Taman Nasional Gunung Tambora NTB

Taman Nasional Gunung Tambora (https://www.beritasatu.com)

Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT) merupakan sebuah taman nasional yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Taman Nasional ini secara administratif termasuk dalam Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Sejarah

Taman Nasional Gunung Tambora (http://www.dutawisata.co.id)

Status kawasan sebelum menjadi Taman Nasional terdiri dari Cagar Alam seluas 23.840,81 hektare, Suaka Margasatwa seluas 21.674,68 hektare, dan Taman Buru seluas 26.130,25 hektare.

Penunjukan kawasan TN Tambora dilakukan dengan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 111/MenLHK-II/2015 tanggal 7 April 2015. Taman nasional ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 11 April 2015, bertepatan dengan peringatan 200 tahun letusan besar Gunung Tambora pada 11 April 1815, seluas 71.645,64 Ha.

Ekspedisi NKRI 2015

Kegiatan eksplorasi ini melibatkan 48 orang yang meliputi 16 orang peneliti dari LIPI, tujuh orang tim Ekspedisi NKRI (gabungan dari Kopassus TNI AD, mahasiswa, dan unsur Brimob), enam orang dari Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Bima Dompu, serta 19 orang masyarakat setempat.

Sebanyak 625 jenis flora dan fauna berhasil dikumpulkan oleh tim gabungan Ekspedisi NKRI 2015 Koridor Kepulauan Nusa Tenggara saat mengeksplorasi Taman Nasional Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Peneliti pada Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI yang juga menjadi ketua tim LIPI dalam ekspedisi bioresources Tambora, Cahyo Rahmadi, di Jakarta, Selasa, mengatakan total fauna yang dikumpulkan tim dalam Ekspedisi Tambora mencapai 348 spesies. Sedangkan flora mencapai 393 spesimen dengan 277 jenis tumbuhan.

Fauna terdiri dari 230 jenis lepidoptera (ngengat), 10 arachnida (kalajengking dan laba-laba), 27 hymenoptera (tawon), 25 reptilia, empat amfibia, 46 burung, dan 10 mamalia.

Dari jumlah tersebut, menurut Cahyo, ada enam kandidat spesies baru yang ditemukan dalam ekspedisi tersebut yang terdiri dari dua spesies cicak yakni Cyrtodactylus sp.1 dan Cyrtodactylus sp.2, dua spesies kalajengking dan laba-laba yakni Stylocellus sp. Dan Sarax sp., dan dua spesies ngengat yakni Ernolatia sp. dan Xyleutes sp.

Flora

Tumbuhan berdaun satu tersebut, dari Suku Gesneriaceae dari sub family Epithemateae yakni marga Monophyllae. Tumbuhan ini berhasil ditemukan tim peneliti di Hutan Suranadi Umaani di ketinggian 230 mdpl, dan hidup di bebatuan, hasil eksplorasi di Gunung Tambora Pulau Sumbawa bersama tim Ekspedisi NKRI 2015 (https://ekspedisi.biologi.lipi.go.id)

Tipe vegetasi Taman Nasional Gunung Tambora bervariasi, pada ketinggian 200 m – 700 m di atas permukaan laut tipe vegetasinya adalah hutan musim selalu hijau (dry evergreen) yang didominasi oleh tumbuhan Walikukun walikukun (Schoutenia ovata), Kelanggo/Rajumas (Duabanga mollucana), Rida/Pulai (Alstonia scholaris), Monggo/Jambu Hutan (Eugenia polyantha), Binuang (Tetrameles nudiflora), Bayur (Pterospermum javanicum), Wangkal (Albizia procera), Linggua (Pterocarpus indicus) dan lain sebagainya.

Pada ketinggian di atas 700 m di atas permukaan laut tipe vegetasinya adalah hutan sekunder yang didominasi jenis-jenis semak dan perdu. Pada ketinggian di atas 900 m di atas permukaan laut tipe vegetasinya adalah savana dengan tegakan Cemara Gunung (Casuarina junghuniana) dan Edelweis (Anaphalis javanica), sedangkan pada ketinggian di atas 1.200 m di atas permukaan laut merupakan vegetasi savana yang ditumbuhi oleh jenis rumput alang-alang (Imperata cylindrica), rumput gelagah (Cyperus rotundus), Lantana (Lantana camara), Kirinyuh (Euphatorium sp) dan lain sebagainya.

