diterbitkan.

Tahun 2011. Tepatnya tanggal 6 Maret 2011 Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai ditetapkan sebagai situs RAMSAR ke 1944 dengan luasan 105.194 ha dengan didukung 2 lahan basah penting, yaitu Ekosistem Rawa Aopa di bagian utara kawasan dan Ekosistem Mangrove di bagian selatan pada 2 Kabupaten, yaitu Kabupaten Konsel dan Bombana. Urutan ini untuk Indonesia adalah yang keempat dan yang pertama untuk Sulawesi.

Tahun 2011. Sebagai pelaksanaan PP nomor 44 tahun 2004, TN Rawa Aopa Watumohai ditetapkan sebagai wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan konservasi (KPHK) pada tanggal 30 Desember 2011 oleh Menteri Kehutanan melalui Kepmenhut No. SK. 755/Menhut-II/2011.

Ekosistem

Rawa Aopa (https://kokoh-gallery.blogspot.com)

Tipe ekosistem Rawa Aopa merupakan tipe vegetasi rawa gambut terluas di daratan Sulawesi. Kombinasi unsur lingkungan yang terdapat pada Rawa Aopa meliputi penutupan badan air oleh vegetasi yang lebih dari 90%, material dasar rawa yang bergambut dan topografi disekitarnya yang berupa gugusan perbukitan, secara akumulatif telah menciptakan kondisi pengendalian tata air (hidrologi) yang sempurna bagi keseimbangan ekosistem daratan Sulawesi Tenggara secara umum. Kondisi tersebut juga merupakan habitat ideal bagi berbagai jenis burung air dan burung migran yang berjumlah 23 spesies.

Padang Savana (https://zonasultra.com)

Ekosistem savanna itu membentang dari batas akhir zonasi hutan bakau di sisi timur TNRAW hingga gunung Watumohai dan Mendoke yang terletak di sisi barat. Savanna yang didominasi alang-alang, serta pohon Longgida, Agel, Lontar dan Tipulu itu membentang seperti karpet hijau seluas 22.964 hektar.

Hutan mangrove di TNRAW (http://catatankumo.blogspot.com)

Di bagian selatan kawasan TNRAW terdapat ekosistem mangrove dengan luasan ± 6.173 ha. Berfungsi sebagai daerah tangkapan air, kawasan Gunung Watumohai dan ekosistem Savana yang membentang dari Kabupaten Konawe Selatan sampai dengan Kabupaten Bombana. Kawasan ini merupakan satu-satunya hutan mangrove yang tersisa di Sulawesi Tenggara yang kondisinya masih utuh dan cukup luas. Areal mangrove juga menyimpan beragam kekayaan satwa seperti buaya, anoa, babi hutan, berbagai jenis ikan, udang, kepiting bakau, Burung pecuk ular, Wilwo dan Bangau.

Ekosistem hutan pegunungan dataran rendah. Ekosistem ini terdapat mulai kawasan datar hingga daerah bergunung dengan tipe vegetasi yang sangat beragam. Tepatnya berada antara Rawa Aopa hingga ke gunung Makaleleo di bagian utara, serta sekitar Pegunungan Mendoke, Gunung Watumohai hingga ke bagian kakinya. Selain itu tipe ekosistem ini terdapat pula di sepanjang alur-alur sungai di tengah savannah.

Flora

Kayu Bayam atau Intsia bijuga (https://tnrawku.wordpress.com)

Keanekaragaman tumbuhan di dalam kawasan TNRAW ini sangat menonjol yaitu setidaknya tercatat 89 famili, 257 genus dan 323 spesies tumbuhan, diantaranya Lara (Metrosideros petiolata), Sisio (Cratoxylum formosum), Kayu Bayam (Intsia bijuga), Kalapi (Callicarpa celebica), Tongke (Bruguiera gimnorrhiza), Lontar (Borassus flabellifer), dan Bunga teratai (Victoria spp.).

Kalapi atau Callicarpa celebica (https://tnrawku.wordpress.com)

Khusus anggrek, saat ini terdapat terdapat 31 jenis anggrek yang telah teridentifikasi dan dibudidayakan di demplot penangkaran anggrek TNRAW. Penangkaran dilakukan untuk mempertahankan keberadaan 31 jenis anggrek tersebut dari kepunahan.

Di TNRAW terdapat 31 jenis Bunga Anggrek (https://zonasultra.com)

Fauna

Rangkong Sulawesi atau Rhyticeros cassidix (https://tnrawku.wordpress.com)

Lahan basah Rawa Aopa menjadi habitat bagi 155 jenis burung, diantaranya Elang sulawesi, Rangkong sulawesi (Rhyticeros cassidix), Maleo (Macrocephalon maleo) dan Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), yang 32 di antaranya tergolong langka. Salah satunya Aroweli atau Bangau putih-susu (Mycteria cinerea), burung migran penjelajah rawa dan pantai. Aneka jenis burung berkeliaran di lima ekosistem yang mengukir lanskap Rawa Aopa: rawa, hutan pantai, sabana, bakau, dan hutan hujan dataran rendah.

Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi)

Selain itu terdapat Anoa dataran tinggi (Ikon Propinsi Sulawesi Tenggara), Anoa dataran rendah (Bubalis depressicornis), Buaya Muara (Crocodilus porosus), Biawak (Varanus salvator), Kura-kura (Coura amboinensis), Soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), dan Babi hutan (Sus scrova).

Anoa dataran rendah (Bubalis depressicornis)

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
  • Pulau Harapan II. Terletak di tengah-tengah Rawa Aopa untuk melihat panorama alam rawa, burung air yang sedang mengintai ikan, dan bersampan.
  • Pantai Lanowulu. Bersampan di sepanjang sungai menuju pantai, hutan bakau, berenang, dan wisata bahari.
  • Gunung Watumohai. Pendakian dan berkemah. Di lereng gunung tersebut terdapat padang savana untuk melihat ratusan ekor rusa yang sedang merumput, burung-burung, dan satwa lainnya.
  • Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Tolaki pada bulan Desember di Kendari.
Musim Kunjungan Terbaik: Juni – Oktober setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi

Peta wisata menuju Bukit Pampaea (https://tnrawku.wordpress.com)

  • Kendari – Panggaluku – Tinanggea – Lanowulu (roda empat ± 120 km ± 2 jam 30 menit)
  • Kendari – Motaha – Tinanggea – Lanowulu, (roda empat ± 130 km ± 3 jam).
  • Kendari – Lambuya – Aopa – Lanowulu (roda empat ± 145 km ± 4 jam).
Informasi lebih lanjut hubungi

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Jl. Poros Bombana no. 157 Lanowulu, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara
Telp/Fax. : 0401-3411514
Email: btnraw@yahoo.com
IG: tnrawaaopawatumohai
FB: Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Telp.: +62852 4241 0433 (Call Center)

Follow me!

One thought on “Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Sulawesi Tenggara

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.