Fauna

Cicak dari gunung Tambora yang diduga merupakan spesies baru. Cicak dari genus Cyrtodactylus itu punya lubang-lubang di dekat kloakanya (https://sains.kompas.com)

Dari ketiga macam vegetasi yang ada di TN Gunung Tambora dapat dijumpai bermacam-macam fauna yang didominasi oleh jenis-jenis burung baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi, antara lain Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), Nuri Kepala Merah (Geofroyyus geofroyyi), Kirik-kirik Australia (Merops ornatus), Ayam Hutan Hijau (Gallus gallus), Srigunting (Dicrurus densus), Bentet Kelabu (Lanius scach), Punglor Kepala Hitam (Zoothera doherty), Isap Madu Australia (Lichmera indistincta), Isap Madu Topi Sisik (Lichmera lombokia), Alap-alap layang (Falco cinerhoides), Isap Madu Topi Sisik (Lichmera lombokia), Elang bondol (Heliastur indus) dan lain-lain. Adapun jenis-jenis mamalia yang dapat ditemui antara lain Rusa Timor (Cervus timorensis), Kera abu-abu (Macaca fascicularis), Babi Hutan (Sus scrova), sedangkan jenis-jenis reptilia yang dapat ditemui antara lain Biawak (Varanus salvator), Ular piton (Phyton sp).   Selain itu juga terdapat potensi lebah madu yang dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk diambil madunya.

Laba-laba jenis Stylocellus dari Tambora yang diduga merupakan jenis baru (https://sains.kompas.com)

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
  • Wisata alam yaitu berupa wisata pendakian ke kaldera dan jelajah hutan (jungle tracking) kegiatan ini dapat dilaksanakan melalui 3 pintu pendakian yaitu Piong/Sanggar, Kawindato’i, Pancasila dan Doro Ncanga. Untuk menuju puncak Tambora melalui Jalur Pendakian Piong, Kawindato’i dan Pancasila memerlukan waktu tempuh 3 hari 2 malam dengan berjalan kaki. Sedangkan Jalur Pendakian Doroncanga bisa ditempuh dengan kendaraan off road sampai pos 3, kemudian dari pos 3 menuju Puncak Tambora hanya memerlukan waktu 2 jam dengan berjalan kaki.
  • Selain itu pada kawasan Gunung Tambora terdapat beberapa sungai yang airnya mengalir sepanjang tahun sehingga sangat potensial untuk pengembangan wisata tirta seperti jelajah sungai, canoing, foto hunting serta menjadi spot untuk kegiatan bird wacthing. Kawasan konservasi Gunung Tambora juga dapat dikembangkan wisata minat khusus seperti paralayang, panjat tebing, offroad, berkuda, wisata ilmiah dan lain-lain.

Kawah Gunung Tambora merupakan daya tarik tersendiri bagi kawasan ini, letusan gunung Tambora 2 abad yang lalu pada medio April 1815 menjadi sejarah yang sangat penting, karena konon abu vulkanik letusan Gunung Tambora sampai di benua Eropa.

Musim Kunjungan Terbaik: Juni – September setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi
  •  Jakarta – Praya, Lombok Tengah (pesawat) ± 3 jam 15 menit – Pelabuhan Kayangan Lombok Timur (roda empat ± 62 km ± 1 jam 30 menit) – Pelabuhan Poto Tano Sumbawa (Kapal ferry ± 2 jam) – Dompu (roda empat ±190 km ± 6 jam) – Taman Nasional Gunung Tambora (roda empat ±80 Km ± 4 jam).
  • Jakarta – Bima (Pesawat ± 4 jam) – Dompu (roda empat ± 75 km ± 1 jam 35 menit) – Taman Nasional Gunung Tambora (roda empat ± 80 km ± 4 jam)
  • Praya, Lombok Tengah – Bima (pesawat ± 30 menit) – Dompu (roda empat ± 75 km ± 1 jam 35 menit) – Kawasan Taman Nasional Tambora (roda empat ± 80 Km ± 4 jam).
Informasi lebih lanjut hubungi

Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat
Jl. Majapahit No. 54B Mataram, Nusa Tenggara Barat
Telp/Fax : (62) 370-627851, 633953

One thought on “Taman Nasional Gunung Tambora NTB

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.